Asuhan Kebidanan Continuity of Care ( CoC ) pada Ny R G1P0A0 Usia 21 di Wilayah Kerja Puskesmas Kesesi I
Keywords:
Continuity of Care, Kehamilan, Persalinan, Nifas, Bayi Baru Lahir, KBAbstract
Maternal Mortality Rate (MMR) remains one of the main indicators of a country’s healthcare quality. Approximately 830 women die every day worldwide from preventable complications related to pregnancy and childbirth. The leading causes of maternal mortality include postpartum hemorrhage, infection, hypertensive disorders during pregnancy (preeclampsia and eclampsia), labor complications, and unsafe abortion (WHO, 2019). One effective strategy to reduce both Maternal Mortality Rate (MMR) and Infant Mortality Rate (IMR) is the implementation of Continuity of Care (CoC) midwifery services. Continuity of Care enables midwives to provide comprehensive and continuous care from pregnancy, childbirth, postpartum, and newborn care to family planning services. Through continuous monitoring, early detection of danger signs and timely referral can be achieved more effectively (WHO, 2016). This study employed a descriptive case study approach involving Mrs. R, a 22-year-old G1P0A0 woman, in the working area of Kesesi I Public Health Center. Comprehensive midwifery care was provided from the third trimester of pregnancy until family planning services. The interventions included comprehensive assessment, antenatal care examinations according to the 10T standard, labor monitoring, physiological postpartum care, monitoring of infant growth and development, family planning counseling, as well as complementary care such as oxytocin massage and prenatal yoga education based on the mother’s needs. The results showed that the pregnancy, childbirth, postpartum period, newborn care, and family planning services progressed physiologically without complications. The mother demonstrated good understanding regarding pregnancy danger signs, childbirth preparation, postpartum self-care, exclusive breastfeeding, and newborn care. Breast milk production increased following oxytocin massage, the newborn adapted well during the neonatal period, and the mother selected an appropriate contraceptive method according to her postpartum condition. Comprehensive Continuity of Care midwifery services were proven effective in supporting maternal and neonatal health, improving maternal knowledge, and facilitating early risk detection to support the reduction of MMR and IMR.
Abstrak
Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator keberhasilan layanan suatu negara. Setiap hari, sekitar 830 wanita meninggal karena sebab yang dapat dicegah terkait dengan kehamilan dan persalinan, hal itu dikarenakan komplikasi kehamilan atau persalinan di seluruh dunia setiap hari. Komplikasi yang menyebabkan kematian ibu yaitu perdarahan hebat setelah melahirkan, infeksi, tekanan darah tinggi selama kehamilan (pre-eklampsia dan eklampsia), komplikasi dari persalinan, dan aborsi yang tidak aman (WHO, 2019). Salah satu strategi efektif untuk menurunkan AKI dan AKB adalah dengan asuhan kebidanan secara berkelanjutan atau Continuity of Care (CoC). Asuhan CoC memungkinkan bidan untuk memantau ibu secara komprehensif mulai dari masa kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir, hingga pelayanan keluarga berencana (KB). Dengan asuhan yang berkelanjutan, deteksi dini terhadap tanda bahaya dapat dilakukan lebih cepat sehingga rujukan tepat waktu dapat dilaksanakan (WHO,2016). Penelitian ini menggunakan metode kasus deskriptif pada Ny. R, usia 22 tahun G1P0A0, yang mendapatkan asuhan kebidanan komprehensif di wilayah kerja Puskesmas Kesesi I. Asuhan diberikan mulai dari kehamilan trimester III, persalinan, perawatan bayi Baru Lahir, masa nifas hingga pelayanan keluarga berencana. Tindakan meliputi pengkajian lengkap, pemeriksaan ANC sesuai standar 10T, pemantauan persalinan, perawatan nifas fisiologis, pemantauan tumbuh kembang bayi, serta konseling KB. Asuhan komplementer seperti pijat oksitosin dan edukasi prenatal yoga juga disertakan sesuai kebutuhan ibu. Seluruh proses kehamilan, persalinan, masa nifas, perawatan bayi baru lahir, dan pelayanan KB berlangsung fisiologis tanpa komplikasi. Ibu menunjukkan pemahaman yang baik mengenai tanda bahaya kehamilan, persiapan persalinan, perawatan diri masa nifas, pemberian ASI eksklusif, serta perawatan bayi. Produksi ASI meningkat setelah pemberian pijat oksitosin, bayi memiliki adaptasi yang baik, dan ibu memilih metode kontrasepsi sesuai kondisi pascasalin. Asuhan kebidanan Continuity of Care secara komprehensif terbukti efektif dalam mendeteksi dini risiko, meningkatkan pengetahuan ibu, serta mendukung kesehatan maternal dan neonatal. Penerapan asuhan komplementer seperti pijat oksitosin turut membantu optimalisasi pemberian ASI dan meningkatkan kenyamanan ibu. Layanan CoC perlu terus diterapkan sebagai upaya strategis dalam mendukung pencapaian target penurunan AKI dan AKB.
References
Ayuningtyas, I. (2019). Terapi Komplementer dalam Kebidanan. Jakarta: Salemba Medika.
Badan Pusat Statistik. (2025). Profil Statistik Kesehatan Indonesia Tahun 2025. Jakarta: BPS.
Cunningham, F. G., Leveno, K. J., Bloom, S. L., Dashe, J. S., Hoffman, B. L., Casey, B. M., & Spong, C. Y. (2018). Williams Obstetrics. 25th Edition. New York: McGraw-Hill Education.
Damanik, R., Simanjuntak, E., & Siregar, M. (2020). Pengaruh kunjungan neonatus terhadap pencegahan hipotermia dan infeksi pada bayi baru lahir. Jurnal Kesehatan Maternitas, 5(2), 45–52.
Damayanti, D., dkk. (2014). Asuhan Kebidanan Komprehensif pada Ibu Hamil, Bersalin, Nifas dan Bayi Baru Lahir. Jakarta: EGC.
Diana, S. (2017). Continuity of Care dalam pelayanan kebidanan sebagai upaya menurunkan AKI dan AKB. Jurnal Kebidanan Indonesia, 8(1), 12–18.
Dinas Kesehatan Kabupaten Pekalongan. (2024). Profil Kesehatan Kabupaten Pekalongan Tahun 2024. Pekalongan: Dinas Kesehatan Kabupaten Pekalongan.
Handayani, S., & Rahayu, T. (2021). Pengaruh penggunaan kontrasepsi DMPA terhadap produksi ASI pada ibu menyusui. Jurnal Kebidanan dan Kesehatan Reproduksi, 9(1), 33–40.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2020). Pedoman Pelayanan Antenatal, Persalinan, Nifas, dan Bayi Baru Lahir. Jakarta: Kemenkes RI.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2021). Standar Pelayanan Kebidanan. Jakarta: Kemenkes RI.
Kuswati, I. (2014). Asuhan Kehamilan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Lapau, B. (2015). Metode Penelitian Kebidanan. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Manuaba, I. B. G. (2012). Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan, dan KB. Jakarta: EGC.
Maryunani, A. (2015). Asuhan Ibu Nifas dan Asuhan Ibu Menyusui. Jakarta: In Media.
Prawirohardjo, S. (2016). Ilmu Kebidanan. Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Pratiwi, D., Lestari, N., & Wulandari, A. (2020). Keamanan penggunaan DMPA pada wanita usia ≥35 tahun. Jurnal Kesehatan Reproduksi, 11(2), 101–108.
Putri, R., & Nurjanah, S. (2022). Efektivitas kunjungan neonatus terhadap pengetahuan ibu dan pencegahan infeksi tali pusat. Jurnal Ilmu Kebidanan, 10(1), 55–62.
Sari, M., Fitriani, D., & Yuliana, E. (2022). Hubungan konseling KB dengan kepatuhan akseptor kontrasepsi suntik. Jurnal Kesehatan Wanita, 7(3), 88–95.
Sulistyawati, A. (2014). Asuhan Kebidanan pada Bayi Baru Lahir. Jakarta: Salemba Medika.
Varney, H., Kriebs, J. M., & Gegor, C. L. (2008). Buku Ajar Asuhan Kebidanan. Jakarta: EGC.
World Health Organization (WHO). (2016). WHO Recommendations on Antenatal Care for a Positive Pregnancy Experience. Geneva: WHO.
World Health Organization (WHO). (2018). Intrapartum Care for a Positive Childbirth Experience. Geneva: WHO.
World Health Organization (WHO). (2019). Maternal Mortality. Geneva: WHO.
World Health Organization (WHO). (2022). Maternal and Neonatal Health Report. Geneva: WHO.

