Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw
<div style="border: 2px #444F71 solid; padding: 10px; background-color: #f0ffff; text-align: left;"> <ol> <li class="show">Prosiding Seminar Nasional dan Call for Paper Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo</li> <li class="show">Initials: semnasdancfpbidanunw</li> <li class="show">Frekuensi : 6 Bulanan</li> <li class="show">ISSN : Print: 2961-7340 dan Online : 2962-2913</li> <li class="show">Publisher: Program Studi Kebidanan Program Sarjana dan Prodi Pendidikan Profesi Bidan Program Profesi Fakultas Kesehatan, Universitas Ngudi Waluyo</li> </ol> </div> <p align="justify"><strong>Prosiding Seminar Nasional dan Call for Paper Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo</strong> merupakan jurnal prosiding open access, diterbitkan oleh Program Studi Kebidanan Program Sarjana dan Prodi Pendidikan Profesi Bidan Program Profesi Fakultas Kesehatan, Universitas Ngudi Waluyo, dimana terdiri dari hasil penelitian pada bidang Kebidanan. semua artikel yang akan diterbitkan melalui proses editor yang direview oleh dua reviewer secara <strong>double-blind review </strong>process. Dewan redaksi menerima artikel : (1) Theoretical articles; (2) Empirical studies; (3) Case studies; (4) Literature Review . </p>Universitas Ngudi Waluyoen-USProsiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo2961-7340Pendidikan Kesehatan tentang Post Partum Blues dan Skrining Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS)
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1848
<p><em>Postpartum Blues is a mood disorder often experienced by mothers after giving birth and can develop into postpartum depression if not detected and treated early. Lack of knowledge of mothers and families regarding postpartum mental health is one of the risk factors for this condition. This community service activity aims to increase the knowledge of postpartum mothers, pregnant women, and cadres regarding Postpartum Blues and conduct early screening for postpartum depression using the Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS). The methods used include health education through interactive counseling, discussions, and filling out the EPDS questionnaire for postpartum mothers, pregnant women, and cadres. The target group of the activity was postpartum mothers, pregnant women, and cadres in the Gunung Samarinda Village. The results of the activity showed an increase in participants' understanding of psychological changes after childbirth, the signs and symptoms of Postpartum Blues, and the importance of family and health worker support. In addition, EPDS screening helps identify mothers at risk of postpartum depression so that appropriate follow-up can be carried out. This activity is expected to be a preventive and promotive effort in maintaining the mental health of postpartum mothers, pregnant women and cadres as well as improving the quality of maternal health services in the community.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Post Partum Blues merupakan kondisi gangguan suasana perasaan yang sering dialami ibu setelah melahirkan dan dapat berkembang menjadi depresi pascapersalinan apabila tidak terdeteksi dan ditangani sejak dini. Kurangnya pengetahuan ibu dan keluarga mengenai kesehatan mental masa nifas menjadi salah satu faktor risiko terjadinya kondisi tersebut. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan ibu post partum, ibu hamil dan kader mengenai Post Partum Blues serta melakukan skrining dini depresi pascapersalinan menggunakan Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS). Metode yang digunakan meliputi pendidikan kesehatan melalui penyuluhan interaktif, diskusi, serta pengisian kuesioner EPDS kepada ibu post partum, ibu hamil dan kader. Sasaran kegiatan adalah ibu nifas ibu hamil dan kader yang berada di Kelurahan Gunung Samarinda. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta mengenai perubahan psikologis setelah melahirkan, tanda dan gejala Post Partum Blues, serta pentingnya dukungan keluarga dan tenaga kesehatan. Selain itu, skrining EPDS membantu mengidentifikasi ibu dengan risiko depresi pascapersalinan sehingga dapat dilakukan tindak lanjut yang tepat. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi upaya preventif dan promotif dalam menjaga kesehatan mental ibu post partum , ibu hamil dan kader serta meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan maternal di masyarakat.</p>Dewi Ari SasantiAndi Ayub Awu AbdullahUmmul KhotimahDella
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-302025-12-304215021507Efektivitas Edukasi dalam Peningkatan Pengetahuan Ibu Mengenai Akupresur untuk Mengatasi Mual Muntah
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1641
<p><em>Nausea and vomiting are often experienced by pregnant women in the first trimester. If left untreated, it can have dangerous consequences for both the mother and the fetus. Acupressure at the Pericardium 6 point is effective in reducing nausea and vomiting. The purpose of community service is to increase the knowledge of pregnant women regarding the benefits of P6 acupressure to overcome nausea and vomiting in pregnancy. The Community Service method will be implemented in 3 stages: The first stage is preparation by conducting a problem assessment and collaborating with partners. The second stage is conducting a pre-test to explore the level of knowledge of pregnant women, providing counseling on P6 acupressure to overcome nausea and vomiting and demonstrations. The third stage is conducting an evaluation by giving a post-test to pregnant women. From the results of the Community Service, it was found that this activity was attended by 10 pregnant women. The results showed that before the counseling, the majority of pregnant women had a poor knowledge category, namely 10 people (100%). After the counseling, the majority of pregnant women had a good knowledge category, namely 7 people (70%). In conclusion, there was an increase in the knowledge of pregnant women regarding the benefits of P6 acupressure to overcome nausea and vomiting. It is hoped that health workers will increase education for the public, especially pregnant women, regarding the use of acupressure as a non-pharmacologic method to reduce nausea and vomiting in pregnant women so that the well-being of the mother and fetus is improved.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Mual muntah sering dialami ibu hamil pada kehamilan trimester I. Apabila tidak diatasi akan menimbulkan akibat yang membahayakan ibu dan janin. Akupresur pada titik P6 efektif dalam mengurangi mual muntah. Tujuan pengabdian masyarakat adalah untuk meningkatkan pengetahuan ibu hamil mengenai manfaat akupresur P6 untuk mengatasi mual muntah pada kehamilan. Metode Pengabdian Masyarakat telah dilaksanakan dilaksanakan dalam 3 tahap yaitu Tahap Pertama melakukan persiapan dengan cara melakukan pengkajian permasalahan dan kerja sama dengan mitra. Tahap Kedua melakukan prestest untuk menggali tingkat pengetahuan ibu hamil, memberikan penyuluhan mengenai akupresur P6 untuk mengatasi mual muntah dan demonstrasi. Tahap Ketiga Melakukan evaluasi dengan cara memberikan posttest kepada ibu hamil. Dari hasil pengabdian Masyarakat didapatkan bahwa kegiatan ini diikuti oleh 10 orang ibu hamil. Didapatkan hasil bahwa sebelum penyuluhan, sebagian besar ibu hamil memiliki kategori pengetahuan kurang yaitu sebanyak 10 orang (100%). Setelah dilakukan penyuluhan, sebagian besar ibu hamil memiliki kategori pengetahuan baik sebanyak 7 orang (70%). Kesimpulan, terjadi peningkatan pengetahuan ibu hamil mengenai manfaat akupresur P6 untuk mengatasi mual muntah pada ibu hamil. Diharapkan tenaga kesehatan meningkatkan edukasi kepada masayarakat, terutama ibu hamil mengenai manfaatkan akupresur sebagai metode non-framakologis dalam menurunkan mual muntah pada ibu hamil sehingga kesejahteraan ibu dan janin meningkat.</p>Dwi Yuniar Billy CanserSiti AsyiyahMasruroh
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-302025-12-304215081513Studi Kasus: Asuhan Kebidanan Komprehensif pada Ny “S” Usia 23 Tahun G1P0A0 di RS PKU Muhammadiyah Temanggung
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1621
<p><em>Maternal and infant mortality rates are one of the indicators to measure the health status of a country. Early detection efforts to overcome morbidity and mortality for mothers, infants and toddlers can be carried out by implementing continuous care or Continuity Of Care (COC) starting from pregnancy, childbirth, postpartum, newborns, to family planning. The purpose of this study is to provide comprehensive and continuous midwifery care to Mrs. S starting from pregnancy, childbirth, postpartum, neonates and family planning. The type of descriptive research used is a case study, the research instrument uses a descriptive approach method and is documented in the form of SOAP. In this care, the author collects data through interviews, observations, physical examinations, supporting examinations, documentation studies and bibliography studies. This study was conducted in July-October 2025. From the results of the provision of pregnancy care, the mother no complained The delivery process was by CS on the indication pre eclampsia. In the fist postpartum care visit, found nipples shorted and the mother was given breast care. In newborn care, everything was found to be within normal limits, the baby was given 1 mg of vitamin K care, hepatitis B0 immunization and SHK , PJB examination. While in family planning care, Mrs. S used a stable family planning method, namely IUD pasca CS.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Angka kematian ibu dan bayi merupakan salah satu indikator untuk mengukur derajat kesehatan bagi suatu negara. Kegiatan upaya deteksi dini untuk mengatasi kesakitan maupun kematian baik ibu, bayi dan balita tersebut dapat dilakukan dengan salah satunya yaitu implementasi asuhan berkelanjutan atau Continuity Of Care (COC) yang dimulai dari masa kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir, sampai dengan KB. Tujuan penelitian ini mampu memberikan asuhan kebidanan pada Ny. S secara komprehensif dan berkesinambungan mulai dari kehamilan, bersalin, nifas, neonatus dan KB. jenis penelitian deskriptif yang digunakan adalah studi kasus (case study), Instrumen penelitian menggunakan metode pendekatan yang bersifat deskriptif dan didokumentasikan dalam bentuk SOAP. Dalam asuhan ini, penulis mengumpulkan data melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, studi dokumentasi dan studi daftar pustaka. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli-Oktober 2025. Dari hasil pemberian asuhan kehamilan, ibu tidak ada keluhan. Proses persalinan secara SC atas indikasi Pre Eklamsi. Pada asuhan nifas kujungan pertama didapatkan putting susu Tenggelam dan ibu diberikan asuhan perawatan payudara, dan cara penggunaan dan perawatan botol susu. Pada asuhan bayi baru lahir didapatkan semua dalam batas normal, bayi diberikan asuhan vitamik K 1 mg, imunisasi hepattis B0 dan pemeriksaan SHK dan PJB Sedangkan pada asuhan KB Ny. S menggunakan KB IUD pasca SC.</p>Nani SunaryatiCahyaningrum
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-302025-12-304215141521Asuhan Kebidanan Continuity of Care (COC) pada Ny “S” 39 Tahun di Puskesmas X Kecamatan X
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1625
<p><em>There were 3 main causes of maternal death in 2021, namely bleeding with 7 cases, hypertension in pregnancy with 2 cases, the most deaths occurred during the postpartum period (10 cases), pregnancy (6 cases), and the delivery process (4 cases) (Semarang Regency Health Office, 2021). The causes of frequent MMR cases are usually due to lack of access to quality health services, especially timely emergency services, which are caused by late recognition of danger signs and decision making, delays in reaching health facilities, and delays in receiving services at health facilities. In addition, the causes of maternal death cannot be separated from the condition of the mother herself and are one of the 4 "too" criteria, namely too old at birth (> 35 years), too young at birth (4 children) The main causes of IMR include low birth weight (LBW), asphyxia, and other factors such as infection, aspiration, congenital abnormalities, diarrhea, pneumonia, and others (Central Java Health Profile, 2018). Steps that can be taken to reduce maternal mortality and infant mortality include providing quality and comprehensive midwifery care for every mother and baby. These services include health checks for pregnant women with integrated ANC, delivery assistance by trained medical personnel at health facilities, postpartum care for mothers and babies, special attention, and referrals when problems occur, as well as family planning services including postpartum contraception (Central Java Health Profile, 2018). To accelerate the achievement of the target of reducing maternal and infant mortality rates, Indonesia has a program focused on continuous midwifery services. In the Indonesian context, the term "Continuity of Care" refers to ongoing care from pregnancy, childbirth, newborn care, postpartum care, neonatal care, and quality family planning services. When implemented comprehensively, this effort has proven highly effective in reducing mortality and morbidity, as planned by the government (Diana, 2017).</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Terdapat 3 penyebab utama kematian ibu di tahun 2021, yaitu perdarahan dengan 7 kasus, hipertensi pada kehamilan dengan 2 kasus, Kematian terbanyak terjadi pada masa nifas (10 kasus), kehamilan (6 kasus), dan proses persalinan (4 kasus) (Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang, 2021). Penyebab kasus MMR yang sering terjadi biasanya disebabkan oleh kurangnya akses terhadap layanan kesehatan yang berkualitas, terutama layanan darurat tepat waktu, yang diakibatkan oleh terlambatnya pengenalan tanda-tanda bahaya dan pengambilan keputusan, keterlambatan dalam mencapai fasilitas kesehatan, serta keterlambatan dalam menerima pelayanan di fasilitas kesehatan Selain itu, penyebab kematian maternal juga tidak dapat dipisahkan dari kondisi ibu itu sendiri dan merupakan salah satu dari 4 kriteria "terlalu", yaitu terlalu tua saat melahirkan (> 35 tahun), terlalu muda saat melahirkan Kurang dari 20 tahun (< 20 tahun ) terlalu sering melahirkan (4 anak), Penyebab utama AKB meliputi BBLR, asfiksia, serta faktor lain seperti infeksi, aspirasi, kelainan bawaan, diare, pneumonia, dan lainnya (Profil Kesehatan Jateng, 2018). Langkah yang dapat diambil untuk mengurangi Angka Kematian Ibu dan angka kematian bayi meliputi pemberian asuhan kebidanan yang berkualitas dan komprehensif bagi setiap ibu serta bayi. Pelayanan ini termasuk pemeriksaan kesehatan ibu hamil dengan ANC terpadu, bantuan persalinan oleh tenaga medis terlatih di fasilitas kesehatan, perawatan setelah melahirkan untuk ibu dan bayi, perhatian khusus, serta rujukan saat terjadi masalah dan juga pelayanan Keluarga Berencana termasuk kontrasepsi pasca persalinan (Profil Kesehatan Jateng, 2018). Untuk mempercepat pencapaian target penurunan Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi, Indonesia memiliki program yang terfokus pada pelayanan kebidanan yang berkelanjutan. Istilah Continuity of Care dalam konteks bahasa Indonesia mengacu pada perawatan yang berlangsung dari masa kehamilan, persalinan, perawatan bayi baru lahir, asuhan postpartum, perawatan neonatus, dan pelayanan KB berkualitas. Jika dilaksanakan secara menyeluruh, upaya ini terbukti sangat efektif dalam mengurangi angka kematian serta morbiditas sesuai dengan rencana pemerintah (Diana, 2017).</p>Susiani HenyHapsari Windayanti
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-302025-12-304215221531Asuhan Kebidanan Continuity of Care (COC) pada Kehamilan Ny. Y Umur 23 Tahun G2P1A0 dengan KEK pada Usia Kehamilan 28 Minggu di PMB Mutia Kasih Sani
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1627
<p><em>The impact of pregnant women who experience the risk of chronic energy deficiency (CED) will cause problems for both the mother and the fetus. The role of midwives in overcoming the problem of CED in pregnant women is through the first thousand days of life (HPK) program by providing additional food. Government efforts are made so that midwives as health workers carry out continuity of care. The method used is a descriptive research method with a case study type. The location of the case study was carried out at PMB Mutia Kasih Sani, Semarang Regency. Case study collection started from June-September 2025. The subject in this study was a pregnant woman starting from the third trimester, who was then given care until family planning. The instruments used were observation sheets, interviews and document studies in the form of midwifery care formats. The following results were obtained on pregnancy care, subjective and objective data Mrs. Y, 23 years old G2P1A0, pregnant 28 to 34 weeks, said there were complaints of dizziness and fatigue. It is known that the mother's LILA <23.5 cm. Data analysis is Mrs. Y, 23 years old, G2P1A0 with KEK. The care provided was counseling related to the third trimester of pregnancy, about nutritious food, provision of PMT biscuits and milk for pregnant women. After receiving care, Mrs. Y experienced a normal increase in weight and LILA, and the fetus' weight was also normal. Delivery care on July 2, 2025 at 22.00 WIB, the mother came with complaints of regular contractions and bloody mucus discharge. The delivery process went normally and Mrs. Y's baby was born on July 3, 2025 at 03.00 WIB, crying loudly, APGAR SCORE 8/9/10, male gender, reddish skin color. The care provided followed the 60 steps of APN. The baby's care was known to be 2800 grams in weight, 49 cm in height. There were no abnormalities. The management provided was in accordance with newborn care in theory. During the postpartum period, care was carried out 4x periodic monitoring from 8 hours postpartum to 4 weeks postpartum. During the monitoring, no complaints were found, the mother was able to carry out her role as a mother well. The care provided was tailored to the postpartum period. During the family planning care, the mother stated that she wanted a 3-monthly contraceptive injection because she had completed her postpartum period. All objective examinations were within normal limits. Management included providing counseling about the 3-monthly contraceptive injection, administering the injection, and informing the patient of the date of the follow-up visit. The management provided was in accordance with the theory.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Dampak ibu hamil yang mengalami resiko kekurangan energi kronik (KEK) akan menimbulkan permasalahan baik pada ibu maupun janin. Peran bidan dalam menanggulangi masalah KEK pada ibu hamil yaitu dengan adanya program seribu hari pertama kehidupan (HPK) dengan pemberian makanan tambahan. Upaya pemerintah dibuat sehingga bidan sebagai tenaga kesehatan melakukan continuity of care. Metode yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif dengan jenis studi penelaahan kasus (Case Study). Lokasi pengambilan studi kasus dilakukan di PMB Mutia Kasih Sani, Kab. Semarang. Pengambilan studi kasus dimulai dari Juni-September 2025. Subjek dalam penelitian ini adalah seorang ibu hamil mulai trimester III, yang kemudian dilakukan asuhan sampai dengan KB. Instrument yang digunakan adalah lembar observasi, wawancara dan studi dokumen dalam bentuk format asuhan kebidanan. Didapatkan hasil sebagai berikut pada asuhan kehamilan, data subyektif dan obyektif Ny. Y umur 23 tahun G2P1A0 hamil 28 sampai 34 minggu, mengatakan ada keluhan pusing dan mudah lelah. Diketahui LILA ibu < 23,5 cm. Analisa data yaitu Ny. Y umur 23 tahun G2P1A0 dengan KEK. Asuhan yang diberikan yaitu pemberian konseling terkait masa kehamilan trimester III, tentang makanan bergizi, pemberian biskuit PMT dan susu ibu hamil. Setelah dilakukan asuhan Ny. Y mengalami peningkatan BB dan LILA yang normal, BB janin juga normal. Asuhan persalinan pada tanggal 02 Juli 2025 jam 22.00 WIB ibu datang dengan keluhan kenceng-kenceng teratur dan sudah keluar lendir darah. Proses persalinan berjalan normal dan bayi Ny. Y umur lahir pada tanggal 03 Juli 2025 Jam 03.00 wib, menangis kuat, APGAR SKOR 8/9/10, jenis kelamin laki-laki, warna kulit kemerahan. Asuhan yang diberikan mengikuti 60 langkah APN. Asuhan bayi diketahui BB bayi 2800 gram, PB 49 cm. Tidak ada kelainan. Penatalaksanaan yang diberikan sesuai dengan asuhan bayi baru lahir pada teori. Pada masa nifas asuhan dilakukan 4x pemantauan secara berkala dari 8 jam post partum sampai 4 mingu post partum. Selama pemantauan tidak ditemukan keluhan, ibu sudah dapat menjalankan dengan baik perannya sebagai ibu. Asuhan yang diberikan menyesuaikan masa nifas. Pada Asuhan KB, ibu mengatakan ingin KB suntik 3 bulan karena sudah selesai masa nifas. Pemeriksaan objektif semua dalam batas normal. Penatalakasanaan dilakukan dengan memberikan konseling tentang KB suntik 3 bulan dan kemudian dilakukan penyuntikan KB suntik 3 bulan, serta memberitahu tanggal kunjungan ulang. Penatalaksanaan yang diberikan sesuai dengan teori.</p>Mutia Kasih SaniIsri Nasifah
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-302025-12-304215321542Asuhan Kebidanan Komprehensif pada Ny. Usia 26 Tahun G1P0A0 di Pustu Pasekan Wilayah Kerja Puskesmas Ambarawa Kabupaten Semarang
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1629
<p><em>According to the World Health Organization (WHO), the maternal mortality rate (MMR) remains very high, with approximately 810 women dying from pregnancy- or childbirth-related complications worldwide every day. Efforts to reduce this rate can be made through the provision of continuity of care (COC). This study is a case study that aims to provide comprehensive midwifery care to Mrs. S, aged 26 years, G1P0A0, starting from pregnancy, childbirth, postpartum, newborn, to contraceptive selection. The method used was descriptive with data collection techniques through interviews, observations, physical examinations, and documentation in the KIA book. It was conducted from August to October 2025. The results of the care showed that Mrs. S had a physiological pregnancy with third trimester complaints that were handled through education and non-pharmacological methods. The delivery was spontaneous, and the baby was born healthy. There were no complaints during the postpartum period. During the contraceptive period, counseling was provided on the selection of postpartum family planning methods to prevent obstetric complications in subsequent pregnancies. In conclusion, the continuity of care approach is effective in detecting, preventing, and managing obstetric problems from pregnancy to postpartum and improving the quality of maternal and infant health services.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Menurut World Health Organization (WHO) Angka kematian ibu (AKI) masih sangat tinggi, sekitar 810 wanita meninggal akibat komplikasi terkait kehamilan atau persalinan di seluruh dunia setiap hari. Upaya penurunan angka ini dapat dilakukan melalui pemberian asuhan kebidanan berkesinambungan (Continuity of Care/ COC). Penelitian ini merupakan studi kasus yang bertujuan untuk memberikan asuhan kebidanan secara menyeluruh kepada Ny. S, usia 26 tahun, G1P0A0, mulai dari kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir hingga pemilihan kontrasepsi. Metode yang digunakan adalah deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, dan dokumentasi dalam buku KIA. Dilakukan pada bulan Agustus – Oktober 2025. Hasil asuhan menunjukkan bahwa Ny. S mengalami kehamilan fisiologis dengan keluhan trimester III yang ditangani melalui edukasi dan nonfarmakologis. Persalinan dilakukan secara spontan Bayi lahir sehat. Masa nifas tidak ada keluhan, Pada masa kontrasepsi, dilakukan konseling tentang pemilihan metode KB pasca persalinan untuk mencegah komplikasi obstetri pada kehamilan berikutnya. Kesimpulannya, pendekatan continuity of care efektif dalam mendeteksi, mencegah, dan menangani masalah kebidanan sejak masa kehamilan hingga pasca persalinan serta meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan bayi.</p>HartiniMasruroh
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-302025-12-304215431552Asuhan Kebidanan Komprehensif pada Ny. E Umur 22 Tahun G2P1A0 di Puskesmas Karanganyar Kabupaten Pekalongan
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1630
<p><em>Maternal and infant mortality remain major public health concerns in Indonesia, particularly in areas with limited access to continuous maternal health services. Continuity of Care (CoC) is a midwifery care approach that provides comprehensive and continuous services from pregnancy to family planning, aiming to improve care quality and reduce maternal and infant mortality rates. This study aimed to describe the implementation of CoC in midwifery practice at a Public Health Center in Pekalongan District. This study used a descriptive case study design with Varney’s midwifery management approach. Data were collected through interviews, observation, physical examination, and documentation review. Care was provided continuously from 21 weeks of gestation through antenatal, intrapartum, postpartum, newborn, and family planning services. The results showed that all stages of care progressed physiologically without complications. The mother experienced a spontaneous vaginal delivery, normal postpartum recovery with increased breast milk production after oxytocin massage, and the newborn was born in good condition with a birth weight of 3,800 grams and Apgar scores of 8–9. Newborn care followed standard procedures, and the mother chose an intrauterine device (IUD) for contraception. In conclusion, Continuity of Care improves the quality of maternal and neonatal services, strengthens the midwife–mother relationship, and supports early detection of potential complications, contributing to efforts to reduce maternal and infant mortality.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Angka kematian ibu dan bayi masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, terutama di daerah dengan keterbatasan akses terhadap pelayanan kesehatan maternal yang berkesinambungan. Continuity of Care (CoC) merupakan pendekatan asuhan kebidanan yang memberikan pelayanan komprehensif dan berkelanjutan sejak kehamilan hingga pelayanan keluarga berencana, dengan tujuan meningkatkan mutu asuhan serta menurunkan angka kematian ibu dan bayi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan asuhan Continuity of Care dalam praktik kebidanan di salah satu Puskesmas di Kabupaten Pekalongan. Penelitian ini menggunakan desain studi kasus deskriptif dengan pendekatan manajemen kebidanan Varney. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, dan telaah dokumentasi. Asuhan diberikan secara berkesinambungan mulai usia kehamilan 21 minggu meliputi asuhan kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir, dan keluarga berencana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh tahapan asuhan berlangsung secara fisiologis tanpa komplikasi. Ibu menjalani persalinan normal spontan, masa nifas berjalan normal dengan peningkatan produksi ASI setelah dilakukan pijat oksitosin, serta bayi lahir dalam kondisi baik dengan berat badan 3.800 gram dan nilai Apgar 8–9. Asuhan bayi baru lahir diberikan sesuai standar, dan ibu memilih metode kontrasepsi intrauterine device (IUD). Sebagai simpulan, penerapan asuhan Continuity of Care mampu meningkatkan mutu pelayanan kesehatan ibu dan bayi, memperkuat hubungan antara bidan dan ibu, serta mendukung deteksi dini komplikasi sehingga berkontribusi dalam upaya penurunan angka kematian ibu dan bayi.</p>Sri WigatiHapsari Windayanti
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-302025-12-304215531562Asuhan Kebidanan Continuity of Care (COC) Ny.E Usia 22 Tahun G1P0A0 dengan KEK di Puskesmas Larangan
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1634
<p><em>Continuity of care (COC) is a continuous care from pregnancy to family planning as an effort to reduce the Maternal Mortality Rate and Infant Mortality Rate. The purpose of this research is to be able to provide comprehensive obstetric care to Mrs. E starting from pregnancy, childbirth, postpartum birth, newborns, neonates and family planning. The type of research used is descriptive, with a Case Study approach. The sample used was a pregnant woman in the second trimester of 20 weeks gestation, G1P0A0. In this upbringing, the author collects data through interviews, observations, physical examinations, supporting examinations, documentation studies and bibliography studies. This research was conducted in February-October 2025. From the results of pregnancy care, problems were found, namely mothers experienced KEK in pregnancy so that PMT and KIE were given to mothers to consume foods with balanced nutrition and high in iron. As a result, Lila Mrs. E rose to 25 cm. Maternity care Mrs. E with a gestational age of 40 weeks 2 days, normally vaginal. The baby was born spontaneously on September 3, 2025 at 16.00 WIB, immediately crying, moving actively, reddish skin, female gender. Birth weight of the baby Mrs. E 2900 grams, body length 46 cm, head circumference 32 cm, chest size 31 cm, arm circumference 11 cm. The assessment of neonatals was obtained as a result of healthy babies. In the assessment of the postpartum period, the results were obtained that the postpartum period took place normally. Meanwhile, in the care of family planning, Mrs. E decided to use injections for 3 months. In the future, it is hoped that mothers will continue to implement a balanced nutritional pattern so that KEK does not occur so that mothers and babies are always healthy.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Asuhan Continuity of care (COC) merupakan asuhan secara berkesinambungan dari hamil sampai dengan keluarga berencana (KB) sebagai upaya penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). Tujuan penelitian ini mampu memberikan asuhan kebidanan pada Ny. E secara komprehensif mulai dari kehamilan, bersalin, nifas, bayi baru lahir, neonatus dan KB.Jenis penelitian yang digunakan yaitu deskriptif, dengan pendekatan studi kasus (Case Study). Sampel yang digunakan adalah seorang ibu hamil trimester II usia kehamilan 20 minggu, G1P0A0. Dalam asuhan ini, penulis mengumpulkan data melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, studi dokumentasi dan studi daftar pustaka. Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari-Oktober 2025. Dari hasil pemberian asuhan kehamilan ditemukan masalah yaitu ibu mengalami KEK pada kehamilan sehingga diberikan PMT dan KIE pada ibu untuk mengkonsumsi makanan dengan gizi seimbang dan tinggi zat besi. Hasilnya Lila Ny. E naik menjadi 25 cm. Asuhan persalinan Ny. E dengan usia kehamilan 40 minggu 2 hari, secara normal pervaginam. Bayi lahir spontan tanggal 3 September 2025 jam 16.00 WIB, langsung menangis,bergerak aktif, kulit kemerahan, jenis kelamin perempuan. BB lahir bayi Ny. E 2900 gram, PB 46 cm, LK 32 cm, LD 31 cm, Lila 11 cm. Pengkajian neonatus diperoleh hasil bayi sehat. Pada pengkajian masa nifas diperoleh hasil bahwa masa nifas berlangsung normal. Sedangkan pada asuhan KB Ny. E memutuskan untuk menggunakan suntik 3 bulan. Untuk selanjutnya diharapkan ibu tetap menerapkan pola nutrisi yang seimbang agar tidak terjadi KEK sehingga ibu dan bayi selalu sehat.</p>Yenny RahmawatiIsri Nasifah
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-302025-12-304215631574Asuhan Kebidanan Continuity Of Care pada Ny. G G3P1A1 Umur 29 Tahun di Wilayah Kerja Puskesmas Ambarawa
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1636
<p><em>Continuity of care is continuous care starting from pregnancy, childbirth, newborn care, postpartum care, neonatal care and quality family planning services which, when implemented completely, are proven to have high effectiveness in reducing mortality and morbidity rates. The research method is a case study. Data collection techniques were obtained using primary and secondary data. Primary data were obtained through interviews, observations, and examinations. Secondary data were obtained through KIA books and supporting examination results. Data assessment used Varney Management and documented with SOAP. The case study was conducted on April 30, 2025, to September 9, 2025. Comprehensive midwifery care provided lasted from pregnancy, childbirth, postpartum, neonates to family planning with a frequency of 3 pregnancy visits, 1 delivery, 4 postpartum visits, 4 neonates, and 2 family planning visits. During pregnancy, the mother experienced mild anemia and KEK, which was managed with nutritional health education and iron supplementation. She delivered normally at 39 weeks' gestation at Bina Kasih Hospital. The newborn was born normally and early initiation of breastfeeding (IMD) was performed. The mother's postpartum period was normal, and she chose implant contraception. Comprehensive midwifery care will improve the mother's health and well-being.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Continuity of care adalah perawatan yang berkesinambungan mulai dari kehamilan, persalinan, asuhan bayi baru lahir, asuhan post partum, asuhan neonatus dan pelayanan KB yang berkualitas yang apabila dilaksanakan secara lengkap terbukti mempunyai efektifitas yang tinggi dalam menurunkan angka mortalitas dan morbiditas. Metode penelitian adalah study pendekatan kasus (Case Study).Tekhnik pengumpulan data diperoleh dengan menggunakan data primer dan sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara, observasi, dan pemeriksaan. Data sekunder diperoleh melalui buku KIA dan hasil pemeriksaan penunjang. Pengkajian data menggunakan Manajemen Kebidanan Varney dan didokumentasikan dengan SOAP. Studi kasus dilaksanakan pada tanggal 30 April 2025 sampai 09 September 2025. Asuhan kebidanan komprehensif yang diberikan berlangsung dari masa kehamilan, bersalin, nifas, neonatus sampai KB dengan frekuensi kunjungan hamil sebanyak 3 kali, persalinan 1 kali, nifas 4 kali, neonatus 3 kali,serta KB sebanyak 2 kali. Pada masa kehamilan ibu mengalami anemia ringan dan KEK dan ditatalaksanakan dengan pendidikan kesehatan nutrisi dan pemberian Fe, ibu bersalin normal pada umur kehamilan 39 minggu di RS Bina Kasih. Bayi baru lahir normal dan dilakukan IMD. Nifas ibu normal, ibu memilih KB Implan. Dengan Asuhan kebidanan komprehensif akan meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan ibu.</p>Kristiyana Tri Rahayu NingsihEti Salafas
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-302025-12-304215751582Asuhan Kebidanan Continuity Of Care (COC) pada Ny.N Umur 32 Tahun di Puskesmas Lerep Kecamatan Ungaran Barat Kabupaten Semarang
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1637
<p><em>Sustainable Midwifery Care (Continuity of Care) involves providing midwifery care from pregnancy, labor, postpartum, and newborn care to the selection of contraceptive methods. The benefits of continuity of care include improving maternal and infant health through continuous monitoring. Midwives can detect and treat complications such as preeclampsia, bleeding, and infections early, thereby helping to reduce maternal and infant mortality rates. Continuous care also improves service quality and builds maternal trust because it is handled by the same healthcare professional from pregnancy through postpartum. Furthermore, continuity of care enables midwives to provide holistic, personalized, and mother-centered care, while facilitating coordination between healthcare services thanks to integrated medical records This study was conducted from April to October 2025. The instruments used were anamnesis and examination results. Midwifery care for pregnant women was provided to Mrs. N 4 times, providing advice and counseling according to the mother's needs, and ways to reduce discomfort in pregnant women (back pain with complementary therapy, namely effluent massage). Labor care for Mrs. N was conducted on August 5, 2025, with spontaneous vaginal delivery and no complications during the process. Newborn care was provided for a healthy baby girl who cried vigorously and showed active movements, with a birth weight of 3000 grams and a body length of 50 cm. Neonatal visits were conducted on days 1, 7, and 14, with care provided according to the baby’s needs during each visit. Postpartum care was conducted 4 times on days 1, 6, 14, and 42, with the postpartum period proceeding normally and no maternal health issues observed. Family planning care was provided on day 42 postpartum, including information on various contraceptive methods, side effects, advantages and disadvantages of each method, and follow-up schedules. Initially, the mother wished to use an IUD, but due to fever and current health condition, she decided to use condoms as her contraceptive method at this time.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Asuhan Kebidanan berkelanjutan ( continuity of care ) yaitu memberikan asuhan kebidanan mulai dari masa kehamilan, persalinan, nifas dan BBL, neonatus sampai pemilihan alat kontrasepsi yang akan digunakan. Manfaat dari continuity of care yakni untuk meningkatkan kesehatan ibu dan bayi melalui pemantauan yang berkesinambungan, bidan dapat mendeteksi dan menangani komplikasi seperti preeklamsia, perdarahan, dan infeksi sejak dini, sehingga turut menurunkan angka kematian ibu (AKI) dan bayi (AKB). Asuhan yang diberikan secara berkelanjutan juga meningkatkan kualitas pelayanan serta membangun kepercayaan ibu karena ditangani oleh tenaga kesehatan yang sama dari masa kehamilan hingga nifas. Selain itu, continuity of care memungkinkan bidan memberikan pelayanan yang holistik, personal, dan berpusat pada kebutuhan ibu, sekaligus mempermudah koordinasi antar layanan kesehatan berkat catatan medis yang terintegrasi Penelitian ini dimulai dari bulan April s.d Oktober 2025. Instrumen yang digunakan adalah anamnesa, hasil pemeriksaan. Asuhan kebidanan ibu hamil pada Ny.N sebanyak 4 kali dengan memberikan anjuran dan konseling sesuai kebutuhan ibu, cara mengurangi ketidaknyamanan ibu hamil ( nyeri punggung dengan terapi komplementer yaitu pijat efflurage. Asuhan Persalinan pada Ny. N pada tanggal 5 Agustus 2025 dengan persalinan spontan pervaginan dan tidak ada penyulit selama proses persalinan. Asuhan Bayi Baru Lahir dalam keadaan normal dan sehat, bayi lahir menangis kuat dan pergerakan aktif, jenis kelamin bayi perempuan, berat badan bayi 3000 gram, panjang badan bayi 50 cm.Kunjungan Neonatal dilakukan pada hari ke 1, 7 dan 14. Dalam setiap kunjungan diberikan asuhan sesuai kebutuhan bayi. Asuhan Nifas dilaksanakan 4 kali yaitu hari ke 1, 6, 14, 42. Masa nifas berlangsung normal, tridak ada permasalahan kesehatan ibu. Asuhan Keluarga Berencana dilakukan pada 42 hari pasca salin. Asuhan yang diberikan berupa macam-macam KB, efek samping, kelebihan dan kekurangan alat kontrasepsi, waktu kunjungan ulang. Kondisi ibu mengalami demam sehingga keputusan ibu berubah, di awal ibu menghendaki KB IUD tetapi kondisi ibu yang belum memungkinkan ibu untuk dilakukan pemasangan IUD sehingga ibu memutuskan untuk menggunakan kondom sebagai alat kontrasepsi saat ini.</p>SupriyatinHapsari Windayanti
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-302025-12-304215831592Studi Kasus: Efektivitas Posisi Knee-Chest (Sujud) dalam Upaya Koreksi Malpresentasi Bokong pada Kehamilan
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1639
<p><em>Breech malpresentation is associated with a high rate of fetal morbidity and mortality. One of the efforts to manage breech malpresentation is the knee-chest position. This study employed a descriptive case study method involving a single subject, Mrs. H, G1P0A0, with breech malpresentation. The study was conducted on June 15, 2025, at Ngadirejo Public Health Center. The results showed a correction of the fetal position to cephalic presentation after 3 sessions per day of applying the knee-chest position. In conclusion, the knee-chest position intervention was proven to be effective in correcting breech malpresentation in Mrs. H, G1P0A0, thereby providing optimal pregnancy outcomes and successfully preventing complications during labor.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Kejadian malpresentasi bokong mempunyai angka morbiditas dan mortalitas janin yang tinggi. Upaya untuk mengatasi malpresentasi bokong antara lain dengan Knee Chest. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus deskriptif (case study) pada satu subjek yaitu Ny. H, G1P0A0 dengan malpresentasi bokong. Studi ini dilaksanakan pada tanggal 15 Juni 2025 di Puskesmas Ngadirejo. Hasil menunjukkan terjadinya koreksi posisi janin menjadi presentasi sefalik setelah 3 kali sesi/hari penerapan Posisi Knee-Chest. Kesimpulan menunjukkan bahwa intervensi Posisi Knee-Chest terbukti efektif dalam mengoreksi malpresentasi bokong pada Ny.H G1P0A0, sehingga memberikan luaran kehamilan yang optimal dan berhasil mencegah komplikasi saat persalinan.</p>NurhayatiVistra Veftisia
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-302025-12-304215931597Peran Pijat Oksitosin dalam Optimalisasi Produksi ASI: Laporan Asuhan Kebidanan Nifas Komprehensif di RSUD Dr. H. Jusuf SK Tarakan
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1642
<p><em>Midwifery care is a crucial part of maternal and child health care, especially for mothers who have just given birth. The postpartum period extends from a few hours after the placenta is delivered to 6 weeks or 42 days. Insufficient breast milk production can lead to insufficient supply to the baby. Decreased breast milk production in the first few days after delivery can be caused by insufficient stimulation of the hormones prolactin and oxytocin. Therefore, midwifery care for postpartum mothers, including oxytocin massage, is essential. The method used is descriptive. The report is a case study, involving a postpartum mother at Dr. H. Jusuf SK Tarakan Regional Hospital. Results obtained during comprehensive care revealed the patient complained of insufficient breast milk production. Midwives provide implementation of midwifery care by administering oxytocin massage. The conclusion is that comprehensive midwifery care has been provided starting from pregnancy, childbirth, postpartum, neonates, newborns so that mothers avoid complications and are able to provide smooth breastfeeding to their babies after being given oxytocin massage.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Masalah utama yang dihadapi ibu nifas adalah penurunan/ketidakcukupan produksi ASI akibat kurangnya stimulasi hormon prolaktin dan oksitosin. Oleh karena itu, diperlukan intervensi non-farmakologis, seperti Pijat Oksitosin. Tujuan studi kasus ini adalah menganalisis efektivitas penerapan Pijat Oksitosin dalam upaya peningkatan produksi ASI pada ibu nifas. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif. Jenis laporan yang digunakan adalah studi kasus (Case Study) yaitu dengan cara mengambil kasus ibu nifas di RSUD Dr. H Jusuf SK Tarakan. Intervensi Pijat Oksitosin diberikan selama tiga hari dua kali sehari dengan durasi 15 menit. Hasil menunjukkan bahwa setelah intervensi Pijat Oksitosin, terjadi peningkatan signifikan pada produksi ASI ibu. Kesimpulan: Pijat Oksitosin terbukti efektif.</p>Thisna DamayantyVistra Veftisia
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-302025-12-304215981603Asuhan Kebidanan Komprehensif pada Ny. H Umur 32 Tahun G2P1A0 Di Desa Medayu dengan Anemia Ringan
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1645
<p><em>The Maternal Mortality Rate (MMR) is the number of women who die from a cause of death related to the disorders of pregnancy. In 2023, the maternal mortality rate (MMR) in Indonesia reached 4,129 case. Therefore, continuous midwifery services through the Continuity of Care approach are needed. This study aims comprehensive midwifery care to Mrs. H, during pregnancy, childbirth, newborn care, postpartum period, neonatal care, and the selection of contraceptives to prevent the risk of anemia. The method used in this study is a descriptive method and the type of descriptive research used is a case study. Data collection techniques include interviews, observations, examinations and documentation studies. The results showed that Mrs. H and her baby are in good condition and well throughout the series of care and there were no complications. This shows that Continuity of Care services are directly proportional to the quality of health and safety of mothers and babies so that they play a role in improving the quality of maternal and baby health.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Angka Kematian Ibu (AKI) adalah banyaknya perempuan yang meninggal dari suatu penyebab kematian terkait dengan gangguan kehamilan atau penanganannya. Pada tahun 2023, angka kematian ibu (AKI) di Indonesia mencapai 4.129. Sehingga diperlukan pelayanan kebidanan yang berkesinambungan melalui pendekatan Continuity of Care. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan asuhan kebidanan secara komprehensif pada Ny. H, selama masa kehamilan, persalinan, perawatan bayi baru lahir, masa nifas, perawatan neonatus, dan pemilihan alat kontrasepsi guna mencegah risiko anemia. Metode yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif dan jenis penelitian deskriptif yang digunakan adalah studi kasus (Case Study). Teknik pengumpulan data meliputi wawancara, observasi, pemeriksaan dan studi dokumentasi. Hasil dari asuhan menunjukkan bahwa Ny. H dan bayinya berada dalam kondisi baik dan baik selama rangkaian asuhan serta tidak ditemukannya komplikasi. Hal ini menunjukkan bahwa pelayanan Continuity of Care berbanding lurus dengan dengan kualitas kesehatan dan keselamatan ibu maupun bayi sehingga berperan dalam meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan bayi.</p>Laeli FauziyahEti Salafas
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-302025-12-304216041614Asuhan Kebidanan Komprehensif pada Ny. E Umur 25 Tahun G1P0A0 di Puskesmas Karanganyar
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1624
<p><em>Continuity of care or continuity of midwifery care is an approach carried out continuously from pregnancy, childbirth, postpartum, to newborn care. This study aims to provide continuous midwifery care (Continuity of Care) to Mrs. E, 25 years old, to ensure optimal maternal and neonatal health monitoring. A descriptive method with a case study approach was carried out at the Larangan Community Health Center in May-August 2025. Primary data were collected through interviews, physical observations, and SOAP documentation. The results of care showed that the pregnancy progressed physiologically, labor was spontaneous (Stage II for 30 minutes), the baby was born healthy with a weight of 3000 grams, and the postpartum period was without complications accompanied by successful exclusive breastfeeding. The CoC approach to Mrs. E has proven effective in early detection of risks and increasing maternal readiness in infant care and contraceptive selection.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Continuity of care atau kesinambungan asuhan kebidanan adalah pendekatan yang dilakukan secara terus menerus dari masa kehamilan, persalinan, nifas, hingga perawatan bayi baru lahir. Studi ini bertujuan memberikan asuhan kebidanan berkesinambungan (Continuity of Care) pada Ny. E usia 25 tahun untuk memastikan pemantauan kesehatan maternal dan neonatal yang optimal. Metode deskriptif dengan pendekatan studi kasus dilakukan di Puskesmas Larangan pada bulan Mei-Agustus tahun 2025. Data primer dikumpulkan melalui wawancara, observasi fisik, dan dokumentasi SOAP. Hasil asuhan menunjukkan kehamilan berjalan fisiologis, persalinan berlangsung spontan (Kala II selama 30 menit), bayi lahir bugar dengan BB 3000 gram, dan masa nifas tanpa komplikasi disertai keberhasilan pemberian ASI eksklusif. Pendekatan CoC pada Ny. E terbukti efektif dalam deteksi dini risiko dan meningkatkan kesiapan ibu dalam perawatan bayi serta pemilihan kontrasepsi.</p>Agustin DwiningrumCahyaningrum
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-302025-12-304216151622Asuhan Kebidanan Continuity of Care (COC) pada Ny. D Umur 27 Tahun G2P1A0 di Puskesmas Karanganyar
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1649
<p><em>Maternal Mortality Rate (MMR) is one of the important indicators of public health status where addressing the reduction of maternal mortality and infant mortality rates is done by ensuring that every mother and baby receives quality comprehensive midwifery care, such as maternal health services with integrated ANC, delivery assistance by trained health workers in health care facilities, postpartum care for mothers and babies, special care and referrals in case of complications, and family planning services including postpartum family planning. The purpose of this study is to be able to provide Continuity Of Care (CoC) Midwifery Care to Mrs. D aged 27 years at the Karanganyar Community Health Center. The type of descriptive research used is a case study, the research instrument uses a descriptive approach method and is documented in the form of SOAP. In this care, the author collects data through interviews, observations, physical examinations, supporting examinations, documentation studies and bibliography studies. This study was conducted in August-September 2025. From the results of the provision of pregnancy care found problems that mothers often urinate and back pain, the care provided is to provide pregnant women massage from the back and extremities to reduce complaints of back pain during TM III, inform mothers of TM III discomfort such as frequent urination, and back pain. During the mother's delivery process at the Karanganyar Health Center, Pekalongan Regency, delivery assistance was carried out through normal vaginal delivery and the baby was born spontaneously. On the third day postpartum, Mrs. D complained that her breast milk was not yet smooth, the mother was able to carry out her role as a mother well. The mother was given oxytocin massage care to facilitate breast milk, given counseling about various methods of contraception including advantages, disadvantages, side effects and effectiveness. In newborn care, everything was found to be within normal limits, By Mrs. D was given HB0 immunization, vitamin K, eye ointment and SHK. While in family planning care Mrs. D used a 3-month injection contraceptive. It is hoped that health workers can provide comprehensive midwifery care with correct procedures and according to client needs, as well as apply complementary care as non-pharmacological therapy in midwifery care.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Angka Kematian Ibu (AKI) menjadi salah satu indikator penting dari derajat kesehatan masyarakat dimana menangani penurunan angka kematian ibu dan angka kematian bayi dilakukan dengan menjamin agar setiap ibu dan bayi mendapatkan asuhan kebidanan komprehensif yang berkualitas, seperti pelayanan kesehatan ibu hamil dengan ANC terpadu, pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan terlatih di fasilitas pelayanan kesehatan, perawatan pasca persalinan bagi ibu dan bayi, perawatan khusus dan rujukan jika terjadi komplikasi, dan pelayanan keluarga berencana termasuk KB pasca persalinan. Tujuan penelitian ini mampu memberikan Asuhan Kebidanan Continuity Of Care (CoC) Pada Ny. D umur 27 Tahun di Puskesmas Karanganyar. Jenis penelitian deskriptif yang digunakan adalah studi kasus (case study), Instrumen penelitian menggunakan metode pendekatan yang bersifat deskriptif dan didokumentasikan dalam bentuk SOAP. Dalam asuhan ini, penulis mengumpulkan data melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, studi dokumentasi dan studi daftar pustaka. Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus-Oktober 2025. Dari hasil pemberian asuhan kehamilan ditemukan masalah yaitu ibu sering BAK dan nyeri punggung, asuhan yang diberikan adalah memberikan massage ibu hamil dari bagian punggung dan ekstremitas untuk mengurangi keluhan nyeri punggung selama TM III, memberitau ibu ketidaknyamanan TM III seperti sering BAK, dan sakit punggung. Pada proses persalinan ibu di Puskesmas Karanganyar Kabupaten Pekalongan, dilakukan pertolongan persalinan secara persalinan normal pervaginam bayi lahir spontan. Pada hari ketiga post partum, Ny. D mengeluh ibu ASI nya belum lancar, ibu sudah dapat menjalankan dengan baik perannya sebagai ibu. Ibu diberikan asuhan massage oksitosin untuk memperlancar ASI, diberikan konseling tentang macam-macam metode alat kontrasepsi meliputi kelebihan, kekurangan, efek samping dan efektivitasnya. Pada asuhan bayi baru lahir didapatkan semua dalam batas normal, By Ny D diberikan imunisasi HB0, vitamin K, salep mata dan SHK. Sedangkan pada asuhan KB Ny. D menggunakan KB suntik 3 bulan. Diharapkan tenaga kesehatan dapat melakukan asuhan kebidanan secara komprehensif dengan prosedur yang benar dan sesuai dengan kebutuhan klien, serta menerapkan asuhan komplementer sebagai terapi nonfarmakologi dalam asuhan kebidanan.</p>SucilasmiAri Andayani
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-302025-12-304216231635Penerapan Pijat Oksitosin untuk Meningkatkan Produksi ASI pada Ibu Nifas
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1651
<p><em>The postpartum period begins two hours after the placenta is delivered or after the first to fourth stages of labor are complete. The end of labor does not mean the mother is free from danger or complications. Various complications can occur during the postpartum period and, if not managed properly, will significantly contribute to the high maternal mortality rate (MMR) in Indonesia (Maritalia, 2014). Observation of uterine contractions and uterine fundal height is crucial to ensure proper uterine involution and prevent uterine subinvolution in postpartum mothers. The process of uterine involution can occur quickly or slowly, influenced by several factors. Factors that influence uterine involution include early mobilization, nutritional status, breastfeeding, age, and parity. Breast milk is the best food for newborns and is the only healthy food a baby needs in the first months of life. However, not all mothers can provide exclusive breastfeeding to their babies. Exclusive breastfeeding is breast milk given to babies from birth for six months, without adding or replacing it with other foods or drinks (except medicines, vitamins, and minerals) (Ministry of Health of the Republic of Indonesia, 2018). The results of the 2018 Basic Health Research revealed that the main reason babies were never breastfed was because breast milk did not come out or was not smooth at the beginning of the breastfeeding period (65.7%), babies aged 0-5 months (33.3%) had been given prelacteal food with the most type of food (84.5%) being formula milk. The cause of not achieving exclusive breastfeeding in Indonesia is influenced by several factors, one of which is the not smooth production of breast milk in the first days after birth which is caused by a lack of stimulation of the hormones oxytocin and prolactin which play a role in the smooth production of breast milk so that alternative measures or management are needed in the form of oxytocin massage, because oxytocin massage is very effective in helping stimulate breast milk production (Pilaria and Sopiatun, 2017). The method in this research is descriptive in the form of a case study, namely examining a problem through a case consisting of a single unit. The single unit in question can consist of one person, a group of residents affected by a problem. The problem that the researcher found was that breast milk was not flowing smoothly during the postpartum visit 4 days after the CS. The care provided by the researcher was oxytocin massage which aims to facilitate breast milk production. After being given this therapy, Mrs. Y's breast milk flowed smoothly and no other problems were found during the postpartum period. Care for Mrs. Y at the Jumo Community Health Center was provided comprehensively and the delivery was carried out at PKU Muhammadiyah Hospital because the mother had a history of CS. The provision of care to Mrs. Y was appropriate and there was no gap between theory and the case.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Masa nifas dimulai setelah dua jam lahirnya plasenta atau setelah proses persalinan dari kala I sampai kala IV selesai. Berakhirnya proses persalinan bukan berarti ibu terbebas dari bahaya atau komplikasi. Berbagai komplikasi dapat dialami ibu pada masa nifas dan bila tidak tertangani dengan baik akan memberi kontribusi yang cukup besar terhadap tingginya angka kematian ibu (AKI) di Indonesia. (Maritalia, 2014). Observasi kontraksi uterus dan tinggi fundus uteri sangat penting dilakukan untuk memastikan involusi uterus berjalan dengan baik dan mencegah subinvolusi uteri pada ibu nifas. Proses involusi uterus dapat terjadi secara cepat atau lambat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor yang mempengaruhi involusi uterus antara lain mobilisasi dini, status gizi, menyusui, usia dan paritas. Air Susu Ibu (ASI) adalah makanan terbaik untuk bayi yang baru lahir dan merupakan satu – satunya makanan sehat yang diperlukan bayi pada bulan-bulan pertama kehidupannya. Namun demikian tidak semua ibu dapat memberikan ASI Eksklusif pada bayinya. ASI eksklusif adalah ASI yang diberikan kepada bayi sejak dilahirkan selama enam bulan, tanpa menambahkan atau menggantikan dengan makanan atau minuman lain (kecuali obat, vitamin, dan mineral) (Kemenkes RI, 2018). Hasil Riskesdas tahun 2018 yang mengungkap bahwa alasan utama bayi tidak pernah disusui karena ASI tidak keluar ataupun tidak lancar pada awal masa menyusui (65,7%), bayi usia 0-5 bulan (33,3%) telah diberikan makanan prelakteal dengan jenis makanan terbanyak (84,5%) yaitu susu formula. Penyebab belum tercapainya pemberian ASI ekslusif di Indonesia dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya adalah tidak lancar produksi ASI pada hari – hari pertama setelah melahirkan yang disebabkan kurangnya rangsangan hormon oksitosin dan prolaktin yang berperan dalam kelancaran produksi ASI sehingga dibutuhkan upaya tindakan alternatif atau penatalaksanaan berupa pijat oksitosin, karena pijat oksitosin sangat efektif membantu merangsang pengeluaran ASI (Pilaria dan Sopiatun, 2017). Metode dalam penelitian ini diskriptif yang berupa studi penelaahan kasus (case study) yaitu meneliti suatu permasalahan melalui suatu kasus yang terdiri dari unit tunggal. Unit tunggal yang dimaksud dapat berisi 1 orang, sekelompok penduduk yang terkena suatu masalah. Masalah yang peneliti temukan berupa ASI belum lancar pada kunjungan nifas 4 hari post SC. Asuhan yang peneliti berikan berupa pijat oksitosin yang bertujuan untuk memperlancar produksi ASI. Setelah dsiberikan terapai tersebut, ASI Ny. Y keluar lancara dan tidak ada masalah lain yang ditemukan pada masa nifas. Asuhan pada Ny. Y di Puskesmas Jumo telah diberikan secara komprehensif dan persalinan dilaksanakan di RS PKU Muhammadiyah karena ibu riwayat SC. Pemberian asuhan pada Ny. Y sudah sesuai dan tidak terdapat kesenjangan antara teori dan kasus.</p>Tety RahmawatiYulia Nur Khayati
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-302025-12-304216361644Asuhan Kebidanan Continuity Of Care (COC) pada Ny. A Umur 25 Tahun di Puskesmas Jumo Temanggung
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1650
<p><em>The maternal mortality rate (MMR) in Temanggung Regency increased in 2021 compared to 2020. In 2020, it was 95.83 per 100,000 live births (10 cases), and in 2021, it was 174.38 per 100,000 live births (17 cases). The leading cause of maternal death during childbirth was heart disease, followed by preeclampsia, the second leading cause. Other causes of maternal mortality in 2021 were mostly due to heart disease, pre-eclampsia/eclampsia, bleeding, infection, anemia, and Covid-19. The Infant Mortality Rate (IMR) in Temanggung Regency in 2022 increased from 2021. In 2021, the IMR was 12.72 and in 2022 it was 13.23 per 1,000 births (123 cases), with the main causes being asphyxia, low birth weight (LBW), and congenital abnormalities. This requires more attention from the Health Office and the Temanggung Regency Government in an effort to reduce the IMR (Temanggung Health Office, 2023). The method in this research is descriptive in the form of a case study, namely examining a problem through a case consisting of a single unit. The single unit in question can contain 1 person, a group of residents affected by a problem. Monitoring of pregnant women was carried out by researchers twice in the second trimester and twice in the third trimester. The monitoring results obtained were complaints in the second trimester in the form of nausea when brushing teeth and the third trimester in the form of back pain which is physiological. Normal delivery at the Jumo Health Center on October 2, 2025 at 06.50 WIB, male gender. The researcher carried out KF 1 to KF 4 care well without any problems. The mother used an IUD and no problems were found. Care for Mrs. A at the Jumo Health Center has been provided comprehensively and there is no gap between theory and case.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>AKI di Kabupaten Temanggung pada tahun 2021 mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2020. Tahun 2020 sebanyak 95,83 per 100.000 KH (10 kasus) dan tahun 2021 menjadi 174,38 per 100.000 KH (17 kasus). Penyebab kematian tertinggi terjadi pada saat ibu bersalin disebabkan karena penyakit jantung dan diikuti penyebab tertinggi kedua yaitu preeklamsia. Adapun penyebab kematian ibu lainnya yaitu pada tahun 2021 paling banyak AKI dikarenakan penyakit jantung, pre-eklampsi/eklampsi, perdarahan, infeksi, anemia, dan Covid-19..Angka Kematian Bayi (AKB) di Kabupaten Temanggung Tahun 2022 megalami peningkatan dari tahun 2021. Tahun 2021 Angka Kematian Bayi sebesar 12,72 dan tahun 2022 sebesar 13,23 per 1.000 KH (123 kasus), dengan penyebab utamanya adalah asfiksia, BBLR dan juga kelainan kongenital. Hal ini membutuhkan perhatian lebih dari Dinas Kesehatan dan Pemerintah Kabupaten Temanggung dalam upaya penurunan Angka Kematian Bayi (Dinas Kesehatan Temanggung, 2023). Metode dalam penelitian ini diskriptif yang berupa studi penelaahan kasus (case study) yaitu meneliti suatu permasalahan melalui suatu kasus yang terdiri dari unit tunggal. Unit tunggal yang dimaksud dapat berisi 1 orang, sekelompok penduduk yang terkena suatu masalah. Pemantauan ibu hamil dilakukan peneliti sebanyak 2x di trimester II dan 2x di trimester III. Hasil pemantauan yang didapatkan adalah keluhan pada trimester II berupa mual saat gosok gigi dantrimester III berupa nyeri punggung yang merupakan hal fisiologis. Persalinan secara normal di Puskesmas Jumo pada tanggal 2 Oktober 2025 pukul 06.50 WIB, jenis kelamin laki-laki. Asuhan KF 1 sampai KF 4 Peneliti laksanakan dengan baik tanpa masalah. Ibu menggunakan KB IUD dan tidak ditemukan masalah. Asuhan pada Ny. A di Puskesmas Jumo telah diberikan secara komprehensif dan tidak terdapat kesenjangan antara teori dan kasus.</p>Artati DianasariAri Andayani
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-302025-12-304216451657Asuhan Kebidanan Continuity of Care (COC) pada Ny. V Umur 20 Tahun G2P1A0 dengan Ketidaknyamanan Melalui Penerapan Komplementer di Puskesmas Lerep
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1652
<p><em>Continuity of care or continuity of midwifery care is an approach that is carried out continuously from pregnancy, childbirth, postpartum, to newborn care. This aims to improve the quality of maternal and infant health and ensure optimal monitoring. This care aims to provide an overview of continuity of care midwifery care for Mrs. R, 25 years old. The method in providing Continuity Of Care care uses a case study approach with direct observation and recording of care provided from the first trimester of pregnancy to the third trimester of pregnancy, childbirth, postpartum, infant care to family planning. Data were collected through interviews, observations, and documentation. The results of continuous midwifery care succeeded in increasing maternal compliance in undergoing prenatal care, minimizing complications during childbirth, and providing better knowledge about newborn care. The mother showed good health conditions during and after the delivery process, and the baby was born healthy. Conclusion: The continuity of care approach to Mrs. R showed positive results, providing a significant impact in improving maternal and infant health. Continuous midwifery care is highly recommended to be implemented in health facilities to ensure holistic monitoring of maternal and infant health.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Continuity of care atau kesinambungan asuhan kebidanan adalah pendekatan yang dilakukan secara terus menerus dari masa kehamilan, persalinan, nifas, hingga perawatan bayi baru lahir. Studi ini bertujuan memberikan asuhan kebidanan berkesinambungan (Continuity of Care) pada Ny. V usia 20 tahun untuk memastikan pemantauan kesehatan maternal dan neonatal yang optimal. Metode deskriptif dengan pendekatan studi kasus dilakukan di Puskesmas Larangan pada bulan Juni-Oktober tahun 2025. Data primer dikumpulkan melalui wawancara, observasi fisik, dan dokumentasi SOAP. Hasil asuhan menunjukkan kehamilan berjalan fisiologis, persalinan berlangsung spontan (Kala II selama 30 menit), bayi lahir bugar dengan BB 3000 gram, dan masa nifas tanpa komplikasi disertai keberhasilan pemberian ASI eksklusif. Pendekatan CoC pada Ny. V terbukti efektif dalam deteksi dini risiko dan meningkatkan kesiapan ibu dalam perawatan bayi serta pemilihan kontrasepsi.</p>Neni Ratna SetiawatiLuvi Dian Afriyani
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-302025-12-304216581665Asuhan Kebidanan Komprehensif pada Ny. R. Umur 29 Tahun G2P1A0 di Puskesmas Karanganyar
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1653
<p><em>Comprehensive midwifery care encompasses all aspects of midwifery management, from pregnancy through labor and delivery to the newborn, ensuring a safe delivery and a healthy, healthy baby throughout the postpartum period. Continuity of Care (COC) midwifery care provides continuous midwifery care to both mother and baby, starting during pregnancy, labor, the newborn, the postpartum period, and family planning. With COC care, the mother's condition is monitored closely at all times.The purpose of this study was to provide Continuity of Care (COC) Midwifery Care to Mrs. R aged 29 years at the Karanganyar Community Health Center. The type of descriptive research used is a case study, the research instrument uses a descriptive approach method and is documented in the form of SOAP. In this care, the author collected data through interviews, observations, physical examinations, supporting examinations, documentation studies and bibliography studies. This research was conducted in June-September 2025. From the results of the provision of pregnancy care found problems that mothers often urinate and back pain, the care provided is to provide pregnant women massage from the back and extremities to reduce complaints of back pain during TM III, inform mothers of TM III discomfort such as frequent urination, and back pain. During the mother's delivery process at the Karanganyar Health Center, Pekalongan Regency, delivery assistance was carried out through normal vaginal delivery, the baby was born spontaneously. On the third day postpartum, Mrs. R complained that her breast milk was not yet smooth, the mother was able to carry out her role as a mother well. The mother was given oxytocin massage care to facilitate breast milk, given counseling about various contraceptive methods including advantages, disadvantages, side effects and effectiveness. In newborn care, all findings were within normal limits. Mrs. R was given HB0 immunization, vitamin K, eye ointment, and SHK. Meanwhile, in family planning care, Mrs. R used a 3-month injection. It is hoped that health workers can provide comprehensive midwifery care with correct procedures and according to client needs, as well as implement complementary care as a non-pharmacological therapy in midwifery care.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Asuhan kebidanan komprehensif merupakan asuhan menyeluruh manajemen kebidanan mulai dari ibu hamil, bersalin, sampai bayi baru lahir sehingga persalinan dapat berlangsung aman dan bayi yang dilahirkan selamat dan sehat sampai masa nifas. Asuhan Kebidanan Continuity of Care (COC) merupakan asuhan kebidanan berkesinambungan yang diberikan kepada ibu dan bayi dimulai pada saat kehamilan, persalinan, bayi baru lahir, nifas dan keluarga berencana. Dengan adanya asuhan COC maka perkembangan kondisi ibu setiap saat akan terpantau dengan baik. Tujuan penelitian ini mampu memberikan Asuhan Kebidanan Continuity Of Care (CoC) Pada Ny. R umur 29 Tahun di Puskesmas Karanganyar. Jenis penelitian deskriptif yang digunakan adalah studi kasus (case study), Instrumen penelitian menggunakan metode pendekatan yang bersifat deskriptif dan didokumentasikan dalam bentuk SOAP. Dalam asuhan ini, penulis mengumpulkan data melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, studi dokumentasi dan studi daftar pustaka. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni-Sptember 2025. Dari hasil pemberian asuhan kehamilan ditemukan masalah yaitu ibu sering BAK dan nyeri punggung, asuhan yang diberikan adalah memberikan massage ibu hamil dari bagian punggung dan ekstremitas untuk mengurangi keluhan nyeri punggung selama TM III, memberitau ibu ketidaknyamanan TM III seperti sering BAK, dan sakit punggung. Pada proses persalinan ibu di Puskesmas Karanganyar Kabupaten Pekalongan, dilakukan pertolongan persalinan secara persalinan normal pervaginam bayi lahir spontan. Pada hari ketiga post partum, Ny. R mengeluh ibu ASI nya belum lancar, ibu sudah dapat menjalankan dengan baik perannya sebagai ibu. Ibu diberikan asuhan massage oksitosin untuk memperlancar ASI, diberikan konseling tentang macam-macam metode alat kontrasepsi meliputi kelebihan, kekurangan, efek samping dan efektivitasnya. Pada asuhan bayi baru lahir didapatkan semua dalam batas normal, By Ny R diberikan imunisasi HB0, vitamin K, salep mata dan SHK. Sedangkan pada asuhan KB Ny. R menggunakan KB suntik 3 bulan. Diharapkan tenaga kesehatan dapat melakukan asuhan kebidanan secara komprehensif dengan prosedur yang benar.</p>Nurina Devi RetnaningrumAri Widyaningsih
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-302025-12-304216661678Asuhan Kebidanan Continuity of Care (COC) pada Ny. R Umur 25 Tahun di Puskesmas Larangan
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1659
<p><em>Continuity of care or continuity of midwifery care is an approach that is carried out continuously from pregnancy, childbirth, postpartum, to newborn care. This aims to improve the quality of maternal and infant health and ensure optimal monitoring. This care aims to provide an overview of continuity of care midwifery care for Mrs. R, 25 years old. The method in providing Continuity Of Care care uses a case study approach with direct observation and recording of care provided from the first trimester of pregnancy to the third trimester of pregnancy, childbirth, postpartum, infant care to family planning. Data were collected through interviews, observations, and documentation. The results of continuous midwifery care succeeded in increasing maternal compliance in undergoing prenatal care, minimizing complications during childbirth, and providing better knowledge about newborn care. The mother showed good health conditions during and after the delivery process, and the baby was born healthy. Conclusion: The continuity of care approach to Mrs. R showed positive results, providing a significant impact in improving maternal and infant health. Continuous midwifery care is highly recommended to be implemented in health facilities to ensure holistic monitoring of maternal and infant health.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Continuity of care atau kesinambungan asuhan kebidanan adalah pendekatan yang dilakukan secara terus menerus dari masa kehamilan, persalinan, nifas, hingga perawatan bayi baru lahir. Asuhan ini bertujuan untuk memberikan gambaran asuhan kebidanan Continuity Of Care pada Ny. R, usia 25 tahun. Metode dalam memberikan asuhan Continuity Of Care ini menggunakan pendekatan studi kasus dengan observasi langsung dan pencatatan asuhan yang diberikan dari kehamilan trimester Pertama sampai hamil trimester ke 3, Persalinan, masa nifas, perawatan bayi sampai dengan KB. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil dari Asuhan kebidanan yang berkesinambungan berhasil meningkatkan kepatuhan ibu dalam menjalani perawatan prenatal, meminimalkan komplikasi saat persalinan, serta memberikan pengetahuan yang lebih baik mengenai perawatan bayi baru lahir. Ibu menunjukkan kondisi kesehatan yang baik selama dan setelah proses persalinan, dan bayi lahir dengan sehat. Kesimpulan: Pendekatan continuity of care pada Ny. R menunjukkan hasil yang positif, memberikan dampak signifikan dalam meningkatkan kesehatan ibu dan bayi. Asuhan kebidanan berkesinambungan sangat dianjurkan untuk diterapkan di fasilitas kesehatan guna memastikan pemantauan kesehatan ibu dan bayi secara holistik.</p>Rahmi EkawatiHeni Setyowati
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-302025-12-304216791687Asuhan Kebidanan Continuity of Care (COC) pada Ny. T Umur 33 Tahun G2P1A0 dengan KEK di Puskesmas Larangan Kab. Brebes
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1660
<p><em>Continuity of care or continuity of midwifery care is an approach that is carried out continuously from pregnancy, childbirth, postpartum, to newborn care. This aims to improve the quality of maternal and infant health and ensure optimal monitoring. This care aims to provide an overview of continuity of care midwifery care for Mrs. R, 25 years old. The method in providing Continuity Of Care care uses a case study approach with direct observation and recording of care provided from the first trimester of pregnancy to the third trimester of pregnancy, childbirth, postpartum, infant care to family planning. Data were collected through interviews, observations, and documentation. The results of continuous midwifery care succeeded in increasing maternal compliance in undergoing prenatal care, minimizing complications during childbirth, and providing better knowledge about newborn care. The mother showed good health conditions during and after the delivery process, and the baby was born healthy. The continuity of care approach to Mrs. R showed positive results, providing a significant impact in improving maternal and infant health. Continuous midwifery care is highly recommended to be implemented in health facilities to ensure holistic monitoring of maternal and infant health.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Continuity of care atau kesinambungan asuhan kebidanan adalah pendekatan yang dilakukan secara terus menerus dari masa kehamilan, persalinan, nifas, hingga perawatan bayi baru lahir. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan bayi serta memastikan pemantauan yang optimal. Asuhan ini bertujuan untuk memberikan gambaran asuhan kebidanan Continuity Of Care pada Ny. T usia 33 tahun. Metode dalam memberikan asuhan Continuity Of Care ini menggunakan pendekatan studi kasus dengan observasi langsung dan pencatatan asuhan yang diberikan dari kehamilan trimester Pertama sampai hamil trimester ke 3, Persalinan, masa nifas, perawatan bayi sampai dengan KB. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil dari Asuhan kebidanan yang berkesinambungan berhasil meningkatkan kepatuhan ibu dalam menjalani perawatan prenatal, meminimalkan komplikasi saat persalinan, serta memberikan pengetahuan yang lebih baik mengenai perawatan bayi baru lahir. Ibu menunjukkan kondisi kesehatan yang baik selama dan setelah proses persalinan, dan bayi lahir dengan sehat. Pendekatan continuity of care pada Ny. T menunjukkan hasil yang positif, memberikan dampak signifikan dalam meningkatkan kesehatan ibu dan bayi. Asuhan kebidanan berkesinambungan sangat dianjurkan untuk diterapkan di fasilitas kesehatan guna memastikan pemantauan kesehatan ibu dan bayi secara holistik.</p>Silvie NurbaeniKartika Sari
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-302025-12-304216881695Asuhan Kebidanan Komprehensif pada Ny. K Umur 26 Tahun di Puskesmas Jumo Kabupaten Temanggung
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1662
<p><em>MMR in Temanggung Regency in 2021 experienced an increase compared to 2020. In 2020 there were 10 cases and in 2021 there were 17 cases. The highest causes of death occurred during childbirth due to heart disease and preeclampsia. Other causes of maternal death are bleeding, infection, anemia, and COVID-19. IMR in Temanggung Regency in 2022 experienced an increase compared to 2021. In 2021 the Infant Mortality Rate was 12.72 and in 2022 it was 13.23 per 1,000 births (123 cases), with the main causes being asphyxia, low birth weight (LBW), and congenital abnormalities. This requires more attention from the Health Office and the Temanggung Regency Government in an effort to reduce the Infant Mortality Rate. The method in this research is descriptive in the form of a case study, namely examining a problem through a case consisting of a single unit. The single unit in question can consist of 1 person, a group of residents affected by a problem. The researchers monitored pregnant women 4 times, 2 times in the second trimester and 2 times in the third trimester. The results of the monitoring obtained were complaints in the second trimester in the form of slight nausea to fishy foods and also back pain but what the mother experienced was physiological. In the third trimester, Mrs. K had no complaints, only did not know about the danger signs of TM III and signs of labor. Delivery by CS at Temanggung Regional Hospital on November 11, 2025 at 08.59 WIB, female gender. The researchers carried out KF 2 to KF 4 care well without any problems. The mother used MAL KB and no problems were found. Care for Mrs. K at the Jumo Community Health Center was provided comprehensively and the delivery was carried out at Temanggung Regional Hospital because the baby's head had not entered the pelvis and the amniotic fluid ultrasound results were cloudy. The provision of care to Mrs. K was appropriate and there were no gaps between theory and case.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>AKI di Kabupaten Temanggung pada tahun 2021 mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2020. Tahun 2020 sebanyak 10 kasus dan tahun 2021 menjadi 17 kasus. Penyebab kematian tertinggi terjadi pada saat ibu bersalin disebabkan penyakit jantung dan preeklamsia. Adapun penyebab kematian ibu lainnya yaitu perdarahan, infeksi, anemia, dan covid-19. AKB di Kabupaten Temanggung Tahun 2022 megalami meningkat dari tahun 2021. Tahun 2021 Angka Kematian Bayi sebesar 12,72 dan tahun 2022 sebesar 13,23 per 1.000 KH (123 kasus), dengan penyebab utamanya adalah asfiksia, BBLR dan juga kelainan kongenital. Hal ini membutuhkan perhatian lebih dari Dinas Kesehatan dan Pemerintah Kabupaten Temanggung dalam upaya penurunan Angka Kematian Bayi. Metode dalam penelitian ini diskriptif yang berupa studi penelaahan kasus (case study) yaitu meneliti suatu permasalahan melalui suatu kasus yang terdiri dari unit tunggal. Unit tunggal yang dimaksud dapat berisi 1 orang, sekelompok penduduk yang terkena suatu masalah. Pemantauan ibu hamil dilakukan peneliti sebanyak 4x, 2x di trimester II dan 2x di trimester III. Hasil pemantauan yang didapatkan adalah keluhan pada trimester II berupa agak mual pada makanan yang amis dan juga nyeri punggung tetapi yang dialami ibu merupakan hal yang fisiologis. Pada trimester III Ny. K tidak ada keluhan, hanya belum mengetahui tentamg tanda bahaya TM III dan tanda- tanda persalinan. Persalinan secara SC di RSUD Temanggung pada tanggal 11 November 2025 pukul 08.59 WIB, jenis kelamin perempuan. Asuhan KF 2 sampai KF 4 peneliti laksanakan dengan baik tanpa masalah. Ibu menggunakan KB MAL dan tidak ditemukan masalah. Asuhan pada Ny. K di Puskesmas Jumo telah diberikan secara komprehensif dan persalinan dilaksanakan di RSUD Temanggung karena kepala bayi belum masuk panggul dan hasil USG ketuban sudah keruh. Pemberian asuhan pada Ny. K sudah sesuai dan tidak terdapat kesenjangan antara teori dan kasus.</p>Tri MulyatiRisma Aliviani Putri
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-302025-12-304216961709Asuhan Kebidanan Continuity of Care (CoC) pada Ny.P Umur 19 Tahun G1P0A0 Usia Kehamilan 37 Minggu Fisiologis di Puskesmas Jumo
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1669
<p><em>Maternal Mortality Rate (AKI) and Infant Mortality Rate (AKB) are one of the important indicators in describing the degree of health in society. Based on data from the Ministry of Health’s Maternal Perinatal Death Notification (MPDN) system, the maternal mortality rate in 2022 reached 4,005 and in 2023 increased to 4,129.The causes of maternal death include hypertension and postpartum hemorrhage. The infant mortality rate in 2022 is 20,882 and in 2023 is 29,945 with the cause of death due to BBLR, asphyxia and congenital diseases (Mediakom, 2024) Continuity of Care in midwifery is a series of continuous and comprehensive care ranging from pregnancy, childbirth, postpartum to newborn services and family planning services that connect women's health needs, especially in the personal circumstances of each individual. Continuity of care is fundamental in the midwifery practice model to provide holistic care, build sustainable partnerships and provide support, and foster a relationship of mutual trust between midwives and clients (Yulizwati, henni fitria, 2021) Based on Permenkes Number 21 of 2021 concerning the Implementation of Health Services in the Pre-Pregnancy, Pregnancy, Childbirth and Postpartum Period, Contraceptive Services and Sexual Health Services in article 4 states that health services during pregnancy, pre-pregnancy, childbirth, postpartum period, contraceptive services and sexual health services are carried out with a promotive, preventive, curative, and rehabilitative approach that is carried out in a proactive manner comprehensive, integrated and sustainable. These services are carried out by health workers and/or non-health workers, both in government-owned and private health service facilities, as well as outside health facilities. The Continuity of Care approach seeks to address maternal and child health problems from preconception to pregnancy, childbirth, and postpartum as a unit. This study aims to provide obstetric care to 73 Mrs.P aged 19 years G1P0A0 37 weeks pregnant with a normal pregnancy at the Sragi 1 Health Center. The data collection method uses primary data and secondary data. Primary data was obtained from observations, Mrs. P decided to use 3-month injectable birth control, after being given comprehensive obstetric care starting from pregnancy, childbirth, postpartum.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan salah satu indicator penting dalam menggambarkan derajat kesehatan di masyarakat. Berdasarkan data Maternal Perinatal Death Notification (MPDN) system pencatatan kematian ibu Kementrian Kesehatan , Angka Kematian Ibu pada tahun 2022 mencapai 4.005 dan Tahun 2023 meningkat menjadi 4.129. Penyebab kematian ibu diantaranya hipertensi dan perdarahan pasca salin. Angka Kematian Bayi pada tahun 2022 sebanyak 20.882 dan Tahun 2023 sebesar 29.945 dengan penyebab kematian karena BBLR, asfiksia dan penyakit bawaan (Mediakom, 2024). Continuity of Care dalam kebidanan adalah serangkaian asuhan yang berkelanjutan dan menyeluruh mulai dari kehamilan, persalinan, nifas, pelayanan bayi baru lahir serta pelayanan keluarga berencana yang menghubungkan kebutuhan kesehatan perempuan khususnya dalam keadaan pribadi setiap individu. Continuity of Care merupakan hal yang mendasar dalam model praktik kebidanan untuk memberikan asuhan yang holisttik, membangun kemitraan yang berkelanjutan dan memberikan dukungan, serta membina hubungan saling percaya antara bidan dengan klien (Yulizwati, henni fitria, 2021). Berdasarkan Permenkes Nomor 21 Tahun 2021 Tentang Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan Masa Sebelum Hamil, Masa Hamil, Persalinan dan Masa Sesudah Melahirkan, Pelayanan Kontrasepsi dan Pelayanan Kesehatan Seksual dalam pasal 4 menyebutkan bahwa pelayanan kesehatan masa sebeum hamil, mas hamil, persalinan, masa sesudah melahirkan, pelayanan kontrasepsi dan pelayanan kesehatan seksual diselenggarakan dengan pendekatan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitative yang dilaksanakan secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan. Pelayanan tersebut dilaksanakan oleh tenaga kesehatan dan atau tenaga non kesehatan, baik di fasilitas pelayanan kesehatan milik pemerintah maupun swasta, maupun di luar fasyankes. Pendekatan Continuity of Care diupayakan menangani masalah kesehatan ibu dan anak dari masa pra konsepsi sampai masa kehamilan, persalinan, dan pasca persalinan sebagai satu kesatuan. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan asuhan kebidanan pada Ny. D umur 20 tahun G1P0A0 hamil 37 minggu dengan kehamilan normal di Puskesmas Jumo. Metode pengumpulan data menggunakan data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari hasil observasi, hasil pemeriksaan di buku KIA, Rekam medic dan hasil pemeriksaan lain seperti hasil USG, hasil laboratorium. Pendokumentasian menggunakan SOAP. Berdasarkan hasil studi secara komprehensif dari masa kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir didapatkan data Ny.P umur 19 tahun G1P0A0 hamil 37 minggu dengan kehamilan normal. ANC dilakukan 6 kali kunjungan di Puskesmas Jumo, di Posyandu maupun kunjungan rumah. Persalinan berlangsung secara normal di Poned RS PKU Muhammadiyah Temanggung, bayi baru lahir dalam keadaan sehat dan normal. Kunjungan nifas dilakukan 4 kali , masa nifas dalam keadaan normal, tidak ada perdarahan, kontraksi uterus baik, tidak ditemukan tanda bahaya nifas, luka jahitan perineum baik. Pada bayi baru lahir, hasil pemeriksaan antropometri normal. Kunjungan neonatal dilakukan 3 kali, bayi dalam keadaan sehat, tidak ada tanda ihterus, tidak ada tanda infeksi, perkembangan berat badan normal dan bayi menyusu secara Eksklusif on demand. Ny. P memutuskan menggunakan KB suntik 3 bulan. Setelah diberikan asuhan kebidanan secara komprehensif mulai dari kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir dan neonates didapatkan asuhan berjalan dengan dengan lancar, ibu dan bayi dalam kondisi baik. Diharapkan pasien dapat menerapkan konseling yang diberikan sehingga memberi manfaat bagi kesehatan ibu dan bayi, serta meningkatkan pengetahuan ibu dan keluarga tentang kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir dan neonates.Tidak ada kesenjangan antara teori dan praktek dalam pemberian Asuhan Kebidanan Continuity of Care (CoC)</p>RistiyanawatiAri Widyaningsih
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-302025-12-304217101720Manfaat Pijat Oksitosin pada Asuhan Kebidanan Ibu Nifas Komperensif untuk Melancarkan Produksi ASI di Kelurahan Karang Anyar Kecamatan Tarakan Barat
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1670
<p><em>The postpartum period is a crucial aspect to consider when providing Continuity of Care. If midwives fail to provide optimal care during midwifery care, disrupted production can lead to blocked ducts, insufficient milk supply syndrome, fussy babies, jaundice, and engorgement. Therefore, midwives need to implement oxytocin massage in postpartum care. The method used is descriptive. The report is a case study, involving a postpartum woman in Karang Anyar Village, West Tarakan District. Results obtained during comprehensive care revealed the patient complained of insufficient breast milk production. The midwife provided complementary midwifery care with oxytocin massage. The conclusion is that oxytocin massage can stimulate breast milk production in postpartum women who initially complained of low milk supply. Based on the planning and implementation over three days, oxytocin massage, performed twice daily, in the morning and evening, can help stimulate breast milk production. So the author recommends this oxytocin massage as one method to facilitate breast milk production.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Continuity of care didefinisikan asuhan yang berkelanjutan dan terkoordinasi menekankan bahwa asuhan postpartum merupakan bagian krusial dari COC. Kurangnya produksi ASI pada masa nifas dapat menyebabkan komplikasi seperti sindrom ASI tidak mencukupi, bayi rewel, hingga bendungan ASI. Oleh karena itu stimulasi non farmakologis diperlukan dalam penerapan asuhan kebidanan pada ibu secara berkesinambungan dengan pemberian pijta oksitosin pada masa nifas. Studi ini menggunakan desain deskriptif melalui pendekatan laporan kasus (Case Study). Subjek adalah seorang ibu nifas di Kelurahan Karang Anyar, Kecamatan Tarakan Barat, yang mengalami keluhan kurangnya produksi ASI. Bidan memberikan intervensi pijat oksitosin, dengan frekuensi 2 kali sehari (pagi dan sore) selama 3 hari. Hasil pengkajian menunjukkan keluhan awal subjek adalah kurangnya produksi ASI. Setelah intervensi Pijat Oksitosin sebanyak 2 kali sehari selama 3 hari, didapatkan peningkatan produksi ASI yang signifikan. Kesimpulannya Pemberian Pijat Oksitosin terbukti efektif menstimulasi dan melancarkan produksi ASI pada ibu nifas dalam kasus ini. Peningkatan frekuensi menyusui, bayi tampak lebih tenang. Pijat Oksitosin disarankan untuk diintegrasikan sebagai bagian dari standar asuhan komplementer untuk mengatasi masalah produksi ASI pada masa nifas. Penelitian selanjutnya dianjurkan untuk melibatkan kelompok kontrol dan sampel yang lebih besar untuk memvalidasi efektivitas pijat oksitosin secara statistik.</p>Julita Br NainggolanHeni Hirawati Pranoto
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-302025-12-304217211727Optimalisasi Pijat Counter Pressure untuk Persalinan Aman dan Nyaman di RSUD dr. H Jusuf SK Tarakan
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1671
<p><em>Mothers giving birth often experience intense pain and discomfort due to uterine contractions. This pain not only has a physical impact but can also cause stress and anxiety, potentially delaying the labor process. Therefore, efforts to reduce labor pain are a primary focus of midwifery services to ensure a safe and comfortable delivery. One non-pharmacological technique for reducing labor pain is counter pressure massage. Midwives play a crucial role in improving maternal health and well-being, especially during labor. The method used is descriptive. The report is a case study, taking the case of a mother giving birth at dr. H. Jusuf SK Tarakan Regional Hospital. Results obtained during comprehensive care showed that the patient complained of pain during labor, and appropriate management was provided, including counterpressure to reduce pain. The conclusion is that comprehensive midwifery care was provided to the mother, preventing complications and ensuring a safe and comfortable delivery.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Ibu melahirkan sering mengalami rasa nyeri yang intens dan ketidaknyamanan akibat kontraksi rahim. Rasa nyeri ini tidak hanya berdampak secara fisik, tetapi juga dapat menimbulkan stres dan kecemasan yang berpotensi memperlambat proses persalinan. Oleh karena itu, upaya untuk mengurangi rasa nyeri persalinan menjadi salah satu fokus utama dalam pelayanan kebidanan agar persalinan dapat berlangsung aman dan nyaman. Salah satu teknik nonfarmakologis untuk mengurangi nyeri persalinan adalah pijat counter pressure. Bidan memegang peran penting untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan ibu terutama dimasa persalinan. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif. Jenis laporan yang digunakan adalah studi kasus (Case Study) yaitu dengan cara mengambil kasus ibu bersalin di RSUD dr. H. Jusuf SK Tarakan. Hasil yang diperoleh selama asuhan komprehensif pasien mengeluh nyeri saat persalinan sehingga diberikan tata laksana sesuai dengan kasus dan pemberian counter pressure untuk mengurangi nyeri. Kesimpulannya adalah asuhan kebidanan komprehensif telah diberikan pada ibu bersalin sehingga ibu terhindar dari komplikasi dan menjalani persalinannya dengan aman dan nyaman. Disarankan melalui studi kasus asuhan kebidanan ini mahasiswa dapat menerapkan atau mengaplikasikan ilmu dan keterampilan yang telah didapatkan pada praktik lahan nanti.</p>Eni Tri SudarmanIda Sofiyanti
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-302025-12-304217281735Keberhasilan Persalinan Normal pada Ibu Bertubuh Pendek melalui Pendekatan Continuity of Care
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1673
<p><em>This case study describes the implementation of Continuity of Care (CoC) in managing a physiological labor experienced by a mother with a notably short stature of 136 cm, a condition commonly associated with a higher risk of cephalopelvic disproportion (CPD). Despite this anthropometric risk factor, the labor progressed normally from the first to the fourth stage, with no signs of obstruction. Clinical observations showed regular uterine contractions, progressive cervical dilation, effective fetal descent, and an optimal fetal position, indicating adequate pelvic function. Complementary therapies such as counterpressure, warm compresses, and breathing techniques contributed to pain reduction and maternal comfort, supporting labor progress. The newborn’s length of 46 cm was within the lower limit of normal and proportional to maternal stature. The continuous support provided through the CoC approach played a significant role in enhancing maternal readiness, emotional stability, and overall labor outcomes. This case reinforces that maternal height alone is not a definitive predictor of labor complications and highlights the importance of comprehensive, continuous midwifery care.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Studi kasus ini menggambarkan penerapan Continuity of Care (CoC) pada ibu dengan tinggi badan 136 cm yang menjalani persalinan fisiologis tanpa tanda-tanda disproporsi kepala–panggul meskipun memiliki faktor risiko antropometri. Proses persalinan berlangsung normal dari kala I hingga kala IV, ditandai dengan kontraksi uterus yang teratur, pembukaan serviks yang progresif, penurunan kepala janin yang baik, serta posisi janin yang optimal. Terapi komplementer seperti counterpressure, kompres hangat, dan teknik pernapasan membantu mengurangi nyeri dan meningkatkan kenyamanan ibu sehingga mendukung kemajuan persalinan. Bayi lahir dengan panjang 46 cm, masih dalam batas normal dan sesuai dengan karakteristik ibu. Pendekatan CoC yang dilakukan secara berkesinambungan meningkatkan kesiapan fisik dan emosional ibu, serta berkontribusi terhadap keberhasilan persalinan normal. Kasus ini menunjukkan bahwa tinggi badan rendah tidak dapat dijadikan prediktor tunggal hambatan persalinan dan menegaskan pentingnya asuhan kebidanan komprehensif yang berkelanjutan.</p>Rila Aneka Tanjung SadewiIda Sofiyanti
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-302025-12-304217361744Asuhan Kebidanan Komprehensif pada Ny S Umur 33 Tahun G2P1A0 di Puskesmas Kedungwuni II Kabupaten Pekalongan
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1674
<p><em>Maternal mortality and infant mortality rates remain important indicators of a nation’s welfare. Based on data from the Directorate of Family Health (2020), Indonesia’s maternal mortality rate reached 305 per 100,000 live births, while the infant mortality rate was 22.23 per 1,000 live births. One of the contributing factors to pregnancy complications is Chronic Energy Deficiency (CED) in pregnant women. The government’s efforts to reduce these rates are carried out through the Safe Motherhood Initiative program, which includes comprehensive midwifery care or Continuity of Care (CoC), covering antenatal, intrapartum, postpartum, newborn, and family planning services. The method used in this study was a descriptive case study approach on Mrs. S, 33 years old, with CED at Kedungwuni II Health Center, Pekalongan Regency. Comprehensive midwifery care was provided, including early detection of CED, management of nausea and vomiting through acupressure therapy, nutritional counseling, postpartum care, newborn monitoring, and family planning service with IUD insertion. The results showed that pregnancy, delivery, postpartum period, newborn condition, and family planning process all proceeded physiologically without complications. The mother understood the importance of nutrition fulfillment, self-care, exclusive breastfeeding, and postpartum contraceptive use. In conclusion, comprehensive Continuity of Care midwifery services can effectively detect risks early, enhance maternal knowledge, and support the ongoing health of both mother and baby. Complementary midwifery care, such as acupressure, was also beneficial in alleviating non-pharmacological complaints during pregnancy.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) masih menjadi indikator penting dalam menilai kesejahteraan masyarakat. Berdasarkan data Direktorat Kesehatan Keluarga tahun 2020, AKI di Indonesia mencapai 305 per 100.000 kelahiran hidup, sedangkan AKB mencapai 22,23 per 1.000 kelahiran hidup. Salah satu penyebab meningkatnya risiko komplikasi kehamilan adalah Kekurangan Energi Kronis (KEK) pada ibu hamil. Upaya pemerintah untuk menurunkan AKI dan AKB dilakukan melalui program Safe Motherhood Initiative yang mencakup pelayanan kebidanan berkesinambungan atau Continuity of Care (CoC) mulai dari masa kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir, hingga keluarga berencana. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan studi kasus (case study) pada Ny. S, usia 33 tahun, dengan kondisi KEK di Puskesmas Kedungwuni II Kabupaten Pekalongan. Asuhan kebidanan diberikan secara komprehensif meliputi deteksi dini KEK, penanganan keluhan mual muntah dengan akupresur, edukasi gizi, perawatan masa nifas, pemantauan bayi baru lahir, dan pelayanan KB dengan pemasangan IUD. Hasil asuhan menunjukkan bahwa kehamilan, persalinan, masa nifas, bayi baru lahir, dan keluarga berencana berlangsung secara fisiologis tanpa komplikasi. Ibu memahami pentingnya pemenuhan gizi, perawatan diri, pemberian ASI eksklusif, dan penggunaan kontrasepsi pascasalin. Kesimpulan dari studi ini adalah pelaksanaan asuhan kebidanan Continuity of Care secara komprehensif mampu mendeteksi dini risiko, meningkatkan pengetahuan ibu, serta mendukung kesehatan ibu dan bayi secara berkelanjutan. Selain itu, asuhan komplementer seperti akupresur efektif membantu mengatasi keluhan nonfarmakologis selama kehamilan.</p>Elisa IndraeniEti Salafas
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-302025-12-304217451753Studi Kasus : Asuhan Kebidanan Komprehensif pada Ny “N” Usia 38 Tahun G3P2A0 di RSK Ngesti Waluyo Parakan Temanggung
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1676
<p><em>Maternal and infant mortality rates are one of the indicators to measure the health status of a country. Early detection efforts to overcome morbidity and mortality for mothers, infants and toddlers can be carried out by implementing continuous care or Continuity Of Care (COC) starting from pregnancy, childbirth, postpartum, newborns, to family planning. The purpose of this study is to provide comprehensive and continuous midwifery care to Mrs. S starting from pregnancy, childbirth, postpartum, neonates and family planning. The type of descriptive research used is a case study, the research instrument uses a descriptive approach method and is documented in the form of SOAP. In this care, the author collects data through interviews, observations, physical examinations, supporting examinations, documentation studies and bibliography studies. This study was conducted in July-October 2025. From the results of the provision of pregnancy care, the mother no complained The delivery process was by CS on the indication pre eclampsia. In the fist postpartum care visit, found nipples shorted and the mother was given breast care. In newborn care, everything was found to be within normal limits, the baby was given 1 mg of vitamin K care, hepatitis B0 immunization and SHK , PJB examination. While in family planning care, Mrs. S used a stable family planning method, namely IUD pasca CS.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Angka kematian ibu dan bayi merupakan salah satu indikator untuk mengukur derajat kesehatan bagi suatu negara. Kegiatan upaya deteksi dini untuk mengatasi kesakitan maupun kematian baik ibu, bayi dan balita tersebut dapat dilakukan dengan salah satunya yaitu implementasi asuhan berkelanjutan atau Continuity Of Care (COC) yang dimulai dari masa kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir, sampai dengan KB. Tujuan penelitian ini mampu memberikan asuhan kebidanan pada Ny. N secara komprehensif dan berkesinambungan mulai dari kehamilan, bersalin, nifas, neonatus dan KB. jenis penelitian deskriptif yang digunakan adalah studi kasus (case study), Instrumen penelitian menggunakan metode pendekatan yang bersifat deskriptif dan didokumentasikan dalam bentuk SOAP. Dalam asuhan ini, penulis mengumpulkan data melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, studi dokumentasi dan studi daftar pustaka. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli-Oktober 2025. Dari hasil pemberian asuhan kehamilan, ibu tidak ada keluhan. Proses persalinan secara SC atas indikasi Pre Eklamsi. Pada asuhan nifas kujungan pertama didapatkan putting susu Tenggelam dan ibu diberikan asuhan perawatan payudara, dan cara penggunaan dan perawatan botol susu. Pada asuhan bayi baru lahir didapatkan semua dalam batas normal, bayi diberikan asuhan vitamik K 1 mg, imunisasi hepattis B0 dan pemeriksaan SHK dan PJB Sedangkan pada asuhan KB Ny. N menggunakan KB IUD pasca SC.</p>Woro MaulaniLuvi Dian Afriyani
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-302025-12-304217541760Asuhan Kebidanan Continuity of Care (COC) pada Ny.S Umur 39 Tahun G4P2A1 di Wilayah Kerja Puskesmas Semowo
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1677
<p><em>Pregnancy, childbirth, postpartum, and neonates are physiological conditions that may threaten the lives of mothers and babies and even cause death. One effort that can be made is implementing a comprehensive midwifery care model that can optimize the detection of high maternal neonatal risks. The purpose of Comprehensive Midwifery Care (COC) for Mrs. S is to provide midwifery care for pregnant women, childbirth, postpartum, newborns and family planning for Mrs. S G4P2A1. The method used is a case study research, namely comprehensive care for pregnant women, childbirth, newborns and postpartum is a descriptive research method. The type of descriptive research used is a case study. The sample in this study was a second trimester pregnant woman with a gestational age of 29 weeks and 4 days, G4P2A1. The research period was July - October 2025 in the Sukoharjo 01/05 Pabelan area. The research instrument used the SOAP documentation method with a varney management mindset. The collection technique used primary data through interviews, observations, physical examinations, and KIA books. The results of the care obtained for Mrs. S P3A1, 14 days postpartum, presented with sore nipples. During the comprehensive care provided to Mrs. S, complaints were received during the KN 3 visit regarding sleep disturbances in the baby and sore nipples during the KF 3 visit. The researchers responded to the mother's complaints by providing massage to improve the baby's sleep patterns and also teaching proper breastfeeding techniques to address the complaint of sore nipples. The postpartum period proceeded normally with no bleeding, good uterine contractions, and lochia rubra. The newborn's anthropometric examination results were normal, SHK was negative, and OEA passed. Mrs. S and her husband decided to use family planning and had a contraceptive implant inserted.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Masa kehamilan, persalinan, nifas, neonatus merupakan suatu keadaan fisiologis yang kemungkinan mengancam jiwa ibu, bayi bahkan menyebabkan kematian. Salah satu upaya yang dapat dilakukan menerapkan model asuhan kebidanan komperehensif yang dapat mengoptimalkan deteksi risiko tinggi maternal neonatal. Tujuan Asuhan Kebidanan Komprehensif (COC) pada Ny.S yaitu untuk Melakukan asuhan kebidanan pada ibu hamil, bersain, nifas, BBL dan KB pada Ny.S G4P2A1. Metode yang digunakan adalah penelitian studi kasus yaitu asuhan komprehensif pada ibu hamil, bersalin, bayi baru lahir dan nifas ini adalah metode penelitian deskriptif. Jenis penelitian deskriptif yang digunakan adalah studi penelaahan kasus (Case Study) Sampel pada penelitian ini adalah seorang ibu hamil trimester II usia kehamilan 29 minggu 4 hari, G4P2A1. Waktu penelitian Juli – Oktober 2025 di wilayah Sukoharjo 01/05 Pabelan, Instrumen penelitian menggunakan metode dokumentasi SOAP dengan pola pikir manajemen varney. Teknik pengumpulan menggunakan data primer melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, buku KIA. Hasil asuhan didapatkan Ny. S P3A1 post partum 14 hari dengan putting lecet. Dalam pemberian asuhan komprehensif pada Ny.S didapatkan keluhan saat kunjungan KN 3 tentang gagguan tidur pada bayi dan putting lecet pada kunjungan KF 3, hal yang dilakukan peneliti terkait keluhan ibu yaitu memberikan pijat atau massage untuk memperbaiki pola tidur bayi dan juga mengajarkan teknik cara menyusui yang benar untuk mengatasi keluhan putting lecet. Masa nifas berlangsung normal tidak ada pendarahan, kontraksi uterus baik, lochea rubra. Pada bayi baru lahir hasil pemeriksaan antropometri normal, SHK negative dan OEA lulus. Ny. S dan suami memutuskan untuk KB dan telah dilakukan pemasangan KB Implant pada Ny. S.</p>Dwi PrasetyoriniEti Salafas
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-302025-12-304217611769Peningkatan Partisipasi Ibu Hamil dalam Program Skrining BBL Skrining Hipotiroid Konginental (SHK) Melalui Pendekatan Edukatif
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1850
<p><em>Congenital hypothyroidism is a metabolic disorder that may lead to impaired growth and neurodevelopment if not detected and treated early. Newborn Screening, particularly screening for Congenital Hypothyroidism (CH), is a crucial strategy to prevent disability and developmental delay in children. However, the coverage of CH screening at primary healthcare facilities remains suboptimal, partly due to limited maternal knowledge and lack of awareness regarding the importance of early screening. This community service activity aimed to improve the knowledge and awareness of mothers of newborns and healthcare providers regarding the importance of congenital hypothyroidism screening as an early detection effort. The activity was conducted in the working area of a primary healthcare center through health education sessions, interactive discussions, and technical assistance in newborn screening implementation. The participants included mothers of newborns and healthcare workers involved in maternal and child health services. The results showed an improvement in mothers’ understanding of the purpose, benefits, and timing of congenital hypothyroidism screening. In addition, healthcare providers demonstrated better readiness in performing screening procedures according to established standards. This community service activity contributes to increasing awareness among both the community and healthcare providers regarding the importance of early detection of congenital hypothyroidism, which is expected to support the prevention of growth and developmental disorders in children.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Hipotiroid kongenital merupakan salah satu kelainan metabolik bawaan yang dapat menimbulkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak apabila tidak terdeteksi dan ditangani sejak dini. Skrining Bayi Baru Lahir (SBBL), khususnya skrining Hipotiroid Kongenital (SHK), menjadi upaya strategis dalam pencegahan kecacatan dan keterlambatan perkembangan pada anak. Namun, cakupan pelaksanaan skrining SHK di tingkat pelayanan kesehatan dasar masih belum optimal, salah satunya disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan ibu dan kurangnya pemahaman mengenai pentingnya skrining pada bayi baru lahir. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman ibu bayi baru lahir serta tenaga kesehatan mengenai pentingnya skrining SHK sebagai upaya deteksi dini hipotiroid kongenital. Kegiatan dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas melalui metode edukasi kesehatan, diskusi interaktif, dan pendampingan pelaksanaan skrining bayi baru lahir. Sasaran kegiatan meliputi ibu bayi baru lahir dan tenaga kesehatan yang terlibat dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman ibu mengenai tujuan, manfaat, dan waktu pelaksanaan skrining SHK. Selain itu, tenaga kesehatan menunjukkan kesiapan yang lebih baik dalam melaksanakan prosedur skrining sesuai standar. Kegiatan pengabdian ini berkontribusi dalam mendukung peningkatan kesadaran masyarakat dan tenaga kesehatan terhadap pentingnya deteksi dini hipotiroid kongenital, sehingga diharapkan dapat mencegah terjadinya gangguan tumbuh kembang anak di kemudian hari.</p>Sri RahayuSarah AnissaYulia Nur Khayati
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-292025-12-294217701776Asuhan Kebidanan Komprehensip pada Ny. Dr Umur 31 Tahun G2P1A0 di Puskesmas Bringin
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1789
<p><em>The maternal mortality rate (MMR) and infant mortality rate (IMR) are important indicators of the level of public health. COC. To prevent or reduce MMR and IMR, health workers provide quality health services in a COC manner. One of the targets set in the 3rd 2030 agenda (Sustainable Development Goals) is to target a MMR (Maternal Mortality Rate) of 70 per 100,000 live births. MMR in Indonesia is still relatively high and is one of the main health problems. The maternal mortality rate (MMR) in the world is 303,000 people. The Maternal Mortality Rate (MMR) in ASEAN is 235 per 100,000 live births (ASEAN Secretariat, 2020). The district/city with the lowest maternal mortality rate was Magelang City with 1 case, followed by Surakarta and Salatiga with 3 cases. 62.27 percent of maternal deaths in Central Java Province occurred during the postpartum period (Central Java Health Profile, 2023). The maternal mortality rate in Semarang Regency in 2021 was lower than the national maternal mortality rate, which was 58.20 per 100,000 out of 12,028 live births. ). The aim of the case study is to provide comprehensive midwifery care for Mrs. DR aged 31 years from pregnancy to family planning services at the Ungaran Community Health Center. The method used is a case study approach to midwifery care, namely SOAP (Subjective, Objective, Analysis and Management) for Mrs. DR aged 31 years in March –November 2024. Results of care carried out for Mrs. In family planning services, most of the care has been provided in accordance with midwifery care standards, but there is some care that has not been provided appropriately.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) menjadi salah satu indikator penting dari derajat kesehatan masyarakat. COC. Untuk mencegah atau mengurangi AKI dan AKB tenaga kesehatan memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas secara COC. Salah satu target yang ditentukan dalam tujuan agenda 2030 (Sustainable Development Goals) yang ke-3 yaitu menargetkan AKI (Angka Kematian Ibu) 70 per 100.000 kelahiran hidup. AKI di Indonesia masih tergolong tinggi dan merupakan salah satu masalah utama kesehatan. Angka Kematian Ibu (AKI) didunia sebanyak 303.000 jiwa. Angka Kematian Ibu (AKI) di ASEAN yaitu sebesar 235 per 100.000 kelahiran hidup (ASEAN Secretariat, 2020). Kabupaten/ Kota dengan jumlah kasus kematian ibu tertinggi adalah Kabupaten Brebes sebanyak 50 kasus. Kabupaten/ Kota dengan kasus kematian ibu terrendah adalah Kota Magelang dengan 1 kasus, diikuti Kota Surakarta dan Salatiga dengan 3 kasus. Sebesar 62,27 persen kematian maternal di Provinsi Jawa Tengah terjadi pada waktu nifas (Profil Kesehatan Jawa Tengah,2023). Angka Kematian Ibu di Kabupaten Semarang tahun 2021 lebih kecil dari angka kematian ibu secara nasional yaitu 58,20 per 100.000 dari 12.028 Kelahiran Hidup. Tujuan dari Studi kasus untuk melakukan asuhan kebidanan yang komprehensif pada Ny. DR Umur 31 Tahun dari hamil sampai dengan pelayanan keluarga berencana di Puskesmas Bringin. Metode yang digunakan dengan pendekatan studi kasus asuhan kebidanan yaitu SOAP (Subjektif, Objektif, Analisa dan Penatalaksanaan) pada Ny. DR Umur 31 Tahun pada bulan Juni – November 2025. Hasil Asuhan yang dilakukan pada Ny. DR Umur 31 Tahun G2P1A0 dari ibu hamil sampai pelayanan keluarga berencana sebagian besar asuhan telah di berikan sesuai dengan standar asuhan kebidanan, namun ada beberapa asuhan yang belum di berikan dengan tepat.</p>Dina FitrianingtyasWahyu Kristiningrum
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-292025-12-294217771787Studi Kasus Tatalaksana Kehamilan pada Ny. B G1P0A0 Umur 20 tahun dengan KEK dan Anemia di Desa Lodoyong kec. Ambarawa
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1774
<p><em>According to the World Health Organization (WHO), anemia during pregnancy is one of the contributing factors to maternal mortality. Anemia is a hematological disorder caused by a low concentration of red blood cells (erythrocytes) in the body. Anemia in pregnant women can lead to various complications, including abortion, postpartum hemorrhage, prolonged labor, shock, intrapartum and postpartum infections, and ineffective labor duration.Chronic energy deficiency (CED) refers to a long-term lack of energy intake. In pregnant women, CED is caused by inadequate dietary intake or improper consumption patterns of carbohydrates and fats. This study used a case study method. Data were collected through interviews, physical examinations, and observations. The data consisted of primary data and secondary data obtained from the Maternal and Child Health (MCH) handbook and SOAP documentation instruments. Data analysis was conducted using descriptive analysis.Based on the antenatal care (ANC) examination on March 5, 2025, at 16 weeks of gestation, laboratory results showed a hemoglobin level of 10.4 g/dL, indicating mild anemia. In addition, the mid-upper arm circumference (MUAC) measurement of 22.5 cm indicated chronic energy deficiency. The care provided included supplementary feeding and monitoring of iron (Fe) tablet consumption. At the follow-up examination on August 19, 2025, the mother’s condition showed improvement, with a body weight of 56 kg, MUAC of 24 cm, gestational age of 39 weeks, hemoglobin level increased to 11.5 g/dL, and fundal height of 32 cm with an estimated fetal weight of approximately 3,100 grams. These findings indicate an improvement in the maternal condition following the interventions. It is expected that pregnant women consistently apply the counseling provided throughout the antenatal care visits.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Menurut WHO Salah satu penyebab kematian pada ibu hamil adalah anemia pada masa kehamilan Anemia adalah kelainan hematologis yang disebabkan oleh rendahnya konsentrasi sel darah merah (eritrosit) dalam tubuh. Anemia pada ibu hamil dapat menyebabkan abortus, perdarahan postpartum, persalinan berkepanjangan, syok, infeksi intrapartum dan postpartum, serta durasi persalinan yang tidak efektif. kekurangan energi kronis (KEK) merupakan kekurangan tenaga. KEK pada ibu hamil diakibatkan karena kekurangan asupan makanan atau pola konsumsi karbohidrat dan lemak dalam tubuh. Metode yang digunakan adalah studi kasus. Dengan pengumpulan data dengan cara interview, pemeriksaan fisik dan observasi. Data yang digunakan berupa data primer dan data sekunder melalui buku KIA serta instrumen penelitian dokumentasi SOAP. Analisis data menggunkanan analisis diskritif. Berdasarkan riwayat pemeriksaan antenatal care (ANC) pada tanggal 05 Maret 2025 dengan usia kehamilan 16 minggu, hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan kadar hemoglobin sebesar 10,4 g/dl sehingga ibu dikategorikan mengalami anemia ringan. Selain itu, hasil pengukuran lingkar lengan atas (LILA) sebesar 22,5 cm menunjukkan ibu mengalami kekurangan energi kronis (KEK). Asuhan yang diberikan meliputi pemberian makanan tambahan (PMT) serta pemantauan konsumsi tablet Fe. Pada pemeriksaan selanjutnya tanggal 19 Agustus 2025 diperoleh hasil berat badan ibu 56 kg, LILA 24 cm, usia kehamilan 39 minggu, kadar hemoglobin meningkat menjadi 11,5 g/dl, serta tinggi fundus uteri 32 cm dengan taksiran berat janin sekitar 3.100 gram. Hasil tersebut menunjukkan adanya perbaikan kondisi ibu setelah dilakukan intervensi. Diharapkan ibu hamil dapat menerapkan konseling yang telah diberikan secara konsisten selama masa kunjungan kehamilan.</p>Weni AmbarwatiYulia Nur Khayati
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-292025-12-294217881794Peningkatan Literasi Kesehatan dan Kesejahteraan Ibu Hamil melalui Edukasi Terintegrasi dan Praktik Yoga Prenatal
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1851
<p><em>The second and third trimesters of pregnancy are often accompanied by physical discomforts such as back pain and anxiety before childbirth. Prenatal yoga is an effective non-pharmacological intervention to improve physical fitness and mental balance for pregnant women. This community service activity aims to increase knowledge as well as the physical and mental readiness of pregnant women through education and prenatal yoga stimulation. The activity was carried out simultaneously in two locations: Klinik Pratama Polda Kaltara (Tarakan) and TPMB Eka Putri (Tanjung Selor) in December 2025. The targets were 10 pregnant women in their second and third trimesters. The methods included theoretical education, video tutorial demonstrations, and prenatal yoga practice (Warrior poses and relaxation). The evaluation was measured using pre-test and post-test instruments and testimonial interviews. The analysis showed a significant increase in knowledge; before the intervention, the majority of participants (80%) were in the "poorly understood" category, which increased to 100% in the "well understood" category after the intervention. Clinically, participants reported reduced back pain, feeling more relaxed, and increased confidence in facing labor. Prenatal yoga stimulation is effective in increasing the knowledge and physical and mental readiness of pregnant women. It is recommended for healthcare facilities to integrate prenatal yoga into routine Antenatal Care (ANC) services.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Kehamilan trimester II dan III sering disertai dengan ketidaknyamanan fisik seperti nyeri punggung dan kecemasan menjelang persalinan. Yoga prenatal merupakan salah satu intervensi non-farmakologis yang efektif untuk meningkatkan kebugaran fisik dan keseimbangan mental ibu hamil. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan serta kesiapan fisik dan mental ibu hamil melalui edukasi dan stimulasi yoga prenatal. Kegiatan dilaksanakan secara serentak di dua lokasi, yaitu Klinik Pratama Polda Kaltara (Tarakan) dan TPMB Eka Putri (Tanjung Selor) pada Desember 2025. Sasaran kegiatan adalah 10 ibu hamil trimester II dan III. Metode yang digunakan meliputi edukasi teori, demonstrasi video tutorial, dan praktik yoga prenatal (Warrior poses dan relaksasi). Evaluasi keberhasilan diukur menggunakan instrumen pre-test dan post-test serta wawancara testimoni. Hasil analisis menunjukkan peningkatan pengetahuan yang signifikan, di mana sebelum intervensi mayoritas peserta (80%) berkategori kurang mengerti, meningkat menjadi 100% berkategori sangat mengerti setelah intervensi. Secara klinis, peserta melaporkan berkurangnya keluhan nyeri punggung, perasaan lebih rileks, dan meningkatnya kepercayaan diri dalam menghadapi persalinan. Stimulasi yoga prenatal efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan kesiapan fisik maupun mental ibu hamil. Disarankan bagi fasilitas pelayanan kesehatan untuk mengintegrasikan yoga prenatal ke dalam layanan rutin Antenatal Care (ANC).</p>Maria Goreti BengaIda SofiyantiSyarifah Zaidah Putri Al-Hinduan
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-292025-12-294217951801Yoga sebagai Upaya Mengurangi Nyeri Haid pada Remaja di Sekolah MTS Nurul Islam
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1831
<p><em>Menstrual pain (dysmenorrhea) is a common complaint among adolescent girls and can disrupt comfort and learning activities at school. Many adolescents experience abdominal cramps, back pain, headaches, and mood changes, yet few are aware of effective non- pharmacological management methods. Yoga is a form of physical exercise and relaxation that can help relieve menstrual pain through muscle stretching, breathing, and body relaxation (Rong et al., 2020). Objective: This community service activity aims to provide reproductive health education and train adolescent girls at MTs Nurul Islam to perform yoga movements to safely and independently reduce menstrual pain intensity. Methods: The activity was conducted on December 13, 2025, with 34 female students from grades VII–IX experiencing menstrual pain. The implementation included a pre-test, education on menstrual pain and the benefits of yoga, guided yoga practice with an instructor, and a post-test to assess participants’ knowledge and skills improvement. Results: Pre-test results showed that most participants had adequate knowledge of menstrual pain and yoga. After the educational and yoga practice sessions, post-test results indicated a significant improvement, with 76% of participants having good knowledge and all participants able to perform yoga movements correctly. Participants also reported reduced menstrual pain intensity and increased comfort during school activities. Conclusion: Yoga is proven effective as a non-pharmacological method for reducing menstrual pain in adolescent girls while enhancing their understanding of reproductive health. This activity can be considered a safe, easy-to-practice, and beneficial intervention for the well-being of adolescent girls at school</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Nyeri haid (dismenore) merupakan keluhan umum yang dialami remaja putri dan dapat mengganggu kenyamanan serta aktivitas belajar di sekolah. Banyak remaja mengalami kram perut, nyeri punggung, sakit kepala, dan perubahan suasana hati, namun masih sedikit yang mengetahui cara penanganan non-farmakologis yang efektif. Yoga merupakan latihan fisik dan relaksasi yang dapat membantu meredakan nyeri haid melalui peregangan otot, pernapasan, dan relaksasi tubuh (Rong et al., 2020). Tujuan: Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan memberikan edukasi kesehatan reproduksi dan melatih remaja putri di Sekolah MTs Nurul Islam melakukan gerakan yoga untuk mengurangi intensitas nyeri haid secara aman dan mandiri. Metode: Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 13 Desember 2025 dengan peserta sebanyak 34 remaja putri kelas VII–IX yang mengalami nyeri haid. Metode pelaksanaan meliputi pre- test, edukasi tentang nyeri haid dan manfaat yoga, praktik gerakan yoga bersama instruktur, serta post-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan dan keterampilan peserta. Hasil: Hasil pre-test menunjukkan sebagian besar peserta memiliki pengetahuan cukup mengenai nyeri haid dan yoga. Setelah kegiatan edukasi dan praktik yoga, hasil post-test menunjukkan peningkatan signifikan, dengan 76% peserta memiliki pengetahuan baik dan seluruh peserta mampu melakukan gerakan yoga secara benar. Selain itu, peserta melaporkan penurunan intensitas nyeri haid dan meningkatnya kenyamanan saat beraktivitas di sekolah. Kesimpulan: Yoga terbukti efektif sebagai metode non-farmakologis untuk mengurangi nyeri haid pada remaja putri, sekaligus meningkatkan pemahaman mereka tentang kesehatan reproduksi. Kegiatan ini dapat dijadikan alternatif intervensi yang aman, mudah dilakukan, dan bermanfaat bagi kesejahteraan remaja putri di sekolah.</p>Anggun Puspita DewiNurul FirdausTuti EmawatiNurjanahRisma Aliviani Putri
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-292025-12-294218021809Edukasi Massage Comond Cold untuk Meningkatkan Pengetahuan Ibu Bayi dan Balita dalam Meredakan Gejala Batuk Pilek pada Bayi dan Balita
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1806
<p><em>Common cold is a symptom of Upper Respiratory Tract Infection in children under 5 years old. Common cold is a major cause of morbidity and mortality from infectious diseases worldwide. One way to overcome this is by conducting common cold massage. Objective: To improve mothers' knowledge and skills regarding common cold massage to relieve cough and cold symptoms in toddlers. Community Service will be implemented in 3 stages: The First Stage is preparation by collaborating with partners and determining community service targets. The Second Stage is the implementation stage, before the counseling, a pretest is conducted to explore mothers' knowledge regarding infant massage. Next, education and training on common cold massage are carried out with direct demonstrations. The Third Stage is an evaluation by administering a posttest questionnaire. This activity was attended by 25 mothers of infants and toddlers. Before the counseling on infant massage, it was found that most of the mothers' knowledge was in the poor category, namely 19 people (76%), and after the counseling, the mothers had knowledge in the good category, namely 25 people (100%). There was an increase in knowledge before and after the common cold massage education. It is hoped that health workers will reduce common cold symptoms early by providing education on common cold massage to parents of babies and toddlers.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Commond cold merupakan gejala infeksi saluran pernafasan atas pada anak dibawah usia 5 tahun. Commond Cold yaitu penyebab utama morbiditas dan mortalitas dari penyakit menular diseluruh dunia. Salah satu cara untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan melakukan pijat Commond Cold. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan ibu mengenai pijat common cold untuk meredakan gejala batuk pilek pada bayi balita. Pengabdian Masyarakat akan dilaksanakan dalam 3 tahap yaitu Tahap Pertama melakukan persiapan dengan cara melakukan kerja sama dengan mitra dan menentukan sasaran pengabdian masyarakat. Tahap Kedua tahap pelaksanaan, sebelum dilakukan penyuluhan, dilakukan pretest untuk menggali pengetahuan ibu mengenai pijat bayi. Selanjutnya dilakukan edukasi dan pelatihan pijat common cold dengan demonstrasi secara langsung. Tahap Ketiga Melakukan evaluasi dengan cara memberikan kuesioner posttest. Kegiatan ini diikuti oleh 25 orang ibu bayi balita. Sebelum dilakukan penyuluhan mengenai pijat Commond Cold bayi balita didapatkan sebagian besar pengetahuan ibu dalam katagori kurang yaitu sebanyak 19 orang (76%), dan setelah dilakukan penyuluhan ibu memiliki pengetahuan dengan kategori baik yaitu sebanyak 25 orang (100%). terjadi peningkatan pengetahuan sebelum dan sesudah dilakukan edukasi pijat common cold. Diharapkan petugas kesehatan mengurangi gejala Commond Cold lebih dini dengan melakukan edukasi massage Commond Cold kepada orang tua bayi dan balita.</p>Emi WidowatiMuslimaPipit MawarniWartatiLuvi Dian Afriyani
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-292025-12-294218101819Asuhan Kebidanan Continuity of Care (COC) pada Ny. B Umur 33 Tahun G2P0A1 di Klinik Rahayu Ungaran
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1754
<p><em>Maternal Mortality Rate (MMR) and Infant Mortality Rate (IMR) are an important indicator of the level of public health. To reduce the MMR and IMR, this is done with Continuity of Care (CoC) program, namely continuous assistance from pregnancy to 42 days of the postpartum period. This research aims to provide Continuity of Care (CoC) midwifery care for Mrs B aged 33 years with oligohhidramnion and calsification placenta at the Rahayu Clinic Ungaran. The data collection method is using interviews, observation with primary and secondary data through the KIA Book, physical examination and this research began in June – September 2025 Based on the results of a comprehensive case study on Mrs B, 33 years old, 35 weeks 4 days pregnant and had insomnia. She receveid acupressure therapy to address the problem. As labor approached, oligohydramnios and placental calcification developed, leading to a Caesarean section (CS). Postpartum visit (KF) were carried out 4 times and thepostpartum period was normal, there was no bleeding, good uterine contractions, and the surgical wound was dry. In newborn, anthropometric examination is normal. Neonatal visits (KN) were carried out 3 times and the baby was healthy. Mrs “B” decided to use condom for birth control. After being given comprehensive midwifery care starting from pregnancy, childbirth, postpartum, newborn, and neonates, care was found to run smoothly and the mother and baby were in good condition. It is hoped that patient can apply the counseling that has been provided so that it provides health benefits for the mother and baby and increases the mother’s knowledge about pregnancy, childbirth, postpartum, newborn, and neonates.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) menjadi indikator penting derajat kesehatan masyarakat. Untuk menurunkan AKI dan AKB dilakukan dengan Continuity of Care (CoC) yaitu pendampingan berkelanjutan dari hamil hingga 42 hari masa nifas. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan asuhan kebidanan pada Ny B umur 33 tahun dengan oligohidramnion dan kalsifikasi plasenta. Metode pengumpulan data yaitu menggunakan wawancara, observasi dengan data primer dan sekunder melalui Buku KIA, pemeriksaan fisik serta penelitian ini dimulai sejak bulan Juni-September 2025. Pendokumentasian menggunakan SOAP. Berdasarkan hasil studi kasus secara komprehensif pada Ny. B dari masa kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir, dan neonatus didapatkan Ny. B umur 33 tahun hamil 35 minggu 4 hari ditemukan masalah yaitu insomnia. Ny. B mendapatkanterapi acupressure untuk mengatasi insomnia. Saat menjelang persalinan terjadi oligohidramnion dan kalsifikasi plasenta sehingga dilakukan tindakan Sectio Caesarea (SC). Kunjungan nifas (KF) dilakukan 4 kali dan masa nifas berlangsung normal, tidak ada perdarahan, kontraksi uterus baik, dan luka operasi kering. Pada bayi baru lahir pemeriksaan antopometri normal. Kunjungan neonatal (KN) dilakukan 3 kali dan bayi dalam keadaan sehat. Ny. B memutuskan untuk menggunakan KB kondom. Setelah diberikan asuhan kebidanan secara komprehensif mulai dari kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir, dan neonatus didapatkan asuhan berjalan dengan lancar serta ibu dan bayi dalam kondisi baik. Diharapkan pasien dapat menerapkan konseling yang telah diberikan sehingga memberikan manfaat kesehatan bagi ibu dan bayi serta menambah pengetahuan ibu tentang kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir, dan neonatus.</p>Aryani RetnowatiWahyu Kristiningrum
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-292025-12-294218201829Asuhan Kebidanan Continuity of Care (COC) pada Ibu K Umur 27 tahun G1P0A0 di Puskesmas Lerep
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1796
<p><em>Maternal and neonatal health is a fundamental indicator of public health achievement, requiring comprehensive and continuous midwifery services to ensure early detection of risks and optimal management throughout the reproductive cycle. Continuity of Care (CoC) provides an integrated approach that supports women from pregnancy, childbirth, postpartum, newborn care, to family planning, ensuring consistent assessment and tailored interventions. This study aims to describe the implementation and outcomes of CoC midwifery care for Mrs. K, a 27-year-old primigravida, at Lerep Public Health Center from July 25 to September 25, 2025. A descriptive case study design was used, with data collected through structured interviews, direct observation, physical examinations, and documentation review. Findings revealed that the pregnancy progressed within physiological limits, fetal development corresponded with gestational age, and third-trimester discomforts such as anxiety and back pain were successfully managed with education and supportive care. The childbirth process occurred spontaneously without complications, resulting in a healthy newborn with strong crying, normal vital signs, and adequate muscle tone. Postpartum assessment showed normal uterine involution, optimal breastfeeding initiation, absence of infection, and the mother’s ability to perform self-care and newborn care independently. Newborn evaluations indicated normal reflexes, adequate elimination patterns, proper cord care, and no abnormalities during follow-up visits. During the family planning phase, the mother opted for a postpartum intrauterine device (IUD), which was placed without issues and well accepted. Overall, the application of CoC contributed significantly to strengthening maternal readiness, improving neonatal outcomes, and ensuring that every stage of care met clinical standards. The results highlight that comprehensive and continuous midwifery care is an essential strategy to enhance service quality at the primary health care level and holds an important role in reducing maternal and infant morbidity and mortality rates. Strengthening CoC practices is recommended to support better health outcomes for women and newborns in community settings.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Kesehatan ibu dan bayi merupakan komponen penting dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, sehingga diperlukan pelayanan kebidanan yang komprehensif dan berkesinambungan melalui pendekatan Continuity of Care (CoC). CoC memungkinkan penilaian dan pendampingan menyeluruh mulai dari masa kehamilan, persalinan, nifas, asuhan bayi baru lahir, hingga keluarga berencana, sehingga perubahan kondisi ibu dan bayi dapat dimonitor secara konsisten dan deteksi dini risiko dapat dilakukan secara optimal. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan proses dan hasil penerapan asuhan kebidanan berkelanjutan pada Ny. K, umur 27 tahun, G1P0A0 di Puskesmas Lerep selama periode 25 Juli 2025 sampai 25 September 2025. Metode yang digunakan adalah studi penelaahan kasus dengan pendekatan deskriptif melalui pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam, observasi, pemeriksaan fisik, dan telaah dokumen. Hasil pendampingan menunjukkan bahwa selama kehamilan, Ny. K tidak mengalami komplikasi, pertumbuhan janin sesuai usia gestasi, dan keluhan trimester III berupa kecemasan serta nyeri punggung dapat diatasi melalui pendidikan kesehatan dan intervensi sederhana. Persalinan berlangsung spontan, aman, tanpa penyulit, dengan bayi lahir menangis kuat, tonus otot baik, dan parameter vital normal. Pada periode nifas, proses involusi uterus berjalan fisiologis, laktasi lancar, tidak ditemukan tanda infeksi, dan ibu mampu merawat diri serta bayinya secara mandiri. Asuhan bayi baru lahir juga menunjukkan hasil baik, meliputi eliminasi adekuat, refleks neonatal normal, serta perawatan tali pusat yang berjalan tanpa masalah. Pada tahap keluarga berencana, ibu memilih KB IUD pasca salin dan tidak ditemukan keluhan setelah pemasangan. Secara keseluruhan, penerapan CoC memberikan manfaat nyata dalam meningkatkan kesiapan ibu menghadapi setiap tahap reproduksi, memastikan pelayanan sesuai standar, serta memperkuat kualitas pemantauan kesehatan ibu dan bayi. Temuan ini menegaskan bahwa asuhan kebidanan berkelanjutan perlu terus diperkuat sebagai upaya strategis dalam mendukung penurunan angka kesakitan dan kematian ibu serta bayi.</p>Atmelia HarmayantiWidayati
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-292025-12-294218301839Penerapan Counterpressure dalam Mengurangi Nyeri Persalinan Kala I pada Ny. N Umur 36 Tahun G4P3A0 : Laporan Asuhan Kebidanan Komprehensif di PMB Mutia Kasih Sani, S. Keb
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1761
<p><em>Multigravida pregnancy (frequent pregnancies) increases the risk of complications. This is because the mother's body becomes more vulnerable and the uterus can experience fatigue. Continuity of Care is a midwife's effort to improve continuous midwifery services in the community. The author was able to provide continuous midwifery care (Continuity of Care) to Mrs. N, 36 years old, G4P3A0, at Mutia Kasih Sani, S. Keb. The method used was descriptive qualitative with a case study approach. The instruments used were documentation studies, literature studies, observations, interviews. Results of Mrs. N's Pregnancy Care Mrs. N, 36 years old, G4P3A0, UK 35 weeks, complained of a tight stomach and leg cramps. She was given health education and recommendations for pregnancy exercises to overcome complaints. Labor Process (September 7, 2025): Contractions began at 13.00 WIB (5 cm dilation). Stage I: counterpressure therapy for pain. At 17.30 WIB: complete dilation, normal delivery care 60 steps. The baby was born at 5:45 PM WIB, crying spontaneously. Stage III: placenta complete. Stage IV: uterine contractions strong, PPV normal. Neonatal Visit: The baby adapted well, suckled smoothly, breast milk flowed normally. Taught baby massage techniques for stimulation. Postpartum Period: Day 1 postpartum, stitch pain (normal for wound healing). Further monitoring without additional complaints. The mother adapted well, independently caring for the baby and daily activities. Taught oxytocin massage to facilitate breast milk flow. Family Planning Care: No complaints, not yet using a birth control method but planning an IUD. Provided education on contraceptive options. Overall, care went smoothly without significant complications, mother and baby adapted optimally.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Kehamilan multigravida (sering hamil) meningkatkan risiko komplikasi. Hal tersebut dikarenakan tubuh ibu menjadi lebih rentan dan rahim bisa mengalami kelelahan. Contiunity of Care adalah upaya bidan untuk meningkatkan pelayanan kebidanan berkelanjutan di masyarakat. Penulis mampu memberikan asuhan kebidanan berkesinambungan (Continuity Of Care) Pada Ny. N Umur 36 tahun G4P3A0 di Mutia Kasih Sani, S. Keb. Metode yang digunakan diskriptif kualitatif dengan pendekatan case study. Intrumen yang digunakan adalah studi dokumentasi, studi pustaka, obsevasi, wawancara. Hasil Asuhan Kehamilan Ny. N Ny. N, 36 tahun, G4P3A0, UK 35 minggu, mengeluh perut kencang dan kaki kram. Diberikan penkes serta anjuran senam hamil untuk mengatasi keluhan. Proses Persalinan (7 September 2025): Mulai kontraksi jam 13.00 WIB (pembukaan 5 cm). Kala I: terapi counterpressure untuk nyeri. Jam 17.30 WIB: pembukaan lengkap, asuhan persalinan normal 60 langkah. Bayi lahir jam 17.45 WIB, menangis spontan. Kala III: plasenta lengkap. Kala IV: uterus kontraksi keras, PPV normal. Kunjungan Neonatal: Bayi adaptasi baik, menyusu lancar, ASI keluar normal. Diajarkan teknik pijat bayi untuk stimulasi. Masa Nifas: Hari 1 postpartum, nyeri jahitan (normal pada penyembuhan luka). Pemantauan selanjutnya tanpa keluhan tambahan. Ibu adaptasi baik, mandiri merawat bayi dan aktivitas harian. Diajarkan pijat oksitosin untuk lancarkan ASI. Asuhan KB: Tidak ada keluhan, belum pakai metode KB tapi rencana IUD. Diberikan edukasi pilihan kontrasepsi. Secara keseluruhan, asuhan berjalan lancar tanpa komplikasi signifikan, ibu dan bayi adaptasi optimal.</p>SeptiningrumIsfaizah
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-292025-12-294218401850Asuhan Kebidanan Continuity of Care (COC) pada Ny D Umur 25 Tahun di Puskesmas Karanganyar Kabupaten Pekalongan
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1749
<p><em>Maternal Mortality Rate (MMR) and Infant Mortality Rate (IMR) remain important indicators of national health status. Although efforts to reduce MMR and IMR continue, maternal deaths are still predominantly caused by hemorrhage, hypertensive disorders, infection, and postpartum complications, while infant mortality is closely related to prematurity, asphyxia, infection, and congenital abnormalities. Continuity of Care (CoC) is a comprehensive midwifery care model that integrates services from pregnancy, childbirth, postpartum, newborn care, to family planning. CoC enables early detection of risks, prevention of complications, and improved maternal–infant health outcomes. This descriptive case study involved Mrs. D, 25 years old, who received comprehensive midwifery care at Karanganyar Public Health Center, Pekalongan. The care included antenatal assessment following the 10T standard, monitoring of physiological pregnancy, labor management using the APN steps, postpartum care, newborn care, breastfeeding support, and family planning counseling. Complementary care, including breastfeeding education and maternal comfort measures, was provided according to the client’s needs. Results: Pregnancy, labor, postpartum, and newborn care all progressed physiologically without complications. The mother showed good understanding of danger signs, childbirth preparation, postpartum self-care, and exclusive breastfeeding. The newborn demonstrated normal adaptation, received standard essential newborn care, and showed normal growth during follow-up. The mother successfully selected an appropriate postpartum contraceptive method. Comprehensive Continuity of Care services effectively supported early risk detection, improved maternal knowledge, and optimized maternal–neonatal outcomes. Strengthened breastfeeding support contributed to improved maternal confidence, especially for primipara mothers. CoC implementation should be continued as a key strategy to help reduce maternal and infant mortality.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) masih menjadi indikator penting dalam menilai kualitas kesehatan suatu negara. Meskipun berbagai upaya telah dilakukan, kematian ibu masih banyak disebabkan oleh perdarahan, preeklamsia/eklamsia, infeksi, dan komplikasi masa nifas, sedangkan kematian bayi sering berkaitan dengan prematuritas, asfiksia, infeksi, dan kelainan bawaan. Pelayanan kebidanan berkesinambungan atau Continuity of Care (CoC) merupakan model asuhan komprehensif yang diberikan mulai dari kehamilan, persalinan, nifas, perawatan bayi baru lahir hingga keluarga berencana. Pelayanan ini terbukti penting untuk deteksi dini risiko, pencegahan komplikasi, serta peningkatan kesehatan ibu dan bayi. Penelitian ini merupakan studi kasus deskriptif pada Ny. D, usia 25 tahun, yang mendapatkan asuhan kebidanan komprehensif di Puskesmas Karanganyar Kabupaten Pekalongan. Asuhan meliputi pemeriksaan antenatal sesuai standar 10T, pemantauan kehamilan fisiologis, penatalaksanaan persalinan dengan langkah APN, perawatan masa nifas, perawatan bayi baru lahir, dukungan menyusui, serta konseling keluarga berencana. Asuhan komplementer seperti edukasi menyusui dan teknik kenyamanan ibu diberikan sesuai kebutuhan. Seluruh proses kehamilan, persalinan, masa nifas, perawatan bayi baru lahir, hingga pelayanan KB berjalan fisiologis tanpa komplikasi. Ibu memiliki pemahaman yang baik mengenai tanda bahaya kehamilan, persiapan persalinan, perawatan diri masa nifas, dan pemberian ASI eksklusif. Bayi menunjukkan adaptasi normal dan mendapatkan pelayanan esensial neonatal lengkap. Ibu memilih metode kontrasepsi pascasalin yang sesuai kondisinya. Simpulan asuhan kebidanan Continuity of Care terbukti efektif dalam mendeteksi dini risiko, meningkatkan pengetahuan ibu, serta mendukung optimalisasi kesehatan maternal dan neonatal. Dukungan menyusui berperan penting dalam meningkatkan kepercayaan diri ibu, terutama pada ibu primipara. Penerapan CoC perlu terus diperkuat sebagai strategi utama dalam menurunkan AKI dan AKB.</p>Fitriyatul MunawarohMoneca Diah Listiyaningsih
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-292025-12-294218511858Asuhan Kebidanan Komprehensif pada Ny. PSB G1P0A0 dengan Ketuban Pecah Dini di RSU Banyumanik 2 Semarang
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1853
<p><em>Continuity of Care (CoC) in midwifery is a continuous and integrated health service, particularly in midwifery care, which ensures patients receive comprehensive and integrated care from early pregnancy, childbirth, postpartum, newborn care, and family planning programs. Providing continuous midwifery care (CoC) aims to build a trusting relationship between patients and healthcare professionals, allowing optimal monitoring of patients' conditions, early detection of problems and complications, improving well-being, and reducing maternal and infant mortality rates. This study used a case study method with a midwifery management approach and documented the care in the form of SOAP (Subjective, Objective, Analysis, Management). Data were collected through interviews, physical examinations, and observations in monitoring the development of the condition of the mother and baby. This study began from May 16, 2025 to November 19, 2025. Midwifery care provided to Mrs. PSB from pregnancy, childbirth, postpartum, neonate to family planning with a frequency of 10 pregnancy visits, 4 postpartum visits, and 3 neonatal visits. In the second trimester of pregnancy there were no complaints during ANC visits, while during the third trimester ANC visits complained of back pain. To address these complaints, acupressure therapy was administered. During labor, Mrs. PSB experienced premature rupture of membranes, uterine inertia, and labor pain, so she was given antibiotics, uterotonics, and complementary therapies (acupressure and counter pressure). After 7 hours of in-partum observation, the baby was born vaginally. The postpartum period was normal, there was no bleeding, uterine contractions were good, vaginal discharge was within normal limits, there was a second-degree perineal tear, and breast milk was released. The newborn's anthropometric examination results were within normal limits. Mrs. PSB decided to use condoms and the lactational amenorrhea method as contraception.</em></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Continuity of Care (CoC) dalam kebidanan adalah pelayanan kesehatan yang berkelanjutan dan terintegrasi, terutama dalam asuhan kebidanan, yang memastikan pasien menerima perawatan yang komprehensif dan terpadu mulai dari awal kehamilan, persalinan, nifas, perawatan bayi baru lahir, hingga program keluarga berencana. Pemberian asuhan kebidanan yang berkelanjutan (CoC) bertujuan untuk membangun hubungan yang terpercaya antara pasien dan tenaga kesehatan, sehingga dapat memantau kondisi pasien secara optimal, mendeteksi masalah dan komplikasi sedini mungkin, meningkatkan kesejahteraan dan menurunkan angka kematian ibu dan bayi. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus dengan pendekatan manajemen kebidanan dan mendokumentasikan asuhan tersebut dalam bentuk SOAP (Subjektif, Objektif, Analisis, Penatalaksanaan). Data dikumpulkan melalui wawancara, pemeriksaan fisik, dan observasi dalam memantau perkembangan kondisi ibu dan bayi. Penelitian ini dimulai sejak 16 Mei 2025 sampai dengan 19 November 2025. Asuhan kebidanan yang diberikan pada Ny. PSB sejak dari masa kehamilan, persalinan, nifas, neonatus sampai dengan KB dengan frekuensi kunjungan hamil sebanyak 10 kali, nifas 4 kali, dan neonatus 3 kali. Pada kehamilan trimester II tidak ada keluhan saat kunjungan ANC, sedangkan pada kunjungan ANC trimester III mengeluh nyeri punggung. Untuk menangani keluhan tersebut, maka diberikan terapi akupresur. Pada proses persalinan Ny. PSB mengalami ketuban pecah dini, inersia uteri, dan nyeri persalinan sehingga diberikan antibiotik, uterotonika dan terapi komplementer (akupresur dan counter pressure). Setelah dilakukan observasi inpartu selama 7 jam, bayi lahir pervaginam. Masa nifas berlangsung normal tidak ada pendarahan, kontraksi uterus baik, pengeluaran pervaginam dalam batas normal, robekan perineum derajat 2 dan ASI sudah keluar. Pada bayi baru lahir, hasil pemeriksaan antropometri dalam batas normal. Ny. PSB memutuskan menggunakan kontrasepsi kondom dan metode amenore laktasi<em>.</em></p>Zulika Lukita SariNinik Christiani
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-292025-12-294218591867Asuhan Kebidanan Komprehensif pada Ny. T Umur 29 Tahun G2P1A0 Di Klinik Rahayu
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1690
<p>Asuhan berkelanjutan (COC) merupakan salah satu model asuhan kebidanan sebagai upaya untuk melakukan deteksi dini komplikasi. Model asuhan kebidanan komprehensif mempunyai tujuan untuk meningkatkan asuhan yang berkesinambungan mulai dari kehamilan, persalinan, nifas, pelayanan bayi baru lahir serta pelayanan keluarga berencana. Asuhan kehamilan mengutamakan kesinambungan. Desain penelitian yang digunakan yaitu deskriptif, dengan pendekatan studi kasus (Case Study) dengan Manajemen Varney dan didokumentasikan dengan SOAP. Studi kasus dilakukan pada Ny. T umur 29Tahun G2P1A0 di Klinik Rahayu pada bulan Juni sampai September 2025. Metode pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi dengan data primer dan sekunder melalui Buku KIA. Asuhan kebidanan Komprehensif dari Ibu Hamil mengalami keluhan ketidaknyamanan pada kehamilan TM III dengan pemberian Pendidikan Kesehatan dan prenatal yoga, Ibu Bersalin secara normal pada umur kehamilan 38 minggu. Bayi Baru lahir normal dan dilakukan IMD. Nifas ibu dilakukan asuhan sesuai standar asuhan yaitu 4 kali kunjungan. Ibu memilih untuk menggunakan KB Suntik 3 bulan. Dengan Asuhan kebidanan komprehensif akan meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan ibu dan janin.</p>Farida Fatimatuz ZahroWidayati
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-292025-12-294218681878Optimalisasi Kesehatan dan Konsentrasi Anak Melalui Kegiatan Senam Yoga di TPA KB TK Cahya Mentari
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1804
<p><em>Early childhood is at a crucial developmental stage that lays the foundation for many aspects of their future lives. Therefore, they require optimal and continuous stimulation. At preschool age, children often struggle to sit still and focus during learning activities because their activities are largely physical and play-based. This situation was also found at the Cahya Mentari Kindergarten TPA KB TK Cahya Mentari in West Ungaran, Semarang Regency, where initial observations indicated that some children tended to be easily distracted, lacked focus during learning, and had not received structured stimulation for concentration. Attention and focus are essential for children's cognitive development, so age-appropriate interventions are necessary. One non-pharmacological intervention that can be implemented is children's yoga, which combines physical activity, breathing techniques, and mental focus. This community service activity aims to improve children's health and enhance their learning concentration, as well as educate teachers about the application of children's yoga as an alternative concentration stimulation method. The methods used in this activity include observation and interviews with teachers to identify children's initial conditions, providing education about the benefits of children's yoga, conducting face-to-face initial yoga sessions using animated videos, and evaluation through direct observation and testimonials from teachers and children. This activity was held at the TPA KB TK Cahya Mentari, West Ungaran, Semarang Regency on Friday, October 3, 2025. The results of the activity showed that children were able to follow the yoga session well, appeared calmer, more enthusiastic, and showed increased focus and attention during learning activities. The teacher also mentioned that children's yoga is easy to implement and has the potential to become a routine activity to support the learning concentration of early childhood. Therefore, the application of children's yoga can be an effective alternative stimulation to improve learning concentration in preschool children.</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Anak-anak usia dini berada pada tahap perkembangan yang krusial yang meletakkan dasar bagi banyak aspek kehidupan mereka di masa depan. Oleh karena itu, mereka membutuhkan stimulasi terbaik dan berkelanjutan. Pada usia prasekolah, anak-anak sering kesulitan duduk tenang dan fokus selama kegiatan belajar karena aktivitas mereka sebagian besar bersifat fisik dan berbasis permainan. Situasi ini juga ditemukan di TPA KB TK Cahya Mentari di Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, di mana observasi awal menunjukkan bahwa beberapa anak cenderung mudah teralihkan perhatiannya, kurang fokus selama belajar, dan belum menerima stimulasi terstruktur untuk konsentrasi. Perhatian dan fokus merupakan bagian penting dari perkembangan kognitif anak, sehingga perlu diberikan intervensi yang sesuai dengan karakteristik usia anak. Salah satu intervensi non-farmakologis yang dapat diterapkan adalah yoga anak, yang menggabungkan aktivitas fisik, teknik pernapasan, dan fokus mental. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kesehatan anak dan meningkatkan konsentrasi belajar mereka, serta mendidik guru tentang penerapan yoga anak sebagai alternatif stimulasi konsentrasi. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini meliputi observasi dan wawancara dengan guru untuk mengidentifikasi kondisi awal anak, memberikan edukasi tentang manfaat yoga anak, melaksanakan sesi yoga awal menggunakan media video animasi secara tatap muka, dan evaluasi melalui observasi langsung dan testimoni dari guru dan anak. Kegiatan ini dilaksanakan di TPA KB TK Cahya Mentari, Ungaran Barat, Kabupaten Semarang pada hari jumat, 3 oktober 2025. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa anak-anak mampu mengikuti sesi yoga dengan baik, tampak lebih tenang, lebih antusias, dan menunjukkan peningkatan fokus dan perhatian selama kegiatan belajar. Guru juga menyebutkan bahwa yoga anak mudah dilaksanakan dan berpotensi menjadi kegiatan rutin untuk mendukung konsentrasi belajar anak usia dini. Oleh karena itu, penerapan yoga anak dapat menjadi stimulasi alternatif yang efektif untuk meningkatkan konsentrasi belajar pada anak prasekolah.</p>Gabriella Jessica EriestiRisma Aliviani PutriRini SusantiIda Sofiyanti
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-292025-12-294218791886Edukasi dan Pendampingan Pelvic Rocking untuk Menurunkan Keluhan Nyeri Punggung pada Ibu Hamil
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1795
<p><em>Pregnancy is a long-awaited event, but some women may experience discomfort as the pregnancy progresses. One such discomfort is back pain. One way to reduce back pain is through non-pharmacological methods, one of which is Pelvic rocking. Many pregnant women have not yet received education about the importance of pelvic rocking practices to reduce back pain. To increase the knowledge and skills of pregnant women in pelvic rocking to reduce back pain. Community service will be implemented by prior preparation by collaborating with partners and determining the target of community service. Then, before the counseling begins, a pre-test will be conducted to explore the mothers' knowledge about pelvic rocking. Next, education and training on pelvic rocking will be conducted with direct demonstrations. After the pre-test, counseling and evaluation will be conducted by administering a post-test questionnaire. After the activity, which was attended by 20 pregnant women, there was an increase in knowledge and a reduction in pain scale in the majority of pregnant women who experienced back pain. There was an increase in knowledge and skills as well as a reduction in pain scale before and after pelvic rocking counseling. It is hoped that pregnant women can carry out pelvic rocking activities sustainably.</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Kehamilan merupakan hal yang diharapkan akan tetapi ada beberapa yang dapat merasakan ketidaknyamanan seiring besarnya kehamilan. Salah satu ketidaknyamanan yang dirasa yaitu Nyeri punggung. Salah satu cara mengurangi nyeri punggung yaitu dengan metode non farmakologi salah satunya yaitu Pelvic rocking. Banyaknya ibu hamil yang masih belum mendapatkan edukasi tentang pentingnya praktik pelvic rocking guna mengurangi nyeri punggung. untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan ibu hamil dalam pelvic rocking guna mengurangi nyeri punggung. Pengabdian Masyarakat dilaksanakan di Posyandu Mentari Desa Sumenad, dengan sasaran 20 orang ibu hamil yang di lakukan pada tanggal 12 Desember 2025 dengan sebelumnya melakukan persiapan dengan cara melakukan kerja sama dengan mitra dan menentukan sasaran pengabdian masyarakat. Kemudian sebelum penyuluhan dimulai, dilakukan pretest untuk menggali pengetahuan ibu mengenai pelvic rocking. Selanjutnya dilakukan edukasi dan pelatihan pelvic rocking dengan demonstrasi secara langsung. Setelah pretest dilakukan penyuluhan dan evaluasi dengan cara memberikan kuesioner posttest. Setelah dilaksanakan kegiatan yang diikuti oleh 20 orang ibu hamil ini, terjadi peningkatan pengetahuan dan pengurangan skala nyeri pada sebagian besar ibu hamil yang mengalami nyeri punggung. Terjadi peningkatan pengetahuan dan kemampuan serta pengurangan skala nyeri sebelum dan sesudah dilakukan penyuluhan pelvic rocking. Diharapkan ibu hamil dapat melakukan kegiatan pelvic rocking yang berkelanjutan.</p>Rasdiana Binti BaharuddinSiti NurhidayahAri Widyaningsih
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-292025-12-294218871894Penerapan Baby Gym sebagai Stimulasi Motorik Dini untuk Meningkatkan Perkembangan Bayi di Wilayah Kerja Puskesmas Ungaran
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1818
<p><em>The age of 0–12 months is a critical golden period that plays an essential role in determining a child’s growth and development, particularly motor development. One form of early motor stimulation that can be applied is baby gym. This community service activity aimed to improve mothers’ knowledge and skills in providing early motor stimulation through the application of baby gym to support optimal infant development. The activity was conducted on December 16, 2025, in the working area of Ungaran Public Health Center, involving 10 mothers with infants aged 3–12 months. The methods included health education, demonstration, hands-on practice of baby gym, and evaluation using pre-test and post-test assessments. The educational materials covered the definition of baby gym, its benefits, safety principles, and age-appropriate baby gym movements. The evaluation results showed an improvement in mothers’ knowledge after the intervention, as indicated by higher post-test scores compared to pre-test scores. In addition, mothers were able to perform baby gym movements correctly and safely according to the infants’ age. This activity proved effective in enhancing mothers’ knowledge and practical skills and has the potential to serve as a promotive and preventive approach in supporting infant growth and development through early motor stimulation that can be independently practiced at home.d collaboration and accessibility to educational media.</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Periode usia 0–12 bulan merupakan masa emas (golden age) yang sangat menentukan kualitas tumbuh kembang anak, khususnya perkembangan motorik. Salah satu bentuk stimulasi motorik dini yang dapat dilakukan adalah baby gym. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu balita dalam memberikan stimulasi motorik dini melalui penerapan baby gym sebagai upaya mendukung perkembangan bayi secara optimal. Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 16 Desember 2025 di wilayah kerja Puskesmas Ungaran dengan sasaran 10 ibu balita yang memiliki bayi usia 3–12 bulan. Metode yang digunakan meliputi penyuluhan, demonstrasi, praktik langsung baby gym, serta evaluasi melalui pre-test dan post-test pengetahuan ibu. Materi yang diberikan mencakup pengertian baby gym, manfaat, prinsip keamanan, serta contoh gerakan baby gym sesuai usia bayi. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan ibu balita setelah kegiatan, ditandai dengan meningkatnya nilai post-test dibandingkan pre-test. Selain itu, ibu balita mampu mempraktikkan gerakan baby gym secara benar dan aman sesuai usia bayi. Kegiatan ini terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu balita serta berpotensi menjadi upaya promotif dan preventif untuk mendukung tumbuh kembang bayi melalui stimulasi motorik dini yang dapat diterapkan secara mandiri di rumah.</p>KomariyahFitri RismawatiCahyaningrum
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-292025-12-294218951899Prenatal Yoga sebagai Upaya Meningkatkan Kenyamanan dan Mengurangi Kecemasan pada Ibu Hamil
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1819
<p><em>Pregnancy is a physiological process that is often accompanied by physical and psychological discomforts, particularly during the second and third trimesters. Common complaints include low back pain, muscle tension, sleep disturbances, and increased anxiety, which may negatively affect maternal quality of life if not properly managed. Prenatal yoga has been recognized as a safe complementary therapy that integrates breathing exercises, stretching, posture strengthening, and relaxation techniques tailored for pregnant women. This community service activity aimed to improve comfort and reduce anxiety among pregnant women through prenatal yoga education and practice at BPM Rizki Ambarawa. The program was conducted using an educational and participatory approach involving health education sessions, guided prenatal yoga practice, and evaluation through pretest and posttest questionnaires. Participants consisted of ten pregnant women in their second and third trimesters. The results showed an improvement in participants’ knowledge, with posttest scores reaching 100% in all respondents. Participants also reported reduced back discomfort, improved breathing patterns, and decreased anxiety after the intervention. In conclusion, prenatal yoga is an effective, safe, and feasible complementary intervention to enhance comfort and reduce anxiety among pregnant women in community-based midwifery services.</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Kehamilan merupakan proses fisiologis yang sering disertai berbagai ketidaknyamanan fisik dan psikologis, terutama pada trimester kedua dan ketiga. Keluhan yang umum dialami meliputi nyeri punggung, ketegangan otot, gangguan tidur, serta peningkatan kecemasan yang dapat berdampak pada kualitas hidup ibu hamil. Prenatal yoga dikenal sebagai salah satu terapi komplementer yang aman dan efektif karena mengombinasikan latihan pernapasan, peregangan, penguatan postur, dan relaksasi yang disesuaikan dengan kondisi kehamilan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kenyamanan dan mengurangi kecemasan ibu hamil melalui edukasi dan praktik prenatal yoga di BPM Rizki Ambarawa. Metode pelaksanaan meliputi penyuluhan kesehatan, demonstrasi dan praktik prenatal yoga, serta evaluasi menggunakan pretest dan posttest. Peserta kegiatan berjumlah sepuluh ibu hamil trimester II–III. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan peserta, ditandai dengan nilai posttest seluruh responden mencapai 100%. Selain itu, peserta melaporkan penurunan keluhan nyeri punggung, pernapasan yang lebih teratur, serta penurunan kecemasan setelah mengikuti latihan. Dapat disimpulkan bahwa prenatal yoga merupakan intervensi komplementer yang efektif, aman, dan mudah diterapkan dalam pelayanan kebidanan berbasis masyarakat.</p>Alfa UlfianaRizki Wahyu WulansariWidayati
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-292025-12-294219001905Edukasi Massage Sidelying Effleurage untuk Mengurangi Nyeri Punggung pada Ibu Hamil di Puskesmas Jimbaran Kabupaten Semarang
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1822
<p><em>Back pain is a common complaint experienced by pregnant women and may reduce comfort during pregnancy. One non-pharmacological method to relieve back pain is Sidelying Effleurage Massage. This community service activity aimed to improve pregnant women’s knowledge of Sidelying Effleurage Massage as a strategy to reduce back pain during pregnancy. The activity was conducted on December 8, 2025, at Jimbaran Public Health Center, Semarang Regency, involving 14 pregnant women. The methods included health education, demonstration, and hands-on practice of the Sidelying Effleurage Massage technique. Evaluation was carried out using pretest and posttest questionnaires to assess participants’ knowledge before and after the intervention. Data were analyzed using the Shapiro–Wilk normality test and the Paired T-Test. The results showed that the mean knowledge score increased from 5.86 ± 1.41 in the pretest to 12.14 ± 1.35 in the posttest, with a mean difference of 6.29. The Paired T-Test indicated a statistically significant difference between pretest and posttest scores (p < 0.001). In conclusion, education on Sidelying Effleurage Massage accompanied by demonstration and direct practice was effective in improving pregnant women’s knowledge as a non-pharmacological effort to reduce back pain during pregnancy. This educational intervention is expected to be applied independently by pregnant women and integrated into maternal health services.</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Nyeri punggung merupakan keluhan yang sering dialami oleh ibu hamil dan dapat mengganggu kenyamanan selama kehamilan. Salah satu upaya nonfarmakologis yang dapat dilakukan untuk mengurangi nyeri punggung adalah Massage Sidelying Effleurage. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan ibu hamil tentang teknik Massage Sidelying Effleurage sebagai upaya mengurangi nyeri punggung selama kehamilan. Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 8 Desember 2025 di Puskesmas Jimbaran, Kabupaten Semarang, dengan melibatkan 14 ibu hamil. Metode yang digunakan meliputi edukasi kesehatan, demonstrasi, dan praktik langsung teknik Massage Sidelying Effleurage. Evaluasi dilakukan menggunakan kuesioner pretest dan posttest untuk mengukur tingkat pengetahuan ibu hamil sebelum dan sesudah edukasi. Data dianalisis menggunakan uji normalitas Shapiro–Wilk dan uji Paired T-Test. Hasil menunjukkan bahwa rata-rata skor pengetahuan ibu hamil meningkat dari 5,86 ± 1,41 pada pretest menjadi 12,14 ± 1,35 pada posttest, dengan selisih mean sebesar 6,29. Uji Paired T-Test menunjukkan perbedaan yang bermakna antara skor pretest dan posttest (p < 0,001). Kesimpulan dari kegiatan ini adalah edukasi Massage Sidelying Effleurage yang disertai demonstrasi dan praktik langsung terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan ibu hamil sebagai upaya nonfarmakologis untuk mengurangi nyeri punggung selama kehamilan. Diharapkan edukasi ini dapat diterapkan secara mandiri oleh ibu hamil dan dikembangkan dalam pelayanan kesehatan ibu.</p>Intan ZakiaMurwantiWahyu Kristiningrum
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-292025-12-294219061913Prenatal Yoga untuk Mengurangi Nyeri Pinggang pada Ibu Hamil Trimester III
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1828
<p><em>Pregnancy in the third trimester is characterized by significant physiological and anatomical changes that may lead to musculoskeletal discomfort, particularly lower back pain. This condition is commonly experienced by pregnant women due to postural changes, increased body weight, and hormonal influences such as relaxin, which affects joint and ligament stability. Lower back pain during pregnancy can reduce mobility, disrupt sleep, increase stress levels, and negatively impact the overall quality of life of pregnant women. Therefore, effective and safe non-pharmacological interventions are needed to address this issue. This community service program aimed to reduce lower back pain and improve knowledge among third-trimester pregnant women through the implementation of prenatal yoga at Klinik Sehat Sidamukti, Sidamukti Village, Patimuan District. The intervention consisted of health education regarding the causes and impacts of lower back pain during pregnancy, followed by guided prenatal yoga sessions focusing on stretching, breathing techniques, and relaxation. The activity involved ten third-trimester pregnant women and was conducted through several stages, including preparation, implementation, evaluation, and follow-up. Pain intensity was measured using a pain scale before and after the intervention, while participants’ knowledge was assessed through pre-test and post-test questionnaires. The results showed a significant decrease in lower back pain intensity after the intervention. Prior to prenatal yoga, all participants experienced moderate to severe pain. Following the intervention, all participants reported mild pain levels. Additionally, participants’ knowledge regarding prenatal yoga improved from 89.5% in the pre-test to 100% in the post-test. These findings indicate that prenatal yoga is an effective non-pharmacological intervention to reduce lower back pain and enhance knowledge among pregnant women in their third trimester. Integrating prenatal yoga into routine antenatal care is recommended to promote maternal comfort and well-being.</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Kehamilan trimester ketiga merupakan periode yang ditandai dengan peningkatan pertumbuhan janin dan perubahan fisiologis yang signifikan pada tubuh ibu. Perubahan postur tubuh, peningkatan berat badan, serta pengaruh hormon relaksin sering menimbulkan keluhan muskuloskeletal, terutama nyeri pinggang bawah. Nyeri pinggang merupakan salah satu keluhan paling umum pada ibu hamil trimester III dan dapat berdampak pada penurunan kualitas hidup, gangguan tidur, keterbatasan aktivitas, serta meningkatnya stres dan kecemasan. Oleh karena itu, diperlukan intervensi non-farmakologis yang aman, efektif, dan mudah diterapkan untuk mengurangi keluhan tersebut. Salah satu metode yang dapat digunakan adalah prenatal yoga. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk mengurangi nyeri pinggang serta meningkatkan pengetahuan ibu hamil trimester III melalui penerapan prenatal yoga di Klinik Sehat Sidamukti, Desa Sidamukti, Kecamatan Patimuan. Metode yang digunakan meliputi edukasi kesehatan mengenai nyeri pinggang pada kehamilan, praktik prenatal yoga yang dipandu oleh tenaga kesehatan, serta evaluasi menggunakan pengukuran skala nyeri dan tingkat pengetahuan sebelum dan sesudah intervensi. Peserta kegiatan berjumlah 10 ibu hamil trimester III. Hasil kegiatan menunjukkan adanya penurunan intensitas nyeri pinggang yang signifikan. Sebelum intervensi, seluruh peserta berada pada kategori nyeri sedang hingga berat, sedangkan setelah intervensi, seluruh peserta mengalami nyeri ringan. Selain itu, tingkat pengetahuan ibu hamil mengenai manfaat dan penerapan prenatal yoga juga mengalami peningkatan, dari 89,5% pada pre-test menjadi 100% pada post-test. Kesimpulannya, prenatal yoga efektif sebagai intervensi non-farmakologis untuk mengurangi nyeri pinggang sekaligus meningkatkan pengetahuan ibu hamil trimester III. Kegiatan ini diharapkan dapat diintegrasikan ke dalam pelayanan antenatal sebagai upaya promotif dan preventif untuk meningkatkan kesehatan ibu dan janin.</p>Riski Febriana DewiSiti Shofia Luthfiyati AnnisaNinik Christiani
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-292025-12-294219141919Yoga untuk Mengurangi Dismenore Primer
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1829
<p><em>Adolescence is a dynamic developmental phase in a person's life. One biological sign of adolescence is the onset of menstruation, which begins between the ages of 10 and 16. Menstruation is a physiological process that occurs in all women. However, many women experience menstrual problems, including menstrual pain/dysmenorrhea. Menstrual pain/dysmenorrhea is a gynecological complaint caused by an imbalance of the hormone progesterone in the blood, resulting in pain. The purpose of this community service is to provide counseling and practice of youth yoga for adolescent girls to reduce the pain of dysmenorrhea. The activity, held on December 14, 2025, in Randumuktiwaren Village, Pekalongan Regency, involved 10 adolescent girls. This community service activity will be divided into three stages: planning, counseling and practical work, and evaluation. From the results of univariate analysis before being given counseling to 10 respondents, there were 8 respondents who had knowledge in the poor category, after counseling, the results of 10 respondents were 9 respondents who had knowledge in the good category and 1 respondent who had knowledge in the poor category, the results of the paired t test showed a significant increase in participant knowledge with a significance value of <0.000 and young women can apply yoga therapy movements to overcome primary dysmenorrhea. From the results obtained after counseling, there was an increase in respondents' knowledge of the material provided.</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Masa remaja adalah suatu fase perkembangan yang dinamis dalam kehidupan seseorang. Salah satu tanda keremajaan secara biologi yaitu mulainya remaja mengalami menstruasi yang dimulai antara usia 10 sampai 16 tahun. Menstruasi merupakan hal yang bersifat fisiologis yang terjadi pada setiap perempuan. Namun pada kenyataannya banyak perempuan yang mengalami masalah menstruasi, diantaranya nyeri haid/dismenore. Nyeri haid / dismenore adalah keluhan ginekologis akibat ketidakseimbangan hormon progesteron dalam darah sehingga mengakibatkan timbul rasa nyeri. Tujuan pengabdian masyarakat ini adalah untuk memberikan penyuluhan dan praktik yoga remaja pada remaja putri untuk mengurangi nyeri dismenorea. Kegiatan dilaksanakan pada 14 Desember 2025 di Desa Randumuktiwaren Kabupaten Pekalongan, melibatkan 10 remaja perempuan Kegiatan pengabdian masyarakat ini akan dibagi menjadi 3 tahap kegiatan yang pertama perencanaan, kedua penyuluhan dan praktikum yang ketiga evaluasi. Dari hasil analisis univariat sebelum diberikan penyuluhan dan praktik yoga terhadap 10 responden terdapat 8 responden memiliki pengetahuan kategori kurang, sesudah dilakukan penyuluhan didapatkan hasil dari 10 responden sebanyak 9 responden memiliki pengetahuan kategori baik dan 1 responden memiliki pengetahuan kategori kurang, hasil paired t test menunjukkan peningkatan signifikan pengetahuan peserta dengan nilai signifikansi < 0,000 dan remaja putri dapat mengaplikasikan gerakan-gerakan terapi yoga untuk mengatasi dismenore primer. Dari hasil yang didapatkan setelah dilakukan penyuluhan terdapat peningkatan pengetahuan responden terhadap materi yang diberikan.</p>Muskhofah OviyantiDyna MardhiyanaVistra Veftisia
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-292025-12-294219201929Pijat Commond Cold untuk Mengatasi Batuk Pilek pada Bayi Balita di Posyandu Anggrek Biru
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1832
<p><em>Common cold is an upper respiratory tract disorder that most often affects children. One of the negative effects of common cold in children is that the germs that cause it will enter the lower respiratory tract, namely the bronchi and alveoli. One way to relieve the symptoms of common cold is with massage therapy. Objective: This activity is to increase mothers' knowledge about common cold massage to relieve cough and cold symptoms in toddlers. Method: Community Service will be implemented in 3 stages: The First Stage is preparation by collaborating with partners and determining the target of community service. The Second Stage is the implementation stage, before the counseling, a pretest is conducted to explore mothers' knowledge about common cold massage. Next, education and training on common cold massage are carried out with direct demonstrations. The Third Stage is an evaluation by giving a posttest questionnaire. Results: This activity was attended by 20 mothers who have children aged 0-59 months. Before the counseling about baby massage, it was found that most of the mothers' knowledge was in the poor category, namely 16 people (80%), and after the counseling, 20 mothers had knowledge in the good category, namely 100%. There was an increase in knowledge before and after the common cold massage counseling. Suggestion: Health workers make common cold massage education a regular topic in the Mother and Toddler Class activities or during Posyandu visits to increase the knowledge of mothers of toddlers about relieving common cold symptoms, thereby reducing dependence on the use of chemical drugs (polypharmacy) for self-limiting diseases.</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Common cold merupakan gangguan saluran pernafasan atas yang paling sering mengenai anak dan anak. Salah satu efek negatif commond cold pada anak adalah kuman penyebabnya akan masuk ke bagian bawah saluran pernapasan, yaitu bronkus dan alveoli. Salah satu cara untuk meredakan gejala common cold adalah dengan terapi pijat. Tujuan : kegiatan ini adalah meningaktkan pengetahuan ibu tentang pijat common cold untuk meredakan gejala batuk pilek pada balita. Metode : Pengabdian Masyarakat akan dilaksanakan dalam 3 tahap yaitu Tahap Pertama melakukan persiapan dengan cara melakukan kerja sama dengan mitra dan menentukan sasaran pengabdian masyarakat. Tahap Kedua tahap pelaksanaan, sebelum dilakukan penyuluhan, dilakukan pretest untuk menggali pengetahuan ibu mengenai pijat common cold. Selanjutnya dilakukan edukasi dan pelatihan pijat common cold dengan demonstrasi secara langsung. Tahap Ketiga Melakukan evaluasi dengan cara memberikan kuesioner posttest. Kegiatan ini diikuti oleh 20 orang ibu yang memiliki anak usia 0-59 bulan. Sebelum dilakukan penyuluhan mengenai pijat bayi didapatkan sebagian besar pengetahuan ibu dalam kategori kurang yaitu sebanyak 16 orang (80%) dan setelah dilakukan penyuluhan ibu memiliki pengetahuan dengan kategori baik sebanyak 20 orang (100%). Kesimpulan: terjadi peningkatan pengetahuan sebelum dan sesudah dilakukan penyuluhan pijat common cold. petugas kesehatan menjadikan edukasi pijat common cold sebagai materi tetap dalam kegiatan Kelas Ibu Balita atau saat kunjungan Posyandu guna meningkatkan pengetahuan ibu balita tentang meredakan gejala common cold sehingga mengurangi ketergantungan pada penggunaan obat-obatan kimia (polifarmasi) untuk penyakit yang bersifat self-limiting.</p>Lilis JayantiNur Qomaril Andrea Sani Moneca Diah Listiyaningsih
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-292025-12-294219301937Penerapan Pijat Akupresur untuk Mengurangi Nyeri Haid pada Remaja Putri di SMPN 2 Penajam Kabupaten Penajam Paser Utara
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1847
<p><em>Data from WHO obtained an incidence of 1,769,425 people (90%) of women who experience dysmenorrhea, 10%-15% of whom experience severe dysmenorrhea. Dysmenorrhea is pain before or during menstruation, occurring on the first day to several days of menstruation. Dysmenorrhea can have various unfavorable impacts on adolescent girls. These impacts include disrupted activities, limited physical activity, social isolation, poor concentration, absenteeism in the teaching and learning process at school and class, loss of concentration at school, inability to do homework, limitations in sports activities, limitations to go out with friends. Acupressure is the science of healing by doing massage at certain points, this science comes from China which has existed for more than 500 years. Community service is carried out in 3 stages, namely: Stage 1 Selection of adolescent girls who are willing to get acupressure massage to reduce pain. Stage 2: Conducting socialization and giving acupressure massage to reduce pain during dysmenorrhea. This community service activity was attended by 15 respondents consisting of 7th, 8th, and 9th grade students of SMPN 2 Penajam. From the results of univariate analysis before being given counseling to 15 respondents, 3 (20%) respondents had a sufficient level of knowledge and 12 (80%) respondents had a lack of knowledge and after counseling the results obtained from 15 respondents there were 15 (100%) respondents had a good level of knowledge. From the results obtained after counseling there is an increase in respondents' knowledge of the material provided.</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Data dari WHO didapatkan kejadian sebesar 1.769.425 jiwa (90%) wanita yang mengalami dismenore, 10%-15% diantaranya mengalami dismenore berat. Dismenore adalah nyeri sebelum atau selama menstruasi, terjadi pada hari pertama sampai beberapa hari masa menstruasi. Dismenore dapat memberikan berbagai dampak yang kurang baik bagi remaja putri. Dampak tersebut meliputi aktivitas yang terganggu, keterbatasan aktivitas fisik, isolasi sosial, konsentrasi yang buruk, ketidakhadiran dalam proses belajar mengajar di sekolah dan kelas, kehilangan konsentrasi di sekolah, ketidakmampuan untuk pekerjaan rumah, keterbatasan dalam aktivitas olahraga, keterbatasan untuk keluar dengan teman. Akupresure merupakan ilmu penyembuhan dengan cara melakukan pijat pada titik - titik tertentu, ilmu ini berasal dari Tionghoa yang suda ada sejak lebih dari 500 tahun yang lalu. Pengabdian masyarakat dilaksanakan dalam 3 tahap yaitu : Tahap 1 Pemilihan remaja putri yang bersedia mendapatkan pijat akupresure untuk mengurangi nyeri. Tahap 2 : Melakukan sosialisasi dan pemberian pijat akupresure untuk mengurangi nyeri pada saat dismenore. Kegiatan pengabdian Masyarakat ini di ikuti 15 orang responden yang terdiri dari siswi kelas 7,8,dan 9 SMPN 2 Penajam. Dari hasil analisis univariat sebelum diberikan penyuluhan terhadap 15 responden terdapat 3 anak (20%) responden memiliki tingkat pengetahuan cukup dan 12 anak (80%) responden memiliki tingkat pengetahuan kurang dan sesudah dilakukan penyuluhan didapatkan hasil dari responden ada 15 anak (100%) responden memiliki tingkat pengetahuan baik. Dari hasil yang didapatkan setelah dilakukan penyuluhan terdapat peningkatan pengetahuan respondenterhadap materi yang diberikan.</p>Nuraini YuliantiMaryaniEti Salafas
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-292025-12-294219381944Peningkatan Pengetahuan Ibu Hamil tentang Prenatal Yoga melalui Edukasi dan Praktik di Puskesmas Tanjung Palas
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1839
<p><em>Pregnancy is a physiological process that often causes physical discomfort and psychological stress in pregnant women. Prenatal yoga is a non-pharmacological intervention that can improve physical comfort, reduce anxiety, and enhance maternal readiness for childbirth. However, pregnant women’s knowledge regarding prenatal yoga remains limited. This study aimed to determine the effect of health education on pregnant women’s knowledge about prenatal yoga. This study employed a pre-experimental design using a one-group pretest–posttest approach. The participants consisted of 10 pregnant women who attended a prenatal yoga health education program at the community health center area. Knowledge levels were measured using a structured questionnaire administered before (pretest) and after (posttest) the health education intervention. Data were analyzed descriptively and presented in the form of frequency distributions, tables, and diagrams. The results showed an improvement in pregnant women’s knowledge after receiving health education. Before the intervention, most respondents had insufficient to moderate knowledge regarding prenatal yoga. After the intervention, the majority of respondents demonstrated good knowledge. The increase was observed across all knowledge indicators, including the definition, benefits, appropriate timing, breathing techniques, safe movements, contraindications, and precautions during prenatal yoga practice.Health education significantly improved pregnant women’s knowledge about prenatal yoga. Therefore, prenatal yoga education is recommended to be routinely integrated into antenatal care programs to enhance maternal health and childbirth preparedness.</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Kehamilan menyebabkan perubahan fisik dan psikologis yang sering menimbulkan keluhan pada ibu hamil. Prenatal yoga merupakan salah satu bentuk aktivitas fisik yang aman dan bermanfaat untuk meningkatkan kesehatan ibu hamil, namun tingkat pengetahuan ibu hamil tentang prenatal yoga masih beragam. Artikel ini bertujuan menganalisis pengaruh edukasi dan praktik prenatal yoga terhadap peningkatan pengetahuan ibu hamil. Penelitian ini merupakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan desain pre-eksperimental menggunakan pendekatan one group pre-test dan post-test. Subjek kegiatan adalah 10 ibu hamil trimester II dan III di wilayah kerja puskesmas. Intervensi berupa edukasi kesehatan, demonstrasi, dan praktik prenatal yoga. Pengukuran pengetahuan dilakukan menggunakan kuesioner terstruktur sebelum dan sesudah intervensi. Analisis data dilakukan secara deskriptif. Hasil pre-test menunjukkan sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan kategori kurang dan cukup. Setelah diberikan edukasi dan praktik prenatal yoga, terjadi peningkatan pengetahuan dengan 90% responden berada pada kategori pengetahuan baik. Edukasi dan praktik prenatal yoga efektif dalam meningkatkan pengetahuan ibu hamil. Program prenatal yoga dapat dijadikan intervensi promotif dan preventif dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak.</p>NurhidayatiHeni SetyowatiNovi Aryani
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-292025-12-294219451950Edukasi Akupresur untuk Mengurangi Nyeri Haid Primer pada Remaja Putri
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1838
<p><em>Menstrual pain, or dysmenorrhea, is a common problem experienced by young women during menstruation. Primary menstrual pain can impact adolescent productivity and well-being, resulting in impaired concentration, school absence, and decreased academic performance. Menstrual pain can be managed through pharmacological and non-pharmacological methods. One recommended non-pharmacological therapy is acupressure. The purpose of this activity is to introduce acupressure to adolescents as a solution for overcoming menstrual pain. The method used in carrying out community service is Hybrid Learning. Community service will be implemented in three stages: the first stage is preparation by collaborating with partners. The second stage is the implementation stage, where a pre-test is conducted before the counseling is conducted to explore adolescents' knowledge. Next, education and training on menstrual pain acupressure are conducted by directly practicing menstrual pain acupressure. The third stage is an evaluation through a post-test and direct interviews, and concludes with an activity report. The results of the community service show that 20 adolescents participated in this activity. Before the counseling session on acupressure for menstrual pain, the majority of adolescents' knowledge was found to be poor, with 15 (75%) and after the counseling session, 20 (100%) had good knowledge. This concludes that there was an increase in knowledge before and after the acupressure session. It is hoped that health workers will improve health promotion programs regarding non-pharmacological methods of managing dysmenorrhea in adolescents, especially acupressure.</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Nyeri haid atau dismenore adalah salah satu masalah yang seringkali dialami oleh wanita muda ketika menstruasi. Nyeri haid primer dapat memengaruhi produktivitas dan kesejahteraan remaja seperti gangguan konsentrasi, ketidakhadiran sekolah, dan penurunan prestasi akademik. Penanganan nyeri haid dapat dilakukan dengan cara yaitu, secara farmakologi dan non farmakologi. Adapun terapi non farmakologi yang dianjurkan salah satunya yaitu akupresur. Tujuan kegiatan ini adalah memperkenalkan akupresur kepada remaja sebagai Solusi dalam mengatasi nyeri haid. Metode yang digunakan dalam melakukan pengabdian masyarakat yaitu Hybrid Learning. Pengabdian Masyarakat akan dilaksanakan dalam 3 tahap yaitu Tahap Pertama melakukan persiapan dengan cara melakukan kerja sama dengan mitra. Tahap Kedua tahap pelaksanaan, sebelum dilakukan penyuluhan, dilakukan pretest untuk menggali pengetahuan remaja. Selanjutnya dilakukan edukasi dan pelatihan akupresur nyeri haid dengan mempraktekkan langsung akupresur nyeri haid. Tahap Ketiga Melakukan evaluasi dengan cara memberikan post test dan wawancara secara langsung dan diakhiri dengan membuat laporan kegiatan. Dari hasil pengabdian Masyarakat didapatkan bahwa kegiatan ini diikuti oleh 20 orang remaja. Sebelum dilakukan penyuluhan mengenai akupresur nyeri haid didapatkan sebagian besar pengetahuan remaja dalam kategori kurang yaitu sebanyak 15 orang (75%) dan setelah dilakukan penyuluhan remaja memiliki pengetahuan dengan kategori baik sebanyak 20 orang (100%). Hal tersebut dapat disimpulkan bahwa terjadi peningkatan pengetahuan sebelum dan sesudah dilakukan penyuluhan mengenai akupresur. Diharapkan tenaga kesehatan meningkatkan program promosi kesehatan mengenai cara mengatasi dismenore pada remaja secara non farmakologi terutama akupresur.</p>Maya Lisnawati SihalohoMartina Sri Rejeki HutapeaElma Adelina NoviyantiDiah Nur FitriHapsari Windayanti
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-292025-12-294219511958Pijat Tuina untuk Meningkatkan Nafsu Makan pada Balita
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1842
<p><em>Appetite problems in toddlers remain a common health issue in the community and can affect nutritional intake, nutritional status, and the child’s growth and development process. Poor appetite over a prolonged period may increase the risk of growth disorders and decreased immunity. One non-pharmacological approach that can be applied to address this problem is Tuina massage, a complementary therapy originating from Traditional Chinese Medicine that is beneficial in stimulating the digestive system and improving physical comfort in children. Objective: This community service activity aimed to increase mothers’ knowledge and skills in applying Tuina massage and to improve toddlers’ appetite in a safe and independent manner. Methods: The activity was conducted in the partner area with 20 mothers who had toddlers aged 1–5 years experiencing appetite problems. The implementation method consisted of preparation, implementation, and evaluation stages, beginning with a pre-test questionnaire, followed by health education and demonstration of Tuina massage, hands-on practice by the mothers, and ending with a post-test questionnaire and observation of changes in toddlers’ appetite. Results: Pre-test results indicated that most mothers had a low level of knowledge regarding Tuina massage. After the education and training sessions, post-test results showed an increase in the average knowledge score from the poor to good category. In addition, there was a decrease in the percentage of toddlers with poor appetite and an increase in those with moderate and good appetite after the routine application of Tuina massage. Conclusion: Tuina massage proved to be an effective complementary therapy in improving toddlers’ appetite as well as enhancing mothers’ knowledge and skills. This activity can serve as a promotive and preventive intervention that is safe, easy to implement, and sustainable in supporting toddlers’ health and growth within the community.</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Masalah nafsu makan pada balita masih menjadi permasalahan kesehatan yang sering dijumpai di masyarakat dan dapat berdampak pada asupan gizi, status gizi, serta proses tumbuh kembang anak. Nafsu makan yang rendah dalam jangka waktu lama berisiko menyebabkan gangguan pertumbuhan dan penurunan daya tahan tubuh. Salah satu upaya nonfarmakologis yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut adalah pijat Tuina, yaitu terapi komplementer yang berasal dari pengobatan tradisional Tiongkok dan bermanfaat dalam merangsang sistem pencernaan serta meningkatkan kenyamanan tubuh anak. Tujuan: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu balita dalam menerapkan pijat Tuina serta meningkatkan nafsu makan balita secara aman dan mandiri. Metode: Kegiatan dilaksanakan di wilayah mitra dengan peserta sebanyak 20 ibu yang memiliki balita usia 1–5 tahun dengan permasalahan nafsu makan. Metode pelaksanaan meliputi tahap persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi yang diawali dengan pengisian kuesioner pre-test, pemberian edukasi dan demonstrasi pijat Tuina, praktik langsung oleh ibu balita, serta pengisian kuesioner post-test dan observasi perubahan nafsu makan balita. Hasil: Hasil pre-test menunjukkan bahwa sebagian besar ibu balita memiliki tingkat pengetahuan yang masih rendah mengenai pijat Tuina. Setelah dilakukan edukasi dan pelatihan, hasil post-test menunjukkan peningkatan nilai rata-rata pengetahuan ibu dari kategori kurang menjadi baik. Selain itu, terjadi penurunan persentase balita dengan nafsu makan kurang serta peningkatan balita dengan nafsu makan cukup dan baik setelah penerapan pijat Tuina secara rutin. Kesimpulan: Pijat Tuina terbukti efektif sebagai terapi komplementer dalam meningkatkan nafsu makan balita serta meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu balita. Kegiatan ini dapat dijadikan sebagai salah satu intervensi promotif dan preventif yang aman, mudah diterapkan, dan berkelanjutan dalam mendukung kesehatan dan tumbuh kembang balita di masyarakat.</p>SulpianaRatih IswardaniIsri Nasifah
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-292025-12-294219591966Penerapan Pijat Tu Ina untuk Meningkatkan Nafsu Makan pada Balita
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1846
<p><em>In Indonesia, the prevalence of nutritional problems such as stunting and underweight remains high despite showing a downward trend. More than 4.5 million children under five in Indonesia still experience stunting and malnutrition, which are closely related to imbalanced food intake and low appetite. Decreased appetite in children if not handled properly will have fatal consequences. Efforts to overcome eating difficulties can be done through pharmacological and non-pharmacological methods. Non-pharmacological efforts include herbal drinks or jamu, acupuncture, and tui na massage. Objective: This activity is to introduce tu ina massage as a solution to increase infant appetite. Method: Community Service will be implemented in 3 stages: The First Stage is preparation by collaborating with partners and determining community service targets. The Second Stage is the implementation stage, before the counseling is carried out, a pre-test is conducted to explore mothers' knowledge about tuina massage. Furthermore, education is carried out using ppt and booklet media and baby massage training with direct demonstrations. The Third Stage is an evaluation by giving a post-test questionnaire. Results: This activity was attended by 10 mothers who have children aged 0-59 months. Before the counseling regarding infant massage was conducted, it was found that most of the mothers' knowledge was in the poor category, namely 8 people (80%) and after the counseling, 10 mothers had good knowledge in the good category (100%). There was an increase in knowledge before and after the Tuina massage counseling was conducted. Suggestion: It is hoped that health workers can integrate Tuina massage education into routine maternal and child health service activities, such as integrated health posts (posyandu), mother and toddler classes, and home visits, as a promotive and preventive effort to increase mothers' knowledge and skills in supporting toddlers' appetites.</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Di Indonesia, prevalensi masalah gizi seperti stunting dan kurang berat badan tetap tinggi meskipun telah menunjukkan tren penurunan. Lebih dari 4,5 juta anak balita di Indonesia masih mengalami stunting dan malnutrisi, yang erat kaitannya dengan ketidakseimbangan asupan makanan dan rendahnya nafsu makan. Penurunan nafsu makan pada anak jika penangannya tidak baik akan berakibat fatal. Upaya untuk mengatasi kesulitan makan dapat dilakukan dengan cara farmakologi maupun non farmakologi. Upaya non farmakologi antara lain melalui minuman herbal atau jamu, akupunktur, dan pijat tui na. Tujuan : kegiatan ini adalah memperkenalkan tentang pijat tu ina sebagai Solusi untuk meningkatkan nafsu makan bayi. Metode : Pengabdian Masyarakat akan dilaksanakan dalam 3 tahap yaitu Tahap Pertama melakukan persiapan dengan cara melakukan kerja sama dengan mitra dan menentukan sasaran pengabdian masyarakat. Tahap Kedua tahap pelaksanaan, sebelum dilakukan penyuluhan, dilakukan pretest untuk menggali pengetahuan ibu mengenai pijat tuina. Selanjutnya dilakukan edukasi menggunakan ppt dan media booklet dan pelatihan pijat bayi dengan demonstrasi secara langsung. Tahap Ketiga Melakukan evaluasi dengan cara memberikan kuesioner posttest. Kegiatan ini diikuti oleh 10 orang ibu yang memiliki anak usia 0-59 bulan. Sebelum dilakukan penyuluhan mengenai pijat bayi didapatkan sebagian besar pengetahuan ibu dalam kategori kurang yaitu sebanyak 8 orang (80%) dan setelah dilakukan penyuluhan ibu memiliki pengetahuan dengan kategori baik sebanyak 10 orang (100%). Kesimpulan : terjadi peningkatan pengetahuan sebelum dan sesudah dilakukan penyuluhan pijat tu ina. Saran : Diharapkan petugas kesehatan dapat mengintegrasikan edukasi pijat Tuina ke dalam kegiatan rutin pelayanan kesehatan ibu dan anak, seperti posyandu, kelas ibu balita, dan kunjungan rumah, sebagai upaya promotif dan preventif untuk meningkatkan pengetahuan serta keterampilan ibu dalam mendukung nafsu makan balita.</p>DinaDwi HandayaniKartika Sari
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-292025-12-294219671974Teknik Akupresure untuk Mengurangi Dismenore pada Remaja Putri di Kelurahan Sesumpu
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1849
<p><em>Dysmenorrhea is discomfort in the form of pain during menstruation. According to the World Health Organization (WHO) in 2021, the incidence of menstrual pain worldwide is very high, with an average of more than 62% of women in every country experiencing menstrual pain. In the United States, the percentage is around 60% and Sweden around 72%. In Indonesia, an estimated 55% of women of reproductive age experience pain during menstruation. The incidence of menstrual pain ranges from 45-95% among women of reproductive age. Although generally harmless, it is very disturbing for those who experience it. Adolescents aged 10-19 often experience lower abdominal pain, bloating, dizziness/headaches, diarrhea, constipation, and digestive disorders. Furthermore, symptoms of headache, irritability, and back pain are quite common among women with primary dysmenorrhea. The purpose of this activity is to provide counseling on complementary acupressure therapy to adolescent girls in Sesumpu Village to address dysmenorrhea. Counseling and demonstrations are conducted so that young women can understand and practice acupressure techniques when experiencing dysmenorrhea independently at home. They can also demonstrate the acupressure method, thereby reducing dysmenorrhea in adolescents. The community service will be implemented in three stages: The first stage involves selecting a group of young women in Sesumpu Village who are willing to be taught acupressure for dysmenorrhea. The second stage involves conducting a pre-test using a questionnaire to measure the young women's knowledge about dysmenorrhea and how to manage it. This will then involve counseling and training on acupressure for dysmenorrhea management. The third stage involves conducting a post-test using a questionnaire and evaluating the acupressure techniques taught to each young woman through direct practice. The post-test results showed that 13 adolescents (100%) had good knowledge after the counseling and demonstration regarding acupressure for menstrual pain. After the counseling, there was a change in the lowest score to 90 and the highest to 100, while the average score achieved was 97.69. These results indicate an increase in adolescent knowledge regarding acupressure techniques to reduce dysmenorrhea. The recommendation from this community service is to utilize adolescent integrated health posts (Posyandu) to provide counseling on how to reduce menstrual pain non-pharmacologically and to carry out health promotion activities and health counseling regularly to adolescents.</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Dismenore merupakan ketidaknyamanan berupa rasa nyeri pada saat terjadi menstruasi. Menurut WHO (World Health Organization) tahun 2021 menyatakan bahwa angka kejadian nyeri menstruasi di dunia sangat besar, rata-rata lebih dari 62% perempuan disetiap negara mengalami nyeri menstruasi, dimana di Amerika angka presentasenya sekitar 60% dan Swedia sekitar 72% sementara di Indonesia angka kejadian diperkirakan 55% perempuan usia produktif yang tersiksa oleh nyeri selama menstruasi, angka kejadian nyeri menstruasi berkisar 45-95% dikalangan wanita usia produktif walaupun umumnya tidak berbahaya namun sangat mengganggu bagi wanita yang mengalaminya. Remaja pada usia 10-19 tahun sering mengalami keluhan nyeri pada abdomen bagian bawah, kembung, pusing/ sakit kepala, diare, konstipasi dan gangguan pencernaan. Selain itu juga gejala nyeri kepala, iritabilitas dan nyeri punggung bagian belakang cukup sering dikeluhkan oleh wanita dengan dismenorea primer. Tujuan kegiatan ini yaitu memberikan penyuluhan terapi komplementer akupresure pada Remaja putri di Kelurahan Sesumpu untuk mengatasi Dismenore. Jumlah peserta penyuluhan sebanyak 13 orang. Penyuluhan dan demonstrasi dilakukan agar remaja putri dapat memahami dan mampu mempraktekkan serta menerapkan Tehnik Akupreasure saat mengalami dismenore secara mandiri di rumah masing- masing dan dapat mendemonstrasikan ulang teknik metode akupresure, sehingga dismenore pada remaja bisa berkurang. Pengabdian masyarakat akan dilaksanakan dalam 3 tahap yaitu Tahap Pertama Pemilihan kelompok remaja putri di Kelurahan Sesumpu yang bersedia diajarkan tentang akupresur dismenore, yang diikuti oleh 13 orang remaja putri Tahap Kedua Melakukan pretest dengan kuesioner untuk mengukur pengetahuan remaja putri mengenai dismenore dan cara menangani nya, selanjutnya melakukan penyuluhan dan pelatihan akupresure untuk menangani dismenore. Setelah dilakukan pretest dengan kuesioner didapatkan hasil pengetahuan remaja nilai terendah 30 dan nilai tertinggi 70, sementara nilai rata-ratanya adalah 47,69. Hasil ini menunjukkan bahwa masih kurangnya pengetahuan remaja tentang teknik akupresur untuk mengurangi dismenore. Tahap ke Tiga Post test dengan kuesioner dan mengevaluasi dengan praktek langsung kepada masing-masing remaja mengenai teknik akupresue yang sudah diajarkan kepada remaja putri. Dari hasil post test didapatkan bahwa pengetahuan remaja setelah dilakukan penyuluhan dan demonstrasi mengenai akupresur nyeri haid memiliki pengetahuan baik sebanyak 13 orang (100%). Setelah dilakukan penyuluhan ada perubahan nilai terendah menjadi 90 dan tertingginya menjadi 100 sedangkan nilai rata-rata yang diraih yaitu 97,69, dari hasil ini menunjukan bahwa adanya peningkatan pada pengetahuan remaja mengenai teknik akupresure untuk mengurangi dismenore. Rekomendasi dari pengabdian masyarakat ini adalah memanfaatkan posyandu remaja untuk memberikan penyuluhan cara mengurangi nyeri haid secara non farmakologi serta melakukan kegiatan promosi kesehatan dan penyuluhan kesehatan secara rutin kepada remaja.</p>Septabela MahardikaPoulina LalloAri Andayani
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-292025-12-294219751982Optimalisasi Pengetahuan Ibu Melalui Pelatihan Pijat Tuina dalam Peningkatan Nafsu Makan Balita Desa Jetak Kec. Getasan
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1852
<p><em>Low appetite among toddlers is one of the risk factors contributing to poor nutritional status and stunting. One non-pharmacological intervention that can be applied is Tuina massage, a traditional Chinese massage therapy that stimulates digestive meridian points. This community service activity aimed to improve mothers’ knowledge and skills through Tuina massage training to enhance toddlers’ appetite. The activity was conducted on December 9, 2025, in Jetak Village, Getasan District, involving 12 mothers of toddlers, two community health volunteers, and one village midwife. The methods included health education, demonstration, hands-on practice, and evaluation using pre-test and post-test questionnaires. The results showed an increase in the average mothers’ knowledge score from 55.3 in the pre-test to 89.1 in the post-test. All participants were able to perform Tuina massage correctly and expressed readiness to apply it independently at home. This community service activity demonstrated that Tuina massage training is effective in empowering mothers and has the potential to support stunting prevention efforts at the village level.</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Masalah nafsu makan rendah pada balita merupakan salah satu faktor risiko terjadinya gangguan status gizi dan stunting. Salah satu upaya non-farmakologis yang dapat dilakukan adalah pijat Tuina, yaitu terapi pijat tradisional Tiongkok yang menstimulasi titik meridian pencernaan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu balita melalui pelatihan pijat Tuina untuk meningkatkan nafsu makan balita. Kegiatan dilaksanakan pada 9 Desember 2025 di Desa Jetak, Kecamatan Getasan, dengan melibatkan 12 ibu balita, 2 kader posyandu, dan 1 bidan desa. Metode kegiatan meliputi penyuluhan, demonstrasi, praktik langsung, serta evaluasi menggunakan pre-test dan post-test. Hasil menunjukkan adanya peningkatan rata-rata skor pengetahuan ibu dari 55,3 pada pre-test menjadi 89,1 pada post-test. Seluruh peserta mampu mempraktikkan pijat Tuina dengan benar dan menyatakan kesiapan menerapkannya secara mandiri di rumah. Pengabdian masayarak dengan melatih pijat Tuina efektif sebagai upaya pemberdayaan ibu dan berpotensi mendukung pencegahan stunting di tingkat desa.</p>Desi Wandan SariNur UtamiyahIsfaizah
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-292025-12-294219831988Pijat Oksitosin Sebagai Upaya untuk Meningkatkan Produksi ASI pada Ibu Menyusui
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1844
<p><em>Breast milk is an emulsion of fat in a solution of protein, lactose, and various inorganic salts secreted by the mother's mammary glands and serves as the baby's first food. One common problem for breastfeeding mothers is a slow or insufficient milk flow, caused by a lack of stimulation from the hormones oxytocin and prolactin, which play a role in milk production. Therefore, alternative interventions or management such as oxytocin massage are needed, as it is very effective in stimulating milk production. Oxytocin massage can relax mothers and relieve stress, thereby stimulating the release of the hormone oxytocin, which can facilitate milk production. The purpose of this community service is to increase mothers' knowledge and skills about oxytocin massage as an effort to increase breast milk production. The methods used are counseling and demonstrations of oxytocin massage as an effort to increase breast milk production in the obstetrics ward at Siti Fatimah Regional Hospital, South Sumatra Province. The methods used included distributing leaflets, providing health education about oxytocin massage, demonstrating oxytocin massage by healthcare workers, and evaluating knowledge levels before and after the intervention. Ten postpartum mothers participated. The results showed an increase in postpartum mothers' knowledge regarding the benefits and application of oxytocin massage during breastfeeding, from 90% in the poor knowledge category to 100% in the good knowledge category. In conclusion, oxytocin massage is an effective non-pharmacological intervention for relaxing mothers and increasing breast milk production during breastfeeding. This activity is expected to be integrated into postnatal care as a promotional effort to improve maternal and infant health.</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>ASI merupakan suatu emulsi lemak dalam larutan protein, laktosa, dan beragam garam anorganik yang dikeluarkan oleh kelenjar payudara ibu yang bermanfaat sebagai makanan pertama bayi. Masalah yang sering terjadi pada ibu menyusui salah satunya adalah ASI yang tidak lancar atau keluarnya hanya sedikit yang disebabkan kurangnya rangsangan hormon oksitosin dan prolaktin yang berperan dalam kelancaran produksi ASI sehingga dibutuhkan upaya tindakan alternatif atau penatalaksanaan berupa pijat oksitosin, karena pijat oksitosin sangat efektif membantu merangsang pengeluaran ASI. Pijat oksitosin dapat menjadikan ibu merasa rileks dan menghilangkan stress, sehingga merangsang pengeluaran hormon oksitosin yang dapat memperlancar pengeluaran produksi ASI. Tujuan dari pengabdian kepada masayarakat ini untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu tentang pijat oksitosin sebagai upaya meningkatkan produksi ASI. Metode yang digunakan adalah penyuluhan dan demonstrasi pijat oksitosin sebagai upaya untuk meningkatkan produksi ASI di ruang rawat kebidanan di RSUD Siti Fatimah Provinsi Sumatera Selatan. Metode yang digunakan meliputi pembagian leaflet, pemberian edukasi kesehatan mengenai pijat oksitosin, demontrasi pijat oksitosin oleh tenaga kesehatan, serta evaluasi pengukuran tingkat pengetahuan sebelum dan sesudah intervensi. Peserta kegiatan berjumlah 10 ibu nifas. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan ibu nifas mengenai manfaat dan penerapan pijat oksitosin selama periode menyusui,dari 90% yang masuk kategori pengetahuan kurang menjadi 100% baik. Kesimpulannya, pijat oksitosin efektif sebagai intervensi non-farmakologis untuk merelaksasi ibu dalam Upaya meningkatkan produksi Asi pada masa menyusui. Kegiatan ini diharapkan dapat diintegrasikan ke dalam pelayanan postnatal sebagai upaya promotive untuk meningkatkan kesehatan ibu dan bayi.</p>Karlina Eci DaryantiWarni MuchtarHeni Hirawati Pranoto
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-292025-12-294219891993Asuhan Kebidanan Continuity of Care (COC) pada Ny. E Umur 22 Tahun G2P1A0 di Puskesmas Jetak
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1793
<p><em>Maternal and child health is a key indicator of national development, yet maternal and infant mortality rates in Indonesia remain high. In Semarang Regency, maternal deaths due to hemorrhage and preeclampsia are still reported, although Jetak Health Center has successfully maintained Zero Maternal Mortality through intensive monitoring and reproductive health education. This study was conducted because Continuity of Care (CoC) has proven effective in reducing maternal morbidity and mortality, enhancing maternal involvement in decision-making, and strengthening the mother–midwife relationship. The research employed a descriptive case study approach on Mrs. E, 22 years old, G2P1A0, in the working area of Jetak Health Center, Semarang Regency, from May to September 2025. The subject received comprehensive midwifery care covering pregnancy, childbirth, postpartum, newborn care, and family planning, with data collected through interviews, physical examinations, and direct observation. Results showed that all care provided was consistent with midwifery service standards, with no gap between theory and practice, supporting a healthy pregnancy, safe delivery, optimal postpartum recovery, and good infant growth and development. In conclusion, CoC is effective in improving the quality of midwifery services at primary health facilities. The study recommends that clients apply care with family support, students utilize CoC to strengthen clinical skills, and midwives deliver care according to procedures with complete protective equipment.</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Kesehatan ibu dan anak merupakan indikator penting pembangunan kesehatan, namun angka kematian ibu dan bayi di Indonesia masih tinggi. Kondisi di Kabupaten Semarang juga menunjukkan kasus kematian ibu akibat perdarahan dan preeklamsia, meskipun Puskesmas Jetak berhasil mempertahankan capaian Zero AKI melalui pemantauan intensif dan edukasi kesehatan reproduksi. Penelitian ini dilakukan karena Continuity of Care (CoC) terbukti efektif menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu, meningkatkan keterlibatan ibu dalam pengambilan keputusan, serta memperkuat hubungan ibu–bidan. Metode penelitian menggunakan pendekatan deskriptif studi kasus pada Ny. E, 22 tahun G2P1A0, di wilayah kerja Puskesmas Jetak, Kabupaten Semarang, selama Mei–September 2025. Subjek mendapatkan asuhan kebidanan komprehensif mulai dari kehamilan, persalinan, masa nifas, perawatan bayi baru lahir hingga keluarga berencana, dengan data dikumpulkan melalui wawancara, pemeriksaan fisik, dan observasi. Hasil menunjukkan seluruh asuhan sesuai standar pelayanan kebidanan, tidak ditemukan kesenjangan antara teori dan praktik, serta mendukung kehamilan sehat, persalinan aman, masa nifas optimal, dan tumbuh kembang bayi yang baik. Kesimpulannya, penerapan CoC efektif meningkatkan mutu pelayanan kebidanan di fasilitas kesehatan tingkat pertama. Saran penelitian ini adalah agar klien menerapkan asuhan dengan dukungan keluarga, mahasiswa memanfaatkan CoC untuk meningkatkan keterampilan klinis, dan bidan melaksanakan asuhan sesuai prosedur dengan penggunaan APD lengkap.</p>Siti FadrinawatiWidayati
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-292025-12-294219942002Asuhan Kebidanan Continuity of Care (COC) pada Ny “F” Usia 23 Tahun G1P0A0 di Puskesmas Jetak Kabupaten Semarang
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1678
<p><em>The Maternal Mortality Rate (MMR) and Infant Mortality Rate (IMR) remain significant health challenges in Indonesia. According to Semarang District Health Office data (2023), there were 7 maternal deaths (58.20 per 100,000 live births), mainly caused by hemorrhage and preeclampsia. Efforts to reduce MMR and IMR include continuous midwifery care (Continuity of Care / CoC). This case study aims to describe comprehensive midwifery care from the third trimester of pregnancy, childbirth, postpartum, newborn, and family planning for Mrs. F, 23 years old, G1P0A0, at Jetak Public Health Center, Semarang Regency. This descriptive study used observation, interviews, and physical examinations. The results showed that the pregnancy progressed normally, delivery occurred spontaneously, and the baby was born alive, weighing 3100 grams and 50 cm long. The postpartum period was physiological without complaints, and the mother chose a 3-month injection contraceptive. CoC care emphasizes the importance of continuity of midwifery services in maintaining maternal and child health and improving family well-being.</em></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) masih menjadi permasalahan utama di Indonesia. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang tahun 2023, terdapat 7 kasus kematian ibu (58,20/100.000 KH) dengan penyebab utama perdarahan dan preeklamsia. Upaya untuk menurunkan AKI dan AKB dilakukan melalui pelayanan kebidanan berkesinambungan atau Continuity of Care (CoC). Tujuan studi kasus ini adalah untuk memberikan gambaran asuhan kebidanan komprehensif mulai dari kehamilan trimester III, persalinan, nifas, bayi baru lahir, hingga keluarga berencana pada Ny. F usia 23 tahun G1P0A0 di Puskesmas Jetak Kabupaten Semarang. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, dan pemeriksaan fisik. Hasil menunjukkan bahwa selama masa kehamilan ibu dalam keadaan normal tanpa komplikasi, persalinan berlangsung spontan dengan bayi lahir hidup, berat badan 3100 gram, panjang badan 50 cm, dan menangis kuat. Masa nifas berlangsung fisiologis tanpa keluhan, dan ibu memilih menggunakan kontrasepsi suntik 3 bulan. Asuhan kebidanan CoC ini menunjukkan pentingnya kesinambungan pelayanan dalam memantau kesehatan ibu dan bayi, serta meningkatkan kualitas hidup keluarga.</p>Reni SetiyawatiHeni Hirawati Pranoto
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-292025-12-294220032011Asuhan Komprehensif pada Ibu Hamil Preeklamsia di Puskesmas Jumo Kabupaten Temanggung
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1679
<p><em>Pregnancy is defined as the natural process of fertilization or the union of spermatozoa and ovum, followed by nidation or implantation. Pregnancy and childbirth are normal processes, but there is still a 10% chance of someone experiencing complications during pregnancy and childbirth. Preeclampsia is one of the "triad maternal death" or the three main causes of maternal death. Other main causes are infection and hemorrhage. The trend of increasing incidence of preeclampsia in the last two decades is in contrast to the incidence of infection, which has actually decreased due to the development of antibiotic discoveries. The method in this study is descriptive. The type of report used is a case study, namely through a problem related to the case and the actions and reactions of the case to a treatment. The method used by the author is to manage pregnancy cases until referral for delivery with indications of preeclampsia. The results of the study showed that Mrs. N during pregnancy until UK 33 weeks had normal blood pressure and no urinary protein was found. However, before delivery, blood pressure was found to exceed normal limits and urine protein was positive. Initial pre-referral management included administering MgSO4 and nifedipine, as authorized by the midwife at the community health center, as initial treatment, and referral to PKU Muhammadiyah Temanggung Hospital. The care provided was appropriate and comprehensive. Midwives in practice are expected to improve health services, especially for pregnant women, by providing comprehensive care in order to reduce morbidity and mortality rates among mothers and babies.</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Kehamilan didefinisikan sebagai proses alami dari fertilisasi atau penyatuan dari spermatozoa dan ovum dan dilanjutkan dengan nidasi atau implantansi. Proses kehamilan dan persalinan merupakan suatu proses yang normal, namun masih ada 10% kemungkinan seseorang mengalami komplikasi pada saat hamil dan bersalin. Preeklampsia merupakan satu dari “trias maternal death” atau tiga penyebab utama kematian Ibu. Penyebab utama lainnya adalah infeksi dan perdarahan.. Kecenderungan peningkatan insiden preeklampsia dalam dua dekade terakhir berbeda dengan insiden infeksi yang justru menurun akibat perkembangan temuan antibiotik. Metode dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Jenis laporan yang digunakan adalah studi kasus (Case Study), yakni melalui suatu permasalahan yang berhubungan dengan kasus maupun tindakan dan reaksi kasus terhadap suatu perlakuan. Metode yang digunakan penulis yaitu dengan mengelola kasus kehamilan hingga rujukan persalinan dengan indikasi preeklamsia. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa Ny. N selama hamil sampai UK 33 minggu Tekanan darah normal dan tidak ditemukan protein urin. Namun menjelang persalinan ditemukan Tekanan darah melampaui batas normal dan protein urine positif. Penatalaksanaan awal Pra rujukan dengan memberikan MgSO4 dan nifedipin sesuai wewenang bidan di Puskesmas sebagai penanganan awal dan melakukan rujukan ke RS PKU Muhammadiyah Temanggung. Asuhan yang diberikan sudah sesuai dan dilakaukan secara komprehensif. Diharapkan para bidan di lahan praktek untuk dapat meningkatkan pelayanan kesehatan, terutama pada ibu hamil, memberikan asuhan yang komprehensif agar dapat menurunkan angka morbiditas dan mortalitas pada ibu maupun bayi.</p>Rini SetyaniIda Sofiyanti
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-292025-12-294220122024Asuhan Kebidanan Continuity of Care (COC) pada Ny. R Usia 37 Tahun G3P2A0 di Puskesmas Suruh
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1680
<p><em>Maternal Mortality Rate (MMR) and Infant Mortality Rate (IMR) remain critical indicators in evaluating maternal and neonatal health status. The implementation of Continuity of Care (CoC) through Comprehensive Midwifery Care plays an essential role in preventing complications and improving the quality of services. This case study aims to describe the implementation of Comprehensive Care for Mrs. R, 37 years old, G3P2A0, who received continuous care at Suruh Public Health Center, covering pregnancy prenatal yoga and counter pressure were performed, childbirth, the postpartum period, newborn care, as well as family planning counseling and services. The care approach was carried out in accordance with midwifery practice standards, encompassing integrated antenatal monitoring, safe childbirth management, postpartum evaluation, monitoring of neonatal adaptation, and the provision of education and family planning counseling. The results indicate that continuity of care enables early detection of risk factors, prevents complications, and enhances the mother’s utilization of health services. The baby was born in good condition with normal physiological adaptation, and the mother completed the postpartum period without complications. This study highlights that the application of CoC within Comprehensive Care contributes significantly to preventing maternal and neonatal morbidity and supports efforts to reduce MMR and IMR at the primary healthcare level.</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi masih menjadi indikator kritis dalam evaluasi derajat kesehatan maternal dan neonatal. Penerapan Continuity of Care (CoC) melalui Asuhan Komprehensif berperan penting dalam upaya pencegahan komplikasi dan peningkatan kualitas layanan. Studi kasus ini bertujuan memberikan gambaran implementasi Asuhan Komprehensif pada Ny. R, usia 37 tahun, G3P2A0, yang mendapatkan pelayanan berkesinambungan di Puskesmas Suruh mulai dari kehamilan dilakukan prenatal yoga dan couter pressure, persalinan, masa nifas, perawatan bayi baru lahir, hingga konseling dan pelayanan keluarga berencana. Pendekatan asuhan dilakukan sesuai standar praktik kebidanan, mencakup pemantauan antenatal terpadu, penatalaksanaan persalinan aman, evaluasi masa nifas, pemantauan adaptasi neonatus, serta pemberian edukasi dan perencanaan KB. Studi kasus ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan Manajemen Kebidanan 7 langkah Varney dan pendokumentasian SOAP. Hasil pelaksanaan menunjukkan bahwa kesinambungan pelayanan memungkinkan deteksi dini faktor risiko, mencegah terjadinya komplikasi, serta meningkatkan pemanfaatan layanan kesehatan oleh ibu. Bayi lahir dalam kondisi baik, adaptasi fisiologis normal, dan ibu berhasil melalui masa nifas tanpa komplikasi. Studi ini menegaskan bahwa penerapan CoC dalam Asuhan Komprehensif memberikan kontribusi signifikan terhadap pencegahan morbiditas maternal dan neonatal serta mendukung pencapaian target penurunan AKI dan AKB di tingkat layanan primer.</p>Lia Indah Fil MinaHeni Hirawati Pranoto
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-292025-12-294220252031Asuhan Kebidanan Continuity of Care (COC) pada Ny. S Umur 38 Tahun G4P2A1 Anemia Ringan dengan Penerapan Pemberian Tablet Tambah Darah dan Jus Jambu Biji Merah di UPTD Puskesmas Bergas
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1682
<p><em>Continuity of Care (CoC) refers to the ongoing support that midwives offer to women throughout their pregnancies, deliveries, and postpartum periods. Continuous midwifery services from ANC, INC, neonatal care, postpartum care, and high-quality family planning services must be provided by midwives. Iron deficiency is the cause of anemia in pregnant women; in Indonesia, the prevalence of this condition increased but decreased from 48.9% to 27.7% in 2023. Midwives can provide complete services by using CoC care and helping to identify patient issues. Through ongoing monitoring from pregnancy to family planning, CoC care can minimize maternal and newborn mortality rates and lower the risk of problems for both mothers and babies. The Case Study method is the kind of approach utilized in Continuity of Care. The author's approach is a case study.</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Continuity of Care (CoC) adalah perawatan yang berkesinambungan oleh bidan dalam kemitraan dengan wanita selama kehamilan, persalinan, dan postpartum. Bidan harus memberikan pelayanan kebidanan yang berkelanjutan dari ANC, INC, asuhan BBL, asuhan postpartum, asuhan neonatus, dan pelayanan KB yang berkualitas. Anemia pada ibu hamil disebabkan kekurangan zat besi, dengan prevalensi di Indonesia meningkat namun turun dari 48,9% menjadi 27,7% pada 2023. Bidan membantu dalam deteksi permasalahan pasien dan dapat menerapkan asuhan CoC untuk memberikan pelayanan komprehensif. Asuhan CoC dapat mengurangi risiko komplikasi ibu dan bayi, menurunkan AKI dan AKB melalui pengawasan berkelanjutan dari masa kehamilan hingga keluarga berencana. Jenis metode dalam asuhan Contuinity of Care yang digunakan adalah Study kasus (Case Study). Metode yang digunakan penulis yaitu menggunakan studi kasus dengan cara mengambil kasus ibu hamil. Asuhan yang diberikan adalah asuhan secara komprehensif mulai dari hamil, bersalin, nifas, bayi baru lahir, neonatus dan kb. Teknik dan pengumpulan data menggunakan metode wawancara, observasi dan pemeriksaan kepada pasien. Hasil yang diperoleh dari pendampingan komperhensif secara Continuity of care (COC) pada Ny. S dari masa kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir hingga ibu menggunakan alat kontrasepsi didapatkan masalah Ny. S usia 38 Tahun G4 P2 A1 usia kehamilan 34 minggu ditemukan masalah anemia ringan dengan penerapan pemberian tablet FE dan jus buah jambu biji merah. Persalinan Ny. S dilakukan di Rumah Sakit. Masa nifas berlangsung normal tidak ada perdarahan, kontraksi uterus baik, dan ibu mendapatkan vitamin A. Pada bayi baru lahir hasil pemeriksaan antropometri normal, SHK negative. Ny. S memutuskan menggunakan kontrasepsi mantab (MOW). Kesimpulan yang diperoleh penulis dari melakukan asuhan kebidanan komperhensif secara Continuity of Care (COC) pada Ny. S adalah bidan sebagai tenaga kesehatan dapat melakukan asuhan kebidanan secara komprehensif dengan prosedur yang benar dan sesuai dengan kebutuhan klien.</p>Siti FatchiyahIsri Nasifah
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-292025-12-294220322042Asuhan Kebidanan Continuity of Care (COC) pada Ny. N Umur 32 Tahun di Poned Puskesmas Bancak “Gerakan Goyang Panggul (Pelvic Rocking) sebagai Upaya Mempercepat Proses Persalinan Kala I”
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1683
<p><em>Labor is the process of expelling a fetus that occurs during full-term pregnancy (37-42 weeks), born spontaneously with a cephalic presentation that lasts for 18 hours. The mother's response to pain can cause uterine contractions to weaken and result in prolonged labor or even death. Labor is a process that begins with uterine contractions, continues with cervical dilation, birth of the baby, and expulsion of the placenta. One way to relieve pain and accelerate the process of descent of the fetal head is with the pelvic rocking technique, a movement of gently swinging or shaking the pelvis forward, backward, and sideways. This pelvic rocking technique is commonly used to reduce pelvic pain during pregnancy and accelerate the labor process by relaxing the pelvic muscles, increasing flexibility, and helping the baby descend into the birth canal. Research Objectives This study was to determine the effectiveness of the pelvic rocking technique. The research method used in this study was an observational descriptive analytic with a case study approach. The sample of this study was a pregnant woman in the third trimester at 40 weeks of gestation, G2P1A0. This research was conducted at Poned Health Center Bancak. The research instrument used the SOAP documentation method. Data collection techniques used were primary data and secondary data. Primary data is data obtained through interviews both directly and through WhatsApp media, observation, and physical examination, as well as documentation using SOAP documentation. Secondary data is data obtained from the KIA book. The results obtained are that the pelvic rocking technique has been carried out to reduce back pain and accelerate the descent of the fetal head during the labor process. The results obtained are that midwifery care has been carried out on mothers giving birth by applying the pelvic rocking technique to reduce pain and accelerate the descent of the fetal head during the first stage of labor. It is hoped that clients will gain clearer knowledge and understanding of childbirth, newborns, the postpartum period, and neonates in accordance with the midwifery care provided. In addition, clients also gain knowledge about complementary therapies in the midwifery care that has been provided.</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Persalinan adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-42 minggu), lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung selama 18 jam. Respon ibu terhadap nyeri dapat menyebabkan melemahnya kontraksi rahim dan berakibat pada persalinan yang lama bahkan kematian. Persalinan merupakan proses yang diawali dengan kontraksi rahim, dilanjutkan dengan pembukaan serviks, kelahiran bayi, dan pengeluaran plasenta. Salah satu cara untuk mengatasi nyeri dan mempercepat proses penurunan kepala janin adalah dengan teknik pelvic rocking, gerakan mengayunkan atau menggoyangkan panggul ke depan, belakang, dan samping secara perlahan. Teknik pelvic rocking ini umum digunakan untuk mengurangi nyeri panggul selama kehamilan dan mempercepat proses persalinan dengan merelaksasi otot-otot panggul, meningkatkan fleksibilitas, dan membantu bayi turun ke jalan lahir. Tujuan Penelitian Penelitian ini untuk mengetahui efektifitas teknik pelvic rocking. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah observasional deskriptif analitik dengan pendekatan studi kasus (Case Study). Sampel penelitian ini adalah seorang ibu hamil trimester III usia kehamilan 40 minggu, G2P1A0. Penelitian ini dilakukan di Poned Puskesmas Bancak. Instrumen penelitian menggunakan metode dokumentasi SOAP. Teknik Pengumpulan Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh melalui wawancara baik secara langsung maupun melalui media WhatsApp, observasi, dan pemeriksaan fisik, serta dokumentasi menggunakan dokumentasi SOAP. Data sekunder adalah data yang di dapat dari buku KIA. Hasil yang diperoleh yaitu telah dilakukan teknik pelvic rocking untuk mengurangi nyeri punggung dan mempercepat penurunan kepala janin pada proses persalinan. Hasil yang diperoleh yaitu telah dilakukan asuhan kebidanan pada ibu bersalin dengan menerapkan teknik pelvic rocking untuk mengurangi nyeri dan mempercepat penurunan kepala janin pada persalinan kala I. Diharapkan klien mendapatkan ilmu dan pengetahuan tentang persalinan, bayi baru lahir, masa nifas, dan neonatus yang lebih jelas sesuai dengan asuhan kebidanan yang diberikan. Selain itu klien juga mendapatkan pengetahuan tentang terapi komplementer pada asuhan kebidanan yang telah diberikan.</p>SetiyowatiAri Widyaningsih
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-292025-12-294220432050Asuhan Kebidanan Komprehensif pada Ny. S Usia 25 Tahun G2P1A0 di PMB Nur Ika Sari Desa Lebak, Kec. Bringin, Kab. Semarang Tahun 2025
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1687
<p><em>Continuity of care in midwifery is a series of continuous and comprehensive service activities starting from pregnancy, childbirth, postpartum, newborns and family planning services that connect the health needs of women in particular and the personal circumstances of each individual. Continuity of care is a therapeutic relationship between women and health workers, particularly midwives, in allocating comprehensive services and knowledge. In this care, the author used a descriptive research method, collecting data through interviews, observation, physical examinations, and supporting examinations. This study began on September 27, 2025, and ended on November 30, 2025. Midwifery care provided to Mrs. Yang lasted from pregnancy, childbirth, postpartum, neonate to family planning with a frequency of 2 pregnancy visits, 2 postpartum visits, 2 neonates, childbirth and family planning visits at PMB Nur Ika Sari. In Mrs. S, the patient's pregnancy process did not experience problems during TM I and TM II, in TM III complained of back pain so complementary therapy was carried out to treat back pain. In the delivery process Mrs. N experienced labor pain so the author provided complementary counterpressure therapy care. In the care of BBL By. Mrs. S, IMD was carried out, Vit K injections and eye ointments were given, one hour later HB 0 immunization was given. In postpartum midwifery care on the 1st day, the mother said that her breast milk had come out a little, but was still confused about how to breastfeed properly so the author provided midwifery care by providing IEC breastfeeding techniques and on the 3rd day, complementary postpartum care was carried out, namely oxytocin massage. In providing midwifery care, KB mothers have been given counseling and decided to use 3-month injection KB at PMB Nur Ika Sari. Continuity of care continues to apply midwifery management, maintain and improve competence in providing care according to midwifery service standards. This research emphasizes the importance of midwives' role in providing comprehensive and continuous midwifery services. Midwives and clients are expected to implement the care provided during prenatal, postpartum, and newborn visits to provide health and educational benefits to both mothers and babies.</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Continuity of care dalam kebidanan adalah serangkaian kegiatan pelayanan yang berkelanjutan dan menyeluruh mulai dari kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir serta pelayanan keluarga berencana yang menghubungkan kebutuhan kesehatan perempuan khususnya dan keadaan pribadi setiap individu. Hubungan pelayanan kontinuitas adalah hubungan terapeutik antara perempuan dan petugas Kesehatan khususnya bidan dalam mengalokasikan pelayanan serta pengetahuan secara komprehensif. Dalam asuhan ini penulis menggunakan metode penelitian deskriptif teknik pengumpulan data yaitu melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang. Penelitian ini dimulai sejak tanggal 27 September 2025 sampai dengan 30 November 2025. Asuhan kebidanan yang diberikan pada Ny. S yang berlangsung dari masa kehamilan, persalinan, nifas, neonatus sampai KB dengan frekuensi kunjungan hamil sebanyak 3 kali, nifas 3 kali, neonatus 3 kali, persalinan dan KB dilakukan di PMB Nur Ika Sari. Pada Ny. S Proses kehamilan pasien tidak mengalami masalah selama TM I dan TM II, pada TM III mengeluh nyeri pinggang maka dilakukan komplementer untuk menangani nyeri pinggang. Pada proses persalinan Ny. N mengalami nyeri persalinan sehingga penulis memberikan asuhan terapi komplementer counterperesure. Pada asuhan BBL By. Ny. S dilakukan IMD, Pemberian injeksi Vit K dan Salep mata, Satu jam setelahnya dilakukan pemberian imunisasi HB 0. Pada asuhan kebidanan masa nifas hari ke 1 ibu mengatakan ASI sudah keluar sedikit, tetapi masih bingung untuk cara menyusi yang benar sehingga penulis memberikan asuhan kebidanan dengan memberikan KIE Teknik menyusui dan pada hari ke 3 dilakukan asuhan komplementer nifas yaitu pijat oksitosin. Dalam memberikan asuhan kebidanan KB ibu telah diberikan konseling dan memutuskan untuk menggunakan KB suntik 3 bulan di PMB Nur Ika Sari. Asuhan kebidanan berkelanjutan (continuity of care) selanjutnya selalu menerapkan manajemen kebidanan, mempertahankan dan meningkatkan kompetensi dalam memberikan asuhan sesuai standar pelayanan kebidanan. Penelitian ini menegaskan pentingnya peran bidan dalam memberikan pelayanan kebidanan secara komprehensif dan berkesinambungan. Bagi bidan dan klien diharapkan agar bisa menerapkan asuhan yang telah diberikan selama kunjungan hamil, nifas, bayi baru lahir dan neonatus sehingga dapat memberikan manfaat kesehatan dan pengetahuan pada ibu dan bayi.</p>Gabriella AulaKartika Sari
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-292025-12-294220512060Asuhan Kebidanan Komprehensif pada Ny. L Umur 27 Tahun G2P1A0 di TPMB Nuryati
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1691
<p><em>Continuous care (COC) is one of the midwifery care models as an effort to detect complications early. The comprehensive midwifery care model aims to improve continuous care starting from pregnancy, childbirth, postpartum, newborn care and family planning services. Pregnancy care prioritizes continuity. The research design used is descriptive, with a case study approach (Case Study) with Varney Management and documented with SOAP. The case study was conducted on Mrs. L aged 27 years G2P1A0 at TPMB Nuryati from June to September 2025. The data collection method used interviews, observations with primary and secondary data through the KIA Book. Comprehensive midwifery care for pregnant women found that the mother experienced complaints of discomfort in the third trimester of pregnancy and was managed by providing Health Education and prenatal yoga, the mother gave birth by CS at 37 weeks of pregnancy at Banyumnaik 2 Hospital. The newborn was born by CS and did not have IMD. The mother's postpartum was normal and care was carried out according to the standard of care, namely 4 visits. The mother chose to use the 3-monthly injectable contraceptive. Comprehensive midwifery care will improve the health and well-being of both mother and fetus.</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Asuhan kebidanan komprehensif merupakan salah satu model asuhan kebidanan sebagai upaya untuk melakukan deteksi dini komplikasi. Model asuhan kebidanan komprehensif mempunyai tujuan untuk meningkatkan asuhan yang berkesinambungan mulai dari kehamilan, persalinan, nifas, pelayanan bayi baru lahir serta pelayanan keluarga berencana. Asuhan kehamilan mengutamakan kesinambungan. Desain penelitian yang digunakan yaitu deskriptif, dengan pendekatan studi kasus (Case Study) dengan Manajemen Varney dan didokumentasikan dengan SOAP. Studi kasus dilakukan pada Ny. L umur 27Tahun G2P1A0 di TPMB Nuryati pada bulan Juni sampai September 2025. Metode pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi dengan data primer dan sekunder melalui Buku KIA. Asuhan kebidanan Komprehensif dari Ibu Hamil mengalami keluhan ketidaknyamanan pada kehamilan TM III dengan pemberian Pendidikan Kesehatan dan prenatal yoga, Ibu Bersalin secara SC pada umur kehamilan 37 minggu di RS Banyumnaik 2. Bayi Baru lahir secara SC dan dilakukan tidak IMD. Nifas ibu normal dan dilakukan asuhan sesuai standar asuhan yaitu 4 kali kunjungan. Ibu memilih untuk menggunakan KB Suntik 3 bulan. Dengan Asuhan kebidanan komprehensif akan meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan ibu dan janin.</p>NuryatiAri Widyaningsih
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-292025-12-294220612068Asuhan Kebidanan Komprehensif pada Ny. K Umur 30 Tahun G1P0A0 di Kelurahan Kampung Enam, Tarakan
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1693
<p><em>Continuity of Care (CoC) is a midwifery care approach that provides comprehensive and continuous services to women throughout pregnancy, childbirth, postpartum, newborn care, and family planning. This case study aims to describe the implementation of CoC midwifery care for Mrs. K, 30 years old, in Kampung Empat Village, Tarakan City, who experienced a physiological pregnancy during the first and second trimesters, but in the third trimester was diagnosed with umbilical cord entanglement and meconium-stained amniotic fluid, leading to a Sectio Caesarea (SC) procedure. The study employed a case study method using the seven-step Varney management approach and SOAP documentation. Data were collected through interviews, physical examinations, observations, and document reviews. The results showed that during the first trimester, the mother experienced mild nausea and vomiting that were managed through nutritional education and adequate rest. The second trimester progressed normally, while in the third trimester, signs of fetal distress were identified—specifically, a single umbilical cord loop around the fetal neck and meconium-stained amniotic fluid—prompting an SC procedure to prevent fetal asphyxia. A live male infant was born weighing 2,900 grams, measuring 49 cm in length, with an APGAR score of 8–9. The postpartum period was normal, the surgical wound healed well, breastfeeding was successful, and the mother chose the Copper T-380A IUD as a long-term contraceptive method. The implementation of CoC for Mrs. K highlights the importance of continuous monitoring to enable early detection of complications, enhance maternal readiness, and support the success of postpartum family planning programs.</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Asuhan kebidanan berkesinambungan atau Continuity of Care (CoC) merupakan pendekatan pelayanan kebidanan yang diberikan secara menyeluruh dan berkesinambungan kepada ibu mulai dari masa kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir hingga keluarga berencana. Tujuan studi kasus ini adalah menggambarkan pelaksanaan asuhan kebidanan CoC pada Ny. K, usia 30 tahun, di Kelurahan Kampung Empat, Kota Tarakan, yang mengalami kehamilan fisiologis pada trimester I dan II, namun trimester III ditemukan lilitan tali pusat dan ketuban keruh sehingga dilakukan tindakan Sectio Caesarea (SC). Metode yang digunakan adalah studi kasus dengan pendekatan manajemen kebidanan tujuh langkah Varney dan pendokumentasian SOAP. Data diperoleh melalui wawancara, pemeriksaan fisik, observasi. dan studi dokumentasi. Hasil menunjukkan pada trimester I ibu mengalami mual muntah ringan yang dapat diatasi melalui edukasi gizi dan istirahat. Trimester II berjalan normal, sedangkan trimester III terjadi tanda gawat janin berupa lilitan tali pusat satu kali di leher janin dengan ketuban keruh, sehingga dilakukan SC untuk mencegah asfiksia. Bayi lahir hidup, laki-laki, berat badan 2.900 gram, panjang badan 49 cm, dan nilai APGAR 8–9. Masa nifas berlangsung normal, luka operasi sembuh baik, ASI eksklusif berjalan lancar, dan ibu memilih kontrasepsi IUD (Copper T-380A). Pelaksanaan CoC pada Ny. K menunjukkan pentingnya pemantauan berkelanjutan untuk deteksi dini komplikasi, meningkatkan kesiapan ibu, serta mendukung keberhasilan program keluarga berencana pasca persalinan.</p>Umi Suci Purnama SariAri Widyaningsih
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-292025-12-294220692077Asuhan Kebidanan Continuity of Care pada Ny. I Umur 30 Tahun G2P1A0 di Desa Kesongo Kecamatan Tuntang Kabupaten Semarang
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1698
<p><em>Efforts to improve maternal health and reduce maternal mortality cannot be carried out alone by the Government, it requires cross-program and cross-sector collaboration. Government efforts are made so that midwives as health workers carry out continuity of care. The type of method in continuity of care care used is a Case Study Review (Care Study). This case study was conducted in Kesongo Village, Tuntang Health Center. In this case study, the subject used was a sample of a pregnant woman, followed through the process of labor, postpartum, newborn and family planning by Mrs. I in Kesongo Village, Tuntang Health Center. The techniques and data collection used were interviews, observations, and examinations. The following results were obtained: Midwifery care for Mrs. I's pregnancy showed no complaints during each visit. Objective data showed that all results were normal. It is known that Mrs. I has a high-risk pregnancy. The problem arose because the interval between this pregnancy and her first child was 10 years. The management provided for Mrs. I's pregnancy care was appropriate. Midwifery care for Mrs. I's delivery was appropriate. I was given by providing normal delivery care (APN) according to standards. The mother gave birth on November 8, 2025 at 05.25 WIB. Postpartum midwifery care for Mrs. I was given by conducting visits that did not meet the standards, namely only 2 times. Namely the first visit on November 14, 2025 with no complaints of TFU mid-center-symphysis, PPV blood brownish red (Lochea sanguinolenta) the second visit on November 22, 2025 with no complaints, normal TFU, did not issue PPV. The management provided was in accordance with the patient's needs. In midwifery care By. Mrs. I was given by conducting data assessments, namely subjective data and objective data, conducting management including planning, implementation and evaluation. So there was no gap between theory and practice. During the newborn period, visits were not according to standards, namely only 2 visits. Family planning care is provided by conducting data assessments, namely subjective data and objective data, determining assessments, carrying out management including planning, implementation and evaluation, so that there is no gap between theory and practice.</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Upaya peningkatan kesehatan ibu dan penurunan angka kematian ibu mustahil dapat dilakukan sendiri oleh Pemerintah, diperlukan kerja sama lintas program dan lintas sektor terkait. Upaya pemerintah dibuat sehingga bidan sebagai tenaga kesehatan melakukan continuity of care. Jenis metode dalam asuhan contuinity of care yang digunakan adalah Study Penelaah kasus (Care Study). Studi kasus ini dilaksanakan di Desa Kesongo Puskesmas Tuntang. Pada studi kasus ini subjek yang digunakan yakni diambil satu sampel seorang ibu hamil, diikuti sampai proses persalinan, nifas, bayi baru lahir dan KB oleh Ny. I di Desa Kesongo Puskesmas Tuntang. Teknik dan Pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi, dan pemeriksaan. Didapatkan hasil sebagai berikut: Asuhan kebidanan kehamilan pada Ny. I data subjektif pada setiap kunjungan tidak ada keluhan. Pada data objektif didapatkan hasil semua dalam keadaan normal. Diketahui bahwa Ny. I termasuk hamil resiko tinggi. Masalah yang muncul karena jarak kehamilan ini dengan anak pertama yaitu 10 tahun. Penatalaksanaan yang diberikan pada asuhan kehamilan Ny. I sudah sesuai. Asuhan kebidanan persalinan pada Ny. I diberikan dengan memberikan Asuhan pelayanan persalinan normal (APN) sesuai dengan standart. Ibu melahirkan tanggal 8 November 2025 Jam 05.25 WIB. Asuhan kebidanan Nifas pada Ny. I diberikan dengan melakukan kunjungan belum memenuhi dengan standar yaitu baru dilakukan sebanyak 2 kali. Yaitu kunjungan pertama pada tanggal 14 November 2025 dengan tidak ada keluhan TFU pertengahan pusat-symphisis, PPV darah berwarna merah kecoklatan (Lochea sanguinolenta) kunjungan kedua pada tanggal 22 November 2025 dengan tidak ada keluhan, TFU normal, tidak mengeluarkan PPV. Penatalaksanaan yang diberikan sudah sesuai dengan kebutuhan pasien. Pada asuhan kebidanan By. Ny. I diberikan dengan melakukan pengkajian data yaitu data subjektif dan data objektif, melakukan penatalaksanaan meliputi perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Sehingga tidak didapatkan kesenjangan antara teori dan praktik. Selama masa bayi baru lahir dilakukan kunjungan belum sesuai standar yaitu kunjungan hanya 2 kali. Pada asuhan keluarga berencana diberika dengan melakukan pengkajian data yaitu data subjektif dan data objektif, menentukan assessment, melakukan penatalaksanaan meliputi perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi, sehingga tidak didapatkan kesenjangan antara teori dan praktik.</p>Dhini KusumastutiRisma Aliviani Putri
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-292025-12-294220782090Asuhan Kebidanan Continuity Of Care (COC) pada Ny. E Umur 35 Tahun G4P2A1 di Desa Delik
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1709
<p><em>Mothers and children are family members who need to be prioritized in the implementation of health efforts. The success of maternal health efforts is seen from the MMR indicator, namely the number of maternal deaths during pregnancy, childbirth, and postpartum but not due to other causes such as accidents or falls in every 100,000 live births. Continuity of Care (COC) Midwifery Care is continuous midwifery care provided to mothers and babies starting from pregnancy, childbirth, newborns, postpartum and family planning, with the existence of COC care, the development of the mother's condition at all times will be monitored well, in addition, continuous care carried out by midwives can make mothers more trusting and open because they are familiar with the care provider. COC midwifery care is one of the efforts to reduce the Maternal Mortality Rate (MMR) and Infant Mortality Rate (IMR). The purpose of the study was to provide comprehensive midwifery care (continuity of care) to Mrs. E, 35 years old, G4P2A1 in Delik Village, Tuntang District, Semarang Regency. The type of method in continuity of care care used is a case study (Care Study). The data collection technique is that the author conducted a question and answer activity directly to the client, family and midwife with the aim of obtaining the necessary data, namely data from Mrs. E aged 35 years to obtain complete information. In this case study, observations were made during pregnancy, childbirth, postpartum, and newborn as well as physical examinations. The results of the study on Mrs. E aged 35 years G4P2A1 the pregnancy process went physiologically without any problems or complications although in TM III at 32 weeks of pregnancy there were complaints of discomfort in the mother in the form of back pain, however, yoga management for pregnant women has been carried out so that it can reduce the mother's complaints. The delivery process took place normally at the Anindita Clinic, while neonatal visits were carried out 3 times and postpartum visits were carried out 4 times and contraceptive care was carried out simultaneously with postpartum visits.</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Ibu dan anak merupakan anggota keluarga yang perlu mendapatkan prioritas dalam penyelenggaraan upaya kesehatan. Keberhasilan upaya kesehatan ibu, dilihat dari indikator AKI, yaitu jumlah kematian ibu selama kehamilan, persalinan, dan nifas tetapi bukan karena sebab lain seperti kecelakaan atau terjatuh di setiap 100.000 kelahiran hidup. Asuhan Kebidanan Continuity of Care (COC) merupakan asuhan kebidanan berkesinambungan yang diberikan kepada ibu dan bayi dimulai pada saat kehamilan, persalinan, bayi baru lahir, nifas dan keluarga berencana, dengan adanya asuhan COC maka perkembangan kondisi ibu setiap saat akan terpantau dengan baik, selain itu asuhan berkelanjutan yang dilakukan bidan dapat membuat ibu lebih percaya dan terbuka karena sudah mengenal pemberiasuhan. Asuhan kebidanan secara COC adalah salah satu upaya untuk menurunkan Angka kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). Tujuan penelitian yaitu memberikan asuhan kebidanan secara komprehensif (continuity of care) Ny. E umur 35 tahun G4P2A1 di Desa Delik, Kec. Tuntang, Kab. Semarang. Jenis metode dalam asuhan contuinity of care yang digunakan adalah study penelaah kasus (Care Study). Teknik pengumpulan data yaitu penulis melakukan kegiatan tanya jawab secara langsung kepada klien, keluarga dan kepada bidan yang bertujuan untuk mendapatkan data yang diperlukan, yaitu data Ny. E umur 35 tahun untuk mendapatkan informasi secara lengkap. Pada studi kasus ini melakukan observasi selama dari kehamilan, persalinan, nifas, dan bbl serta pemeriksaan fisik. Hasil penelitian pada Ny. E umur 35 tahun G4P2A1 proses kehamilan berjalan dengan fisiologis tidak ada masalah maupun komplikasi walaupun pada TM III usia kehamilan 32 minggu ditemukan keluhan ketidaknyamanan pada ibu berupa nyeri punggung namum telah dilakukan penatalaksanaan yoga ibu hamil sehingga dapat mengurangi keeluhan ibu. Proses persalinan berlangsung normal di Klinik Anindita, sedangkan kunjungan neonatus dilakukan sebanyak 3 kali dan kunjungan nifas dilakukan sebanyak 4 kali serta asuhan kontrasepsi dilakukan bebarengan dengan kunjungan nifas. </p>Sekar Sari AnnasiyahRini Susanti
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-292025-12-294220912100Asuhan Kebidanan pada Ny. D Usia 30 Tahun G3P2A0 Usia Kehamilan 20 Minggu di Wilayah Kerja Puskesmas Kaliwungu Kecamatan Kaliwungu
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1713
<p><em>Maternal Mortality Rate (MMR) and Infant Mortality Rate (IMR) remain essential indicators of a nation’s health status. In Indonesia, the MMR in 2022 was recorded at 207 per 100,000 live births, still above the Strategic Plan target of 190 per 100,000 live births. The leading causes of maternal death include hemorrhage, preeclampsia/eclampsia, infection, prolonged labor, and postpartum complications, while infant mortality is primarily caused by prematurity, asphyxia, infection, and congenital abnormalities. Efforts to reduce MMR and IMR are carried out through the Safe Motherhood program and the implementation of Continuity of Care (CoC), which provides comprehensive and continuous midwifery services from pregnancy, childbirth, postpartum care, newborn care, and family planning. This comprehensive care aims to detect risks early, prevent complications, and improve maternal and neonatal health outcomes. This study used a descriptive case study approach involving Mrs. D, a 30-year-old woman, G3P2A0, who received comprehensive midwifery care at Kaliwungu Health Center. The care provided included antenatal care during the second and third trimesters, labor monitoring using the 60 essential steps of APN, postpartum care, newborn care, and family planning services. Complementary care such as prenatal yoga education and oxytocin massage was also provided according to the client's needs. The pregnancy, labor, postpartum period, newborn care, and family planning services all proceeded physiologically without complications. The mother demonstrated a good understanding of pregnancy danger signs, childbirth preparation, postpartum self-care, exclusive breastfeeding, and newborn care. The oxytocin massage contributed to increased breast milk production, and the newborn showed good adaptation. The mother successfully chose an appropriate postpartum contraceptive method after counseling. Conclusion: The implementation of comprehensive Continuity of Care (CoC) midwifery services was effective in early risk identification, enhancing maternal knowledge, and supporting optimal maternal and neonatal health outcomes. Complementary care, such as oxytocin massage, provided additional benefits by improving breastfeeding outcomes and maternal comfort. The implementation of CoC should continue as a key strategy in reducing MMR and IMR, and improving the quality of midwifery services in Indonesia.</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) masih menjadi indikator utama dalam menilai kualitas kesehatan suatu negara. Di Indonesia, AKI pada tahun 2022 tercatat sebesar 207 per 100.000 kelahiran hidup, yang masih melebihi target Renstra sebesar 190 per 100.000 kelahiran hidup. Penyebab utama kematian ibu meliputi perdarahan, preeklamsia/eklamsia, infeksi, partus lama, dan komplikasi nifas, sedangkan kematian bayi umumnya disebabkan oleh prematuritas, asfiksia, infeksi, dan kelainan bawaan. Upaya penurunan AKI dan AKB dilakukan melalui program Safe Motherhood dan penerapan Continuity of Care (CoC), yang menyediakan pelayanan kebidanan komprehensif dan berkesinambungan mulai dari kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir, hingga keluarga berencana. Pelayanan ini bertujuan untuk mendeteksi risiko dini, mencegah komplikasi, dan meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan bayi. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus deskriptif yang melibatkan Ny. D, seorang ibu berusia 30 tahun, G3P2A0, yang mendapatkan asuhan kebidanan komprehensif di Puskesmas Kaliwungu. Asuhan yang diberikan mencakup pemeriksaan antenatal pada trimester II dan III, pemantauan persalinan menggunakan 60 langkah APN, perawatan nifas, perawatan bayi baru lahir, serta pelayanan keluarga berencana. Selain itu, asuhan komplementer seperti edukasi prenatal yoga dan pijat oksitosin juga diberikan untuk meningkatkan kenyamanan dan hasil kesehatan ibu dan bayi. Hasil: Seluruh proses kehamilan, persalinan, masa nifas, perawatan bayi baru lahir, dan pelayanan keluarga berencana berlangsung fisiologis tanpa komplikasi. Ibu memiliki pemahaman yang baik mengenai tanda bahaya kehamilan, persiapan persalinan, perawatan diri masa nifas, pemberian ASI eksklusif, dan perawatan bayi. Pijat oksitosin yang diberikan terbukti meningkatkan produksi ASI ibu, dan bayi menunjukkan adaptasi yang baik. Ibu juga berhasil memilih metode kontrasepsi KB suntik setelah mendapatkan konseling yang memadai. Penerapan asuhan kebidanan Continuity of Care (CoC) secara komprehensif efektif dalam mendeteksi risiko dini, meningkatkan pengetahuan ibu, dan mendukung kesehatan maternal serta neonatal. Asuhan komplementer seperti pijat oksitosin memberikan manfaat tambahan dengan meningkatkan kenyamanan ibu dan produksi ASI. Oleh karena itu, implementasi CoC harus terus diperkuat untuk mencapai penurunan AKI dan AKB, serta meningkatkan kualitas pelayanan kebidanan di Indonesia. </p>TarmiNinik Christiani
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-292025-12-294221012111Asuhan Kebidanan Komprehensif pada Ny. Y Umur 23 Tahun G1P0A0 di PMB Yohana Puspiati Mukiran Kaliwungu Laporan Continuity Of Care (COC)
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1715
<p><em>The neonatal and postpartum periods are critical for both mother and infant in physiological and psychological adaptation. Proper care during these periods, including neonatal monitoring, breastfeeding support, uterine involution assessment, and family planning counseling, plays an essential role in preventing complications and promoting maternal and infant health. This study aims to analyze midwifery care provided to neonates, postpartum mothers, and family planning clients, and to assess the effectiveness of midwifery interventions in supporting physiological and psychological adaptation.. This research employed a cross-sectional design with a sample of 40 respondents selected using the purposive sampling technique. Data were collected through questionnaires and analyzed using the Chi-Square test to examine the relationship between menarche age and menopause age. This descriptive observational study was based on midwifery care records of a primiparous mother and her infant during neonatal and postpartum visits, as well as family planning counseling. Data were collected through subjective and objective assessments, including vital signs, neonatal reflexes, weight and length measurements, uterine condition, breastfeeding adequacy, and acceptance of contraception methods. Menarche age is significantly associated with menopause age. Factors such as ovarian reserve, hormonal changes, and genetic influences likely play a role in this relationship. These findings highlight the importance of early reproductive health monitoring to mitigate the risks of early menopause and its health effects. The observations showed that the neonate was in a physiological normal condition with good APGAR scores, complete primitive reflexes, appropriate growth for age, and received immunizations and vitamins according to schedule. The mother exhibited normal uterine involution, adequate breast milk production after stimulation, and no signs of infection or abnormal bleeding. Family planning counseling led to an informed decision to use an IUD effectively. Integrated midwifery care for neonates, postpartum mothers, and family planning clients supports optimal physiological and psychological adaptation, prevents complications, and enhances mothers’ understanding of self-care and infant care.</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Abstrak Masa neonatal dan nifas merupakan periode kritis bagi ibu dan bayi dalam proses adaptasi fisiologis dan psikologis. Perawatan yang tepat selama periode ini, termasuk pemantauan neonatus, pemberian ASI, involusi uterus, serta konseling keluarga berencana, berperan penting dalam mencegah komplikasi dan mendukung kesehatan ibu dan bayi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis asuhan kebidanan pada neonatus, nifas, dan keluarga berencana, serta menilai efektivitas intervensi kebidanan dalam mendukung adaptasi fisiologis dan psikologis ibu dan bayi. Studi ini menggunakan metode observasional deskriptif berdasarkan catatan asuhan kebidanan pada seorang ibu primipara dan bayinya selama kunjungan neonatus dan nifas, serta konseling keluarga berencana. Data dikumpulkan melalui pemeriksaan subjektif dan objektif, analisis tanda vital, refleks bayi, berat badan, panjang badan, kondisi uterus, produksi ASI, dan penerimaan metode kontrasepsi. Hasil observasi menunjukkan neonatus dalam kondisi fisiologis normal dengan skor APGAR baik, refleks primitif lengkap, pertumbuhan sesuai usia, dan menerima imunisasi serta vitamin sesuai jadwal. Ibu dalam periode nifas menunjukkan involusi uterus normal, ASI yang memadai setelah stimulasi, tanpa tanda infeksi atau perdarahan abnormal. Konseling keluarga berencana menghasilkan keputusan penggunaan KB IUD secara sadar dan tepat. Asuhan kebidanan yang terintegrasi pada neonatus, nifas, dan keluarga berencana dapat mendukung adaptasi fisiologis dan psikologis ibu serta pertumbuhan optimal bayi, mencegah komplikasi, dan meningkatkan pemahaman ibu terhadap perawatan diri dan bayi.</p>Harina NoviyantiCahyaningrum
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-292025-12-294221122117Pengimplementasian Akupresure pada Asuhan Kebidanan Komperensif Ibu Hamil dengan Emesis Gravidarum di RSUD dr. H Jusuf SK Tarakan
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1717
<p><em>Nausea and vomiting are common complaints during early pregnancy. Nausea and vomiting are caused by hormonal changes due to increased estrogen, progesterone, and the release of hCG (human chorionic gonadotropin). The purpose of this care is to determine the benefits of acupressure at the pericardium 6 point in reducing the frequency of nausea and vomiting in pregnant women in the first trimester, allowing them to experience pregnancy and delivery comfortably.</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Mual muntah merupakan keluhan umum yang disampaikan saat hamil muda. Terjadinya mual muntah yang diakibatkan oleh perubahan hormonal karena peningkatan hormon estrogen, progesteron dan dikeluarkan hCG (human chorionic gonnadotropine). Tujuan dari asuhan ini adalah untuk mengetahui manfaat penatalaksanaan akupresur pada titik perikardium 6 dalam pengurangan frekuensi mual muntah pada ibu hamil trimester I sehingga ibu dapat menjalani kehamilan hingga persalinanya dengan nyaman. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif. Jenis laporan yang digunakan adalah studi kasus (Case Study) yaitu dengan cara mengambil kasus ibu nifas di RSUD dr. H.Jusuf SK Tarakan. Hasil yang diperoleh selama asuhan komprehensif pasien mengeluh mual muntah di awal kehamilan. Bidan memberikan penanganan asuhan kebidanan komplementer dengan pasien dengan konseling mengenai nutrisi serta melakukan akupresur pada titik perikardium 6 yang dilakukan pada pagi hari selama 3 hari atau dilakukan saat rasa mual dapat mengurangi frekuensi mual muntah pada ibu. Diharapkan kepada ibu hamil trimester I untuk mengetahui cara penanganan mual muntah yaitu dengan cara penatalaksanaan akupresur pada titik perikardium 6.</p>Puput YunitaHeni Hirawati Pranoto
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-292025-12-294221182124Studi Kasus : Asuhan Kebidanan Komprehensif pada Ibu Hamil dengan Letak Sungsang Melalui Penerapan Metode Knee-Chest
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1722
<p><em>Continuity of Care (CoC) midwifery care is an important effort in reducing the Maternal Mortality Rate (MMR) and Infant Mortality Rate (IMR) through continuous monitoring of maternal and infant health. Breech presentation is one of the risk factors for labor complications, with an incidence rate of around 2.5-3% of all singleton deliveries in Indonesia, and carries a high risk of perinatal mortality. The purpose of this report is to implement comprehensive midwifery care for Mrs. H with a breech presentation. The objective is to implement and evaluate comprehensive midwifery care for Mrs. H, 28 years old, G3P2A0, with a breech presentation at 33 weeks of gestation. At the initial visit, Mrs. H was diagnosed as G3P2A0 with a breech presentation at 33 weeks of gestation. Interventions provided included Counselling, Information, and Education (CIE) and the recommendation to perform the knee-chest position to help correct the fetal position. This effort was successful, and by 35 weeks of gestation, the fetal position had changed to a cephalic presentation (head-down). Mrs. H subsequently delivered spontaneously (per vaginam) at 39 weeks of gestation. The baby was born weighing 2945 grams and in healthy condition. The application of Comprehensive Midwifery Care (Continuity of Care) proved effective in monitoring, detecting, and providing non-pharmacological interventions for high-risk cases such as breech presentation, which in Mrs. H's case was successfully resolved without complications, ensuring that the pregnancy, labor, postpartum period, and newborn (BBL) care proceeded well and in accordance with service standards.</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Asuhan kebidanan Continuity of Care (CoC) merupakan upaya penting dalam menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) melalui pemantauan kesehatan ibu dan bayi yang berkesinambungan. Letak sungsang merupakan salah satu faktor risiko komplikasi persalinan dengan angka kejadian sekitar 2,5-3% dari seluruh persalinan tunggal di Indonesia dan memiliki risiko kematian perinatal yang tinggi. Tujuan dari laporan ini adalah menerapkan asuhan kebidanan komprehensif pada Ny. H dengan letak sungsang. Untuk menerapkan dan mengevaluasi asuhan kebidanan komprehensif pada Ny. H, 28 tahun, G3P2A0, dengan letak sungsang pada usia kehamilan 33 minggu. Pada awal kunjungan, Ny. H didiagnosis G3P2A0 dengan letak sungsang pada usia kehamilan 33 minggu. Intervensi yang diberikan berupa Konseling, Informasi, dan Edukasi (KIE) serta anjuran untuk melakukan posisi knee-chest untuk membantu koreksi posisi janin. Upaya tersebut berhasil, dan pada usia kehamilan 35 minggu, posisi janin telah berubah menjadi presentasi kepala. Ny. H kemudian melahirkan secara spontan (per vaginam) pada usia kehamilan 39 minggu. Bayi lahir dengan berat 2945 gram dan kondisi sehat. Penerapan Asuhan Kebidanan Komprehensif (Continuity of Care) terbukti efektif dalam memantau, mendeteksi, dan memberikan intervensi non-farmakologis pada kasus risiko tinggi seperti letak sungsang, yang pada kasus Ny. H berhasil diselesaikan tanpa komplikasi, sehingga proses kehamilan, persalinan, nifas, dan BBL dapat berjalan dengan baik dan sesuai dengan standar pelayanan.</p>Retno FatmawatiLuvi Dian Afriani
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-292025-12-294221252135Asuhan Kebidanan Continuity of Care (COC) pada Ny. B Umur 23 Tahun di Puskesmas Banyubiru
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1723
<p><em>Continuity of care or continuity of midwifery care is an approach that is carried out continuously from pregnancy, childbirth, postpartum, to newborn care. This aims to improve the quality of maternal and infant health and ensure optimal monitoring. This care aims to provide an overview of continuity of care midwifery care for Mrs. B, 23 years old. The method in providing Continuity Of Care care uses a case study approach with direct observation and recording of care provided from the first trimester of pregnancy to the third trimester of pregnancy, childbirth, postpartum, infant care to family planning. Data were collected through interviews, observations, and documentation. The results of continuous midwifery care succeeded in increasing maternal compliance in undergoing prenatal care, minimizing complications during childbirth, and providing better knowledge about newborn care. The mother showed good health conditions during and after the delivery process, and the baby was born healthy. Conclusion: The continuity of care approach to Mrs. B showed positive results, providing a significant impact in improving maternal and infant health. Continuous midwifery care is highly recommended to be implemented in health facilities to ensure holistic monitoring of maternal and infant health.</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Continuity of Care atau kesinambungan asuhan kebidanan adalah pendekatan yang dilakukan secara terus menerus dari masa kehamilan, persalinan, nifas, hingga perawatan bayi baru lahir. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan bayi serta memastikan pemantauan yang optimal. Asuhan ini bertujuan untuk memberikan gambaran asuhan kebidanan Continuity Of Care pada Ny. B usia 23 Tahun . Metode dalam memberikan asuhan Continuity Of Care ini menggunakan pendekatan studi kasus dengan observasi langsung dan pencatatan asuhan yang diberikan dari kehamilan trimester Pertama sampai hamil trimester ke 3, Persalinan, masa nifas, perawatan bayi sampai dengan KB. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil dari Asuhan kebidanan yang berkesinambungan berhasil meningkatkan kepatuhan ibu dalam menjalani perawatan prenatal, meminimalkan komplikasi saat persalinan, serta memberikan pengetahuan yang lebih baik mengenai perawatan bayi baru lahir. Ibu menunjukkan kondisi kesehatan yang baik selama dan setelah proses persalinan, dan bayi lahir dengan sehat. Kesimpulan: Pendekatan Continuity Of Care pada Ny. B menunjukkan hasil yang positif, memberikan dampak signifikan dalam meningkatkan kesehatan ibu dan bayi. Asuhan kebidanan berkesinambungan sangat dianjurkan untuk diterapkan di fasilitas kesehatan guna memastikan pemantauan kesehatan ibu dan bayi secara holistik.</p>Farida Anif ZanuwarHeni Setyowati
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-292025-12-294221362143Asuhan Kebidanan Komprehensif pada Ny. Y Umur 29 Tahun G2P1A0 pada Usia Kehamilan 34 Minggu dengan Letak Sungsang di Puskesmas Karanganyar
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1728
<p><em>Maternal and infant mortality rates remain key indicators of a nation’s health status. Based on data from the Central Java Provincial Health Office (2022), the maternal mortality rate reached 87 per 100,000 live births, while neonatal mortality was 5.9 per 1,000 live births, with the highest causes being prematurity, asphyxia, and low birth weight. One of the conditions that increases the risk of complications during pregnancy and childbirth is breech presentation, which occurs in about 3–5% of singleton pregnancies. Breech presentation is associated with prolonged labor, early rupture of membranes, cord prolapse, and increased perinatal mortality. Efforts to reduce maternal and infant mortality have been strengthened through the Safe Motherhood Initiative and comprehensive midwifery care or Continuity of Care (CoC), covering pregnancy, childbirth, postpartum, newborn, and family planning services. This study used a descriptive case study approach involving Mrs. Y, 29 years old, G2P1A0 at 34 weeks of gestation with breech presentation at Karanganyar Health Center. Comprehensive midwifery care was provided, including early detection of breech presentation, management through maternal posture exercises (knee–chest and prenatal yoga techniques), third-trimester antenatal care, labor monitoring, postpartum care, newborn assessment, and family planning counseling. The results showed that the pregnancy, childbirth, postpartum period, newborn care, and family planning processes proceeded physiologically without complications. The mother demonstrated an understanding of fetal well-being, preparation for childbirth, postpartum self-care, exclusive breastfeeding, newborn care, and postpartum contraceptive options. In conclusion, comprehensive Continuity of Care midwifery services were effective in enabling early detection of risks, improving maternal knowledge, and supporting optimal maternal and neonatal health. Complementary care such as posture exercises (knee–chest and prenatal yoga) was beneficial in helping reposition the fetus and reducing discomfort during pregnancy.</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan indikator penting dalam menggambarkan derajat kesehatan masyarakat. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah (2022), AKI mencapai 87 per 100.000 kelahiran hidup, sedangkan angka kematian neonatal sebesar 5,9 per 1.000 kelahiran hidup dengan penyebab terbanyak BBLR, prematuritas, dan asfiksia. Salah satu kondisi yang berpotensi meningkatkan komplikasi kehamilan dan persalinan adalah letak sungsang, yang terjadi pada 3–5% kehamilan tunggal dan dapat menyebabkan partus lama, ketuban pecah dini, prolaps tali pusat, serta peningkatan mortalitas perinatal. Upaya pemerintah untuk menurunkan AKI dan AKB dilakukan melalui program Safe Motherhood Initiative yang mencakup pelayanan kebidanan berkesinambungan atau Continuity of Care (CoC) pada masa kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir, dan keluarga berencana. Metode yang digunakan adalah studi kasus deskriptif pada Ny. Y, usia 29 tahun, G2P1A0 dengan usia kehamilan 34 minggu dan letak sungsang di Puskesmas Karanganyar. Asuhan kebidanan diberikan secara komprehensif meliputi deteksi dini letak sungsang, penatalaksanaan dengan latihan posisi (knee–chest dan prenatal yoga), pemeriksaan antenatal trimester III, pemantauan persalinan, perawatan masa nifas, penilaian bayi baru lahir, serta konseling keluarga berencana. Hasil asuhan menunjukkan bahwa kehamilan, persalinan, masa nifas, perawatan bayi baru lahir, dan pelayanan KB berlangsung fisiologis tanpa komplikasi. Ibu memahami pentingnya pemantauan kesejahteraan janin, persiapan persalinan, perawatan diri pada masa nifas, pemberian ASI eksklusif, perawatan bayi baru lahir, serta pemilihan kontrasepsi pascasalin. Kesimpulan dari studi ini adalah bahwa pelayanan kebidanan Continuity of Care secara komprehensif efektif dalam mendeteksi dini faktor risiko, meningkatkan pengetahuan ibu, serta mendukung kesehatan ibu dan bayi secara optimal. Asuhan komplementer berupa latihan posisi seperti knee–chest dan prenatal yoga juga bermanfaat dalam membantu mengoreksi posisi janin dan mengurangi ketidaknyamanan selama kehamilan.</p>Suci AstrianiRini Susanti
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-292025-12-294221442154Asuhan Kebidanan Continuity of Care (COC) pada Ny. S Usia 26 Tahun G1P0A0 di Desa Dersansari
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1730
<p><em>Maternal Mortality Rate (MMR) and Infant Mortality Rate (IMR) remain critical indicators in evaluating maternal and neonatal health status. The implementation of Continuity of Care (CoC) through Comprehensive Midwifery Care plays an essential role in preventing complications and improving the quality of services. This case study aims to describe the implementation of Comprehensive Care for Mrs. S, 26 years old, G1P0A0, who received continuous care at Dersansari Village, covering pregnancy, childbirth, the postpartum period, newborn care, as well as family planning counseling and services. The care approach was carried out in accordance with midwifery practice standards, encompassing integrated antenatal monitoring, safe childbirth management, postpartum evaluation, monitoring of neonatal adaptation, and the provision of education and family planning counseling. The results indicate that continuity of care enables early detection of risk factors, prevents complications, and enhances the mother’s utilization of health services. The baby was born in good condition with normal physiological adaptation, and the mother completed the postpartum period without complications. This study highlights that the application of CoC within Comprehensive Care contributes significantly to preventing maternal and neonatal morbidity and supports efforts to reduce MMR and IMR at the primary healthcare level.</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi masih menjadi indikator kritis dalam evaluasi derajat kesehatan maternal dan neonatal. Penerapan Continuity of Care (CoC) melalui Asuhan Komprehensif berperan penting dalam upaya pencegahan komplikasi dan peningkatan kualitas layanan. Studi kasus ini bertujuan memberikan gambaran implementasi Asuhan Komprehensif pada Ny. S, usia 26 tahun, G1P0A0, yang mendapatkan pelayanan berkesinambungan di Desa Dersansari mulai dari kehamilan, persalinan, masa nifas, perawatan bayi baru lahir, hingga konseling dan pelayanan keluarga berencana. Pendekatan asuhan dilakukan sesuai standar praktik kebidanan, mencakup pemantauan antenatal terpadu, penatalaksanaan persalinan aman, evaluasi masa nifas, pemantauan adaptasi neonatus, serta pemberian edukasi dan perencanaan KB. Hasil pelaksanaan menunjukkan bahwa kesinambungan pelayanan memungkinkan deteksi dini faktor risiko, mencegah terjadinya komplikasi, serta meningkatkan pemanfaatan layanan kesehatan oleh ibu. Bayi lahir dalam kondisi baik, adaptasi fisiologis normal, dan ibu berhasil melalui masa nifas tanpa komplikasi. Studi ini menegaskan bahwa penerapan CoC dalam Asuhan Komprehensif memberikan kontribusi signifikan terhadap pencegahan morbiditas maternal dan neonatal serta mendukung pencapaian target penurunan AKI dan AKB di tingkat layanan primer.</p>Nurida Dyah AndariniMoneca Diah Listiyaningsih
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-292025-12-294221552161Asuhan Kebidanan Continuity Of Care (COC) pada Ny N Usia 31 Tahun G3P2A0 di Puskesmas Karanganyar Pekalongan
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1733
<p><em>Maternal Mortality Rate (MMR) and Infant Mortality Rate (IMR) remain essential indicators for assessing the quality of national health services. Despite various efforts, maternal deaths are still predominantly caused by hemorrhage, hypertensive disorders, infection, and postpartum complications. Meanwhile, infant mortality is frequently associated with low birth weight, asphyxia, congenital abnormalities, and infections. Continuity of Care (CoC) is a comprehensive midwifery care model that ensures integrated services from pregnancy, childbirth, postpartum, newborn care, to family planning. CoC plays an important role in early risk detection, prevention of complications, and improvement of maternal and neonatal health outcomes..This descriptive case study was conducted on Mrs. N, 31 years old, G3P2A0, who received comprehensive midwifery care at Karanganyar Public Health Center, Pekalongan. The care included antenatal examination following the 10T standard, monitoring of fetal growth and maternal well-being, labor management according to APN procedures, postpartum care, essential newborn care, neonatal follow-up, breastfeeding support, and family planning counseling. Additional education was provided based on the mother’s needs, including nutrition counseling, danger signs, breast care, and lactation support. Pregnancy, labor, postpartum period, neonatal care, and family planning services all progressed physiologically without complications. The mother demonstrated good understanding of pregnancy danger signs, birth preparedness, postpartum self-care, and exclusive breastfeeding. The newborn showed normal adaptation, received complete essential newborn care, and experienced normal physiological development during follow-up. Postpartum involution was normal, and no signs of infection were found. At the end of the postpartum period, the mother successfully selected a suitable contraceptive method. The implementation of Continuity of Care (CoC) for Mrs. N proved effective in supporting early risk detection, strengthening maternal preparedness, and optimizing maternal and neonatal health outcomes. Comprehensive and continuous care increased the mother’s confidence throughout pregnancy, childbirth, and postpartum. CoC should be strengthened at the primary care level as a key strategy to reduce maternal and infant mortality rates.</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) masih menjadi indikator utama dalam menilai kualitas pelayanan kesehatan suatu negara. Meskipun berbagai program telah dilakukan, penyebab utama kematian ibu tetap didominasi oleh perdarahan, hipertensi dalam kehamilan, infeksi, dan komplikasi masa nifas. Sedangkan kematian bayi umumnya disebabkan oleh BBLR, asfiksia, kelainan bawaan, dan infeksi. Salah satu upaya yang dinilai efektif dalam menurunkan AKI dan AKB adalah penerapan asuhan kebidanan berkesinambungan atau Continuity of Care (CoC), yang mencakup pelayanan mulai dari kehamilan, persalinan, nifas, perawatan bayi baru lahir, hingga keluarga berencana. CoC memungkinkan deteksi dini faktor risiko, pencegahan komplikasi, serta peningkatan kualitas kesehatan ibu dan bayi. Penelitian ini merupakan studi kasus deskriptif pada Ny. N, usia 31 tahun, G3P2A0, yang mendapatkan asuhan kebidanan komprehensif di Puskesmas Karanganyar Pekalongan. Asuhan dilakukan mulai dari pemeriksaan kehamilan menggunakan standar 10T, pemantauan tumbuh kembang janin, penatalaksanaan persalinan sesuai langkah APN, perawatan masa nifas, perawatan bayi baru lahir, pemantauan neonatus, serta konseling keluarga berencana. Edukasi tambahan dilakukan sesuai kebutuhan ibu, termasuk konseling nutrisi, tanda bahaya, perawatan payudara, serta dukungan menyusui. Kehamilan, persalinan, nifas, neonatus, dan pelayanan KB pada Ny. N berlangsung fisiologis tanpa komplikasi. Ibu menunjukkan pemahaman yang baik mengenai tanda bahaya kehamilan, persiapan persalinan, perawatan diri masa nifas, dan pemberian ASI. Bayi lahir dengan kondisi baik, menunjukkan adaptasi fisiologis normal, serta mendapatkan perawatan esensial bayi baru lahir secara lengkap. Selama masa nifas, involusi uterus berjalan normal, lochea sesuai waktu, dan tidak ditemukan tanda infeksi. Pada akhir masa nifas, ibu memilih metode kontrasepsi yang sesuai kondisinya. Penerapan asuhan kebidanan berkesinambungan (Continuity of Care) pada Ny. N terbukti efektif dalam mendukung deteksi dini risiko, meningkatkan kesiapan ibu menghadapi persalinan, serta mengoptimalkan kesehatan maternal dan neonatal. Perawatan yang komprehensif meningkatkan rasa percaya diri ibu dalam menjalani proses kehamilan hingga masa nifas. Penerapan CoC perlu terus diperkuat di layanan primer sebagai strategi untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi.</p>AsmanahLuvi Diah Afriyani
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-292025-12-294221622173Asuhan Kebidanan Komprehensif dengan Penerapan Teknik Hoffman pada Ny. A Umur 37 Tahun G1P0A0 di Puskesmas Karanganyar
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1740
<p><em>Maternal Mortality Rate (MMR) and Infant Mortality Rate (IMR) remain key indicators of a country’s health status. Complications during pregnancy, childbirth, postpartum, and the neonatal period continue to contribute significantly to maternal and infant morbidity and mortality. Continuity of Care (CoC) midwifery services provide comprehensive, continuous care from pregnancy, labor, postpartum, newborn care, to family planning, enabling early risk detection and prevention of complications. Integrated and standardized midwifery services play an essential role in reducing MMR and IMR and improving overall maternal and neonatal health outcomes.. Implementing comprehensive midwifery care with the application of the Hoffman technique on Mrs. A, 37 years old, G1P0A0 at the Karanganyar Community Health Center. This research is a descriptive case study of Mrs. A, 37 years old, G1P0A0, who was provided with care with Varney management using the Hoffman technique. Care was provided starting from standard antenatal examinations, delivery assistance based on Normal Delivery Care (APN), postpartum monitoring, newborn care, and family planning services. Services were also equipped with maternal and neonatal health education and the fulfillment of basic needs of mothers and babies.. The entire process—from pregnancy, childbirth, postpartum period, newborn care, to family planning services—proceeded physiologically without complications. The mother demonstrated adequate understanding of pregnancy danger signs, birth preparation, postpartum self-care, exclusive breastfeeding, and newborn care. The baby showed normal adaptation with appropriate APGAR scores and no abnormalities. Postpartum recovery progressed well, with normal uterine involution and no signs of infection. The mother was also able to choose a postpartum contraceptive method appropriate for her condition. Comprehensive Continuity of Care midwifery services effectively facilitated ongoing maternal and neonatal monitoring, improved maternal knowledge, and supported optimal health outcomes. The CoC approach is essential for early detection of risks, prevention of complications, and strengthening maternal and newborn health services. Its continued implementation is recommended as a strategic effort to help reduce maternal and infant mortality.</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) masih menjadi indikator utama dalam menilai kualitas pelayanan kesehatan suatu negara. Meskipun berbagai program telah dilakukan, komplikasi pada masa kehamilan, persalinan, nifas, dan bayi baru lahir tetap menjadi penyumbang terbesar morbiditas dan mortalitas maternal-neonatal. Asuhan kebidanan secara Continuity of Care (CoC) merupakan pendekatan komprehensif dan berkesinambungan yang diberikan mulai dari kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir, hingga keluarga berencana, sehingga dapat mendukung deteksi dini risiko serta pencegahan komplikasi. Pelayanan kebidanan yang terintegrasi dan konsisten berperan penting dalam upaya menurunkan AKI dan AKB melalui pemantauan kesehatan ibu dan bayi secara menyeluruh. Menerapkan asuhan kebidanan komprehensif dengan penerapan teknik hoffman pada Ny. A Umur 37 Tahun G1P0A0 Di Puskesmas Karanganyar Penelitian ini merupakan studi kasus deskriptif pada Ny. A, usia 37 tahun, G1P0A0, dengan dilakukan asuhan dengan manajemn varney dengan penerapan teknik hoffman. Asuhan diberikan mulai dari pemeriksaan antenatal sesuai standar, pertolongan persalinan berdasarkan Asuhan Persalinan Normal (APN), pemantauan masa nifas, perawatan bayi baru lahir, hingga pelayanan keluarga berencana. Pelayanan juga dilengkapi dengan edukasi kesehatan maternal dan neonatal serta pemenuhan kebutuhan dasar ibu dan bayi. Seluruh rangkaian asuhan mulai kehamilan, persalinan, masa nifas, perawatan bayi baru lahir, hingga pelayanan KB berlangsung fisiologis tanpa komplikasi. Ibu memahami tanda bahaya kehamilan, persiapan persalinan, perawatan diri masa nifas, pemberian ASI eksklusif, serta perawatan bayi baru lahir. Bayi menunjukkan adaptasi yang baik dengan skor APGAR normal dan tidak ditemukan kelainan. Masa nifas berjalan lancar, involusi uterus sesuai usia, tidak terdapat tanda infeksi, dan ibu memilih metode kontrasepsi sesuai kebutuhannya. Asuhan kebidanan Continuity of Care terbukti membantu pemantauan kondisi ibu dan bayi secara komprehensif, meningkatkan pengetahuan ibu, serta mendukung proses fisiologis kehamilan hingga KB tanpa komplikasi. Pendekatan CoC sangat diperlukan untuk memperkuat deteksi dini risiko, meningkatkan kualitas pelayanan maternal dan neonatal, serta menjadi strategi penting dalam menurunkan AKI dan AKB di layanan primer.<br /><br /></p>Vidya EfrilianaRisma Alviani Putri
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-292025-12-294221742184Asuhan Kebidanan Komprehensif pada Ny. M I Umur 33 Tahun G2P1A0 di Wilayah Kerja Puskesmas Karanganyar Kabupaten Pekalongan
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1752
<p><em>Maternal Mortality Rate (MMR) and Infant Mortality Rate (IMR) remain crucial indicators for evaluating the quality of health services. Major causes of maternal deaths include hemorrhage, hypertensive disorders in pregnancy, infection, and postpartum complications, while infant deaths are often associated with low birth weight, asphyxia, congenital abnormalities, and infections. Continuity of Care (CoC) is an effective approach that provides comprehensive and continuous midwifery services throughout pregnancy, childbirth, postpartum, newborn care, and family planning, enabling early risk detection and prevention of complications. This descriptive case study was conducted on Mrs. M I, 33 years old, G2P1A0, who received comprehensive midwifery care at Karanganyar Public Health Center, Pekalongan. The care included antenatal assessments based on the 10T standard, fetal growth monitoring, labor management following APN procedures, postpartum care, essential newborn care, neonatal follow-up, BCG/Polio 1 immunization, and family planning counseling. Additional health education was provided based on the mother’s needs, including nutrition counseling, danger signs, breast care, and breastfeeding support. Pregnancy, childbirth, postpartum period, newborn care, immunization, and family planning services progressed physiologically without complications. The mother demonstrated good understanding of pregnancy danger signs, delivery preparedness, postpartum self-care, and exclusive breastfeeding. The newborn showed normal physiological adaptation, received complete essential newborn care and immunization, and demonstrated normal development during follow-up. Postpartum uterine involution was normal, with no signs of infection, and the mother successfully selected an appropriate contraceptive method. The implementation of Continuity of Care (CoC) for Mrs. M I effectively supported early risk detection, enhanced maternal preparedness, and optimized maternal and neonatal health outcomes. Comprehensive and continuous care strengthened the mother’s confidence throughout pregnancy, childbirth, and postpartum. Strengthening CoC at the primary healthcare level is recommended as a key strategy to reduce maternal and infant mortality rates.</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) masih menjadi indikator penting dalam menilai mutu pelayanan kesehatan. Penyebab utama kematian ibu meliputi perdarahan, hipertensi dalam kehamilan, infeksi, dan komplikasi masa nifas, sedangkan kematian bayi sering dipengaruhi oleh BBLR, asfiksia, infeksi, dan kelainan bawaan. Salah satu upaya untuk menurunkan AKI dan AKB adalah penerapan Continuity of Care (CoC), yaitu asuhan kebidanan komprehensif dan berkesinambungan yang diberikan mulai dari masa kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir, hingga keluarga berencana. Studi kasus deskriptif dilakukan pada Ny. M I, usia 33 tahun, G2P1A0, yang mendapatkan asuhan kebidanan komprehensif di Puskesmas Karanganyar Kabupaten Pekalongan. Asuhan meliputi pemeriksaan kehamilan sesuai standar 10T, pemantauan pertumbuhan janin, pelaksanaan persalinan sesuai standar APN, perawatan masa nifas, asuhan bayi baru lahir, pemantauan neonatus, imunisasi BCG/Polio 1, serta konseling keluarga berencana. Edukasi tambahan diberikan sesuai kebutuhan ibu, seperti tanda bahaya, nutrisi, perawatan payudara, dan dukungan menyusui. Seluruh rangkaian asuhan kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir, imunisasi, dan keluarga berencana berlangsung fisiologis tanpa komplikasi. Ibu memahami tanda bahaya kehamilan, persiapan persalinan, perawatan nifas, serta pemberian ASI. Bayi lahir dalam keadaan sehat, menunjukkan adaptasi fisiologis yang normal, serta memperoleh perawatan esensial dan imunisasi sesuai jadwal. Pada masa nifas, involusi uterus normal, tidak ditemukan tanda infeksi, dan ibu mampu memilih metode kontrasepsi yang sesuai. Simpulan penerapan Continuity of Care (CoC) pada Ny. M I terbukti efektif dalam meningkatkan deteksi dini risiko, mendukung kesiapan ibu, serta mengoptimalkan kesehatan ibu dan bayi. Asuhan yang komprehensif dan berkesinambungan meningkatkan kepercayaan diri ibu selama kehamilan hingga masa nifas. Penguatan layanan CoC di fasilitas kesehatan primer menjadi strategi penting untuk menurunkan AKI dan AKB.</p>Lilin SuryaningsihMasruroh
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-292025-12-294221852192Asuhan Kebidanan Koprehensif pada Ny.A Umur 29 Tahun di PMB Suciati Bringin Kecamatan Bringin Kabupaten Semarang
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1753
<p><em>Continuity of care in midwifery is a series of continuous and comprehensive care services from pregnancy, childbirth, postpartum, and newborn care, as well as family planning, that connect a woman's health needs with her individual circumstances. The comprehensive midwifery care includes continuous examinations during pregnancy, childbirth, postpartum, and for the newborn, along with family planning. A descriptive study using a case study approach was conducted on Mrs. A. After providing comprehensive midwifery care, the results showed a normal pregnancy, delivery, and baby, and the patient became a family planning acceptor. The study found no gap between theory and practice in the comprehensive midwifery care for Mrs. A and her baby at PMB Suciati Bringin, Semarang Regency.</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Continuity of care dalam kebidanan adalah serangkaian kegiatan pelayanan yang berkelanjutan dan menyeluruh mulai dari kehamilan, persalinan, nifas, pelayanan bayi baru lahir serta pelayanan keluarga berencana yang menghubungkan kebutuhan kesehatan perempuan khususnya dan keadaan pribadi setiap individu. Asuhan komprehensif merupakan suatu pemeriksaan yang dilakukan secara lengkap dengan adanya pemeriksaan, laboratorium sederhana dan konseling. Asuhan kebidanan komprehensif mencakup tempat kegiatan pemeriksaan berkesinambungan diantaranya adalah asuhan kebidanan kehamilan, asuhan kebidanan persalinan, asuhan kebidanan masa nifas dan asuhan kebidanan bayi baru lahir serta akseptor KB. Asuhan kehamilan mengutamakan kesinambungan pelayanan (continuity of care) sangat penting buat wanita untuk mendapatkan pelayanan dari seorang profesional yang sama atau dari satu tim tenaga profesional, sebab dengan begitu maka perkembangan kondisi mereka setiap saat akan terpantau dengan baik selain juga mereka menjadi percaya dan terbuka karena merasa sudah mengenal si pemberi asuhan. Jenis penelitian yang digunakan yaitu deskriptif, dengan pendekatan studi kasus (Case Study). Sampel yang digunakan adalah Ny. A Setelah melakukan dan memberikan asuhan kebidanan secara Komprehensif mulai dari Ibu Hamil, Bersalin, Nifas, Bayi dan hasilnya hamil dengan normal, bersalin dengan normal, bayi dengan normal, dan sampai dengan KB. Tidak terdapat kesenjangan antara teori dan kasus pada Asuhan. Komprehensif kebidanan pada Ny. A dan By.Ny.A di PMB Suciati Bringin Kabupaten semarang.</p>HaryatiAri Andayani
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-292025-12-294221932206Asuhan Kebidanan Continuity Of Care (COC) pada Ny. A Umur 26 Tahun G1P0A0 di Wilayah Kerja Puskesmas Semowo
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1757
<p><em>Pregnancy, childbirth, the postpartum period, and the neonatal period are physiological processes that have the potential to pose risks to both the mother and the infant. An optimal effort to ensure maternal and neonatal safety is the implementation of Comprehensive Midwifery Care (Continuity of Care/COC). The COC care provided to Mrs. A aimed to deliver continuous and integrated midwifery services during pregnancy, childbirth, postpartum, newborn care, and family planning (FP) for a primigravida mother (G1P0A0). This study used a case study method with a descriptive design. The subject was a second-trimester pregnant woman at 29 weeks of gestation in the working area of Semowo Public Health Center. Data were collected through interviews, observations, physical examinations, SOAP documentation, and review of the Maternal and Child Health (MCH) handbook, using Varney’s midwifery management approach. The results showed that during pregnancy, Mrs. A experienced common discomforts in the second and third trimesters, such as fatigue and sleep disturbances. She received education on adequate rest, relaxation techniques, balanced nutrition, and danger signs of pregnancy. The childbirth process progressed normally, and the baby was born healthy with anthropometric measurements appropriate for gestational age, while initial screenings (CHT and OAE) showed normal results. During the postpartum period, Mrs. A experienced nipple soreness, for which breast care education and proper breastfeeding techniques were provided. During neonatal visits, the baby exhibited sleep disturbances, and baby massage was performed to improve sleep quality and bonding. In the family planning stage, Mrs. A chose the implant contraceptive method after receiving counseling, and the insertion was successfully completed.</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Masa kehamilan, persalinan, nifas, dan neonatus merupakan proses fisiologis yang berpotensi menimbulkan risiko bagi ibu dan bayi. Upaya optimal yang dapat dilakukan untuk menjaga keselamatan maternal dan neonatal adalah melalui penerapan Asuhan Kebidanan Komprehensif (Continuity of Care/ COC). Asuhan COC pada Ny. A bertujuan memberikan pelayanan kebidanan secara menyeluruh dan berkesinambungan pada masa kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir (BBL), dan keluarga berencana (KB) pada Ny. A G1P0A0. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus dengan desain deskriptif. Subjek penelitian adalah ibu hamil Trimester II usia 29 minggu di wilayah Puskesmas Semowo. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, studi dokumentasi SOAP, serta telaah buku KIA, dengan pendekatan manajemen kebidanan Varney. Hasil asuhan menunjukkan bahwa selama kehamilan, Ny. A mengalami ketidaknyamanan Trimester II–III seperti cepat lelah dan gangguan tidur, sehingga diberikan edukasi tentang istirahat cukup, teknik relaksasi, nutrisi seimbang, dan tanda bahaya kehamilan. Proses persalinan berlangsung normal, dan bayi lahir sehat dengan antropometri sesuai usia gestasi, serta hasil skrining awal (SHK dan OAE) menunjukkan hasil normal. Pada masa nifas ditemukan keluhan puting lecet sehingga dilakukan edukasi perawatan payudara dan teknik menyusui yang benar. Pada kunjungan neonatus, bayi mengalami gangguan tidur sehingga diberikan intervensi pijat bayi (baby massage) untuk meningkatkan kualitas tidur dan bonding. Pada tahap KB, Ny. A memilih kontrasepsi implan setelah menerima konseling dan pemasangan telah dilakukan.</p>Sri SulistyaniKartika Sari
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-292025-12-294222072214Asuhan Kebidanan Continuity of Care (COC) pada Ny.S Umur 41 Tahun G3P2A0 dengan Suspek Bayi Besar
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1759
<p><em>Pregnancy, postpartum, postpartum, neonate is a physiological condition that can threaten the life of the mother, baby and can even cause death. One effort that can be done is to apply a comprehensive midwifery care model that can optimize the detection of high maternal neonatal risk. The purpose of Comprehensive Midwifery Care (KPK) for Mrs. S is to provide midwifery care to pregnant women, postpartum, postpartum, BBL and KB in Mrs. S G3P2A0. The method used is a case study research, namely comprehensive care for pregnant women, postpartum, newborns and postpartum is a descriptive research method. The type of descriptive research used is a case study. The sample in this study was a second trimester pregnant woman with a gestational age of 29 weeks 4 days, G3P2A0. The research time was July - October 2025 in the Kalngan Pabelan area, the research instrument used the SOAP documentation method with a varney management mindset. The collection technique used primary data through interviews, observations, physical examinations, KIA books. The care outcomes received by Mrs. S G3P2A0 were for a pregnant woman with a suspected large baby. During comprehensive care, Mrs. S received a complaint during her second ANC visit regarding the midwife's examination results, which revealed a fetal weight of >4000 grams. At her third KN visit, Mrs. S reported sleep disturbances and sore nipples. The researcher addressed the mother's complaints by providing counseling on balanced nutrition for pregnant women, massage to improve the baby's sleep patterns, and teaching proper breastfeeding techniques to address sore nipples. The postpartum period was normal, with no bleeding, good uterine contractions, and lochia rubra. The newborn's anthropometric results were normal, the SHK was negative, and the OEA was passed. Mrs. S and her husband decided to use family planning and had a contraceptive implant inserted.</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Masa kehamilan, persalinan, nifas, neonatus merupakan suatu keadaan fisiologis yang kemungkinan mengancam jiwa ibu, bayi bahkan menyebabkan kematian. Salah satu upaya yang dapat dilakukan menerapkan model asuhan kebidanan komperehensif yang dapat mengoptimalkan deteksi risiko tinggi maternal neonatal. Tujuan Asuhan Kebidanan Komprehensif (COC) pada Ny.S yaitu untuk Melakukan asuhan kebidanan pada ibu hamil, bersain, nifas, BBL dan KB pada Ny.S G3P2A0. Metode yang digunakan adalah penelitian studi kasus yaitu asuhan komprehensif pada ibu hamil, bersalin, bayi baru lahir dan nifas ini adalah metode penelitian deskriptif. Jenis penelitian deskriptif yang digunakan adalah studi penelaahan kasus (Case Study) Sampel pada penelitian ini adalah seorang ibu hamil trimester II usia kehamilan 29 minggu 4 hari, G3P2A0. Waktu penelitian Juli – Oktober 2025 di wilayah Kalngan Pabelan, Instrumen penelitian menggunakan metode dokumentasi SOAP dengan pola pikir manajemen varney. Teknik pengumpulan menggunakan data primer melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, buku KIA. Hasil asuhan didapatkan Ny. S G3P2A0 dengan kehamilan Suspek Bayi Besar. Dalam pemberian asuhan komprehensif pada Ny.S didapatkan keluhan saat kunjungan ANC 2 tentang hasil pemeriksaan bidan berat badan janin >4000 gram, pada kunjungan KN 3 tentang gagguan tidur pada bayi dan putting lecet pada kunjungan KF 3, hal yang dilakukan peneliti terkait keluhan ibu yaitu memberikan penyuluhan tentang gizi seimbang pada ibu hamil, pijat atau massage untuk memperbaiki pola tidur bayi dan juga mengajarkan teknik cara menyusui yang benar untuk mengatasi keluhan putting lecet. Masa nifas berlangsung normal tidak ada pendarahan, kontraksi uterus baik, lochea rubra. Pada bayi baru lahir hasil pemeriksaan antropometri normal, SHK negative dan OEA lulus. Ny. S dan suami memutuskan untuk KB dan telah dilakukan pemasangan KB Implant pada Ny. S.</p>SasminaryatiLuvi Dian Afriani
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-292025-12-294222152222Asuhan Kebidanan Komprehensif :Penerapan Massage Effleurage dalam Mengurangi Nyeri Punggung Ibu Hamil Ny. S Umur 39 Tahun UK 37 Minggu di RSU Carsa Tarakan
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1767
<p><em>Pregnancy is a normal physiological process. Normal pregnancy changes the physiological system. Lower back pain is common during pregnancy. One non-pharmacological pain management that can be done is with effleurage massage. The design of this scientific paper uses a case study design. The subjects used were third-trimester pregnant women who experienced back pain. The patient's response to the effleurage massage was very good. Mrs. S said that not only did her pain decrease, Mrs. S felt sleepy during the massage because the effleurage massage provided a comfortable effect. The conclusion of the application shows that after the application of effleurage massage, there was a decrease in the scale of back pain in pregnant women. Pregnant women and their families should be able to apply effleurage massage independently to help reduce back pain and provide comfort to pregnant women.</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Kehamilan adalah proses fisiologis normal. Kehamilan normal mengubah system fisiologis. Nyeri punggung bawah lazim terjadi pada kehamilan. Penanganan nyeri secara nonfarmakologi yang dapat dilakukan salah satunya yaitu dengan massage effleurage. Rancangan karya tulis ilmiah ini menggunakan desain studi kasus. Subyek yang digunakan yaitu ibu hamil trimester III yang mengalami nyeri punggung. Respon pasien terhadap masase effleurage yang dilakukan sangatlah baik, Ny. S mengatakan tidak hanya nyerinya saja yang berkurang, Ny. S mengantuk saat dilakukan masase dikarenakan masase effleurage ini memberikan efek nyaman. Kesimpulan penerapan menunjukkan bahwa setelah dilakukan penerapan massage effleurage terjadi penurunan skala nyeri punggung pada ibu hamil. Bagi ibu hamil dan keluarga hendaknya dapat melakukan penerapan massage effleurage secara mandiri untuk membantu menurunkan nyeri punggung dan memberikan rasa nyaman pada ibu hamil.</p>KurniawatiIsfaizah
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-292025-12-294222232232Asuhan Kebidanan Komprehensif (COC) pada Ny. SFK P1A0 Hari Ke-3 dengan Produksi ASI Sedikit di Puskesmas Sekaran Kota Semarang
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1768
<p><em>Breast milk is the most perfect food for babies in early life. Exclusive breast milk is the most important food for babies, where babies only receive breast milk for the first 6 months since birth. However, the success of exclusive breast milk is influenced by several factors, including maternal, infant, and environmental factors. One of the causes of insufficient breast milk production is the lack of stimulation of the hormones prolactin and oxytocin, both of which play an important role in increasing breast milk production. Another factor is the psychological condition of the breast milk mother, where strong psychological motivation from the mother to breastfeed needs support from the family. Management for breast milk mothers with decreased breast milk production includes providing education to the mother and family (husband) to perform oxytocin massage. The mother also needs family support, especially from her husband and parents living in the same house, so that the mother has strong motivation to breastfeed and believes that her breast milk production is abundant. This case study describes the application of Continuity of Care (CoC) in postpartum mothers with insufficient breast milk production and how to increase breast milk production during breast milk with oxytocin massage and foster motivation for the mother and family support to increase breast milk production so that exclusive breast milk can be given to the baby for up to 6 months. The results of this study are interpreted by the development of outcomes after the intervention, namely increased breast milk production, maternal motivation to breastfeed, and cessation of formula feeding. The results of this study can be concluded that oxytocin massage has a positive effect on increasing breast milk production, thereby increasing confidence and motivation for mothers to only give breast milk to their babies until 6 months of age.</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>ASI merupakan makanan paling sempurna bagi bayi pada awal kehidupan, ASI Eksklusif merupakan makanan terpenting bagi bayi dimana bayi hanya mendapatkan ASI saja selama 6 bulan pertama sejak kelahirannya, namun demikian keberhasilan pemberian ASI Eksklusif dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah faktor ibu, bayi dan lingkungan. Salah satu penyebab kurangnya produksi ASI adalah karena kurangnya rangsangan hormone prolaktin dan oksitosin dimana kedua hormone ini berperan penting dalam peningkatan produksi ASI, faktor lainnya adalah kondisi psikologis ibu menyusui dimana kondisi psikologis motivasi yang kuat dari ibu untuk menyusui perlu mendapatkan dukungan dari keluarga. Penatalaksanaan pada ibu menyusui dengan penurunan produksi ASI salah satunya adalah dengan memberikan edukasi kepada ibu dan keluarga (suami) untuk melakukan pijat oksitosin, ibu juga perlu mendapatkan dukungan keluarga terutama suami dan orang tua yang tinggal satu rumah agar ibu memiliki motivasi kuat untuk menyusui dan yakin bahwa produksi ASInya banyak. Studi kasus ini menggambarkan penerapan Continuity of Care (CoC) pada ibu nifas dengan produksi ASI yang kurang dan bagaimana cara meningkatkan produksi ASI selama menyusui dngan pijat oksitocin dan menumbuhkan motivasi bagi ibu serta dukungan keluarga untuk meningkatkan produksi ASI agar ASI Ekslusif dapat diberikan sampai 6 bulan kepada bayi. Hasil penelitian ini diinterpretasikan dengan perkembangan hasil setelah dilakukan nya intervensi yaitu meningkatnya produksi ASI, motivasi ibu untuk menyusui dan menghentikan pemberian susu formula. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pijat oksitosin berpangaruhi positif terhadap peningkatan produksi ASI sehingga meningkatkan keyakinan dan motivasi bagi ibu untuk hanya memberikan ASI saja kepada bayinya sampai usia 6 bulan.</p>Tutuk WijayantiningrumIda Sofiyanti
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-292025-12-294222332240Akupresure untuk Mengurangi Nyeri Punggung pada Ibu Hamil
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1800
<p><em>Lower back pain in the second and third trimesters of pregnancy is a common complaint. In Indonesia, the incidence is quite significant, with reports of approximately 60% to 80% of pregnant women in various regions complaining of similar conditions. In fact, one study noted that as many as 73.33% of pregnant women who experience back pain are categorized as moderate to severe. Pain causes fear and anxiety, which can lead to stress and drastic physiological changes during pregnancy. Back pain in pregnant women can be treated pharmacologically with analgesics and non-pharmacologically, such as birth balls, prenatal yoga, endorphin massage, warm compresses, deep breathing relaxation, and acupressure. Acupressure is a form of physiotherapy that involves massaging and stimulating specific points on the body to relieve various aches and pains and reduce anxiety. Eight out of 14 pregnant women in Leyangan Village complained of back pain. The methods used in implementing the activity included preparation, providing education and demonstrating acupressure to reduce back pain, and evaluating it with a post-test. The goal of this activity was to enable mothers to independently apply acupressure to reduce back pain. The results of this activity indicated an increase in pregnant women's knowledge about acupressure.</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Nyeri punggung bawah pada ibu hamil trimester II dan III merupakan keluhan umum yang sering terjadi dikalangan ibu hamil. Di Indonesia sendiri, angka kejadiannya cukup signifikan di mana dilaporkan sekitar 60% hingga 80% ibu hamil di berbagai wilayah mengeluhkan kondisi serupa. Bahkan, sebuah studi mencatat bahwa sebanyak 73,33% ibu hamil yang mengalami nyeri punggung berada pada kategori nyeri sedang hingga berat. Nyeri menyebabkan ketakutan dan kecemasan sehingga dapat menimbulkan stress dan perubahan fisiologis yang drastis selama kehamilan. Nyeri punggung pada ibu hamil dapat ditangani secara farmakologis melalui obat analgesic dan secara nonfarmakologis seperti birth ball, prenatal yoga, endorphin massage, kompres hangat, relaksasi nafas dalam, dan akupresure. Akupresure merupakan salah satu bentuk fisioterapi dengan memberikan pemijatan dan stimulasi pada titik-titik tertentu pada tubuh yang berguna untuk mengurangi bermacam-macam sakit dan nyeri serta mengurangi kecemasan. Permasalahan yang dialami pada ibu hamil di Desa Leyangan yaitu mengeluh nyeri punggung ada 8 orang ibu hamil dari 14 ibu hamil. Metode yang digunakan dalam pelaksanaan kegiatan dengan persiapan, memberikan penyuluhan dan mendemontrasikan akupresure untuk mengurangi nyeri punggung, serta mengevaluasi dengan posttest. Tujuan dari adanya kegiatan ini yaitu diharapkan ibu dapat mengaplikasikan secara mandiri tentang akupresure untuk mengurangi nyeri punggung. Hasil dari kegiatan ini menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan ibu hamil tentang akupresure. </p>Sekar Sari AnnasiyahNani SunaryatiWahyu Kristiningrum
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-292025-12-294222412248Peningkatan Pengetahuan Orang Tua Tentang Pijat Common Cold untuk Meredakan Batuk Pilek pada Anak Balita
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1769
<p><em>Coughs and colds are common in toddlers, as their immune systems are not yet fully developed, making them highly susceptible to viruses. Parents perception that coughs and colds are a normal occurrence in toddlers leads to less prompt and appropriate treatment. Common cold massage therapy can be performed independently by mothers. Many mothers do not know how to massage a baby with a common cold. This community service activity was conducted at the Integrated Health Service Post (Posyandu) in Selumit Village, Pantai, Central Tarakan, to increase mothers' knowledge and skills about coughs and colds, which can be treated not only pharmacologically but also non-pharmacologically, namely through common cold therapy. Participants in this activity were 11 mothers with babies/toddlers at the Integrated Health Service Post (Posyandu) in Selumit Village, Pantai, Central Tarakan, totaling 11 people. The methods used were lectures, discussions, and demonstrations. The evaluation results showed an increase in mothers knowledge about common cold massage. It is hoped that mothers can practice baby massage when their babies/toddlers experience a common cold. Therefore, it is recommended that mothers with toddlers who are experiencing coughs and colds can provide cough and cold therapy to their children.</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Masalah batuk pilek pada balita sering dijumpai, dikarenakan sistem imun balita yang masih belum terbentuk sempurna, sehingga sangat rentan terjangkit virus. Persepsi orangtua tentang batuk pilek adalah hal yang wajar terjadi pada balit menyebabkan penanganan kurang cepat dan tepat terhadap batuk pilek. Pijat common cold terapi pijat dapat dilakukan secara mandiri oleh ibu. Banyak ibu yang tidak mengetahui cara pijat bayi commond cold. Kegiatan pengabdian ini dilakukan di Posyandu Desa Selumit Pantai Tarakan Tengah untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu tentang batuk pilek yang bisa di obati tidak hanya dengan cara farmakologi tetapi juga non farmakologi yaitu dengan cara terapi common cold. Peserta kegiatan ini adalah ibu yang mempunyai bayi/balita di Posyandu Desa Selumit Pantai Tarakan Tengah sejumlah 11 orang. Metode yang digunakan adalah ceramah, diskusi dan demonstrasi. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pengetahuan para ibu tentang pijat common cold Diharapkan ibu dapat mempraktikkan pijat bayi saat bayi/balitanya mengalami common cold. Sehingga disarankan kepada ibu yang memiliki balita dan sedang mengalami batuk pilek untuk bisa melakukan piat batuk pilek pada anak.</p>Eni Tri SudarmanAri WidyaningsihUmi Suci Purnama Sari
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-292025-12-294222492257Asuhan Kebidanan Continuity Of Care (Coc) pada Ny. I Usia 29 Tahun G2P1A0 di Puskesmas Bringin Kabupaten Semarang
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1772
<p><em>Maternal Mortality Rate (MMR) and Infant Mortality Rate (IMR) remain major public health problems in Indonesia. Based on data from the Semarang Regency Health Office in 2023, the maternal mortality rate reached 58.20 per 100,000 live births, with the main causes being hemorrhage and preeclampsia. One of the efforts to reduce MMR and IMR is through the implementation of continuous midwifery care, known as Continuity of Care (CoC). This case study aims to describe the implementation of continuous midwifery care for Mrs. I, a 29-year-old woman with an obstetric history of G2P1A0, conducted in the working area of Ungaran Health Center, Semarang Regency. Comprehensive midwifery care was provided from pregnancy, childbirth, newborn care, postpartum period, to family planning services. The methods used in this case study included interviews, physical examinations, observations, and documentation review. The results showed that the pregnancy progressed physiologically, labor occurred normally through spontaneous vaginal delivery, the newborn was born with a birth weight of 3,900 grams and a body length of 48 cm, the postpartum period proceeded without complications, and the infant remained in good health. At the end of the postpartum period, the mother chose implant contraception as a family planning method. The implementation of continuous midwifery care through the Continuity of Care approach plays an important role in maintaining maternal and infant health and contributes to the prevention of complications as well as efforts to reduce maternal and infant mortality rates</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) masih menjadi permasalahan utama kesehatan di Indonesia. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang tahun 2023, tercatat jumlah kematian ibu sebesar 58,20 per 100.000 kelahiran hidup (KH) yang disebabkan terutama oleh perdarahan dan preeklamsia. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menurunkan AKI dan AKB adalah melalui pelayanan kebidanan berkelanjutan atau Continuity of Care (CoC). Studi kasus ini bertujuan untuk menggambarkan pelaksanaan asuhan kebidanan berkelanjutan pada Ny. I, usia 29 tahun, G2P1A0, yang dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Ungaran, Kabupaten Semarang. Asuhan kebidanan diberikan secara komprehensif mulai dari masa kehamilan, persalinan, bayi baru lahir, masa nifas, hingga pelayanan keluarga berencana. Metode yang digunakan dalam studi kasus ini meliputi wawancara, pemeriksaan fisik, observasi, dan studi dokumentasi. Hasil asuhan menunjukkan bahwa selama masa kehamilan berlangsung fisiologis, persalinan berlangsung normal secara spontan, bayi lahir dengan berat badan 3.900 gram dan panjang badan 48 cm, kondisi nifas berjalan normal tanpa komplikasi, serta bayi dalam kondisi sehat. Pada akhir masa nifas, ibu memilih menggunakan metode kontrasepsi KB implan. Pelaksanaan asuhan kebidanan berkelanjutan melalui pendekatan Continuity of Care terbukti penting dalam menjaga kesehatan ibu dan bayi secara menyeluruh serta berkontribusi dalam upaya pencegahan komplikasi dan penurunan AKI dan AKB.</p>Hanik EkowatiAri Andayani
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-292025-12-294222582266Asuhan Kebidanan Continuity of Care (CoC) pada Ny. L Usia 24 Tahun G1P0A0 di Puskesmas Bringin Kabupaten Semarang
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1775
<p><em>Maternal Mortality Rate (MMR) and Infant Mortality Rate (IMR) remain significant health issues in Indonesia. According to the Semarang District Health Office (2023), there were 7 maternal deaths (58.20 per 100,000 live births), mainly due to hemorrhage and preeclampsia. One of the effective strategies to reduce MMR and IMR is providing continuous midwifery care (Continuity of Care/CoC). This case study aims to describe comprehensive midwifery care during pregnancy, childbirth, postpartum, newborn, and family planning for Mrs. L, aged 24 years, G1P0A0, at Bringin Public Health Center, Semarang Regency. This study used a descriptive case study approach. Data were collected through interviews, observation, and physical examinations from April to August 2025. The subject was Mrs. L, a primigravida with a pregnancy of 33 weeks, who received continuous midwifery care from pregnancy to family planning. The pregnancy progressed physiologically without complications. Delivery occurred spontaneously with a live baby, weighing 3200 grams and measuring 50 cm in length, with a strong cry. The postpartum period proceeded normally, with good uterine involution and exclusive breastfeeding initiation. The mother chose a 3-month injectable contraceptive. Continuity of Care (CoC) ensures consistent midwifery services that help detect complications early, maintain maternal and infant health, and improve family well-being.</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) masih menjadi masalah utama di Indonesia. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang tahun 2023, terdapat 7 kasus kematian ibu (58,20 per 100.000 kelahiran hidup) dengan penyebab utama perdarahan dan preeklamsia. Salah satu upaya efektif untuk menurunkan AKI dan AKB adalah melalui pelayanan kebidanan berkesinambungan (Continuity of Care/CoC). Studi kasus ini bertujuan untuk menggambarkan asuhan kebidanan komprehensif pada Ny. L usia 24 tahun G1P0A0 di Puskesmas Bringin Kabupaten Semarang yang meliputi masa kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir, dan keluarga berencana. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, dan pemeriksaan fisik dari bulan April sampai Agustus 2025. Subjek studi kasus adalah Ny. L usia kehamilan 33 minggu yang mendapatkan asuhan kebidanan berkesinambungan mulai dari masa kehamilan hingga KB. Kehamilan Ny. L berlangsung fisiologis tanpa komplikasi. Persalinan terjadi secara spontan dengan bayi lahir hidup, berat badan 3200 gram, panjang badan 50 cm, dan menangis kuat. Masa nifas berjalan normal dengan kontraksi uterus baik dan ibu berhasil memberikan ASI eksklusif. Pada masa KB, ibu memilih kontrasepsi suntik 3 bulan. Pelayanan Continuity of Care (CoC) menunjukkan pentingnya kesinambungan asuhan kebidanan untuk menjaga kesehatan ibu dan bayi serta meningkatkan kesejahteraan keluarga.</p>Sri SutartiHeni Setyowati
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-292025-12-294222672277Asuhan Kebidanan Komprehensif : Penatalaksanan Emesis Gravidarum dengan Akupresur Titik P6 dan St 36 pada Ny. U Umur 21 Tahun di Puskesmas Krapyak Kidul
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1773
<p><em>Emesis gravidarum is a condition of nausea that is sometimes accompanied by vomiting, although the frequency of vomiting does not exceed 5 times a day (Lestari, 2019). Nausea and vomiting (emesis gravidarum) are symptoms that often occur in 60-80% of primigravidas and 40-60% of multigravidas. Nausea usually occurs in the morning but can also appear at any time during the night. The feeling of nausea typically begins in the first weeks of pregnancy and ends in the fourth month. However, around 12% of pregnant women still experience it until 9 months (Farida, 2020). The purpose of this study is to provide midwifery care for Mrs. U, a 23-week pregnant woman with emesis gravidarum. The research instrument uses a descriptive approach method and is documented in the form of SOAP. In this care, the author collected data through interviews, observations, physical examinations, supporting examinations, documentation studies, and literature studies. This research was conducted from May 2025 to October 2025. From the results of providing pregnancy care at 23 weeks of gestation, the mother experienced emesis gravidarum. Education was given to the mother regarding diet management for pregnant women with nausea and vomiting, which involves eating small amounts frequently and increasing water intake to keep the mother hydrated, in accordance with (Zuraidah et al., 2022). During the second visit at 28 weeks of gestation, the mother still complained of morning nausea or when exposed to strong odors, so she was taught acupressure massage techniques on points P6 and St36, in line with Sukanta (2008). At the third visit, at 32 weeks of gestation, the mother reported yellow fluid leaking from her breasts and mentioned that her baby was active. The care provided, according to Marmi (2015), explained normal physical changes in the breasts of a pregnant woman in the third trimester (starting from 28 weeks onward), including the secretion of colostrum which is liquid, clear, and thick, with a cream or yellowish-white color. During the telemedicine session on August 23, the mother complained of ear pain and stated that there were no signs of labor yet. The care provided included advising the mother to visit the health center directly for an examination regarding her ear pain and suggesting that she engage in light physical activity such as walking to help the baby move down to the pelvic area and stimulate contractions. Based on the results of the comprehensive midwifery care report for Mrs. U, a 21-year-old G1P0A0 at Krapyak Kidul Health Center, the researcher concluded the following: regarding pregnancy care, the mother complained of morning nausea, had an HB of 12 g/dL, and a MUAC of 22 cm. Comprehensive care was provided, recommending the mother eat small amounts frequently and use acupressure massage techniques on points P6 and St36. It is hoped that the client can apply the midwifery care that has been provided.</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Emesis gravidarum merupakan suatu kondisi mual yang kadang disertai muntah, tetapi frekuensi muntah tidak lebih dari 5 kali dalam sehari (Lestari, 2019). Mual (nausea) dan muntah (emesis gravidarum) adalah gejala yang sering terjadi pada 60-80% Primigravida dan 40-60% Multigravida. Mual biasanya terjadi pada pagi hari tetapi dapat pula timbul setiap saat pada malam hari. Rasa mual biasanya dimulai pada minggu-minggu pertama kehamilan dan berakhir pada bulan keempat. Namun sekitar 12% ibu hamil masih mengalaminya hingga 9 bulan (Farida, 2020). Tujuan penelitian ini mampu memberikan asuhan kebidanan pada Ny.U hamil 23 minggu dengan Emesis Gravidarum. Intsrumen penelitian menggunakan metode pendekatan yang bersifat deskriptif dan didokumentasikan dalam bentuk SOAP. Dalam asuhan ini, penulis mengumpulkan data melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, studi dokumentasi dan studi daftar pusataka. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei 2025 – Oktober 2025. Dari hasil pemberian asuhan kehamilan pada usia kehamilan 23 minggu ibu mengalami emesis Gravidarum, diberikan edukasi kepada ibu tentang diet Pengaturan pola makan untuk ibu hamil dengan mual muntah adalah dengan cara makan sedikit demi sedikit namun sering, serta perbanyak minum air putih agar ibu tetap terhidrasi sejalan dengan (Zuraidah et al., 2022). Kunjungan kedua pada usai kehamilan 28 minggu keluhan masih merasa mual di pagi hari atau ketika mencium bau menyengat sehingga mengajarkan ibu tehnik pijat akupresur pada titik P6 dan St36 sejalan dengan Sukanta (2008). Pada kunjungan ketiga usia kehamilan 32 minggu ibu mengatakan keluar air kuning mruntus dari payudara , Ibu mengatakan gerakan bayinya aktif, asuhan yang diberikan Sejalan dengan Marmi (2015) memberitahu perubahan fisik normal pada payudara ibu hamil trimester III(mulai dari 28 minggu ke atas) keluar prakolostrum yang cair, jernih dan kental berwarna krem atau putih kekuningan. Pada telemedicine tanggal 23 Agustus ibu mengeluh telinga sakit dan mengatakan belum ada tanda persalinan, asuhan yang diberikan Menganjurkan ibu untuk datang langsung ke puskesmas agar diperiksa berkaitan keluhan telinga sakit, Menyarankan ibu untuk melakukan aktivitas olahraga ringan seperti jalan kaki untuk membantu posisi bayi turun ke area panggul dan merangsang kontraksi. Berdasarkan hasil laporan asuhan kebidanan komperhensif pada Ny.U umur 21 tahun G1P0A0 di Puskesmas Krapyak Kidul, sehingga peneliti memperoleh kesimpulan sebagai berikut asuhan kehamilan, ibu mengeluh mual pada pagi hari, HB 12 gr/dL, LILA 22 cm, diberikan asuhan komperhensif menyarankan ibu untuk makan sedikit sedikit tapi sering dan teknik pijat akupresur titik P6 dan St36. Diharapkan klien dapat mengaplikasikan asuhan kebidanan yang telah diberikan.</p>SholikhaVistra Veftisia
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-292025-12-294222782286Asuhan Kebidanan Continuity Of Care (COC) pada Ny. J Umur 27 Tahun di Klinik Ibu Alam Salatiga
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1776
<p><em>The number of maternal deaths in Semarang Regency during 2019 was 6 cases, a decrease compared to 2018 with 12 maternal deaths. Trend in the number of maternal deaths in 2015-2019. The aim of providing midwifery care to Mrs. J comprehensively (Continuity Of Care) covers the pregnancy period, delivery period, postpartum and newborn babies, neonates to family planning. In this research method, the author used data collection methods, namely using interviews, observations using primary and secondary data through KIA books, physical examinations and this research began in June- September 2025 and this research instrument used SOAP. Based on the results of a comprehensive case study (Continuity of Care) obtained from Mrs. A 27 year old G1P0A0 gestational age 38 weeks no problems found. Mrs. J's delivery took place at the Ibu Alam Health Center. The postpartum period was normal, there was no bleeding, uterine contractions were good, lochea rubra, perineal abrasions, the mother received vitamin A. In the newborn the results of the anthropometric examination were normal, SHK was negative and Mrs. J decided to use 3-month injectable birth control </em></p> <p><em> </em></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Jumlah kasus kematian ibu di Kabupaten Semarang selama tahun 2019 adalah 6 kasus, menurun bila dibandingkan tahun 2018 dengan jumlah kematian ibu 12 kasus. Trend jumlah kematian ibu tahun 2015-2019. Tujuan memberikan asuhan kebidanan pada Ny. J secara komprehensif (Continuity Of Care) meliputi masa kehamilan, masa persalinan, nifas dan bayi baru lahir, neonatus sampai KB. Metode dalam penelitian ini penulis menggunakan metode pengumpulan data yaitu menggunakan wawancara, observasi dengan menggunakan data primer dan sekunder melalui buku KIA, pemeriksaan fisik serta penelitian ini dimulai sejak Juli September 2025 dan instrumen penelitian ini menggunakan SOAP. Berdasarkan hasil studi kasus secara komprehensif (Continuity of Care) didapatkan pada Ny. J usia 27 tahun G1P0A0 usia kehamilan 38 minggu tidak ditemukan masalah. Persalinan Ny.J dilakukan di Klinik Ibu Alam . Masa nifas berlangsung normal tidak ada perdarahan, kontraksi uterus baik, lochea rubra, luka lecet perinium, ibu mendapatkan vitamin A. Pada bayi baru lahir hasil pemeriksaan antropometri normal, SHK negative dan Ny. J memutuskan menggunakan KB suntik 3 bulan.</p>Nova Fitria SalzabilaMoneca Diah Listiyaningsih
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-292025-12-294222872294Asuhan Kebidanan Continuity Of Care (COC) pada Ny. F Umur 29 Tahun di PKD Desa Nyatnyono
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1777
<p><em>Continuity of Care (CoC) is midwifery care provided from the third trimester of pregnancy, followed by support during labor, postpartum, newborn care, and family planning. This care aims to improve the quality of maternal and infant health and ensure optimal monitoring. This care aims to provide an overview of Continuity of Care midwifery care for Mrs. F, age 29. The method used in providing CoC care used a case study approach with direct observation and recording of care provided from the first trimester of pregnancy to the third trimester, delivery, the postpartum period, infant care, and contraceptive use. Data were collected through interviews, observation, and documentation. The results of this continuity of midwifery care successfully increased maternal compliance with prenatal care, minimized complications during delivery, and provided better knowledge regarding newborn care. The mother demonstrated good health during and after delivery, and the baby was born healthy. Conclusion: The CoC approach for Mrs. F demonstrated positive results, having a significant impact on improving maternal and infant health. Continuous midwifery care is highly recommended to be implemented in health facilities to ensure holistic monitoring of maternal and infant health. </em></p> <p><em> </em></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Continuity of Care (CoC) merupakan asuhan kebidanan yang dilakukan sejak masa kehamilan dilanjutkan pendampingan saat persalinan, nifas, bayi baru lahir dan keluarga berencana. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan bayi serta memastikan pemantauan yang optimal. Asuhan ini bertujuan untuk memberikan gambaran asuhan kebidanan Continuity Of Care pada Ny. F usia 29 tahun. Metode dalam memberikan asuhan CoC ini menggunakan pendekatan studi kasus dengan observasi langsung dan pencatatan asuhan yang diberikan dari kehamilan trimester pertama sampai hamil trimester ketiga, persalinan, masa nifas, perawatan bayi sampai dengan penggunaan alat kontrasepsi. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil dari asuhan kebidanan yang berkesinambungan berhasil meningkatkan kepatuhan ibu dalam menjalani perawatan prenatal, meminimalkan komplikasi saat persalinan, serta memberikan pengetahuan yang lebih baik mengenai perawatan bayi baru lahir. Ibu menunjukkan kondisi kesehatan yang baik selama dan setelah proses persalinan, dan bayi lahir dengan sehat. Pendekatan CoC pada Ny. F menunjukkan hasil yang positif, memberikan dampak signifikan dalam meningkatkan kesehatan ibu dan bayi. Asuhan kebidanan berkesinambungan sangat dianjurkan untuk diterapkan difasilitas kesehatan guna memastikan pemantauan kesehatan ibu dan bayi secara holistik.</p>Lailiyatul MufarikhahHeni Setyowati
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-292025-12-294222952301Pemberdayaan Remaja, Ibu Hamil dan Balita Melalui Asuhan Kebidanan Komunitas sebagai Upaya Meningkatkan Status Kesehatan Masyarakat
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1778
<p><em>Community midwifery is one of the efforts undertaken to solve health problems in the scope of mothers, infants, children and adolescents within the family and community. Community midwifery care is a series of midwifery services provided to individuals, families, and groups in the community to improve the health of mothers and children (newborns, toddlers and adolescents), prevent disease, and provide comprehensive care from pregnancy to family planning. Meanwhile, community midwifery practice is an effort undertaken to solve health problems of mothers and toddlers by involving families as partners in the planning, implementation and evaluation of midwifery services, and ensuring the affordability of health services needed by families in the community. In its implementation, community midwifery practice activities can stimulate community participation, so that the community can address their health problems and find alternative solutions together with students. The implementation method used in this community service is health counseling provided to three target groups: adolescents, toddlers and pregnant women. However, the priority issues at the Warasari 3 Integrated Health Post (Posyandu) in Leyangan Village, Semarang Regency, are a lack of knowledge about healthy lifestyles, anemia in adolescents, and non-pharmacological management to reduce dysmenorrhea. The outreach program was held on November 1, 2025, and was attended by 12 adolescents. After this community activity was carried out, there was an increase in knowledge and skills in the community, especially teenagers, regarding healthy lifestyles, anemia in teenagers, yoga and acupressure to reduce dysmenorrhea..</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Kebidanan komunitas adalah salah satu upaya yang dilakukan untuk pemecahan terhadap suatu masalah kesehatan di ruang lingkup ibu, bayi, anak dan remaja di dalam keluarga dan masyarakat. Asuhan kebidanan komunitas merupakan serangkaian pelayanan kebidanan yang diberikan kepada individu, keluarga, dan kelompok dalam masyarakat untuk meningkatkan kesehatan ibu dan anak (bayi baru lahir, balita dan remaja), mencegah penyakit, serta memberikan perawatan komprehensif mulai dari kehamilan hingga keluarga berencana. Sedangkan praktik kebidanan komunitas adalah upaya yang dilakukan untuk pemecahan terhadap masalah kesehatan ibu dan balita dengan melibatkan keluarga sebagai mitra perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pelayanan kebidanan, serta menjamin keterjangkauan pelayanan kesehatan yang dibutuhkan dalam keluarga di masyarakat. Pada pelaksanaannya, kegiatan praktik kebidanan komunitas dapat membangkitkan peran serta masyarakat, sehingga masyarakat dapat menangani masalah kesehatannya dan mencari alternatif pemecahan masalah bersama mahasiswa. Metode pelaksanaan yang digunakan dalam pengabdian masyarakat ini adalah penyuluhan kesehatan yang diberikan pada 3 kelompok sasaran yaitu remaja, balita dan ibu hamil. Namun prioritas masalah di Posyandu Warasari 3 Desa Leyangan Kabupaten Semarang yakni kurangnya pengetahuan tentang pola hidup sehat, anemia pada remaja dan tatalaksana non farmakologi untuk mengurangi nyeri menstruasi (dismenore). Pelaksanaan pada 1 November 2025. Peserta kegiatan penyuluhan ini berjumlah 12 remaja. Setelah kegiatan komunitas ini dilakukan, terjadi peningkatan pengetahuan dan keterampilan di masyarakat, khususnya remaja, mengenai pola hidup sehat, anemia pada remaja, yoga dan akupresur untuk mengurangi dismenore.</p>Farida Fatimatuz ZahroZulika Lukita SariNinik Christiani
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-292025-12-294223022315Asuhan Kebidanan Continuity Of Care ( COC ) pada Ny. N Usia 29 Tahun G2P1A0 dengan Riwayat Sc dan Jarak Kehamilan Terlalu Dekat di Kelurahan Candirejo Wilayah Kerja Puskesmas Ungaran
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1782
<p><em>Pregnancy, childbirth, postpartum, and the neonatal period are physiological conditions that can threaten the life of the mother and baby and can even lead to death. One of the efforts that can be made is by applying a comprehensive midwifery care model to optimize the detection of high maternal and neonatal risks. The purpose of comprehensive midwifery care for Mrs. N is to provide midwifery care to pregnant women, during childbirth, postpartum, newborns, and family planning for Mrs. N, G2P1A0. The method used in this case study on comprehensive care for pregnant women, childbirth, newborns, and postpartum is the descriptive method. The type of descriptive research used is a case study. The sample in this study is a pregnant woman in her second trimester, 17 weeks of gestation, G2P1A0. The research was conducted from May 20, 2025, to November 11, 2025, in the Candirejo sub-district, RT 04 RW 02. The research instrument used the SOAP documentation method. Data collection techniques used primary data through interviews, observation, physical examinations, and the maternal and child health book (KIA). The results of the care showed that Mrs. N, at 17 weeks of gestation, had a physiological pregnancy with no complaints, but with a history of cesarean section and a pregnancy interval that was too short (less than 2 years). The delivery received antibiotics and also pain relief. The postpartum period went well, with no bleeding and good uterine contractions. In the newborn, the results of the anthropometric examination were normal and the SHK examination was negative. Mrs. N decided to use the 3-month injectable contraception. The results obtained indicate that comprehensive midwifery care was provided starting from the pregnancy period at 17 weeks of gestation until she became a contraception acceptor, and SOAP documentation was carried out.</em></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Masa kehamilan, persalinan, nifas, neonatus merupakan suatu keadaan fisioligis yang dapat mengancam keselamatan jiwa ibu dan bayi bahkan dapat menyebabkan kematian. Salah satu upaya yang dapat dilakukan dengan menerapkan model asuhan kebidanan komperhensif untuk mengoptimalkan deteksi resiko tinggi maternal neonatal. Tujuan asuhan kebidanan komprehensif pada Ny. N untuk melakukan asuhan kebidanan Continuity Of Care ( COC ) Pada Ny. N Usia 29 Tahun G2P1A0 Dengan Riwayat Sc Dan Jarak Kehamilan Terlalu Dekat Di Kelurahan Candirejo Wilayah Kerja Puskesmas Ungaran. Metode yang digunakan pada penelitian studi kasus asuhan komprehensif pada ibu hamil, bersalin, bayi baru lahir dan nifas ini adalah metode deskriptif. Jenis penelitian diskiptif yang digunakan adalah penelaah kasus (Case Study) sampel pada penelitian ini yaitu seorang ibu hamil trimester II usia kehamilan 17 minggu, G2P1A0. Waktu penelitian 20 Mei 2025 - 11 November 2025 di wilayah Kelurahan Candirejo RT 04 RW 02. Instrumen penelitian menggunakan metode dokumentassi SOAP. Teknik pengumpulan menggunakan data primer melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, dan buku KIA. Hasil Asuhan didapatkan Ny. N usia kehamilan 17 minggu hamil fisiologis tidak ada keluhan dengan riwayat SC dan jarak kehamilan terlalu dekat ( kurang dari 2 tahun ). Persalinan mendapatkan antibiotik dan juga anti nyeri. Masa nifas berlangsung baik, tidak ada perdarahan dan juga kontraksi uterus baik. Pada bayi baru lahir hasil pemeriksaan antopometri normal dan pemeriksaan SHK negative. Ny. N memutuskan untuk menggunakan KB suntik 3 bulan. Hasil yang diperoleh yaitu telah dilakukan asuhan kebidanan komprehensif mulai dari masa kehamilan dengan usia kehamilan 17 minggu sampai dengan menjadi akseptor KB dan dilakukan pendokumentasi SOAP.</p>Nur KhasanahRisma Aliviani Putri
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-292025-12-294223162328Edukasi Pemberian Makanan Gizi Seimbang sebagai Upaya Meningkatkan Napsu Makan pada Balita di Desa Sendang Kecamatan Bringin
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1783
<p><em>Community is a social group that lives together in a certain area, interacts based on the prevailing value system and customs, and has a shared identity and sense of attachment. Community midwifery services are a form of intervention carried out by midwives in order to identify and resolve health problems experienced by mothers and toddlers at the family and community levels. The general objective of community midwifery is that midwives are able to improve community welfare, especially the health of mothers and children within the scope of the work area, so that the ultimate goal is that the community is able to solve its problems independently. Based on the results of the study carried out on from November 24, 2025 to December 13, 2025 in Sendang Village, Bringin District, data was obtained, namely the number of pregnant women was 2 people, the number of postpartum mothers was 2 people, the number of toddlers was 30 children, the number of teenagers was 36 people. The data obtained showed that there were problems in each group. The method used in Community midwifery care activities were carried out in Sendang Village, Bringin District, Semarang Regency, from November 24, 2025 to December 13, 2025. Data collection was carried out by students through interview and observation methods to obtain a comprehensive picture of the target's health conditions. The stages of implementing community care include the process of assessing and analyzing data, formulating and determining problem priorities, preparing intervention plans, implementing programs and evaluating. Evaluation of community practice activities in Sendang Village, Bringin District, Semarang Regency. The evaluation of community practice in Sendang Village, Bringin District, Semarang Regency is that the implementation is running well according to the planning that has been mad. Such as preparing a balanced daily menu, providing food according to the age and portion of toddlers, utilizing local food ingredients, etc. Some inputs that can be considered include: there are still parents who have not implemented optimal food variations and tend to provide the same menu every day, consistency in bringing toddlers to the integrated health post (posyandu) for growth monitoring still needs to be improved, and some suggestions that can be given are, providing further assistance, providing examples of simple menus, and strengthening the role of integrated health post (posyandu) cadres.</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Komunitas merupakan suatu kelompok sosial yang hidup bersama dalam suatu wilayah tertentu, berinteraksi berdasarkan sistem nilai dan adat istiadat yang berlaku, serta memiliki identitas dan rasa keterikatan bersama.Pelayanan kebidanan komunitas merupakan bentuk intervensi yang dilakukan oleh bidan dalam rangka mengidentifikasi dan menyelesaikan permasalahan kesehatan yang dialami oleh ibu dan anak balita di tingkat keluarga maupun komunitas. Tujuan umum kebidanan komunitas yaitu bidan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya kesehatan ibu dan anak yang ada dalam cakupan wilayah kerja, sehingga tujuan akhir bahwa masyarakat mampu memecahkan masalahnya secara mandiri. Berdasarkan hasil pengkajian yang dilaksanakan pada tanggal 24 November 2025 sampai 13 Desember 2025 di Desa Sendang Kecamatan Bringin, diperoleh data yaitu jumlah ibu hamil 2 orang, jumlah ibu nifas 2 orang, jumlah balita 30 anak, jumlah remaja 36 orang. Data yang diperoleh menunjukan terdapat masalah pada tiap kelompok. Metode yang digunakan dalam Kegiatan asuhan kebidanan komunitas dilaksanakan di di Desa Sendang Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang, dalam kurun waktu 24 November 2025 sampai 13 Desember 2025. Pengumpulan data dilakukan mahasiswa melalui metode wawancara dan observasi untuk memperoleh gambaran kondisi kesehatan sasaran secara komprehensif. Tahapan pelaksanaan asuhan komunitas mencakup proses pengkajian dan analisis data, perumusan serta penentuan prioritas masalah, penyusunan rencana intervensi, implementasi program dan evaluasi. Evaluasi kegiatan praktek komunitas di Desa Sendang, Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang. Evaluasi dari praktik komunitas di Desa Sendang, Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang ialah implentasi berjalan dengan baik sesui dengan perencanaan yang telah dibuat. Seperti penyusunan menu harian seimbang, pemberian makan sesuai usia dan porsi balita, pemanfaatan bahan pangan lokal,dll. Beberapa masukan yang dapat diperhatikan antara lain : masih terdapat orang tua yang belum menerapkan variasi makanan secara optimal dan cenderung memberikan menu yang sama setiap hari, konsistensi dalam membawa balita ke posyandu untuk pemantauan pertumbuhan masih perlu ditingkatkan, dan beberapa saran yang dapat diberikan yaitu , melakukan pendampingan lanjut, penyediaan contoh menu sederhana, dan penguatan peran kader posyandu.</p>Nova Fitria SalsabilaGabriella Aula
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-292025-12-294223292335Penyuluhan Terapi Akupresure untuk Mengatasi Mual Muntah pada Ibu Hamil
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1784
<p><em>Nausea and vomiting (morning sickness) are common and common symptoms in the first trimester of pregnancy. Nausea and vomiting during pregnancy are usually caused by changes in the endocrine system that occur during pregnancy. One non-pharmacological treatment to reduce nausea and vomiting is acupressure on the pericardium 6 (P-6) point for 30 seconds to 2 minutes. Acupressure is a simple, easy-to-perform therapy with no side effects because it is non-invasive. Objectives: This educational activity aims to provide insight to pregnant women, prepare the tools and materials used, and demonstrate the acupressure technique at the P-6 point to reduce nausea and vomiting that will be given to pregnant women. The methods used include providing counseling and completing a questionnaire to gain knowledge about acupressure therapy education. The results of community service activities that have been carried out at the integrated health post (Posyandu) in the working area of the Selumit Village Community Health Center, Central Tarakan Beach, which was carried out on November 2, 2025. In carrying out the activities, the community service officers conducted lectures and Q&A sessions with pregnant women who were assessed, with the results obtained that after the counseling, the majority had good knowledge, namely 9 people out of 10 others. This can be caused by the increase in knowledge of pregnant women so that they are motivated to practice at home.</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Mual (nause) dan muntah (morning sickness) adalah gejala yang wajar dan sering didapatkan pada kehamilan trimester pertama. Mual dan muntah saat kehamilan biasanya disebabkan oleh perubahan dalam sistem endokrin yang terjadi selama kehamilan. Salah satu penatalaksanaan non farmakologis untuk mengurangi mual dan muntah yaitu Akupresur pada titik perikardium 6 (P-6) selama 30 detik sampai 2 menit. Akupresur merupakan terapi yang sederhana, mudah dilakukan, tidak memiliki efek samping karena tidak melakukan tindakan invasive. Tujuan Kegiatan pemberian penyuluhan dan edukasi ini bertujuan memberi wawasan terhadap ibu hamil, menyiapkan alat dan bahan yang digunakan, serta mendemonstrasikan teknik akupresur pada titik P-6 dalam penurunan mual dan muntah yang akan diberikan pada ibu hamil. Metode yang digunakan yaitu memberikan penyuluhan dan mengisi kuesioner untuk menggali pengetahuan tentang edukasi terapi akupresur. Hasil kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang telah dilakukan di posyandu wilayah kerja puskesmas Desa Selumit Pantai Tarakan Tengah yang terlaksana pada tanggal 2 November 2025. Dalam pelaksanaan kegiatannya pengabdi melakukan ceramah serta tanya jawab kepada ibu hamil yang dilakukan pengkajian, dengan didapatkan hasil bahwa setelah dilakukan penyuluhan yang terbanyak adalah pengetahuan baik yaitu 9 orang dari 10 orang lainnya. Hal ini dapat disebabkan karena bertambahnya pengetahuan ibu hamil sehingga termotivasi untuk mempraktikkan di rumah.</p>Julita Br NainggolanThisna DamayantyMoneca Diah Listiyaningsih
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-292025-12-294223362343Asuhan Kebidanan Continuity Of Care (COC) pada Ny. S Umur 25 Tahun G1P0A0 Hamil 39 Minggu dengan KEK di Puskesmas Luwunggede
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1786
<p><em>Continuity of care or continuity of midwifery care is an approach that is carried out continuously from pregnancy, childbirth, postpartum, to newborn care. This aims to improve the quality of maternal and infant health and ensure optimal monitoring. This care aims to provide an overview of continuity of care midwifery care for Mrs. S, 25 years old. The method in providing Continuity Of Care care uses a case study approach with direct observation and recording of care provided from the first trimester of pregnancy to the third trimester of pregnancy, childbirth, postpartum, infant care to family planning. Data were collected through interviews, observations, and documentation. The results of continuous midwifery care succeeded in increasing maternal compliance in undergoing prenatal care, minimizing complications during childbirth, and providing better knowledge about newborn care. The mother showed good health conditions during and after the delivery process, and the baby was born healthy. Conclusion: The continuity of care approach to Mrs. S showed positive results, providing a significant impact in improving maternal and infant health. Continuous midwifery care is highly recommended to be implemented in health facilities to ensure holistic monitoring of maternal and infant health.</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Continuity of care atau kesinambungan asuhan kebidanan adalah pendekatan yang dilakukan secara terus menerus dari masa kehamilan, persalinan, nifas, hingga perawatan bayi baru lahir. Continuity of Care (COC) sangat penting dilakukan untuk ibu hamil dengan Kekurangan Energi Kronis (KEK), yaitu untuk meningkatkan status gizi ibu, mencegah risiko komplikasi seperti bayi lahir berat badan rendah (BBLR) dan premature. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan bayi serta memastikan pemantauan yang optimal. Asuhan ini bertujuan untuk memberikan gambaran asuhan kebidanan Continuity Of Care pada Ny. S usia 25 tahun. Metode dalam memberikan asuhan Continuity Of Care ini menggunakan pendekatan studi kasus dengan observasi langsung dan pencatatan asuhan yang diberikan dari kehamilan trimester Pertama sampai hamil trimester ke 3, Persalinan, masa nifas, perawatan bayi sampai dengan KB. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil dari Asuhan kebidanan yang berkesinambungan pada Ny. S yaitu memberikan asuhan berupa edukasi kepada ibu hamil dengan KEK tentang pola makan dan nutrisi yang harus konsumsi seperti makanan tinggi asupan makronutrien (Energi, Protein, Lemak, Karbohidrat), memberikan PMT kepada ibu yaitu biscuit dan susu ibu hamil.Persalinan berlansung dengan normal tanpa ada kendala apapun. Ibu menunjukkan kondisi kesehatan yang baik selama dan setelah proses persalinan, dan bayi lahir dengan sehat. Kesimpulan: Pendekatan continuity of care pada Ny. S menunjukkan hasil yang positif, memberikan dampak signifikan dalam meningkatkan kesehatan ibu dan bayi. Asuhan kebidanan berkesinambungan sangat dianjurkan untuk diterapkan di fasilitas kesehatan guna memastikan pemantauan kesehatan ibu dan bayi secara holistik.</p>Amilatun AzizahIsfaizah
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-292025-12-294223442351Edukasi Pemberian Kompres Hangat terhadap Penurunan Nyeri (Dismenore) pada Masa Pubertas
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1788
<p><em>Dysmenorrhea is menstrual pain that causes discomfort and can interfere with daily activities, leading young women to resort to pain relievers. Pain relievers (pharmacological treatment) only provide temporary pain relief, and excessive use can cause side effects. Non-pharmacological treatments for dysmenorrhea include warm compresses and aromatherapy. The purpose of this community service activity is to increase the knowledge of young women regarding dysmenorrhea and how to handle it with warm compress techniques. The method used in this service starts from the preparation stage, socialization and implementation with the help of power points and leaflets as well as evaluation, carried out on November 5, 2025 to 10 young women, located in Selumit Village, Central Tarakan Beach. Based on the results of community service activities that have been carried out to young women, participants experienced an increase in their knowledge regarding dysmenorrhea and its handling with warm compress techniques. Suggestions that can be conveyed from this service activity are: It is necessary to conduct routine health counseling at the integrated health post for young women. Providing warm compress therapy and aromatherapy is very easy to do and practical so that young women who experience dysmenorrhea can do the technique even during the learning process in class, or anywhere without limiting their activities.</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Dismenore adalah nyeri menstruasi yang menimbulkan rasa tidak nyaman dan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari sehingga menyebabkan remaja putri mengkonsumsi obat pereda nyeri. Obat pereda nyeri (pengobatan farmakologis) hanya akan menghilangkan nyeri secara sementara dan penggunaannya yang terlalu sering bisa menimbulkan efek samping. Salah satu pengobatan non farmakologis untuk dismenore adalah pemberian kompres hangat dan aroma terapi. Tujuan dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan remaja putri terkait dismenore dan cara menanganinya dengan teknik kompres hangat. Metode yng digunakan dalam pengabdian ini dimulai dari tahap persiapan, sosialisasi dan pelaksanaan dengan bantuan power point dan leaflet serta evaluasi, dilaksanakan pada 5 November 2025 kepada 10 remaja putri, bertempat di Desa Selumit Pantai Tarakan Tengah. Berdasarkan hasil kegiatan pengabdiaan kepada masyarakat yang telah dilakukan kepada remaja putri bahwa peserta mengalami peningkatan pengetahuannya terkait dismenore dan penanganannya dengan teknik kompres hangat. Saran yang dapat disampaikan dari kegiatan pengabdian ini adalah: Perlu dilakukan penyuluhan kesehatan rutin di posyandu terhadap remaja. Pemberian terapi kompres hangat dan aroma terapi ini sangat mudah dilakukan dan praktis sehingga remaja putri yang mengalami dismenore dapat melakukan teknik tersebut walaupun saat proses belajar berlangsung dikelas, ataupun dimana saja berada tanpa membatasi aktivitas.</p>Puput YunitaHeni Hirawati PranotoKurniawati
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-292025-12-294223522360Asuhan Kebidanan Continuity Of Care pada Ny “N” 29 Tahun di Puskesmas Larangan
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1790
<p><em>Maternal and infant mortality rates are one of the indicators to measure the health status of a country. Early detection efforts to overcome morbidity and mortality for mothers, infants and toddlers can be done by implementing Continuity Of Care (COC) starting from pregnancy, childbirth, postpartum, newborns, to family planning. The purpose of this study is to provide comprehensive and continuous midwifery care to Mrs. N starting from pregnancy, childbirth, postpartum, neonates and family planning. The type of descriptive research used is a case study. The research instrument uses a descriptive approach method and is documented in the form of SOAP. In this care, the author collected data through interviews, observations, physical examinations, supporting examinations, documentation studies and bibliography studies. This study was conducted in July-September 2025. From the results of the provision of pregnancy care, problems were found, namely back pain and efflurage massage care was provided. During labor, complementary counterpressure care was provided to reduce labor pain and APN delivery assistance. During postpartum care, the mother reported low breast milk production and was given oxytocin massage. During newborn care, Mrs. N received infant massage. During family planning care, Mrs. N used an implant.</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Angka kematian ibu dan bayi merupakan salah satu indikator untuk mengukur derajat kesehatan bagi suatu negara. Kegiatan upaya deteksi dini untuk mengatasi kesakitan maupun kematian baik ibu, bayi dan balita tersebut dapat dilakukan dengan salah satunya yaitu implementasi asuhan berkelanjutan atau Continuity Of Care (COC) yang dimulai dari masa kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir, sampai dengan KB. Tujuan penelitian ini mampu memberikan asuhan kebidanan pada Ny. N secara komprehensif dan berkesinambungan mulai dari kehamilan, bersalin, nifas, neonatus dan KB. jenis penelitian deskriptif yang digunakan adalah studi kasus (case study), Instrumen penelitian menggunakan metode pendekatan yang bersifat deskriptif dan didokumentasikan dalam bentuk SOAP. Dalam asuhan ini, penulis mengumpulkan data melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, studi dokumentasi dan studi daftar pustaka. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli-September 2025. Dari hasil pemberian asuhan kehamilan ditemukan masalah yaitu nyeri punggung dan dibeirkan asuhan massage efflurage. Pada saat persalinan diberikan asuhan komplementer counterpressure untuk mengurangi nyeri persalinan dan pertolongan persalinan secara APN. Pada asuhan nifas ibu mengatakan produksi ASI sedikit dan diberikan asuhan pijat oksitosin. Pada asuhan bayi baru lahir, By. Ny N diberikan asuhan pijat bayi. Sedangkan pada asuhan KB Ny. N menggunakan KB implant.</p>Dwi Yuniar Billy CanserKartika Sari
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-292025-12-294223612370Asuhan Kebidanan Continuity Of Care pada Ny “P” Usia 38 Tahun di Rumah Sakit Pelabuhan Cirebon
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1791
<p><em>Maternal and infant mortality rates are one of the indicators to measure the health status of a country. Early detection efforts to overcome morbidity and mortality for mothers, infants and toddlers can be done by implementing Continuity Of Care (COC) starting from pregnancy, childbirth, postpartum, newborns, to family planning. The purpose of this study is to provide comprehensive and continuous midwifery care to Mrs. P starting from pregnancy, childbirth, postpartum, neonates and family planning. The type of descriptive research used is a case study. The research instrument uses a descriptive approach method and is documented in the form of SOAP. In this care, the author collects data through interviews, observations, physical examinations, supporting examinations, documentation studies and bibliography studies. This study was conducted in June-September 2025. From the results of the provision of pregnancy care, a problem was found, namely the mother experienced back pain and the care provided was acupressure BL 23. The labor process went smoothly and the mother was given counterpressure care to reduce labor pain. During the postpartum period, the mother complained of low breast milk production and was given oxytocin massage. During newborn care, everything was within normal limits, and the baby was given infant massage. Meanwhile, during family planning care, Mrs. P used an intrauterine device (IUD). Healthcare workers are expected to increase education regarding third-trimester pregnancy discomforts and how to manage them so that pregnant women can have a comfortable pregnancy.</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Angka kematian ibu dan bayi merupakan salah satu indikator untuk mengukur derajat kesehatan bagi suatu negara. Kegiatan upaya deteksi dini untuk mengatasi kesakitan maupun kematian baik ibu, bayi dan balita tersebut dapat dilakukan dengan salah satunya yaitu implementasi asuhan berkelanjutan atau Continuity Of Care (COC) yang dimulai dari masa kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir, sampai dengan KB. Tujuan penelitian ini mampu memberikan asuhan kebidanan pada Ny. P secara komprehensif dan berkesinambungan mulai dari kehamilan, bersalin, nifas, neonatus dan KB. jenis penelitian deskriptif yang digunakan adalah studi kasus (case study), Instrumen penelitian menggunakan metode pendekatan yang bersifat deskriptif dan didokumentasikan dalam bentuk SOAP. Dalam asuhan ini, penulis mengumpulkan data melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, studi dokumentasi dan studi daftar pustaka. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni-September 2025. Dari hasil pemberian asuhan kehamilan ditemukan masalah yaitu ibu mengalami nyeri punggung dan asuhan yang diberikan adalah akupresure BL 23. Proses persalinan berjalan dengan lancar dan ibu diberikan asuhan counterpresure untuk mengurangi nyeri persalinan. Pada masa nifas, ibu mengeluh produksi ASI sedikit dan diberikan asuhan pijat oksitosin. Pada asuhan bayi baru lahir didapatkan semua dalam batas normal dan bayi diberikan asuhan pijat bayi. Sedangkan pada asuhan KB Ny. P menggunakan KB IUD. Diharapkan tenaga kesehatan untuk meningkatakn edukasi mengenai ketidaknyamanan kehamilan trimester III dan tata cara mengatasinya sehingga ibu hamil dapat melewati kehamilan dengan nyaman.</p>Siti AsyiyahIsri Nasifah
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-292025-12-294223712381Penatalaksanaan Nyeri Persalinan dan Fasilitasi Penurunan Kepala Janin melalui Counterpressure dan Birthing Ball: Laporan Asuhan Kebidanan Persalinan Komprehensif pada Ny. S Umur 26 Tahun G2P1A0 di Klinik Tri Karya
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1792
<p><em>Childbirth is a physiological process often accompanied by significant pain, which, if not properly managed, can increase maternal stress and the risk of medical interventions. Non-pharmacological techniques, such as counterpressure and the use of a birthing ball, are complementary interventions aimed at stimulating endorphin release and utilizing gravity to accelerate fetal head descent. This study aims to provide comprehensive midwifery care for Mrs. S, focusing on labor pain management and facilitating fetal head descent through counterpressure and birthing ball methods. The research instrument utilized a descriptive approach, documented in the SOAP (Subjective, Objective, Assessment, Planning) format. Data were collected through interviews, observations, physical examinations, diagnostic tests, documentation, and literature reviews. The study was conducted from June 2025 to October 2025. Results showed that during the active phase of the first stage of labor, Mrs. S reported significant lower back pain. Following the intervention of counterpressure during contractions and vertical pelvic movements using a birthing ball, the patient felt more relaxed and comfortable. The total duration of the first stage of labor from 3 cm dilation to complete dilation was 5 hours. The infant was delivered spontaneously and healthy, without perineal lacerations; the fetal position descended effectively into the pelvic area and stimulated productive contractions. Based on the comprehensive midwifery care report for Mrs. S, a 26-year-old (G2P1A0) at the Tri Karya Clinic, the researcher concluded that the combination of counterpressure and birthing ball techniques is effective in reducing labor pain intensity (back labor) and accelerating the duration of the first stage of labor by optimizing pelvic diameter and utilizing gravity. Midwives are expected to implement these methods as a standard of "mother-friendly care" to enhance maternal comfort during the birthing process.</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Persalinan merupakan proses fisiologis yang sering disertai nyeri signifikan, yang jika tidak dikelola dengan baik dapat meningkatkan stres pada ibu dan risiko intervensi medis. Teknik non-farmakologis seperti counterpressure dan penggunaan birthing ball merupakan intervensi komplementer yang bertujuan merangsang hormon endorfin dan memanfaatkan gaya gravitasi untuk mempercepat penurunan kepala janin. Tujuan penelitian ini memberikan asuhan kebidanan komprehensif pada Ny. S dengan fokus pada penatalaksanaan nyeri persalinan dan fasilitasi penurunan kepala janin melalui metode counterpressure dan birthing ball. Intsrumen penelitian menggunakan metode pendekatan yang bersifat deskriptif dan didokumentasikan dalam bentuk SOAP. Dalam asuhan ini, penulis mengumpulkan data melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, studi dokumentasi dan studi daftar pusataka. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni 2025 – Oktober 2025. Dari hasil pada fase aktif kala I, Ny. S melaporkan nyeri punggung bawah yang signifikan. Setelah diberikan intervensi counterpressure selama kontraksi dan penggunaan birthing ball dengan gerakan panggul vertikal, ibu merasa lebih rileks dan nyaman. Total durasi persalinan kala I dari pembukaan 3 cm hingga lengkap berlangsung selama 5 jam. Bayi lahir spontan, sehat, tanpa adanya robekan perineumposisi bayi turun ke area panggul dan merangsang kontraksi. Berdasarkan hasil laporan asuhan kebidanan komperhensif pada Ny.S umur 26 tahun G2P1A0 di Klinik Tri Karya, sehingga peneliti memperoleh kesimpulan sebagai berikut penerapan kombinasi teknik counterpressure dan birthing ball efektif dalam mengurangi intensitas nyeri persalinan (back labor) serta mempercepat durasi kala I melalui optimalisasi diameter panggul dan gravitasi. Bidan diharapkan dapat menerapkan metode ini sebagai standar asuhan sayang ibu untuk meningkatkan kenyamanan selama proses persalinan.</p>LisjarwatiVistra Veftisia
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-292025-12-294223822389Penatalaksaan Hiperbillirubin pada Bayi Ny. S dengan Ibu HBSAG Positif di Puskesmas Tuntang
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1799
<p><em>Icterus or jaundice is a clinical symptom often found in neonates and infants. The condition might arise from physiological or pathological causes. Jaundice is a clinical manifestation signifying an elevated blood level of bilirubin (hyperbilirubinemia). Excessive increase in bilirubin is potentially toxic and might even lead to death. A good and directed clinical approach is very important to evaluate the need for further medical intervention. The purpose of this care is to provide midwifery care to Mrs. S with a positive HbSag mother, with a focus on the management of neonatal jaundice. The research instrument uses a descriptive approach method and is documented in the form of SOAP. In this care, the author collects data through interviews, observations, physical examinations, supporting examinations, documentation studies and bibliographic studies. This research was conducted in July 2025 – October 2025. From the results of the Neonatal visit carried out, the results of the examination from the mother's subjective data said that the baby was born by C-section because the mother was resti, had been given Hb0 immunization and Hyperheb Immunization at the Hospital, currently the baby is lazy to drink, sucking is not strong, from the physical examination it was found that the skin color of the face, neck, chest, and extremities was yellow, from the results of the care given, namely education about danger signs in babies, support the mother to always only give breast milk to her baby, advise the mother to immediately check if there are danger signs that arise. On Telemedecine on September 15, 2025 with the doctor Pediatrician at A Hospital, Mrs. S was advised to be hospitalized for further treatment of jaundice (phototherapy).Based on the results of the comprehensive care report for Mrs. S at the Tuntang Community Health Center, the researcher concluded that jaundice can be prevented by providing breast milk as often as possible and by performing phototherapy, jaundice is reduced, the baby becomes active, and suckles more strongly.</em></p> <p><em> </em></p> <p><em> </em></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Ikterus atau jaundice sering dijumpai pada neonatus dan bayi. Ikterus dapat bersifat fisiologis atau patologis. Pada dasarnya, ikterus merupakan manifestasi klinis peningkatan kadar bilirubin dalam darah atau hiperbilirubinemia. Peningkatan bilirubin yang berlebihan berpotensi toksik dan dapat menyebabkan kematian. Pendekatan klinis yang baik dan terarah sangat penting untuk menentukan secara cepat dan tepat perlunya evaluasi dan intervensi medis lanjutan, Tujuan Asuhan ini untuk memberikan asuhan kebidanan pada By Ny S dengan ibu HbSag positif, dengan fokus pada penatalaksanaan Ikterik neonaturum, Intsrumen penelitian menggunakan metode pendekatan yang bersifat deskriptif dan didokumentasikan dalam bentuk SOAP. Dalam asuhan ini, penulis mengumpulkan data melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, studi dokumentasi dan studi daftar pusataka. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli 2025 – Oktober 2025. Dari hasil kunjungan Neonatal yang di lakukan ,di dapat hasil pemeriksaan dari data Subyektif ibu mengatakan bayi lahir secara SC karena ibu resti ,sudah di berikan imunisasi Hb0 dan Imunisasi Hiperheb di Rs, saat ini bayi malas minum, menghisap kurang kuat, dari pemeriksaan fisik di dapatkan warna kulit muka,leher,dada,dan ektremitas kuning, dari hasil pemberian asuhan yang di berikan yaitu edukasi tentang tanda bahaya pada bayi, suport ibu untuk selalu memberikan Asi saja kepada bayinya, anjurkan ibu untuk segera kontrol bila ada tanda bahaya yang timbul. Pada Telemedecine tanngal 15 September 2025 dengan dokter spesialis Anak Rs A , Bayi ny S di sarankan rawat inap untuk tindakan lanjutan penangganan Ikterik (Fototherapi). Berdasarkan hasil laporan Asuhan Komprehensif pada By ny S di puskesmas Tuntang peneliti memperoleh kesimpulan sebagai berikut ikterik dapat di cegah dengan di berikan Asi sesring mungkin dan di lakukan fototherapi ikterik berkurang ,bayi menjadi aktif,menetek lebih kuat.</p>MartiningsihVistra Veftisia
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-292025-12-294223902396Asuhan Kebidanan Continuity Of Care (CoC) pada Ny. N Umur 33 Tahun G3P2A0 di Puskesmas Larangan
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1798
<p><em>Continuity of care (COC) is continuous care from pregnancy to family planning (KB) as an effort to reduce the Maternal Mortality Rate (MMR) and Infant Mortality Rate (IMR). The purpose of this study is to provide comprehensive midwifery care to Mrs. N starting from pregnancy, childbirth, postpartum, newborns, neonates and family planning. The type of research used is descriptive, with a case study approach. The sample used was a pregnant woman in the third trimester of 30 weeks of pregnancy, G3P2A0. In this care, the author collected data through interviews, observations, physical examinations, supporting examinations, documentation studies and bibliography studies. This study was conducted in June-September 2025. From the results of the provision of pregnancy care, no problems were found. During labor until postpartum, there were no problems. In newborn care, everything was found within normal limits, Vit K injections, eye ointment and HB0 and BCG immunizations had been given. Meanwhile, in family planning care, Mrs. N decided to use a 3-month injection.</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Asuhan Continuity of care (COC) merupakan asuhan secara berkesinambungan dari hamil sampai dengan keluarga berencana (KB) sebagai upaya penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). Tujuan penelitian ini mampu memberikan asuhan kebidanan pada Ny. N secara komprehensif mulai dari kehamilan, bersalin, nifas, bayi baru lahir, neonatus dan KB. Jenis penelitian yang digunakan yaitu deskriptif, dengan pendekatan studi kasus (Case Study). Sampel yang digunakan adalah seorang ibu hamil trimester III usia kehamilan 30 minggu, G3P2A0. Dalam asuhan ini, penulis mengumpulkan data melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, studi dokumentasi dan studi daftar pustaka. Penelitian ini dilakukan pada bulan 13 Juni 2025 -10 September 2025. Dari hasil pemberian asuhan kehamilan tidak ditemukan masalah. Selama persalinan sampai dengan nifas tidak mengalami masalah. Pada asuhan bayi baru lahir didapatkan semua dalam batas normal, sudah diberikanInjeksi Vit K, salep mata dan imunisasi HB0 dan Imunisasi BCG. Sedangkan pada asuhan KB Ny. N memutuskan untuk menggunakan suntik 3 bulan.</p>TrianingsihYulia Nur Khayati
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-292025-12-294223972407Peningkatan Kapasitas Ibu dalam Pencegahan Stunting Melalui Teknik Pijat Tuina dan Edukasi Gizi Seimbang
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1805
<p><em>Community Midwifery Practice is an effort to apply community-based midwifery management in improving public health status, particularly maternal and child health. This activity was conducted at Posyandu Warasari 3, Leyangan Village, Ungaran Timur District, Semarang Regency, motivated by the persistence of health problems among toddlers, especially decreased appetite and the risk of stunting. The theoretical framework used includes concepts of community, public health, community midwifery management, balanced nutrition for toddlers, and complementary therapy using Tui Na massage. The research employed a descriptive method with a participatory approach. Data collection techniques included observation, interviews, documentation review, and literature study involving adolescents, pregnant women, postpartum mothers, and toddlers as subjects. The findings revealed that out of 64 toddlers, 15 experienced decreased appetite and 10 were at risk of stunting, with the main priority problem being mothers’ limited knowledge of balanced nutrition and complementary therapies. Interventions in the form of balanced nutrition education and Tui Na massage demonstrations showed a significant increase in maternal knowledge based on pre-test and post-test results. It can be concluded that the implementation of community midwifery care through nutrition education and complementary therapy is effective in enhancing maternal knowledge and readiness to support optimal toddler growth and development.</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Praktik Kebidanan Komunitas merupakan upaya penerapan manajemen kebidanan dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, khususnya kesehatan ibu dan anak. Kegiatan ini dilaksanakan di Posyandu Warasari 3 Desa Leyangan, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang, dengan latar belakang masih ditemukannya permasalahan kesehatan pada balita, terutama terkait penurunan nafsu makan dan risiko stunting. Landasan teori yang digunakan meliputi konsep komunitas, kesehatan masyarakat, manajemen kebidanan komunitas, gizi seimbang balita, serta terapi komplementer pijat Tui Na. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan partisipatif. Teknik pengambilan data dilakukan melalui observasi, wawancara, studi dokumentasi, dan studi literatur terhadap sasaran remaja, ibu hamil, ibu nifas, dan balita. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa dari 64 balita, terdapat 15 balita dengan masalah nafsu makan dan 10 balita berisiko stunting, dengan prioritas masalah utama yaitu rendahnya pengetahuan ibu tentang gizi seimbang dan terapi komplementer. Intervensi berupa penyuluhan gizi seimbang dan demonstrasi pijat Tui Na terbukti meningkatkan pengetahuan ibu secara signifikan berdasarkan hasil pretest dan posttest. Disimpulkan bahwa penerapan asuhan kebidanan komunitas melalui edukasi gizi dan terapi komplementer efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan kesiapsiagaan ibu dalam mendukung tumbuh kembang balita. Berdasarkan hasil kegiatan Praktik Komunitas yang diselenggarakan di Desa Leyangan Posyandu Warasari 3 ini disarankan agar tenaga Kesehatan, khususnya bidan, terus meningkatkan peran edukatif melalui penyuluhan gizi seimbang dan penerapan terapi komplementer seperti Pijat Tui Na seceara berkelanjutan di Tingkat Posyandu. Keterlibatan aktif kader Kesehatan dan keluarga juga perlu diperkuat guna meningkatkan pemahaman ibu serta mencegah terjadinya masalah gizi dan stunting pada balita. Selain itu, diperlukan dukungan dari pihak puskesmas dan pemerintah desa dalam bentuk pembinaan, monitoring dan penyediaan media edukasi agar program dapat berjalan optimal dan berkesinambungan. </p>Carollyn DizzyLisjarwatiEti Salafas
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-292025-12-294224082415Edukasi Prenatal Yoga Teknik Relaksasi dan Pernafasan untuk Ketidaknyamanan Kehamilan
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1834
<p><em>Pregnancy involves various physiological changes, including physical changes, changes in the digestive system, respiratory system, urinary tract, musculoskeletal system, and circulation. Physiological changes and psychological adaptations cause discomfort in pregnant women in each trimester. Some preventive measures that can be taken during pregnancy to ensure the mother and fetus are in good health and later a normal delivery process include light exercise such as morning walks, aerobics, pregnancy gymnastics, stationary cycling, dancing, and yoga. Prenatal yoga can provide benefits for the mental and physical health of pregnant women. The purpose of this activity is to increase the knowledge of pregnant women about the benefits of prenatal yoga in overcoming pregnancy discomfort. Community Service will be implemented in 3 stages: The First Stage is preparing by collaborating with community service partners by obtaining permission from partners. The Second Stage is conducting prenatal yoga socialization and training to reduce discomfort by providing pretest questionnaires, providing materials and practicing prenatal yoga. The Third Stage is conducting evaluations to pregnant women by providing several posttest questionnaires and direct questions and answers. The results of the community service program, which involved 14 pregnant women, revealed that the majority of pregnant women's knowledge before the education session was in the poor category (71.4%), and after the education session, their knowledge was in the good category (100%). This indicates an increase in knowledge among pregnant women after receiving health education. Healthcare workers are expected to practice prenatal yoga on an ongoing basis to improve the well-being of pregnant women.</em></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Kehamilan melibatkan berbagai perubahan fisiologis antara lain perubahan fisik, perubahan sistem pencernaan, sistem respirasi, sistem traktus urinarius,muskuloskeletal dan sirkulasi. Perubahan fisiologis dan adaptasi psikologis menyebabkan ketidaknyamanan pada pada ibu hamil di setiap trimester. Beberapa tindakan pencegahan yang dapat dilakukan selama kehamilan agar ibu dan janin berada dalam kondisi sehat serta nantinya terjadi proses persalinan normal yaitu olahraga ringan jalan pagi, aerobic, senam hamil, bersepeda statis, menari, dan yoga. Prenatal yoga dapat memberikan manfaat bagi kesehatan mental dan fisik ibu hamil. Tujuan kegiatan ini adalah meningkatkan pengetahuan ibu hamil mengenai manfaat prenatal yoga dalam mengatasi ketidaknyamanan kehamilan. Pengabdian Masyarakat akan dilaksanakan dalam 3 tahap yaitu Tahap Pertama melakukan persiapan dengan cara melakukan kerja sama mitra pengabdian masyarakat dengan cara melakukan perizinan kepada mitra. Tahap Kedua Melakukan sosialisasi dan pelatihan Prenatal yoga untuk mengurangi ketidaknyamanan dengan cara memberikan kuesioner pretest, pemberian materi dan praktek prenatal yoga. Tahap Ketiga Melakukan evaluasi kepada ibu hamil dengan memberikan beberapa kuesioner posttest dan tanya jawab secara langsung. Dari hasil pengabdian Masyarakat yang diikuti oleh 14 ibu hamil didapatkan sebagian besar pengetahuan ibu hamil sebelum dilakukan edukasi dalam kategori kurang sebesar 71,4% dan setelah diberikan edukasi pengetahuan ibu dalam kategori baik sebesar 100%. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi peningkiatan pengetahuan pada ibu hamil setelah diberikan edukasi kesehatan. Diharapkan tenaga kesehatan untuk melakukan prenatal yoga secara berkelanjutan guna meningkatkan kesejahteraan ibu hamil.</p>Emi Reni BarusNurmilaRubiatul Addawiyah RostinahMasruroh
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-292025-12-294224162422Teknik Akupresure untuk Mengurangi Dismenore pada Remaja Putri di Kelurahan Gunung Seteleng
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1837
<p><em>Dismenore is pain during menstruation. Dismenore or menstrual pain usually occurs in the bottom, waist, even back. As many as 90% of adolescent girls worldwide experience menstrual problems and more than 50% of menstruating women experience primary dysmenorrhea with 10-20% of them experiencing severe symptoms. It is reported that 30-60% of adolescent girls who have dysmenorrhea, as many as 7-15% do not go to school or work. For this reason, it is necessary to do IEE / counseling in cases of dysmenorrhea to find out early complications of dysmenorrhea or symptoms that can arise, especially in adolescents. (Larasati, T. A. &; Alatas, 2016). The purpose of this activity is to provide complementary acupressure therapy to young women in Gunung Seteleng village to overcome dysmenorrhea. The problem that often arises is that there are still many Young Women who do not know about how to overcome Dysmenorrhea. So when young women experience dysmenorrhea at school, many are allowed to not be able to attend lessons because they are not focused due to dysmenorrhea. Realizing this, the community service team feels that they can facilitate through counseling and demonstrations to young women to learn to understand and be able to practice and apply Acupressure Techniques when experiencing dysmenorrhea independently in their respective homes and can re-demonstrate acupressure method techniques, so that Dysminorhea in adolescents can be reduced. Community service will be carried out in 3 stages, namely: First Stage: Selection of groups of young women in Gunung Seteleng village who are willing to be taught about acupressure, dysmenorrhea, Second Stage: Conducting acupressure socialization and training to deal with dysmenorrhea. Stage Three Evaluation of acupressure methods that have been taught to young women.</em></p> <p><em> </em></p> <p><em> </em></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Dismenore merupakan nyeri sewaktu haid. Dismenore atau nyeri haid biasanya terjadi di bagian bawah, pinggang, bahkan punggung . Sebanyak 90% dari remaja wanita di seluruh dunia mengalami masalah saat haid dan lebih dari 50% dari wanita haid mengalami dismenore primer dengan 10-20% dari mereka mengalami gejala yang cukup parah. Dilaporkan 30-60% remaja wanita yang mengalami dismenore, sebanyak 7-15% tidak pergi ke sekolah atau bekerja. Untuk itu perlu dilakukan KIE/ konseling dalam kasus dismenorhea untuk mengetahui sejak dini komplikasi dismenorhea atau gejala gejala yang dapat timbul khususnya pada remaja. (Larasati, T. A. & Alatas, 2024 Tujuan kegiatan ini yaitu memberikan terapi komplementer akupresure pada Remaja putri Di Kelurahan Gunung Seteleng untuk mengatasi dismenore. Masalah yang sering muncul adalah masih banyaknya Remaja Putri yang belum mengetahui mengenai cara mengatasi Dismenore. Sehingga saat remaja putri mengalami dismenore disekolah banyak yang ijin tidak dapat mengikuti pelajaran karena tidak fokus akibat dismenore. Menyadari hal tersebut tim pengabdian masyarakat merasa dapat memfasilitasi melalui penyuluhan dan demonstrasi kepada remaja putri agar belajar memahami dan mampu mempraktekkan serta menerapkan Tehnik Akupreasure saat mengalami dismenore secara mandiri di rumah masing- masing dan dapat mendemonstrasikan ulang teknik metode akupresur, sehingga dismenore pada remaja bisa berkurang. Pengabdian masyarakat akan dilaksanakan dalam 3 tahap yaitu Tahap Pertama Pemilihan kelompok remaja putri di Kelurahan Gunung Seteleng yang bersedia diajarkan tentang akupresur dismenore TahapKedua Melakukan sosialisasi dan pelatihan akupresure untuk menangani dismenore. Tahap ke Tiga Evalusi cara akupresur yang sudah diajarkan kepada remaja putri.</p>Hermin LimbuMuliana MulianaRini Susanti
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-292025-12-294224232429Kehamilan Usia Terlalu Muda: Studi Asuhan Kebidanan Komprehensif terhadap Dampak Fisiologis dan Psikologis
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1845
<p><em>Pregnancy at a very young age, especially due to early marriage, is a major risk factor for obstetric complications. Unpreparedness of reproductive organs, immature psychological conditions, and lack of knowledge about maternal health contribute to increased morbidity and mortality of both mothers and infants. This Continuity of Care (CoC) Midwifery Care Report aims to provide a comprehensive overview of the implementation of midwifery care for a pregnant woman who is married and pregnant as a teenager, starting from pregnancy, childbirth, the postpartum period, newborn care, and family planning services. The research instrument was carried out through interviews and observations assessments, analysis, establishing obstetric diagnoses, planning interventions, implementing care, and continuous evaluation. This COC Midwifery Care was conducted from June to October 2025. The results of care in this case show that early pregnancy causes psychosocial disorders such as anxiety and unpreparedness to become a mother. Through regular antenatal monitoring, intensive education, early detection of complications, family support, and postpartum family planning counseling, risks can be minimized so that the pregnancy and delivery process can proceed safely.</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Kehamilan pada usia yang terlalu muda, terutama akibat pernikahan dini, merupakan salah satu faktor risiko utama terjadinya komplikasi obstetri. Ketidaksiapan organ reproduksi, kondisi psikologis yang belum matang, serta kurangnya pengetahuan tentang kesehatan maternal berkontribusi terhadap meningkatnya morbiditas dan mortalitas ibu maupun bayi. Laporan Asuhan Kebidanan Continuity of Care (CoC) ini bertujuan memberikan gambaran menyeluruh mengenai penerapan asuhan kebidanan pada seorang ibu hamil yang menikah dan hamil di usia remaja, mulai dari masa kehamilan, persalinan, masa nifas, perawatan bayi baru lahir, hingga pelayanan KB. Instrumen penelitian dilakukan dengan wawancara dengan melakukan pengkajian, analisis, penegakan diagnosis kebidanan, perencanaan intervensi, pelaksanaan asuhan, serta evaluasi secara berkesinambungan. Asuhan Kebidanan COC ini dilakukan pada bula Juni-Oktober 2025 Dari hasil asuhan pada kasus ini salah satunya yaitu menunjukkan bahwa kehamilan usia muda menimbulkan gangguan psikososial seperti kecemasan dan ketidaksiapan menjadi ibu. Melalui pemantauan antenatal yang teratur, edukasi intensif, deteksi dini komplikasi, dukungan keluarga, dan pemberian konseling KB pascapersalinan, risiko dapat diminimalkan sehingga proses kehamilan dan persalinan dapat berlangsung aman.</p>Carollyn Dizzy SagitaIda Sofiyanti
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-292025-12-294224302437Asuhan Kebidanan Komprehensif pada Ny. L Usia 27 Tahun G2P1A0 di Wilayah Kerja Puskesmas Kaliwungu Kecamatan Kaliwungu
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1716
<p><em>Maternal Mortality Rate (MMR) and Infant Mortality Rate (IMR) remain essential indicators of a nation’s health status. In Indonesia, the MMR in 2022 reached 207 per 100,000 live births, still above the Strategic Plan target of 190 per 100,000 live births. The leading causes of maternal death include hemorrhage, preeclampsia/eclampsia, infection, prolonged labor, and postpartum complications. Infant mortality is mainly caused by prematurity, asphyxia, infection, and congenital abnormalities. Efforts to reduce maternal and infant mortality continue through the Safe Motherhood Initiative and the implementation of Continuity of Care (CoC), which provides integrated and ongoing midwifery services during pregnancy, childbirth, postpartum, newborn care, and family planning. Comprehensive care facilitates early risk detection, prevents complications, and improves overall maternal and neonatal health outcomes. This study employed a descriptive case study approach involving Mrs. L, 27 years old, G2P1A0, who received comprehensive midwifery care at the Kaliwungu Health Center. The care included antenatal assessments following the 10T standard, pregnancy monitoring during the second and third trimesters, labor management using the 60 essential steps of APN, postpartum care, newborn assessment, and family planning counseling. Complementary care, such as oxytocin massage and prenatal yoga education, was provided based on the client's needs. The pregnancy, labor, postpartum period, newborn care, and family planning services proceeded physiologically without complications. The mother demonstrated good understanding of pregnancy danger signs, childbirth preparation, postpartum self-care, exclusive breastfeeding, and newborn care. Oxytocin massage contributed to improved breast milk production, and the newborn exhibited normal adaptation. The mother also successfully selected an appropriate postpartum contraceptive method. Comprehensive Continuity of Care midwifery services were effective in enabling early identification of risk factors, enhancing maternal knowledge, and supporting optimal maternal and neonatal health. Complementary care, such as oxytocin massage, provided additional benefits by improving breastfeeding outcomes and maternal comfort. The implementation of CoC should continue as a key strategy in supporting the reduction of maternal and infant mortality.</em></p> <p><em> </em></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) masih menjadi indikator penting dalam menilai kualitas kesehatan suatu negara. AKI di Indonesia pada tahun 2022 tercatat sebesar 207 per 100.000 kelahiran hidup, masih di atas target Renstra 190 per 100.000 kelahiran hidup. Penyebab kematian ibu umumnya meliputi perdarahan, preeklamsia/eklamsia, infeksi, partus lama, dan komplikasi nifas. Demikian juga angka kematian bayi yang masih dipengaruhi oleh prematuritas, asfiksia, infeksi, dan kelainan bawaan. Upaya penurunan AKI dan AKB dilakukan melalui program Safe Motherhood dan penerapan Continuity of Care (CoC), yaitu pelayanan kebidanan berkesinambungan mulai kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir hingga keluarga berencana. Pelayanan yang komprehensif dan terintegrasi berkontribusi dalam deteksi dini risiko, pencegahan komplikasi, serta peningkatan kualitas kesehatan ibu dan bayi. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus deskriptif pada Ny. L, usia 27 tahun, G2P1A0, yang mendapatkan asuhan kebidanan komprehensif di wilayah kerja Puskesmas Kaliwungu. Asuhan diberikan mulai dari kehamilan trimester II dan III, persalinan, masa nifas, perawatan bayi baru lahir, hingga pelayanan keluarga berencana. Tindakan meliputi pengkajian lengkap, pemeriksaan ANC sesuai standar 10T, pemantauan persalinan berdasarkan 60 langkah APN, perawatan nifas fisiologis, pemantauan tumbuh kembang bayi, serta konseling KB. Asuhan komplementer seperti pijat oksitosin dan edukasi prenatal yoga juga disertakan sesuai kebutuhan ibu. Seluruh proses—kehamilan, persalinan, masa nifas, perawatan bayi baru lahir, dan pelayanan KB—berlangsung fisiologis tanpa komplikasi. Ibu menunjukkan pemahaman yang baik mengenai tanda bahaya kehamilan, persiapan persalinan, perawatan diri masa nifas, pemberian ASI eksklusif, serta perawatan bayi. Produksi ASI meningkat setelah pemberian pijat oksitosin, bayi memiliki adaptasi yang baik, dan ibu memilih metode kontrasepsi sesuai kondisi pascasalin. Asuhan kebidanan Continuity of Care secara komprehensif terbukti efektif dalam mendeteksi dini risiko, meningkatkan pengetahuan ibu, serta mendukung kesehatan maternal dan neonatal. Penerapan asuhan komplementer seperti pijat oksitosin turut membantu optimalisasi pemberian ASI dan meningkatkan kenyamanan ibu. Layanan CoC perlu terus diterapkan sebagai upaya strategis dalam mendukung pencapaian target penurunan AKI dan AKB.</p>SetyowatiRini Susanti
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-292025-12-294224382446Asuhan Kebidanan Komprehensif Ny. S Usia 22 Tahun G1P0A0, di Wilayah Kerja Puskesmas Kaliwungu Kecamatan Kaliwungu
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1815
<p><em>Maternal Mortality Rate (MMR) and Infant Mortality Rate (IMR) remain crucial indicators for assessing the quality of healthcare services. According to the 2022 data from the Indonesian Ministry of Health, the MMR was 207 per 100,000 live births, while the IMR was 22 per 1,000 live births, both still above the national targets. The main causes of maternal death include hemorrhage, preeclampsia/eclampsia, infection, prolonged labor, and postpartum complications. Infant mortality is influenced by prematurity, asphyxia, infection, and congenital anomalies. Efforts to reduce MMR and IMR are implemented through the Safe Motherhood program and the Continuity of Care (CoC) approach, which provides integrated midwifery services from pregnancy, labor, postpartum, newborn care, to family planning. Comprehensive and continuous care contributes to early risk detection, complication prevention, and improved maternal and neonatal health. This study employed a descriptive case study method on Mrs. S, 22 years old, P1A0, who received comprehensive midwifery care at Puskesmas Kaliwungu. The care included pregnancy assessment, labor monitoring, postpartum care, newborn care, and family planning counseling. Interventions followed standard protocols, including ANC examination, normal labor management, physiological newborn care, breastfeeding education, and postpartum family planning. All stages of care—from pregnancy, labor, postpartum, newborn care, to family planning—proceeded physiologically without complications. The mother demonstrated good understanding of pregnancy warning signs, labor preparation, postpartum self-care, exclusive breastfeeding, and newborn care. She chose postpartum contraception (3-month injectable) according to her condition. The newborn adapted well and showed normal growth and development. Comprehensive Continuity of Care (CoC) midwifery services are effective in early risk detection, increasing maternal knowledge, supporting maternal and neonatal health, and optimizing breastfeeding and maternal comfort. Continuous implementation of CoC services is crucial to support efforts in reducing MMR and IMR.</em></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) masih menjadi indikator penting dalam menilai kualitas pelayanan kesehatan. Berdasarkan data Kemenkes Indonesia tahun 2022, AKI tercatat sebesar 207 per 100.000 kelahiran hidup, sedangkan AKB sebesar 22 per 1.000 kelahiran hidup, masih di atas target Renstra. Penyebab kematian ibu umumnya meliputi perdarahan, preeklamsia/eklamsia, infeksi, partus lama, dan komplikasi nifas, sementara kematian bayi dipengaruhi oleh prematuritas, asfiksia, infeksi, dan kelainan bawaan. Upaya penurunan AKI dan AKB dilakukan melalui program Safe Motherhood dan penerapan Continuity of Care (CoC), yaitu pelayanan kebidanan berkesinambungan mulai kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir hingga keluarga berencana. Pelayanan yang komprehensif dan terintegrasi berkontribusi dalam deteksi dini risiko, pencegahan komplikasi, serta peningkatan kesehatan ibu dan bayi. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus deskriptif pada Ny. S, usia 22 tahun, P1A0, yang menerima asuhan kebidanan komprehensif di Puskesmas Kaliwungu. Asuhan meliputi pengkajian kehamilan, pemantauan persalinan, perawatan nifas, perawatan bayi baru lahir, dan konseling keluarga berencana. Tindakan yang diberikan sesuai standar, antara lain pemeriksaan ANC, manajemen persalinan normal, perawatan bayi baru lahir fisiologis, edukasi menyusui, serta konseling dan pemberian KB pasca persalinan. Seluruh proses asuhan berlangsung fisiologis tanpa komplikasi. Ibu menunjukkan pemahaman yang baik mengenai tanda bahaya kehamilan, persiapan persalinan, perawatan diri masa nifas, pemberian ASI eksklusif, dan perawatan bayi. Pemberian KB pasca persalinan dipilih sesuai kondisi ibu (KB suntik 3 bulan). Bayi baru lahir menunjukkan adaptasi yang baik dan tumbuh kembang normal. Asuhan kebidanan berkesinambungan (CoC) terbukti efektif dalam mendeteksi dini risiko, meningkatkan pengetahuan ibu, mendukung kesehatan maternal dan neonatal, serta membantu optimalisasi pemberian ASI dan kenyamanan ibu. Penerapan layanan CoC secara komprehensif perlu terus dilakukan untuk mendukung penurunan AKI dan AKB.</p>SiswatiMoneca Diah Listiyaningsih
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-292025-12-294224472454Implementasi Senam Aerobic Low Impact untuk Mengurangi Nyeri Pinggang pada Lansia
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1825
<p><em>Older adults often experience a decline in physical function that can lead to musculoskeletal problems, particularly low back pain. This community service article aims to describe the implementation of an aerobic low-impact exercise program to reduce low back pain and to improve the knowledge and skills of Posyandu Lansia managers in Ampelgading Hamlet, Kenteng Village. The program community service involved elderly participants aged 50–80 years and Posyandu managers. Activities included health education, demonstration and practice of aerobic low-impact exercises, and the use of an instructional exercise video. Evaluation was conducted using pre- and post-tests to assess managers’ knowledge and skills, as well as questionnaires to observe changes in low back pain complaints among the elderly. The results showed an improvement in the knowledge and skills of Posyandu managers after the training. In addition, elderly participants reported a decrease in low back pain complaints after participating in the exercise program. In conclusion, aerobic low-impact exercise supported by education and video guidance is a simple and effective approach to support community-based elderly health programs and improve physical comfort among older adults. </em></p> <p><em> </em></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Lansia sering mengalami penurunan fungsi fisik yang</p> <p>dapat menyebabkan masalah muskuloskeletal, khususnya nyeri punggung bawah. Artikel pelayanan masyarakat ini bertujuan untuk menggambarkan implementasi program latihan aerobik berdampak rendah untuk mengurangi nyeri punggung bawah dan meningkatkan pengetahuan serta keterampilan para pengelola Posyandu Lansia di Dusun Ampelgading, Desa Kenteng. Program ini melibatkan peserta lansia berusia 50–80 tahun dan para pengelola Posyandu. Kegiatan meliputi pendidikan kesehatan, demonstrasi dan praktik latihan aerobik berdampak rendah, serta penggunaan video instruksional latihan. Evaluasi dilakukan menggunakan pretest dan posttest untuk menilai pengetahuan dan keterampilan para pengelola, serta kuesioner untuk mengamati perubahan keluhan nyeri punggung bawah di kalangan lansia. Hasil menunjukkan para lansia dapat mempraktekkan senam low impact setelah pelatihan. Selain itu, peserta lansia melaporkan penurunan keluhan nyeri punggung bawah setelah mengikuti program latihan. Kesimpulannya, olahraga aerobik berdampak rendah yang didukung oleh edukasi dan panduan video merupakan pendekatan sederhana dan efektif untuk mendukung program kesehatan lansia berbasis komunitas dan meningkatkan kenyamanan fisik di kalangan lansia. </p>Lintang Wening PembayunRifatul MaulidinaGabriella Jesicca EriestiNita Amalia Nur AzizahRisma Aliviani PutriIsfaizah
Copyright (c) 2025 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2025-12-292025-12-294224552462