Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw
<div style="border: 2px #444F71 solid; padding: 10px; background-color: #f0ffff; text-align: left;"> <ol> <li class="show">Prosiding Seminar Nasional dan Call for Paper Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo</li> <li class="show">Initials: semnasdancfpbidanunw</li> <li class="show">Frekuensi : 6 Bulanan</li> <li class="show">ISSN : Print: 2961-7340 dan Online : 2962-2913</li> <li class="show">Publisher: Program Studi Kebidanan Program Sarjana dan Prodi Pendidikan Profesi Bidan Program Profesi Fakultas Kesehatan, Universitas Ngudi Waluyo</li> </ol> </div> <p align="justify"><strong>Prosiding Seminar Nasional dan Call for Paper Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo</strong> merupakan jurnal prosiding open access, diterbitkan oleh Program Studi Kebidanan Program Sarjana dan Prodi Pendidikan Profesi Bidan Program Profesi Fakultas Kesehatan, Universitas Ngudi Waluyo, dimana terdiri dari hasil penelitian pada bidang Kebidanan. semua artikel yang akan diterbitkan melalui proses editor yang direview oleh dua reviewer secara <strong>double-blind review </strong>process. Dewan redaksi menerima artikel : (1) Theoretical articles; (2) Empirical studies; (3) Case studies; (4) Literature Review . </p>Universitas Ngudi Waluyoen-USProsiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo2961-7340Studi Kasus: Penatalaksanaan Sumbatan Asi dengan Terapi Non-Farmakologi
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2035
<p><em>Breast milk blockage is a common problem experienced by breastfeeding mothers due to inadequate milk removal, causing breast pain, swelling, and hardness. This condition can interfere with breastfeeding and reduce maternal comfort during the postpartum period. One non-pharmacological management that can be used is a combination of breastcare, warm compresses, and cold cabbage leaf compresses. This study aimed to determine the effect of these interventions on reducing breast milk blockage in breastfeeding mothers. This study used a case study method on Mrs. M, 41 years old, P3A0, in Kalirejo Village, Semarang Regency. Data were collected through interviews, physical examination, and documentation. Interventions were carried out for 15 days, including breastcare, warm compresses twice daily, and cold cabbage leaf compresses three times daily. The results showed improvement after the intervention, including smoother breast milk flow, softer breasts, reduced pain, and decreased swelling. However, the improvement was not optimal because the mother did not perform the therapy consistently. In conclusion, the combination of breastcare, warm compresses, and cold cabbage leaf compresses can help reduce breast milk blockage in breastfeeding mothers, although the effectiveness depends on the mother’s consistency in performing the therapy.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Sumbatan ASI merupakan masalah yang sering dialami ibu menyusui akibat pengeluaran ASI yang tidak optimal sehingga menyebabkan payudara terasa nyeri, bengkak, dan keras. Kondisi ini dapat mengganggu proses menyusui dan menurunkan kenyamanan ibu postpartum. Salah satu penatalaksanaan nonfarmakologi yang dapat dilakukan adalah kombinasi breastcare, kompres hangat, dan kompres daun kubis dingin. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh kombinasi terapi tersebut terhadap penurunan sumbatan ASI pada ibu menyusui. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus pada Ny. M usia 41 tahun P3A0 di Kelurahan Kalirejo, Kabupaten Semarang. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, pemeriksaan fisik, dan dokumentasi. Intervensi dilakukan selama 15 hari berupa breastcare, kompres hangat dua kali sehari, dan kompres daun kubis dingin tiga kali sehari. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbaikan kondisi setelah intervensi, yaitu ASI mulai lancar, payudara terasa lebih lunak, nyeri berkurang, dan pembengkakan menurun. Namun, perubahan yang terjadi belum optimal karena ibu kurang konsisten dalam melakukan terapi. Simpulan penelitian menunjukkan bahwa kombinasi breastcare, kompres hangat, dan kompres daun kubis dingin dapat membantu mengurangi sumbatan ASI pada ibu menyusui, meskipun keberhasilannya dipengaruhi oleh konsistensi ibu dalam melakukan terapi.</p>Emi Rafita SariIda Sofiyanti
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2026-06-242026-06-245116Optimalisasi Kesehatan Masyarakat pada Ibu Hamil, Balita, Ibu Menyusui dan Remaja Putri di Rw 3 Kelurahan Genuk Kabupaten Semarang
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2352
<p><em>Maternal and child health is an essential component of public health development. Various health problems are still encountered among pregnant women, toddlers, adolescents, and breastfeeding mothers, including nausea and vomiting and back pain during pregnancy, feeding difficulties among toddlers, anemia and menstrual pain among adolescents, and suboptimal breast milk production among breastfeeding mothers. This community midwifery program aimed to improve community knowledge and skills in maintaining health independently through promotive, preventive, educational, and community empowerment approaches in RW 03 Genuk Village, West Ungaran District, Semarang Regency. The methods included community assessment, identification and prioritization of health problems using the Urgency, Seriousness, and Growth (USG) method, planning, implementation, and evaluation. The target groups consisted of pregnant women, toddlers, adolescents, and breastfeeding mothers. Interventions included acupressure education and demonstrations for reducing pregnancy-related nausea and vomiting, prenatal yoga for relieving back pain, Tui Na massage to improve toddlers’ appetite, anemia education and acupressure for menstrual pain management among adolescents, and hypnobreastfeeding for breastfeeding mothers. The results showed an improvement in participants’ knowledge and skills regarding self-health management. High community participation indicated that the community midwifery approach was effective in improving health awareness and promoting positive health behaviors within the community.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Kesehatan ibu dan anak merupakan salah satu aspek penting dalam pembangunan kesehatan masyarakat. Berbagai permasalahan kesehatan masih ditemukan pada kelompok ibu hamil, balita, remaja, dan ibu menyusui, seperti mual muntah dan nyeri punggung pada kehamilan, kesulitan makan pada balita, anemia dan nyeri haid pada remaja, serta kurang optimalnya produksi ASI pada ibu menyusui. Kegiatan kebidanan komunitas ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam menjaga kesehatan secara mandiri melalui pendekatan promotif, preventif, edukatif, dan pemberdayaan masyarakat di RW 03 Kelurahan Genuk, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang. Metode yang digunakan meliputi pengkajian komunitas, identifikasi dan penentuan prioritas masalah dengan metode Urgency, Seriousness, and Growth (USG), perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi kegiatan. Sasaran kegiatan terdiri atas ibu hamil, balita, remaja, dan ibu menyusui. Intervensi yang diberikan meliputi edukasi dan demonstrasi akupresur untuk mengurangi mual muntah pada ibu hamil, prenatal yoga untuk mengurangi nyeri punggung, pijat Tui Na untuk meningkatkan nafsu makan balita, pendidikan kesehatan anemia dan akupresur nyeri haid pada remaja, serta hypnobreastfeeding pada ibu menyusui. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dan keterampilan peserta mengenai upaya pemeliharaan kesehatan. Tingginya partisipasi masyarakat menunjukkan bahwa pendekatan kebidanan komunitas efektif dalam meningkatkan kesadaran dan perilaku kesehatan masyarakat.</p>Emi Rafita SariMaria Jessyca TasuibDesi VivianaMilya RizkiYuliance KabakIda Sofiyanti
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2026-06-242026-06-2451717Efektivitas Pemberian Putih Telur dan Ikan Lele Terhadap Penyembuhan Jahitan Perineum pada Ibu Nifas
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2353
<p><em>The Effect of Egg White and Catfish Consumption on Perineal Suture Healing in Postpartum Mothers. The postpartum period (puerperium) is a time of recovery following pregnancy and childbirth, during which complications such as uterine atony, retained placenta, and episiotomy or birth canal lacerations may occur. Nutritional factors—specifically protein, vitamins, and minerals—influence the healing of birth canal lacerations. Eggs and catfish are accessible protein sources that can be simply prepared using a blend of herbs and spices. The objective of this study was to determine the difference in effectiveness between the administration of egg white and catfish regarding the healing of perineal sutures in postpartum mothers. This study employed an experimental method with a two-group posttest-only design and was conducted at the Punggelan 2 Community Health Center (Puskesmas) in Banjarnegara Regency. The sample was selected using purposive sampling, consisting of 32 postpartum mothers with second-degree perineal sutures during February and March who had no history of diabetes mellitus or hypertension and consented to participate; 16 respondents were administered egg white and 16 were administered catfish from the first to the seventh day, with evaluations performed on the eighth day using the REEDA score. Data analysis was conducted using the Mann-Whitney test. The mean consumption was 2.56 for egg whites and 1.38 for catfish. The Mann-Whitney test results showed a p-value of 0.024 and an r-value of 0.398, with mean ranks of 20.16 for the egg white group and 12.84 for the catfish group. This indicates a significant difference in effectiveness between the two interventions regarding perineal suture healing, with catfish proving more effective for healing.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Nifas (puerperium) merupakan masa pemulihan setelah melalui masa kehamilan dan persalinan, komplikasi yang terjadi selama masa nifas seperti atonia uteri, retensio plasenta episiotomi atau laserasi jalan lahir. Salah satu faktor yang mempengaruhi penyembuhan laserasi jalan lahir yaitu faktor gizi, terutama protein, viatamin dan mineral. Telur dan ikan lele merupakan sumber protein yang mudah di jangkau dengan cara pengolahanya yang sederhana menggunakan campuran bumbu dan rempah. Tujuan untuk mengetahui perbedaan efektivitas pemberian putih telur dan lele terhadap penyembuhan jahitan perineum pada ibu nifas. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan desain two group posttest only design, dilakukan di Puskesmas Punggelan 2 Kabupaten Banjarnegara. Sampel penelitian diperoleh melalui purposive sampling yaitu ibu nifas dengan jahitan perineum dengan jahitan derajat 2 pada bulan Februari dan Maret, tidak ada penyakit DM, hipertensi, bersedia menjadi responden, sejumlah 32 responden dengan 16 responden di berikan putih telur dan 16 responden diberikan ikan lele diberikan hari pertama sampai hari ketujuh dan dievaluasi menggunakan skor REEDA hari kedelapan. Analisa data dengan uji Mann Whitney. Hasil rerata konsumsi putih telur 2,56, rerata konsumsi ikan lele 1.38. Hasil uji mann whitney menunjukkan p value 0,024, nilai r = 0,398 dengan mean rank kelompok putih telur 20,16 dan kelompok ikan lele 12.84, artinya ada perbedaan yang cukup kuat efektivitas pemberian putih telur dan ikan lele terhadap kesembuhan jahitan perineum, dimana ikan lele lebih efektif untuk menyembuhkan jahitan.</p>Bekti YuniyantiMundartiAri Kurniawati
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2026-06-242026-06-24511824Study Kasus Penerapan Pijat Counterpressure dan Pijat Oksitosin di RSUD Tanjung Selor
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2157
<p><em>Maternal Mortality Rate (MMR) and Infant Mortality Rate (IMR) remain health issues that require special attention. One effort to reduce MMR and IMR is through comprehensive and continuous midwifery services (Continuity Of Care/COC) from pregnancy, childbirth, postpartum, newborn care, and family planning (KB). These services aim to detect potential complications early and improve the quality of maternal and infant health (Tyastuti & Wahyuningsih, 2016). In North Kalimantan Province, based on previous data from the Central Statistics Agency, the IMR is at 16.65 per 1,000 live births. In 2025, this figure is expected to decline along with improvements in maternal and child health services, although definitive data is still being reported (BPS North Kalimantan, 2024). Maternal age ≥35 years is included in the high-risk pregnancy category, which can increase the likelihood of complications during pregnancy and childbirth (Prawirohardjo, 2018). In addition to basic midwifery care, the application of complementary therapies such as counterpressure during labor and oxytocin massage during the postpartum period can help reduce maternal discomfort and support a smooth delivery and breastfeeding process. The purpose of this case study is to implement comprehensive midwifery care for Mrs. J, 40 years old, G4P3A0, at Tanjung Selor Regional Hospital, starting from pregnancy, delivery, postpartum, newborn care, to family planning services. This study used a case study method with a Continuity Of Care (COC) approach. The subject of the study was Mrs. J, 40 years old, G4P3A0, who was followed from 29 weeks and 4 days of gestation until the period of contraceptive use. Data collection techniques were carried out through interviews, observations, physical examinations, documentation studies, and recording using the SOAP method (Marta, 2016). Although the patient was considered a high-risk pregnancy, the results of care showed that the condition of the mother and fetus was good throughout the pregnancy without complications. During the delivery process, complementary counterpressure therapy was given to help reduce labor pain. Delivery occurred naturally by vaginal delivery at 38 weeks and 4 days of gestation, resulting in a healthy, spontaneously delivered, male baby, weighing 3,100 grams and measuring 49 cm long. Oxytocin massage was performed during the postpartum period to help increase breast milk production and release. The postpartum period was physiological without complications, with normal uterine involution and smooth breast milk production. Family planning counseling was conducted on the 31st day postpartum, and the mother chose to use a 3-monthly contraceptive injection. It can be concluded that the implementation of Continuity of Care midwifery care combined with complementary counterpressure therapy and oxytocin massage was carried out comprehensively, resulting in healthy mother and baby, and no complications were found during the care process.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) masih menjadi masalah kesehatan yang memerlukan perhatian khusus. Salah satu upaya yang dilakukan untuk menurunkan AKI dan AKB adalah melalui pelayanan kebidanan secara komprehensif dan berkesinambungan (Continuity of Care/COC) mulai dari masa kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir hingga keluarga berencana (KB). Pelayanan ini bertujuan untuk mendeteksi secara dini komplikasi yang mungkin terjadi serta meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan bayi (Tyastuti dan Wahyuningsih 2016). Di Provinsi Kalimantan Utara, berdasarkan data sebelumnya dari Badan Pusat Statistik, AKB berada pada angka 16,65 per 1.000 kelahiran hidup. Pada tahun 2025, angka ini diperkirakan mengalami penurunan seiring dengan peningkatan pelayanan kesehatan ibu dan anak, meskipun data pasti masih dalam proses pelaporan (BPS Provinsi Kalimantan Utara 2023). Usia ibu ≥35 tahun termasuk dalam kategori kehamilan risiko tinggi yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya komplikasi selama kehamilan dan persalinan (Prawirohardjo 2018). Selain asuhan kebidanan dasar, penerapan terapi komplementer seperti counterpressure saat persalinan dan pijat oksitosin pada masa nifas dapat membantu mengurangi ketidaknyamanan ibu serta mendukung kelancaran proses persalinan dan menyusui. Tujuan studi kasus ini adalah melaksanakan asuhan kebidanan secara komprehensif pada Ny. J usia 40 tahun G4P3A0 di RSUD Tanjung Selor mulai dari masa kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir, hingga pelayanan keluarga berencana. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus (case study) dengan pendekatan Continuity Of Care (COC). Subjek penelitian adalah Ny. J usia 40 tahun G4P3A0 yang diikuti sejak usia kehamilan 29 minggu 4 hari hingga masa penggunaan kontrasepsi. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, studi dokumentasi, dan pencatatan menggunakan metode SOAP (Kemenkes RI 2017). Walaupun pasien termasuk dalam usia hamil resiko tinggi, hasil asuhan menunjukkan bahwa selama masa kehamilan kondisi ibu dan janin dalam keadaan baik tanpa komplikasi. Pada proses persalinan diberikan terapi komplementer counterpressure untuk membantu mengurangi nyeri persalinan. Persalinan berlangsung secara normal pervaginam pada usia kehamilan 38 minggu 4 hari dan bayi lahir spontan berjenis kelamin laki-laki dengan kondisi baik, berat badan lahir 3100 gram dan panjang badan 49 cm tanpa ditemukan kelainan. Pada masa nifas dilakukan pijat oksitosin untuk membantu meningkatkan produksi dan pengeluaran ASI. Masa nifas berlangsung fisiologis tanpa komplikasi, involusi uterus berjalan normal dan produksi ASI lancar. Pada hari ke-31 postpartum dilakukan konseling keluarga berencana dan ibu memilih menggunakan KB suntik 3 bulan. Dapat disimpulkan bahwa penerapan asuhan kebidanan Continuity Of Care yang dikombinasikan dengan terapi komplementer counterpressure dan pijat oksitosin dapat terlaksana secara komprehensif dengan hasil ibu dan bayi dalam keadaan sehat serta tidak ditemukan komplikasi selama proses asuhan.</p>Devitasari YulistianYulia Nur Khayati
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2026-06-242026-06-24512532Pendidikan Kesehatan Tentang Kesehatan Reproduksi Remaja
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2282
<p><em>Adolescence is a period of rapid growth and development. Generally, adolescents who experience menarche between the ages of 12 and 16 have a normal menstrual cycle every 22-35 days, lasting 2-7 days. Discomfort before and during menstruation occurs in almost all women, including pain in the lower back and abdomen, radiating to the upper legs. Dysmenorrhea, also known as abdominal pain originating from uterine cramps and occurring during menstruation, disrupts daily activities, and is most often found in young and reproductive women. Treatment for dysmenorrhea includes pharmacological (drug) and non-pharmacological (complementary) approaches. The latest complementary theory suggests that several meridian points in the body can reduce menstrual pain. These include: Li4 (Hegu), PC6 (Neiguan), SP6, and LR3 (Taichong). Community service activities for teenagers at the Sehat Ceria Posyandu were carried out on May 15, 2026, at 4:00 PM WIB in the multipurpose building belonging to RW 11, Pudak Payung sub-district, Semarang city, involving 8 teenagers. The implementation method included a pre-test, material presentation, demonstration, discussion, direct practice, and post-test. The media used were power points and leaflets. The pre-test results showed that the level of knowledge of teenagers was in the sufficient category (63.02%). After the material presentation, discussion, and demonstration, the post-test results of adolescent knowledge increased significantly, namely in the good category (95.31%). Counseling and training on complementary techniques for reducing menstrual pain effectively increased adolescent knowledge about complementary techniques for reducing menstrual pain. It is recommended that similar training be carried out regularly during adolescent Posyandu or youth meetings and supported by mentoring from cadres and the local Health Office.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Masa remaja merupakan periode terjadinya pertumbuhan dan perkembangan yang pesat. Umumnya, remaja yang mengalami menarche pada usia 12 tahun sampai dengan 16 tahun, siklus menstruasi normal terjadi setiap 22-35 hari, lamanya selama 2-7 hari. Ketidaknyamanan sebelum dan selama menstruasi hampir terjadi oleh semua wanita yaitu nyeri pada punggung bawah, perut dan menjalar hingga ke bagian atas tungkai, sehingga istilah dismenore adalah nyeri perut yang berasal dari kram rahim dan terjadi selama menstruasi yang menggangu aktifitas sehari-hari yang paling sering ditemui pada wanita muda dan reproduktif. Pengobatan dismenorhea dengan non farmakologi bertujuan untuk mengurangi intensitas nyeri haid, memperbaiki kualitas hidup, serta meminimalkan efek samping obat dengan cara aman dan alami. Dalam teori komplementer terbaru, terdapat beberapa titik meridian di dalam tubuh kita yang dapat mengurangi intensitas nyeri saat haid, diantara gerakannya, yakni: titik Li4 (Hegu), Titik PC6 (Neiguan), Titik SP6, Titik LR3 (Taichong). Kegiatan pengabdian masyarakat untuk remaja posyandu Sehat Ceria dilakukan pada tanggal 15 Mei 2026 jam 16.00 WIB di Gedung serbaguna milik RW 11 kelurahan pudak payung kota Semarang, melibatkan 8 remaja. Metode pelaksanaan meliputi pre-test, pemaparan materi, demonstrasi, diskusi, praktik langsung dan post-test. Media yang digunakan berupa power point dan leaflet dengan instrument lembar observasi pre test dan post test untuk menilai perbandingan pada remaja. Hasil pre-test menunjukkan tingkat pengetahuan remaja berada di kategori cukup (63,02%). Setelah pemaparan materi, diskusi dan demonstrasi, hasil post-test pengetahuan remaja meningkat signifikan yaitu di kategori baik (95,31%). Penyuluhan dan pelatihan tentang komplementer teknik mengurangi nyeri haid efektif meningkatkan pengetahuan remaja tentang komplementer teknik mengurangi nyeri haid. Disarankan agar pelatihan serupa dilakukan rutin saat ada posyandu remaja atau pertemuan karang taruna dan didukung pendampingan kader serta Dinas Kesehatan setempat.</p>Fransisca Desti KurniasihGalih Ayu Tias RespatiYulia Nur Khayati
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2026-06-242026-06-24513340Asuhan Kebidanan Continuity of Care pada Ny. Q G4P3A0 Usia 38 Tahun di Wilayah Kerja Puskesmas Jumo
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2110
<p><em>Continuity of care in midwifery is a comprehensive and continuous maternity service provided from pregnancy, childbirth, postpartum, newborn care, to family planning services. In Indonesia, the maternal mortality rate (MMR) remains relatively high compared to the targets established in the Sustainable Development Goals (SDGs). One of the important factors contributing to the high MMR is high-risk pregnancy. The purpose of continuity of care in midwifery services is to optimally monitor the condition of both mother and baby and to detect possible complications at an early stage. The implementation of care was carried out in the working area of Jumo Public Health Center through home visits and counseling according to the mother’s needs Midwifery care for Mrs. “Q” was provided comprehensively from pregnancy until contraceptive use, with a total of 2 antenatal visits, 1 delivery care visit, 4 postpartum visits, 3 neonatal visits, and 1 family planning visit. During pregnancy, the mother’s condition was physiological but categorized as high-risk due to maternal age of over 35 years. The delivery process occurred normally and was managed according to the standards of Normal Delivery Care (APN). The postpartum period and the condition of the newborn progressed well without complications. In family planning services, the mother received counseling and chose the implant contraceptive method. Overall, the implementation of continuity of care for Mrs. “Q” showed positive results, with both mother and baby remaining in normal condition. Midwives are expected to continue implementing continuity of care according to service standards and to improve their competencies in providing quality midwifery care.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Asuhan kebidanan berkesinambungan (continuity of care) merupakan pelayanan kebidanan yang diberikan secara menyeluruh dan berkelanjutan mulai dari masa kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir hingga pelayanan keluarga berencana. Di Indonesia AKI masih tergolong tinggi dibandingkan dengan target yang ditetapkan dalam Sustainable Development Goals (SDGs). Salah satu faktor penting yang berkontribusi terhadap tingginya AKI adalah kehamilan risiko tinggi. Tujuan dari pelayanan Asuhan kebidanan berkesinambungan (continuity of care) adalah untuk memantau kondisi ibu dan bayi secara optimal serta mendeteksi secara dini kemungkinan terjadinya komplikasi Pelaksanaan asuhan dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Jumo melalui kunjungan rumah dan pemberian konseling sesuai kebutuhan ibu. Asuhan kebidanan pada Ny. “Q” diberikan secara komprehensif sejak masa kehamilan hingga penggunaan kontrasepsi, dengan frekuensi kunjungan kehamilan sebanyak 2 kali, persalinan 1 kali, nifas 4 kali, neonatus 3 kali, serta pelayanan keluarga berencana sebanyak 1 kali. Selama kehamilan, kondisi ibu tergolong fisiologis dengan Resiko Tinggi yaitu usia ibu >35 tahun. Proses persalinan berlangsung normal dan ditangani sesuai standar Asuhan Persalinan Normal (APN). Masa nifas dan kondisi bayi baru lahir berjalan dengan baik tanpa penyulit. Pada pelayanan keluarga berencana, ibu telah mendapatkan konseling dan memilih menggunakan metode kontrasepsi implan. Secara keseluruhan, penerapan asuhan kebidanan berkesinambungan pada Ny. “Q” menunjukkan hasil yang baik dengan kondisi ibu dan bayi dalam batas normal. Diharapkan bidan dapat terus menerapkan continuity of care sesuai standar pelayanan serta meningkatkan kompetensi dalam memberikan asuhan kebidanan yang berkualitas.</p>Djandjang PurwatiningsihAri Widyaningsih
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2026-06-242026-06-24514149Akupresur dalam Menangani Mual dan Muntah pada Ibu Hamil Trimester I di Puskesmas Kecamatan Vera Cruz Timor Leste
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2344
<p><em>First-trimester pregnancy is often characterized by nausea and vomiting (emesis gravidarum), which can significantly impair the quality of life of pregnant women. Although physiological, this condition can lead to dehydration, decreased appetite, and fatigue if not adequately managed. Acupressure at Pericardium 6 (P6/Nei Guan) point has been recognized as a safe and effective non-pharmacological intervention to alleviate these symptoms. This study aimed to evaluate the improvement in knowledge, understanding, and skills of first-trimester pregnant women at the Vera Cruz Community Health Center, Timor Leste, in managing nausea and vomiting through acupressure therapy. This community service method involved 20 first-trimester pregnant women experiencing nausea and vomiting, with interventions including education, demonstration, and direct practice of P6 acupressure. Data were collected using pretest-posttest questionnaires for knowledge and observation sheets for skills. The results showed a significant increase in the knowledge and skills levels of pregnant women after the intervention. The in-depth discussion elaborates on the mechanism of P6 acupressure, compares the findings with current scientific literature, and highlights the practical implications of applying acupressure in primary healthcare services. This study affirms the potential of acupressure as an accessible, safe, and effective modality for managing nausea and vomiting, as well as the importance of health education for empowering pregnant women.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Kehamilan trimester pertama seringkali diwarnai dengan keluhan mual dan muntah (emesis gravidarum) yang dapat mengganggu kualitas hidup ibu hamil. Kondisi ini, meskipun fisiologis, berpotensi menyebabkan dehidrasi, penurunan nafsu makan, dan kelelahan jika tidak ditangani secara adekuat. Akupresur pada titik Pericardium 6 (P6/Nei Guan) telah dikenal sebagai intervensi nonfarmakologis yang aman dan efektif untuk meredakan gejala ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi peningkatan pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan ibu hamil trimester I di Puskesmas Kecamatan Vera Cruz, Timor Leste, dalam mengelola mual dan muntah melalui terapi akupresur. Metode pengabdian masyarakat ini melibatkan 20 ibu hamil trimester I yang mengalami mual dan muntah, dengan intervensi berupa penyuluhan, demonstrasi, dan praktik langsung akupresur P6. Data dikumpulkan melalui kuesioner pretest-posttest untuk pengetahuan dan lembar observasi untuk keterampilan. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan pada tingkat pengetahuan dan keterampilan ibu hamil setelah intervensi. Pembahasan mendalam menguraikan mekanisme akupresur P6, membandingkan temuan dengan literatur ilmiah terkini, serta menyoroti implikasi praktis dari penerapan akupresur dalam pelayanan kesehatan primer. Studi ini menegaskan potensi akupresur sebagai modalitas penanganan mual dan muntah yang mudah diakses, aman, dan efektif, serta pentingnya edukasi kesehatan untuk pemberdayaan ibu hamil.</p>RosalinahRachel Nurwidi AnnisaOlimpia M.de AraujoPalmira de Jesus GomesEmilia dos SantosLuciana Aparicio SoaresAgusrianiAri Widyaningsih
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2026-06-242026-06-24515055Asuhan Kebidanan pada Persalinan dengan Prolonged Active Phase Disertai Fetal Distress dan Mekonium: Studi Kasus
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2078
<p><em>Complicated labor involving prolonged active phase, meconium-stained amniotic fluid, and fetal distress is a leading cause of maternal and perinatal morbidity and mortality. This descriptive case study aimed to describe midwifery care for a primigravida with the above complications using the SOAP documentation approach. The subject was Mrs. D, aged 27 years, G1P0A0, at 41 weeks 2 days gestation, managed at RS Pratama Tanjung Keramat and RSUD dr. H. Jusuf SK on January 15, 2026. Serial intrapartum monitoring revealed progressive deterioration: fetal heart rate rose to 172 bpm (tachycardia), membranes ruptured with meconium-stained fluid, and cervical dilation stagnated at 1 cm over 6 hours (0.17 cm/hour), confirming prolonged active phase with fetal distress. Initial stabilization (left lateral positioning, oxygen 6–8 L/minute, IV RL infusion) was followed by emergency referral and emergency Cesarean section performed by an obstetrician. A male infant weighing 3,600 g was delivered and stabilized through neonatal resuscitation. Early detection, strict partograph monitoring, and timely referral were critical in preventing neonatal asphyxia and meconium aspiration syndrome in this case.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Persalinan dengan penyulit berupa fase aktif memanjang, air ketuban bercampur mekonium, dan fetal distress merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas ibu serta perinatal. Studi kasus deskriptif ini bertujuan mendeskripsikan asuhan kebidanan pada primigravida dengan komplikasi tersebut menggunakan pendekatan SOAP. Subjek adalah Ny. D usia 27 tahun G1P0A0, hamil 41 minggu 2 hari, dikelola di RS Pratama Tanjung Keramat dan RSUD dr. H. Jusuf SK pada 15 Januari 2026. Pemantauan intrapartum berkala menunjukkan perburukan progresif: DJJ meningkat hingga 172 x/menit (takikardia janin), ketuban pecah bercampur mekonium, dan stagnasi pembukaan serviks 1 cm dalam 6 jam (0,17 cm/jam), mengonfirmasi diagnosis prolonged active phase disertai fetal distress. Stabilisasi awal (posisi miring kiri, oksigen 6–8 L/menit, infus RL) dilanjutkan dengan rujukan emergensi dan tindakan Sectio Caesarea. Bayi laki-laki lahir dengan berat 3.600 gram dan berhasil distabilkan melalui resusitasi neonatus. Deteksi dini, pemantauan partograf yang ketat, dan rujukan tepat waktu terbukti kritis dalam mencegah asfiksia neonatorum dan sindrom aspirasi mekonium pada kasus ini.</p>Desi Rinda SariVistra Veftisia
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2026-06-242026-06-24515662Edukasi Prenatal Yoga pada Ibu Hamil untuk Meningkatkan Kesehatan Ibu Hamil
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2375
<p><em>During pregnancy, the mother will experience discomfort such as frequent urination, back pain, insomnia, calf muscle cramps, varicose veins, ankle edema, fatigue, erratic moods, and increased anxiety, which can interfere with daily activities and take up the attention of pregnant women if the mother lacks knowledge and experience regarding pregnancy. The purpose of this community service is to provide counseling about prenatal yoga to improve the health of pregnant women. This service is carried out through counseling activities for 20 pregnant women in the second and third trimesters in the Bulakpelem village area, Sragi District, Pekalongan Regency and Bumi Ayu village, North Kalimantan, starting with a Pre-Test to determine the knowledge of pregnant women before being given material about Trimester III discomfort, prenatal yoga, then continued with the delivery of material and ended with a Post-Test. This activity was carried out on June 2, 2026. From the results obtained after the counseling, there was an increase in respondents' knowledge of the material provided where there was a significant increase, namely from an average value of 94.72 to 97.35. It is hoped that prenatal yoga can be integrated into pregnancy classes, providing evidence-based education about its benefits in reducing pregnancy discomfort.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Selama kehamilan ibu akan mengalami ketidaknyamanan seperti sering buang air kecil, nyeri punggung, insomnia, kram otot betis, varises, edema pergelangan kaki, mudah lelah, mood yang tidak menentu, dan peningkatan kecemasan, yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan menyita perhatian ibu hamil jika ibu kurang memiliki pengetahuan dan pengalaman mengenai kehamilan. Tujuan pengabdian masyarakat ini adalah untuk memberikan penyuluhan tentang prenatal yoga untuk meningkatkan kesehatan ibu hamil. Pengabdian ini dilakukan melalui kegiatan penyuluhan pada 20 ibu hamil trimester II dan trimester III wilayah desa Bulakpelem Kecamatan Sragi Kabupaten Pekalongan dan desa Bumi Ayu Kalimantan Utara, diawali dengan Pre Test untuk mengetahui pengetahuan ibu hamil sebelum diberikan materi tentang ketidaknyamanan Trimester III, prenatal yoga, kemudian dilanjutkan penyampaian materi dan diakhiri dengan Post Test. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 2 Juni 2026. Dari hasil yang didapatkan setelah dilakukan penyuluhan terdapat peningkatan pengetahuan responden terhadap materi yang diberikan dimana terdapat peningkatan yang cukup signifikan yaitu dari nilai rata-rata 94.72 meningkat menjadi 97.35. Diharapkan prenatal yoga dapat diintegrasikan ke dalam kelas ibu hamil, memberikan edukasi berbasis bukti mengenai manfaatnya untuk mengurangi ketidaknyamanan kehamilan.</p>AfrokhiyahDinawati ObedRusdiya Handayani SarahAnita SitumorangDini LaxmiaryNazdiaSus Meinar RatrinaDwi Puspa IndahVistra Veftisia
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2026-06-242026-06-24516374Asuhan Kebidanan Continuity of Care (CoC) pada Ny. D di Puskesmas Petungkriyono Kabupaten Pekalongan
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2179
<p><em>Comprehensive midwifery care is a comprehensive midwifery management care starting from pregnant women, childbirth, to newborns so that labor can take place safely and the baby born is safe and healthy until the postpartum period. Pregnancy, childbirth, postpartum and newborns are physiological conditions but in the process there is a possibility of a condition that can threaten the life of the mother and baby and can even cause death. Continuity of Care (COC) Midwifery Care is continuous midwifery care provided to mothers and babies starting during pregnancy, childbirth, newborns, postpartum and family planning, with the existence of COC care, the development of the mother's condition at all times will be monitored well, in addition, continuous care carried out by midwives can make mothers more trusting and open because they already know the care provider, COC midwifery care is one of the efforts to reduce the Maternal Mortality Rate (MMR) and Infant Mortality Rate The purpose of this study is to be able to provide Continuity of Care (CoC) Midwifery Care to Mrs. D aged 26 years at the Petungkriyono Health Center. The type of descriptive research used is a case study. The research instrument uses a descriptive approach method and is documented in the form of SOAP. In this care, the author collected data through interviews, observations, physical examinations, supporting examinations, documentation studies and bibliography studies. This research was conducted in January - May 2026. From the results of the provision of pregnancy care, there were no abnormal complaints. During the mother's delivery process at the Petungkriyono Health Center, Pekalongan Regency, delivery assistance was carried out through normal vaginal delivery and the baby was born spontaneously. During the assessment, no complications were found in Mrs. D's baby. In newborn care, everything was found to be within normal limits, By Mrs. D was given HB0 immunization, vitamin K, eye ointment and SHK. While in family planning care Mrs. D used injectable birth control. It is expected that health workers can carry out comprehensive midwifery care with correct procedures and according to client needs, as well as apply complementary care as non-pharmacological therapy in midwifery care.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Asuhan kebidanan komprehensif merupakan asuhan menyeluruh manajemen kebidanan mulai dari ibu hamil, bersalin, sampai bayi baru lahir sehingga persalinan dapat berlangsung aman dan bayi yang dilahirkan selamat dan sehat sampai masa nifas. Kehamilan, persalinan, nifas dan bayi baru lahir merupakan suatu keadaan yang fisiologis namun dalam prosesnya terdapat kemungkinan suatu keadaan yang dapat mengancam jiwa ibu dan bayi bahkan dapat menyebabkan kematian. Asuhan Kebidanan Continuity of Care (COC) merupakan asuhan kebidanan berkesinambungan yang diberikan kepada ibu dan bayi dimulai pada saat kehamilan, persalinan, bayi baru lahir, nifas dan keluarga berencana, dengan adanya asuhan COC maka perkembangan kondisi ibu setiap saat akan terpantau dengan baik, selain itu asuhan berkelanjutan yang dilakukan bidan dapat membuat ibu lebih percaya dan terbuka karena sudah mengenal pemberi asuhan, asuhan kebidanan secara COC adalah salah satu upaya untuk menurunkan Angka kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi Tujuan penelitian ini mampu memberikan Asuhan Kebidanan Continuity Of Care (CoC) Pada Ny. D umur 26 Tahun di Puskesmas Petungkriyono. Jenis penelitian deskriptif yang digunakan adalah studi kasus (case study), Instrumen penelitian menggunakan metode pendekatan yang bersifat deskriptif dan didokumentasikan dalam bentuk SOAP. Dalam asuhan ini, penulis mengumpulkan data melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, studi dokumentasi dan studi daftar pustaka. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari - Mei 2026. Dari hasil pemberian asuhan kehamilan tidak terdapat keluhan yang bersifat abnormal. Pada proses persalinan ibu di Puskesmas Petungkriyono Kabupaten Pekalongan, dilakukan pertolongan persalinan secara persalinan normal pervaginam bayi lahir spontan. Selama pengkajian tidak ditemukan komplikasi-komplikasi yang ada pada bayi Ny.D. Pada asuhan bayi baru lahir didapatkan semua dalam batas normal, By Ny D diberikan imunisasi HB0, vitamin K, salep mata dan SHK. Sedangkan pada asuhan KB Ny. D menggunakan KB suntik. Diharapkan tenaga kesehatan dapat melakukan asuhan kebidanan secara komprehensif dengan prosedur yang benar dan sesuai dengan kebutuhan klien, serta menerapkan asuhan komplementer sebagai terapi nonfarmakologi dalam asuhan kebidanan.</p>Mahera EktafiaHapsari Windayanti
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2026-06-242026-06-24517584Penerapan Terapi Akupresur sebagai Upaya Non-Farmakologis dalam Mengurangi Dismenore pada Remaja Putri
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2361
<p><em>Dysmenorrhea is one of the most common complaints experienced by adolescent girls during menstruation and can significantly disrupt daily activities. Most adolescent girls tend to ignore menstrual pain or rely on pain relievers without the supervision of a health professional, which carries the risk of long-term side effects. This community service activity aims to implement acupressure therapy as a non-pharmacological effort to reduce dysmenorrhea in adolescent girls. The activity was carried out simultaneously on June 3, 2026, in three locations: Pekalongan City, Central Java, and Kapuas Hulu Regency and Sambas Regency, West Kalimantan, involving 20 adolescent girls. This activity was carried out through lectures, discussions, questions and answers, demonstrations, and direct practice using leaflets, PowerPoint presentations, and animated videos. Evaluation of the activity was carried out using measurement instruments before and after the intervention. The results of the activity showed an improvement in the condition of participants after receiving acupressure therapy, with an average score increasing from 3.60 before therapy to 6.00 after therapy. These results indicate that acupressure therapy is effective, safe, and can be applied independently by adolescent girls without the need for drugs or special equipment.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Dismenore merupakan salah satu keluhan yang paling umum dialami remaja putri saat menstruasi dan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari secara signifikan. Sebagian besar remaja putri cenderung mengabaikan nyeri haid atau mengandalkan obat pereda nyeri tanpa pengawasan tenaga kesehatan yang berisiko menimbulkan efek samping jangka panjang. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk menerapkan terapi akupresur sebagai upaya nonfarmakologis dalam mengurangi dismenore pada remaja putri. Kegiatan dilaksanakan secara serentak pada tanggal 3 Juni 2026 di tiga lokasi, yaitu Kota Pekalongan, Jawa Tengah, serta Kabupaten Kapuas Hulu dan Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, dengan melibatkan 20 remaja putri. Kegiatan ini dilaksanakan melalui metode ceramah, diskusi, tanya jawab, demonstrasi, dan praktik langsung menggunakan media leaflet, presentasi PowerPoint, dan video animasi. Evaluasi kegiatan dilakukan menggunakan instrumen pengukuran sebelum dan sesudah intervensi. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan kondisi peserta setelah mendapatkan terapi akupresur, dengan rata-rata skor yang meningkat dari 3,60 sebelum terapi menjadi 6,00 setelah terapi. Hasil ini menunjukkan bahwa terapi akupresur efektif, aman, dan dapat diterapkan secara mandiri oleh remaja putri tanpa memerlukan obat-obatan maupun alat khusus.</p>Liya Fatikhatun Ni'mahHerni Prafita DewiLufi Indah SariYhunie YudistiraHapsari Windayanti
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2026-06-242026-06-24518596Asuhan Kebidanan Continuity of Care (Coc) pada Ny K Umur 30 Tahun di Puskesmas Kandangserang Kab. Pekalongan
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2077
<p><em>Continuity of Care (CoC) is a continuous midwifery care approach aimed at improving maternal and neonatal health services and reducing maternal and infant mortality rates. Preeclampsia is one of the high-risk pregnancy complications and a major cause of maternal morbidity and mortality; therefore, comprehensive and continuous midwifery care is required from pregnancy through the postpartum period and family planning services. Through continuous care, maternal health problems can be detected early so that preventive and management efforts can be carried out more optimally in each phase of maternal health services. The purpose of this case study was to provide midwifery care through Continuity of Care for Mrs. K, a 30-year-old woman G2P1A0 at the Kandangserang Community Health Center, Pekalongan Regency. The method used was a case study with Varney’s midwifery management approach and SOAP documentation, conducted from pregnancy, labor, postpartum, newborn care, to family planning. The results showed that the pregnancy progressed physiologically without complications, labor occurred normally according to the 60 steps of Normal Delivery Care (APN), the postpartum period and newborn condition were healthy without complications, and the mother chose a 3-month injectable contraceptive method for family planning. In conclusion, the implementation of Continuity of Care can improve early detection of maternal and neonatal health problems and support comprehensive and continuous prevention of complications. Therefore, mothers are advised to have regular health check-ups, and health workers are expected to maintain and optimize comprehensive and sustainable midwifery services.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Continuity of Care (CoC) merupakan asuhan kebidanan berkelanjutan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan bayi serta menurunkan angka kematian ibu dan bayi. Preeklampsia merupakan salah satu komplikasi kehamilan yang berisiko tinggi dan menjadi penyebab utama morbiditas serta mortalitas maternal, sehingga diperlukan pelayanan kebidanan yang komprehensif, berkesinambungan, dan terpantau sejak masa kehamilan hingga masa nifas dan keluarga berencana. Melalui asuhan berkelanjutan ini, permasalahan kesehatan pada ibu dapat terdeteksi secara dini sehingga upaya pencegahan dan penanganan komplikasi dapat dilakukan lebih optimal pada setiap periode pelayanan kebidanan. Tujuan studi kasus ini adalah memberikan asuhan kebidanan secara Continuity of Care pada Ny. K umur 30 tahun G2P1A0 di Puskesmas Kandangserang Kabupaten Pekalongan. Metode yang digunakan adalah studi kasus dengan pendekatan manajemen kebidanan Varney dan dokumentasi SOAP yang dilakukan mulai dari masa kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir, hingga pelayanan keluarga berencana. Hasil asuhan menunjukkan bahwa kehamilan berlangsung secara fisiologis tanpa komplikasi, proses persalinan berjalan normal sesuai 60 langkah Asuhan Persalinan Normal (APN), masa nifas dan bayi baru lahir berada dalam kondisi baik tanpa adanya komplikasi, serta ibu memilih metode kontrasepsi suntik 3 bulan sebagai pilihan keluarga berencana. Kesimpulan dari studi kasus ini menunjukkan bahwa penerapan asuhan Continuity of Care dapat meningkatkan deteksi dini terhadap masalah kesehatan ibu dan bayi serta mendukung upaya pencegahan komplikasi secara menyeluruh dan berkesinambungan. Oleh karena itu, ibu disarankan untuk rutin melakukan pemeriksaan kesehatan, dan tenaga kesehatan diharapkan dapat mempertahankan serta mengoptimalkan pelayanan kebidanan yang komprehensif dan berkelanjutan.</p>Kurniawati Tri UtamiRisma Aliviani Putri
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2026-06-242026-06-245197103Peran Edukasi Kesehatan dalam Meningkatkan Pengetahuan Ibu Hamil tentang Tanda Bahaya dan Gizi Kehamilan Trimester III
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2132
<p><em>The third trimester of pregnancy is a critical period that requires special attention due to the increased risk of complications for both the mother and the fetus. Limited understanding of pregnancy danger signs and adequate nutritional requirements may increase the risk of anemia, preterm birth, and low birth weight. This community midwifery care activity aimed to improve pregnant women's understanding of danger signs during the third trimester and nutritional needs during pregnancy. The activity was conducted with Mrs. S, a 33-year-old pregnant woman with an obstetric history of G4P3A0 at 28 weeks of gestation, residing in RT 05 Tanjung Tengah, Penajam. The methods used included interviews, observation, a pre-test, health education using leaflet media, and a post-test for evaluation. The results showed an increase in the knowledge score from 80 to 100 after the intervention. These findings indicate that health education was effective in improving the mother's knowledge regarding pregnancy danger signs and nutritional requirements during pregnancy. It is recommended that health education interventions be carried out routinely by healthcare providers as part of antenatal care services to enhance maternal knowledge and reduce the risk of complications during pregnancy.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Kehamilan trimester III merupakan periode yang memerlukan perhatian khusus karena meningkatnya risiko komplikasi pada ibu dan janin. Kurangnya pemahaman mengenai tanda bahaya kehamilan dan pemenuhan gizi yang adekuat dapat meningkatkan risiko terjadinya anemia, persalinan prematur, serta bayi berat lahir rendah. Kegiatan asuhan kebidanan komunitas ini bertujuan meningkatkan pemahaman ibu hamil tentang tanda bahaya kehamilan trimester III dan kebutuhan gizi selama kehamilan. Kegiatan dilakukan pada Ny. S usia 33 tahun dengan status obstetri G4P3A0 pada usia kehamilan 28 minggu di RT 05 Tanjung Tengah, Penajam. Metode yang digunakan meliputi wawancara, observasi, pre-test, pemberian penyuluhan menggunakan media leaflet, dan post-test sebagai evaluasi. Hasil menunjukkan peningkatan skor pengetahuan dari 80 menjadi 100 setelah intervensi. Temuan ini menunjukkan bahwa edukasi kesehatan efektif meningkatkan pengetahuan ibu hamil mengenai tanda bahaya dan kebutuhan gizi selama kehamilan. Disarankan agar intervensi edukasi kesehatan dilakukan secara rutin oleh tenaga kesehatan sebagai bagian dari pelayanan antenatal guna meningkatkan pengetahuan ibu serta menurunkan risiko komplikasi selama kehamilan.</p>Gita FitryaRisma Aliviani Putri
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2026-06-242026-06-2451104108Asuhan Kebidanan Continuity of Care (Coc) pada Ny. P Umur 28 Tahun di Puskesmas Kalikajar 2
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2103
<p><em>Continuity of Care (CoC) in midwifery refers to the provision of comprehensive care from pregnancy, childbirth, postpartum, and neonatal periods until the mother decides to use a family planning method. This approach aims to monitor and detect potential complications affecting both mother and baby from pregnancy through family planning utilization. The objective of this case study was to provide comprehensive midwifery care to Ny.P at Kalikajar 2 Community Health Center, Wonosobo. This case study was conducted on Ny.P, a 28-year-old woman with obstetric status G2P1A0, at Kalikajar 2 Community Health Center. Antenatal care was provided through six visits with monitoring based on the 10T standard. Delivery was performed by cesarean section due to severe preeclampsia at Adina Mother and Child Hospital. A male infant was born weighing 2,790 grams, with a body length of 48 cm, and cried spontaneously immediately after birth. The postpartum and neonatal periods progressed normally without signs of infection or other complications. Following delivery, the mother chose to use an intrauterine device (IUD) as her contraceptive method. In conclusion, the comprehensive midwifery care provided demonstrated that the cesarean section was performed according to medical indications and Evidence-Based Midwifery guidelines. Continuous and comprehensive care contributed to the mother's recovery and helped prevent further complications.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Asuhan kebidanan berkelanjutan (Icontinuity of care) yaitu pemberian asuhan kebidanan sejak kehamilan, bersalin, nifas, neonatus hingga memutuskan menggunakan KB ini bertujuan sebagai upaya membantu memantau dan mendeteksi adanya kemungkinan timbulnya komplikasi yang menyertai ibu dan bayi dari masa kehamilan sampai ibu menggunakan KB. Tujuan penelitian adalah melakukan asuhan kebidanan komprehnsif pada Ny. Di Puskesmas Kalikajar 2 Wonosobo. Studi kasus ini dilakukan pada Ny.P usia 28 tahun G2P1A0 di Puskesmas Kalikajar 2. Asuhan kehmilan diberikan sebanyak 6 kali dengan pemantauan standar 10 T. Persalinan dilakukan melalui tindakan secio caesare atas indikasi Preeklamsi Berat di RSIA Adina. Bayi lahir dengan jenis kelamin laki-laki, BB 2790 gr, panjang badan 48 cm, dan langsung menangis. Masa nifas dan neonatus berjalan normal tanpa tanda-tanda infeksi atau komplikasi. Ibu menggunakan KB IUD pasca persalinan. Kesimpulan dari asuhan kebidanna komprehensif ini bahwa tindakan secio caesarea telah dilakukan sesuai dengan indikasi medis dan pedovan Evidance-Based Midwifery. Asuhan yang diberikan secara komprehensif membantu mempercepat pemulihan ibu dan mencegah komplikasi lebih lanjut.</p>ImbuhLuvi Dian Afriyani
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2026-06-242026-06-2451109117Penyuluhan tentang Common Cold dan Pijat Common Cold dalam Upaya Mengatasi Gejala Batuk Pilek pada Bayi/Balita
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2285
<p><em>The common cold is an upper respiratory tract infection that frequently affects infants and toddlers. A situation analysis in Pringsari Village, Pringapus District, Semarang Regency, found a high incidence of coughs and colds in infants and toddlers, as well as low maternal knowledge regarding non-pharmacological treatment, such as common cold massage. Therefore, this community service program aims to improve mothers' knowledge and skills in performing common cold massage to address cough and cold symptoms in infants and toddlers. Babies are weak individuals and require an adaptation process. Every baby must be able to go through a physiological adaptation process consisting of the cardiovascular, respiratory system, hematopoiesis system, metabolism, body temperature, digestive tract system, endocrine glands, immunoglobulin system, glucose metabolism, integumentary and reproductive systems. Performing a Common Cold massage consisting of stages of massage for babies with coughs and colds consisting of the following movements: toward bridge nose & under the cheekbone, cheek rain drop, open book, butterfly, toby top intercostal, chest rain drop, positioning the baby face down, back and forth, sweeping neck to bottom, sweeping neck to feet, back circle, back rain drop, pitching and relaxation. Counseling on Common Cold Massage for Babies and Toddlers as an Effort to Overcome Coughs and Colds in the Pringsari Village Area, Pringapus District, Semarang Regency, which was attended by 15 respondents who were mothers who had babies. The Community Service Implementation was carried out on Saturday, May 9, 2026, starting at 09.00 – 11.30 WIB offline, with a method with an introduction first, then filling out the pre-test, then the presentation of the material and continued with a demonstration of Common Cold massage with 13 stages, followed by a question and answer process, then filling out the post-test and finally closing. The counseling participants understood and comprehended how to do Common Cold Massage to Overcome Coughs and Colds in Babies and Toddlers and good communication was established between the proposing team and the mothers who conducted the counseling. There was an increase in the knowledge and skills of mothers, as seen from the good percentage data of 53.3% (pretest) to 93.3% (posttest). It is hoped that mothers can practice Common Cold massage at home independently when their children have coughs and colds.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Common cold merupakan salah satu gangguan saluran pernapasan atas yang sering terjadi pada bayi dan balita. Berdasarkan hasil analisis situasi di Desa Pringsari, Kecamatan Pringapus, Kabupaten Semarang, ditemukan masih tingginya kejadian batuk pilek pada bayi dan balita serta rendahnya pengetahuan ibu mengenai penanganan nonfarmakologis berupa pijat Common Cold. Oleh karena itu, pengabdian masyarakat ini dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu dalam melakukan pijat Common Cold sebagai upaya mengatasi gejala batuk pilek pada bayi dan balita. Bayi merupakan individu yang lemah dan memerlukan proses adaptasi. Setiap bayi harus dapat melalui proses adaptasi fisiologis yang terdiri dari kardiovaskuler, sistem pernafasan, sistem hematopoiesis, metabolisme, suhu tubuh, sistem traktus digestivus, kelenjar endokrin, sistem imunoglobulin, metabolisme glukosa, sistem integumen dan reproduksi. Melakukan pijat Common Cold yang terdiri dari tahapan pijat bayi batuk pilek yang terdiri dari gerakan berikut melakukan gerakan toward bridge nose & under the cheek bone, cheek rain drop, open book, butterfly, toby top intercostal, chest rain drop, memposisikan bayi telungkup, back and forth, sweeping neck to bottom, sweeping neck to feet, back circle, back rain drop, pitching dan relaksasi. Penyuluhan Pijat Common Cold Pada Bayi dan Balita Sebagai Upaya Mengatasi Batuk Pilek di Wilayah Desa Pringsari, Kecamatan Pringapus, Kabupaten Semarang yang diikuti oleh 15 responden Ibu yang memiliki bayi. Pelaksanaan Pengabdian Masyarakat dilakukan Hari Sabtu, 9 Mei 2026 mulai pukul 09.00 – 11.30 WIB secara luring (offline), dengan metode dengan perkenalan terlebih dahulu selanjutnya pengisian Pre Test, kemudian pemaparan materi dan dilanjutkan demonstrasi pijat Common Cold dengan 13 tahapan, berikutnya proses tanya jawab kemudian pengisian Post Test dan terakhir penutup. Peserta penyuluhan mengerti dan memahami cara melakukan Pijat Common Cold Untuk Mengatasi Batuk Pilek pada Bayi dan Balita dan bisa terjalin komunikasi baik tim pengusul dan para ibu yang melakukan penyuluhan. Terdapat peningkatan pengetahuan dan keterampilan ibu-ibu, yang dilihat dari data presentase baik 53,3% (pretest) menjadi 93,3% (Post Test). Diharapkan ibu-ibu dapat mempraktikkan pijat Common Cold dirumah secara mandiri saat anaknya mengalami batuk dan pilek.</p>Annisa Mastri Wahyu NurjatiIcca Oktavia Noor HidayatiRinawatiLuvi Dian Afriyani
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2026-06-242026-06-2451118127Asuhan Kebidanan Continuity of Care pada Ny. D G2P1A0 Umur 19 Tahun di Wilayah Kerja Puskesmas Pimping
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2143
<p><em>Continuity of care is continuous care starting from pregnancy, childbirth, newborn care, postpartum care, neonatal care and quality family planning services which when implemented completely are proven to have high effectiveness in reducing mortality and morbidity rates. The research method is a case study approach. Data collection techniques were obtained using primary and secondary data. Primary data were obtained through interviews, observations, and examinations. Secondary data was obtained through the KIA book and the results of supporting examinations. Data review using Varney Midwifery Management and documented with SOAP. The case study was carried out from November 27, 2025 to April 06, 2026. The comprehensive midwifery care provided lasts from pregnancy, childbirth, postpartum and neonatal to birth control with a frequency of 3 pregnancy visits, 1 delivery, 4 postpartum periods, 3 neonatal periods, and 2 birth control periods. During pregnancy, the mother experienced mild anemia and was managed with Fe-giving education, the mother gave birth normally at 39 weeks gestation at dr. Soemarno Sostroadmojo Hospital. Newborns are normal and IMD is performed. After the mother's postpartum is normal, the mother chooses IUD birth control. Comprehensive obstetric care will improve the health and well-being of the mother.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Continuity of care adalah perawatan yang berkesinambungan mulai dari kehamilan, persalinan, asuhan bayi baru lahir, asuhan post partum, asuhan neonatus dan pelayanan KB yang berkualitas yang apabila dilaksanakan secara lengkap terbukti mempunyai efektifitas yang tinggi dalam menurunkan angka mortalitas dan morbiditas. Metode penelitian adalah study pendekatan kasus (Case Study).Tekhnik pengumpulan data diperoleh dengan menggunakan data primer dan sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara, observasi,dan pemeriksaan. Data sekunder diperoleh melalui buku KIA dan hasil pemeriksaan penunjang. Pengkajian data menggunakan Manajemen Kebidanan Varney dan didokumentasikan dengan SOAP. Studi kasus dilaksanakan pada tanggal 27 November 2025 sampai 06 April 2026. Asuhan kebidanan komprehensif yang diberikan berlangsung dari masa kehamilan, bersalin, nifas, neonatus sampai KB dengan frekuensi kunjungan hamil sebanyak 3 kali, persalinan 1 kali, nifas 4 kali, neonatus 3 kali,serta KB sebanyak 2 kali. Pada masa kehamilan ibu mengalami anemia ringan dan ditatalaksanakan dengan pendidikan pemberian Fe, ibu bersalin normal pada umur kehamilan 39 minggu di RSUD dr. Soemarno Sostroadmojo. Bayi baru lahir normal dan dilakukan IMD. Nifas ibu normal, ibu memilih KB IUD. Dengan Asuhan kebidanan komprehensif akan meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan ibu.</p>Ana MaulidiyahCahyaningrum
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2026-06-242026-06-2451128136Hipnoterapi untuk Mengatasi Kecemasan Ibu Hamil di Puskesmas Tanah Kuning dan RSUD Dr. H. Jusuf Sk
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2358
<p><em>Pregnancy involves complex physiological processes triggering physical, hormonal, and psychological changes that frequently induce significant maternal anxiety. Unmanaged anxiety can elevate cortisol production excessively, thereby increasing the risk of medical complications such as hypertension, preterm labor, and low birth weight. In this context, hypnotherapy serves as a safe, non-pharmacological complementary intervention designed to induce deep relaxation, stabilize the sympathetic nervous system, and plant positive suggestions to alleviate psychological stress. This community service study aims to evaluate the application of complementary hypnotherapy in reducing anxiety among pregnant women within the working areas of UPTD Puskesmas Tanah Kuning and RSUD dr. H. Jusuf SK. This community service project was conducted in May 2026 at UPTD Puskesmas Tanah Kuning, Bulungan Regency, and RSUD dr. H. Jusuf SK, Tarakan City, North Kalimantan. The sample consisted of 21 purposively selected pregnant women. The intervention method integrated educational and demonstrative approaches through health education and basic hypnotherapy practices. Standardized pre-test and post-test questionnaires were administered to assess anxiety levels before and after the intervention, with data analyzed descriptively using frequency distributions and percentages. Demographic findings indicated that all participants (100%) were within the healthy reproductive age range (20–35 years), 95.24% were in their third trimester, and 52.38% had an ideal parity of 2–3. Pre-test results showed most participants experienced moderate anxiety (66.67%), followed by mild anxiety (19.05%) and severe anxiety (14.28%). Following the hypnotherapy and educational intervention, a significant shift in psychological indicators occurred in the post-test: the mild anxiety category surged sharply to 85.72%, moderate anxiety decreased to 14.28%, and the severe anxiety group was completely eliminated to zero percent (0%). The therapeutic mechanism relies on deep relaxation to decrease sympathetic nervous system activity, slow the heart rate, and relax muscles, allowing the subconscious mind to safely absorb positive suggestions that transform perceptions of pregnancy. The application of complementary hypnotherapy successfully reduced anxiety and enhanced the psychological readiness of pregnant women at both health facilities. Midwives are recommended to integrate hypnotherapy as a routine intervention in Antenatal Care (ANC) services to support sustainable maternal mental health.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Kehamilan melibatkan proses fisiologis kompleks yang memicu perubahan fisik, hormonal, dan psikologis, sehingga sering menimbulkan kecemasan maternal yang signifikan. Kecemasan yang tidak terkelola dengan baik dapat meningkatkan produksi hormon kortisol secara berlebihan, menaikkan risiko komplikasi medis seperti hipertensi, persalinan prematur, dan berat badan lahir rendah. Dalam konteks ini, hipnoterapi berfungsi sebagai intervensi komplementer non-farmakologis yang aman untuk merangsang relaksasi mendalam, menstabilkan sistem saraf simpatis, dan menanamkan sugesti positif guna mengurangi stres psikologis. Penelitian berbasis pengabdian masyarakat ini bertujuan mengevaluasi penerapan hipnoterapi komplementer dalam menurunkan tingkat kecemasan ibu hamil di wilayah kerja UPTD Puskesmas Tanah Kuning dan RSUD dr. H. Jusuf SK. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan pada bulan Mei 2026 di UPTD Puskesmas Tanah Kuning, Kabupaten Bulungan, dan RSUD dr. H. Jusuf SK, Kota Tarakan, Kalimantan Utara. Sampel terdiri dari 21 ibu hamil yang dipilih secara purposif. Metode intervensi mengintegrasikan pendekatan edukatif dan demonstratif melalui penyuluhan kesehatan serta praktik hipnoterapi dasar. Kuesioner pre-test dan post-test standar diberikan untuk menilai tingkat kecemasan sebelum dan sesudah intervensi, lalu data dianalisis secara deskriptif menggunakan distribusi frekuensi dan persentase. Temuan menunjukkan seluruh peserta (100%) berada pada rentang usia reproduksi sehat (20–35 tahun), 95,24% berada pada trimester ketiga, dan 52,38% memiliki paritas ideal 2–3. Hasil pre-test menunjukkan sebagian besar peserta mengalami kecemasan sedang (66,67%), diikuti kecemasan ringan (19,05%), dan kecemasan berat (14,28%). Setelah dilakukan intervensi hipnoterapi dan edukasi, terjadi pergeseran indikator psikologis yang signifikan pada post-test: kategori kecemasan ringan melonjak tajam menjadi 85,72%, kecemasan sedang menurun menjadi 14,28%, dan kelompok kecemasan berat berkurang total hingga mencapai nol persen (0%). Mekanisme terapeutik ini mengandalkan relaksasi mendalam untuk menurunkan aktivitas sistem saraf simpatis, memperlambat denyut jantung, dan melemaskan otot, sehingga alam bawah sadar dapat menyerap sugesti positif yang mengubah persepsi tentang kehamilan secara aman. Penerapan hipnoterapi komplementer berhasil menurunkan kecemasan dan meningkatkan kesiapan psikologis ibu hamil di kedua institusi tersebut. Bidan disarankan mengintegrasikan hipnoterapi sebagai intervensi non-farmakologis rutin layanan Antenatal Care (ANC) demi mendukung kesehatan mental maternal berkelanjutan.</p>Niken RiestianiAri AndayaniRosauliya HandayaniMariany Ba’ruHarti Octavia SitumorangMegawatiAndi Bella Gading SorayaIra Purnamasari Azis
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2026-06-242026-06-2451137143Asuhan Kebidanan Continuity of Care (COC) Ny.S G3P2A0 Usia 30 Tahun di Klinik Pratama Lestari I
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2148
<p><em>Continuity of care is midwifery care aimed at improving public health, particularly reducing maternal and infant mortality rates. This care includes comprehensive midwifery care, including integrated antenatal care (ANC), delivery assisted by trained healthcare professionals, postpartum care, newborn care, and family planning services. Comprehensive midwifery care for Mrs. S was provided from April to May. The midwifery care method used a descriptive approach and was documented using Varney's 7 steps and SOAP. During the third trimester, the mother complained of frequent abdominal pain that subsided after a while and was irregular, indicating false contractions. The mother already knew these were not labor contractions. Mrs. S's pregnancy was in good and normal condition, with no problems endangering the mother or baby. She stated that she did not want any tears, so she exercised with a gym ball at home. She said she received information from social media. Delivery care was provided on April 21, 2025, with a normal delivery using APN steps. Mrs. S was born spontaneously at the back of the head. She was female, weighing 2,600 grams, measuring 46 cm long, and had no perineal tears. The delivery process was assisted by a slight perineal massage during delivery. Postpartum care for the mother and newborn was provided simultaneously, with an 8-hour visit, a second visit on the third day, a third visit on the fourteenth day, and a fourth visit on the twenty-fifth day. The conclusion was that both mother and baby were healthy and there were no complications. During the postpartum period, the mother received family planning information and education (IEC) and stated that she wanted to use a 3-monthly injection. Based on the results of the comprehensive midwifery care provided to Mrs. S, it is hoped that Mrs. S will implement the IEC provided during her care. Health workers are expected to provide maximum comprehensive care to improve the quality of life for mothers and babies, and are expected to implement complementary midwifery care to provide non-pharmacological services to mothers</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Continuity of care merupakan Asuhan kebidanan dengan tujuan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat terutama mengurangi angka kematian ibu dan bayi, dengan cara melakukan Asuhan kebidanan komprehensif yang meliputi Asuhan kebidanan kehamilan yang benar yaitu dengan ANC Terpadu,persalinan dengan pertolongan tenaga kesehatan terlatih, Nifas dilakukan perawatan pasca salin, Bayi Baru Lahir (BBL) dilakuka perawatan bayi baru lahir, dan Pelayanan Keluarga Berencana (KB). Asuhan Kebidanan komprehensif pada Ny.S dilakukan mulai April sampai mei. Metode asuhan kebidanan menggunakan pendekatan yang bersifat deskriptif dan didokumentasikan menggunakan 7 langkah varney dan SOAP. Pada Asuhan kehamilan trimester III ibu datang mengeluh sering kencang-kencang pada perut lalu hilang setelah beberapa saat dan tidak teratur yang merupakan kontraksi palsu, ibu sudah tau jika ini bukan kontraksi tanda persalinan/kontraksi palsu, pada kehamilan Ny.S dalam keadaan baik dan normal, tidak ditemukan permasalahan yang membahayakan ibu dan bayi, ibu mengatakan tidak ingin ada robekan sehingga ibu melakukan gymball dirumah, ibu mengatakan mendapatkan informasi dari sosial media. Asuhan Persalinan dilakukan pada tanggal 21 April 2025 dengan Persalinan Normal dengan Langkah APN bayi Ny.S lahir spontan belakang kepala, jenis kelamin perempuan BB 2.600 gr, Panjang badan 46cm, dan tidak ada robekan perineum, pada proses persalinan dibantu sedikit pemijatan perineum disaat ibu. Asuhan pada masa nifas pada ibu dan asuhan bayi baru lahir dilakukan bersamaan yaitu kunjungan 8 jam, kunjungan kedua di hari ke tiga, kunjungan ke tiga dihari ke empat belas, kunjungan keempat dihari duapuluh lima dengan kesimpulan ibu dan bayi sehat dan tidak ada komplikasi. Pada Masa nifas ibu sudah diberikan KIE KB ibu mengatakan ingin menggunakan KB suntik 3 bulan. Berdasarkan hasil asuhan kebidanan komprehensif yang telah dilakukan pada Ny.S diharapkan Ny.S dapat menerapkan KIE yang telah diberikan selama diberikannya asuhan. Diharapkan tenaga Kesehatan memberikan pelayanan asuhan komprehensif yang maksimal untuk menaikan derajat hidup ibu dan bayi, serta diharapkan menerapkan asuhan kebidanan komplementer untuk memberikan pelayanan kepada ibu yang nonfarmakologi.</p>Ana RiandariAri Andayani
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2026-06-242026-06-2451144155Asuhan Kebidanan Continuity of Care (COC) pada Ny. S Umur 45 Tahun G3P2A0 dengan Resiko Tinggi di RS Ken Saras
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2140
<p><em>In Indonesia, maternal and child health remains a major concern due to the high Maternal Mortality Rate (MMR) and Infant Mortality Rate (IMR). Efforts to reduce MMR and IMR are carried out through continuous midwifery care or Continuity of Care (CoC), starting from pregnancy, childbirth, postpartum, newborn care, to family planning services. This study aimed to provide comprehensive midwifery care for Mrs. S, a 45-year-old G3P2A0 woman with a high-risk pregnancy at Ken Saras Hospital. This study used a descriptive method with a case study approach. Data were collected through interviews, observations, physical examinations, documentation of the maternal and child health (MCH) book, and medical records. Care was provided continuously from the third trimester of pregnancy, childbirth, postpartum period, newborn care, to family planning services. The results showed that Mrs. S experienced a high-risk pregnancy due to maternal age >35 years, with third-trimester complaints including frequent urination, back pain, and fatigue, which were managed through education and non-pharmacological management. Delivery was performed by cesarean section based on certain indications. The baby was born in good condition and received standard newborn care. During the postpartum period, the mother experienced suboptimal breast milk production, therefore breastfeeding education, oxytocin massage, and nutritional support were provided. In family planning services, the mother chose the MOW contraceptive method. The conclusion of this study shows that Continuity of Care midwifery care is effective in detecting risk factors, preventing complications, and improving maternal and infant health. </em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Kondisi kesehatan ibu dan anak di Indonesia masih menjadi perhatian utama karena tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). Upaya penurunan AKI dan AKB dilakukan melalui pelayanan kebidanan berkesinambungan atau Continuity of Care (CoC) mulai dari masa kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir hingga keluarga berencana. Penelitian ini bertujuan memberikan asuhan kebidanan komprehensif pada Ny. S umur 45 tahun G3P2A0 dengan risiko tinggi di RS Ken Saras. Metode penelitian menggunakan deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, dokumentasi buku KIA, dan rekam medis. Asuhan diberikan secara berkelanjutan sejak kehamilan trimester III, persalinan, nifas, bayi baru lahir, hingga pelayanan keluarga berencana. Hasil asuhan menunjukkan bahwa Ny. S mengalami kehamilan risiko tinggi karena usia >35 tahun dengan keluhan trimester III berupa sering buang air kecil, nyeri punggung, dan mudah lelah yang dapat diatasi melalui edukasi dan penatalaksanaan nonfarmakologis. Persalinan dilakukan secara sectio caesarea atas indikasi tertentu. Bayi lahir dalam keadaan baik dan mendapatkan asuhan sesuai standar. Pada masa nifas, ibu mengalami produksi ASI belum optimal sehingga diberikan edukasi menyusui, pijat oksitosin, dan dukungan nutrisi. Pada pelayanan keluarga berencana, ibu memilih kontrasepsi MOW. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa asuhan kebidanan Continuity of Care efektif dalam mendeteksi faktor risiko, mencegah komplikasi, dan meningkatkan kesehatan ibu serta bayi.</p>Ambar WatiHeni Setyowati
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2026-06-242026-06-2451156165Edukasi dan Pelatihan Yoga untuk Mengurangi Nyeri Haid Primer Bagi Remaja Putri
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2322
<p><em>Primary dysmenorrhea is a common health problem among adolescent girls and often disrupts daily activities. The usual management is the consumption of pain relievers, but non-pharmacological approaches such as yoga are still rarely known and practiced. This community service program aimed to increase adolescents’ knowledge about yoga as a complementary therapy to reduce primary menstrual pain so that adolescent girls are able to perform yoga movements independently to reduce pain and enhance comfort during menstruation. The program was conducted at SMPN 01 Peso and SMPN 03 Tana Tidung on May 22, 2026, involving 20 eighth-grade students. The methods included health education, yoga training, and evaluation of knowledge before and after the intervention. The results showed a significant improvement: prior to education, 80% of respondents had poor knowledge and 20% had moderate knowledge; after education, all respondents (100%) achieved good knowledge. These findings confirm that yoga education and training effectively enhance adolescents’ understanding of safe, independent, and non-pharmacological management of primary dysmenorrhea. This program is expected to be sustainably implemented in schools and adolescent health services to support reproductive health and improve the quality of life of adolescent girls. </em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Nyeri haid primer (dismenore) merupakan masalah kesehatan yang umum dialami remaja putri dan sering mengganggu aktivitas sehari-hari. Penanganan yang lazim dilakukan adalah konsumsi obat pereda nyeri, namun pendekatan non-farmakologis seperti yoga masih jarang diketahui dan diterapkan. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan remaja putri mengenai yoga sebagai terapi komplementer dalam mengurangi nyeri haid primer sehingga remaja putri mampu melakukan gerakan yoga secara mandiri untuk mengurangi nyeri dan meningkatkan kenyamanan selama menstruasi. Program dilaksanakan di SMPN 01 Peso dan SMPN 03 Tana Tidung pada 22 Mei 2026 dengan melibatkan 20 siswi kelas VIII. Metode kegiatan meliputi penyuluhan, pelatihan yoga, serta evaluasi pengetahuan sebelum dan sesudah intervensi. Hasil menunjukkan adanya peningkatan signifikan: sebelum edukasi, 80% responden memiliki pengetahuan kurang dan 20% cukup; setelah edukasi, seluruh responden (100%) mencapai kategori pengetahuan baik. Temuan ini menegaskan bahwa edukasi dan pelatihan yoga efektif meningkatkan pemahaman remaja putri tentang penanganan nyeri haid primer secara mandiri, aman, dan non-farmakologis. Program ini diharapkan dapat diterapkan secara berkelanjutan di sekolah maupun posyandu remaja untuk mendukung kesehatan reproduksi dan kualitas hidup remaja putri.</p>Indra PuspitaAndi SrianaIntan YemimaTita Nadea Pratiwi RahmaAna Lestari NingsihHerlina LilingMirwanaHeni Hirawati Pranoto
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2026-06-242026-06-2451166171Asuhan Kebidanan Komprehensif pada Ny. N Usia 30 Tahun G4P3A0 di Wilayah Kerja Puskesmas Kajen I Kabupaten Pekalongan
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2291
<p><em>Maternal Mortality Rate (MMR) and Infant Mortality Rate (IMR) remain important indicators in assessing the degree of public health. In Indonesia, the MMR reaches 305 per 100,000 live births and the IMR is 22 per 1,000 live births. These high rates are influenced by various factors such as hemorrhage, infection, hypertension in pregnancy, and complications during childbirth and postpartum. One of the efforts to reduce MMR and IMR is through continuous midwifery care or Continuity of Care (CoC), which provides comprehensive care from pregnancy to family planning. This study used a descriptive method with a case study approach on Mrs. N, 30 years old, G4P3A0, in the working area of Puskesmas Kajen I, Pekalongan Regency,. Midwifery care was provided comprehensively covering pregnancy, childbirth, postpartum, newborn care, and family planning services using a midwifery management approach. The results showed that the implementation of Continuity of Care midwifery services was carried out well according to service standards. The condition of the mother and baby during pregnancy, childbirth, postpartum, and the newborn period was good without significant complications. The mother also understood self-care, newborn care, and the importance of contraceptive use. In conclusion, the implementation of comprehensive midwifery care through Continuity of Care is effective in improving the quality of services and supporting efforts to reduce MMR and IMR through early detection and appropriate management. </em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) masih menjadi indikator penting dalam menilai derajat kesehatan masyarakat. Di Indonesia, AKI mencapai 305 per 100.000 kelahiran hidup dan AKB sebesar 22 per 1.000 kelahiran hidup. Tingginya angka tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti perdarahan, infeksi, hipertensi dalam kehamilan, serta komplikasi persalinan dan nifas. Salah satu upaya untuk menurunkan AKI dan AKB adalah melalui pelayanan kebidanan berkesinambungan atau Continuity of Care (CoC) yang memberikan asuhan secara menyeluruh sejak kehamilan hingga keluarga berencana. Metode yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan studi kasus pada Ny. N usia 30 tahun G4P3A0 di wilayah kerja Puskesmas Kajen Kabupaten Pekalongan. Asuhan kebidanan diberikan secara komprehensif meliputi masa kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir, hingga pelayanan keluarga berencana dengan pendekatan manajemen kebidanan. Hasil menunjukkan bahwa asuhan kebidanan secara Continuity of Care dapat dilaksanakan dengan baik sesuai standar pelayanan. Kondisi ibu dan bayi selama kehamilan, persalinan, nifas, dan bayi baru lahir dalam keadaan baik tanpa komplikasi yang berarti. Ibu juga memahami perawatan diri, perawatan bayi, serta pentingnya penggunaan kontrasepsi. Kesimpulannya, penerapan asuhan kebidanan komprehensif secara Continuity of Care efektif dalam meningkatkan kualitas pelayanan serta mendukung upaya penurunan AKI dan AKB melalui deteksi dini dan penanganan yang tepat.</p>Anggraeni Indri HHeni Hirawati Pranoto
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2026-06-242026-06-2451172180Pemantauan Ibu Hamil Usia Resiko Tinggi Melalui Pendekatan Continuity of Care (COC)
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2124
<p><em>Maternal Mortality Rate (MMR) and Infant Mortality Rate (IMR) are critical indicators of a nation's health status. An effective strategy for early risk detection and reducing mortality is implementing continuity of care (COC) in midwifery practices. To provide comprehensive and continuous midwifery care starting from the third trimester of pregnancy, labor, postpartum, neonates, to family planning (KB) services for Mrs. S in Sambirejo Village. This case study applied the 7-step Varney midwifery management and was documented using the SOAP format. The subject was Mrs. S, a 35-year-old G3P2A0. Care was standardly given from 32 weeks of gestation in January 2026 until 6 weeks postpartum in April 2026. During the third trimester, physiological discomfort in the form of back pain was managed through prenatal yoga. Delivery occurred at 39 weeks of gestation at RSGM via Sectio Caesarea (SC) due to obstetric indication, delivering a healthy baby boy weighing 3235 grams. The postpartum period progressed normally with good uterine involution and smooth lactation. Neonatal visits indicated a healthy infant. At the end of postpartum, the client opted for an implant contraceptive method. Overall, the continuity of care (COC) for Mrs. S was carried out successfully without complications, effectively fulfilling the client's reproductive health needs and transitioning her to long-acting reversible contraception.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan indikator penting dalam derajat kesehatan suatu negara. Salah satu strategi efektif untuk mendeteksi dini faktor risiko dan menekan angka kematian tersebut adalah penerapan asuhan kebidanan secara berkesinambungan (Continuity of Care/ COC). Memberikan asuhan kebidanan secara komprehensif dan berkesinambungan dimulai dari masa kehamilan trimester III, persalinan, nifas, neonatus, hingga pilihan pelayanan keluarga berencana (KB) pada Ny. S di Desa Sambirejo. Jenis laporan menggunakan studi penelaahan kasus (case study) dengan pendekatan manajemen kebidanan 7 langkah Varney dan didokumentasikan dalam format SOAP. Subjek studi adalah Ny. S umur 35 tahun G3P2A0. Asuhan diberikan sejak usia kehamilan 32 minggu pada Januari 2026 hingga masa nifas 6 minggu pada April 2026. Pada masa kehamilan trimester III ditemukan ketidaknyamanan fisiologis berupa punggung pegal-pegal yang diatasi dengan latihan prenatal yoga. Persalinan berlangsung pada usia kehamilan 39 minggu di RSGM secara Sectio Caesarea (SC) atas indikasi medis/obstetri, melahirkan bayi laki-laki dengan berat 3235gram secara sehat. Masa nifas berlangsung normal, involusi uterus baik, dan ASI keluar dengan lancar. Kunjungan neonatus menunjukkan pertumbuhan bayi yang sehat. Pada akhir masa nifas, ibu memilih menjadi akseptor baru KB implan. Secara keseluruhan asuhan kebidanan berkesinambungan (COC) pada Ny. S telah terlaksana dengan baik secara fisiologis tanpa adanya komplikasi, serta berhasil menjembatani kebutuhan ibu dalam memilih metode kontrasepsi jangka panjang.</p>Annisa Mastri Wahyu Nur JatiMasruroh
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2026-06-242026-06-2451181189Peningkatan Pengetahuan dan Keterampilan Ibu Hamil Tentang Relaksasi dan Pernapasan Melalui Kegiatan Prenatal Yoga
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2327
<p><em>Prenatal yoga is a non-pharmacological method that can help pregnant women reduce physical tension, anxiety, and psychological complaints during pregnancy. Knowledge and skills of pregnant women regarding relaxation and breathing techniques through prenatal yoga are still limited. This community service activity aimed to improve pregnant women's knowledge and skills in performing prenatal yoga. The program was conducted in 03 June 2026, in three locations, at Health Center Sebakung Taka, East Kalimantan Province, Nasyifa Medika Medical Clinic, Central Java Province, and Health Center Juata, North Kalimantan Province, involving 25 pregnant women. The method used was through education, demonstration, hands-on practice, and evaluation using pre-test and post-test questionnaires. The pre-test results showed that most participants had low knowledge (76.9%). After participating in the education and prenatal yoga practice, most participants had high knowledge (69.2%), and none remained in the low category. These results indicate that education combined with practical exercises is effective in improving pregnant women's understanding and skills regarding prenatal yoga, relaxation, and breathing techniques. Prenatal yoga education should be conducted continuously through posyandu activities and community health programs to support comfort and readiness for childbirth.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan indikator penting dalam derajat kesehatan suatu negara. Salah satu strategi efektif untuk mendeteksi dini faktor risiko dan menekan angka kematian tersebut adalah penerapan asuhan kebidanan secara berkesinambungan (Continuity of Care/ COC). Memberikan asuhan kebidanan secara komprehensif dan berkesinambungan dimulai dari masa kehamilan trimester III, persalinan, nifas, neonatus, hingga pilihan pelayanan keluarga berencana (KB) pada Ny. S di Desa Sambirejo. Jenis laporan menggunakan studi penelaahan kasus (case study) dengan pendekatan manajemen kebidanan 7 langkah Varney dan didokumentasikan dalam format SOAP. Subjek studi adalah Ny. S umur 35 tahun G3P2A0. Asuhan diberikan sejak usia kehamilan 32 minggu pada Januari 2026 hingga masa nifas 6 minggu pada April 2026. Pada masa kehamilan trimester III ditemukan ketidaknyamanan fisiologis berupa punggung pegal-pegal yang diatasi dengan latihan prenatal yoga. Persalinan berlangsung pada usia kehamilan 39 minggu di RSGM secara Sectio Caesarea (SC) atas indikasi medis/obstetri, melahirkan bayi laki-laki dengan berat 3235gram secara sehat. Masa nifas berlangsung normal, involusi uterus baik, dan ASI keluar dengan lancar. Kunjungan neonatus menunjukkan pertumbuhan bayi yang sehat. Pada akhir masa nifas, ibu memilih menjadi akseptor baru KB implan. Secara keseluruhan asuhan kebidanan berkesinambungan (COC) pada Ny. S telah terlaksana dengan baik secara fisiologis tanpa adanya komplikasi, serta berhasil menjembatani kebutuhan ibu dalam memilih metode kontrasepsi jangka panjang.</p>Nurul FajriahIffatul Muna AEka Agustin Sinar LinaPebri Satni LestariNurul KhaefaGina AudinaNurul MuslimahAyu Arum SariMasruroh
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2026-06-242026-06-2451190201Studi Kasus : Asuhan Kebidanan Komprehensif pada Ny. E Umur 20 Tahun GIP0A0 dengan Penerapan Massage Effleurage di Klinik Jhon’s
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2045
<p><em>Maternal and infant mortality rates are key indicators of a country’s well-being. To reduce these rates, high-quality, comprehensive, and evidence-based maternal and child health services are essential. One of the most common discomforts experienced during the third trimester of pregnancy is back pain. An effective non-pharmacological treatment is the effleurage massage. The research method used was a descriptive case study approach at John’s Clinic from April to June 2026. The research subject was Ms. E, a 20-year-old G1P0A0 mother in her third trimester of pregnancy who was experiencing back pain. After receiving the effleurage massage intervention, Ms. E reported that her lower back pain had decreased and that she always felt drowsy during the effleurage massage. The conclusion is that effleurage massage is effective in reducing back pain in pregnant women and makes them feel comfortable. Pregnant women and their families are advised to perform effleurage massage independently to help reduce back pain and provide comfort to the mother.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>AKI dan AKB merupakan salah satu indikator kesejahteraan suatu negara. Untuk menurunkan AKI dan AKB, diperlukan pelayanan kesehatan ibu dan anak yang berkualitas dan komprehensif berbasis evidence based. Salah satu gangguan ketidaknyamanan yang sering dirasakan pada kehamilan trimester III yakni nyeri punggung. Penanganan nonfarmokologi yang efektif adalah dengan melakukan massage effleurage. Metode penelitian yang digunakan yakni pendekatan deskriptif studi kasus di klinik Jhon’s sejak bulan April sampai dengan Juni 2026. Subjek penelitian adalah Ny, E umur 20 tahun, ibu G1P0A0 ibu hamil trimester III yang mengalami nyeri punggung. Setelah diberikan intervensi massage effleurage, Ny. E mengatakan nyeri pada pinggangnya berkurang dan selalu merasa mengantuk saat dilakukan massage effleurage. Kesimpulan massage effleurage efektif menurunkan nyeri pada punggung ibu dan ibu merasa nyaman. Ibu hamil dan keluarga disarankan menerapkan massage effleurage secara mandiri untuk membantu menurunkan nyeri punggung dan memberikan rasa nyaman pada ibu.</p>Armelinda Octavia NayEti Salafas
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2026-06-242026-06-2451202209Pemberdayaan Remaja Putri melalui Yoga sebagai Strategi Nonfarmakologis Pengelolaan Dismenore
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2391
<p><em>Dysmenorrhea is one of the most common reproductive health problems among adolescent girls and may interfere with daily activities, learning concentration, and quality of life. Based on a community needs assessment conducted in Kalibanger Village, Gemawang Health Center area, many adolescent girls experienced menstrual pain but had limited knowledge regarding safe and effective non-pharmacological management. Yoga, which combines stretching exercises, breathing techniques, and relaxation, is considered a potential strategy to reduce dysmenorrhea. This community service program aimed to improve adolescent girls’ skills in practicing yoga as a non-pharmacological approach to managing menstrual pain. The activity involved 15 adolescent girls who had experienced menstruation. The intervention consisted of health education, yoga demonstrations, guided practice sessions, and mentoring. Evaluation was conducted using an observation checklist assessing participants’ ability to follow instructions, body positioning, breathing techniques, movement sequence performance, and independent yoga practice. The results showed that most participants demonstrated good performance in following yoga instructions (86.7%), practicing yoga independently (86.7%), body positioning accuracy (80.0%), movement sequence performance (80.0%), and breathing techniques (73.3%). Participants also showed high enthusiasm throughout the activity. This initiative demonstrates that health education combined with yoga demonstrations and practice is effective in improving adolescent girls’ ability to practise yoga as a non-pharmacological strategy for managing dysmenorrhoea. Similar initiatives should be developed on an ongoing basis as part of efforts to promote and prevent reproductive health issues amongst adolescents.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Dismenore merupakan salah satu masalah kesehatan reproduksi yang sering dialami remaja putri dan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, konsentrasi belajar, serta kualitas hidup. Berdasarkan identifikasi kebutuhan di Desa Kalibanger wilayah kerja Puskesmas Gemawang, sebagian remaja putri mengalami nyeri haid namun belum mengetahui cara penanganan nonfarmakologis yang aman dan mudah dilakukan secara mandiri. Salah satu upaya yang dapat diterapkan untuk mengurangi dismenore adalah yoga, yaitu latihan yang mengombinasikan gerakan peregangan, teknik pernapasan, dan relaksasi. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan keterampilan remaja putri dalam melakukan yoga sebagai upaya nonfarmakologis pengelolaan dismenore. Kegiatan dilaksanakan di Desa Kalibanger wilayah kerja Puskesmas Gemawang dengan melibatkan 15 remaja putri yang telah mengalami menstruasi. Metode yang digunakan meliputi penyuluhan kesehatan, demonstrasi, praktik yoga, dan pendampingan. Evaluasi dilakukan menggunakan lembar observasi keterampilan praktik yoga yang mencakup kemampuan mengikuti instruksi, ketepatan posisi tubuh, teknik pernapasan, kelancaran gerakan, dan kemampuan melakukan yoga secara mandiri. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa sebagian besar remaja putri memiliki keterampilan yang baik dalam mengikuti instruksi gerakan yoga (86,7%), melakukan yoga secara mandiri (86,7%), ketepatan posisi tubuh (80,0%), kelancaran rangkaian gerakan (80,0%), dan teknik pernapasan (73,3%). Remaja putri juga menunjukkan antusiasme yang tinggi selama kegiatan berlangsung. Kegiatan ini menunjukkan bahwa penyuluhan kesehatan yang dikombinasikan dengan demonstrasi dan praktik yoga efektif dalam meningkatkan keterampilan remaja putri untuk melakukan yoga sebagai salah satu strategi nonfarmakologis dalam mengelola dismenore. Kegiatan serupa perlu dikembangkan secara berkelanjutan sebagai bagian dari upaya promotif dan preventif kesehatan reproduksi remaja.</p>Kurnia Putri PermatasariDesi Ambar SariSri RatmawatiIla LarasatiSiti HasanahMerry YulianaSepta PuspitasariRopeahEti Salafas
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2026-06-242026-06-2451210217Asuhan Kebidanan Komprehensif pada Ny. A Umur 29 Tahun G1P0A0 di Desa Wringinputih
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2060
<p><em>Continuity of Care (COC) is a continuous care from pregnancy to Family Planning (KB) as an effort to reduce the Maternal Mortality Rate (MMR) and Infant Mortality Rate (IMR). In reality, there are still deliveries that experience complications resulting in maternal and infant deaths. This study aims to provide comprehensive midwifery care to Mrs. A, aged 29, starting from pregnancy, childbirth, postpartum, newborn to family planning services. The method used is a case study with data collection through interviews, observations, physical examinations and documentation. The results of the care show that Mrs. A and her baby are in good condition throughout the entire series of care, with no significant complications found and demonstrating understanding and compliance with the education provided. These results indicate that Continuity of Care services play an important role in improving the quality of maternal and infant health, as well as providing a positive experience for clients during the pregnancy process until postpartum care.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Asuhan Continuity of Care (COC) merupakan asuhan secara berkesinambungan dari hamil sampai dengan Keluarga Berencana (KB) sebagai upaya penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) & Angka Kematian Bayi (AKB). Kenyataannya masih ada persalinan yang mengalami komplikasi sehingga mengakibatkan kematian ibu dan bayi. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan asuhan kebidanan secara komprehensif pada Ny. A, usia 29 tahun, mulai dari masa kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir hingga pelayanan keluarga berencana. Metode yang digunakan adalah studi kasus dengan pengumpulan data melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik dan dokumentasi. Hasil dari asuhan menunjukkan bahwa Ny. A dan bayinya berada dalam kondisi baik selama seluruh rangkaian asuhan, dengan tidak ditemukannya komplikasi yang berarti serta menunjukkan pemahaman dan kepatuhan terhadap edukasi yang diberikan. Hasil ini menunjukkan bahwa pelayanan Continuity of Care berperan penting dalam meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan bayi, serta memberikan pengalaman positif bagi klien dalam menjalani proses kehamilan hingga perawatan pasca persalinan.</p>Bella SafitriKartika Sari
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2026-06-242026-06-2451218230Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Akupresur dalam Menangani Mual dan Muntah Pada Ibu Hamil
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2380
<p><em>Emesis gravidarum is a common complaint experienced by pregnant women during the first trimester and can interfere with daily activities, potentially progressing to hyperemesis gravidarum if not managed appropriately. One non-pharmacological method that is safe, practical, and easy to perform independently is acupressure at the Pericardium 6 (PC6) point. However, limited knowledge and skills among pregnant women regarding this technique remain barriers to its utilization. This community service program aimed to improve the knowledge and skills of first-trimester pregnant women in managing emesis gravidarum through health education and hands-on training in PC6 acupressure. The activity involved 23 pregnant women, most of whom had a secondary education background (60.9%). The method of implementing the activity is counseling and demonstration or practice of acupressure at point P6, as well as evaluation through pretest and posttest. Results: Pretest results showed that 60.9% of participants had poor knowledge regarding PC6 acupressure for managing nausea and vomiting during pregnancy. Following the educational session and practical training, participants demonstrated a significant improvement in knowledge, with 82.6% achieving a good level of knowledge and no participants remaining in the poor knowledge category. Participants were also able to correctly demonstrate the PC6 acupressure technique and actively participated throughout the activity. The health education and training program on PC6 acupressure effectively improved the knowledge and skills of first-trimester pregnant women in managing emesis gravidarum independently. This program serves as a promising promotive and preventive intervention that can be integrated into Antenatal Care (ANC) services and Pregnancy Classes to support maternal health and self-care during pregnancy.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Emesis gravidarum merupakan keluhan yang sering dialami ibu hamil pada trimester pertama dan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari serta berisiko berkembang menjadi hiperemesis gravidarum apabila tidak ditangani dengan baik. Salah satu metode nonfarmakologis yang aman, mudah, dan dapat dilakukan secara mandiri adalah teknik akupresur pada titik Perikardium 6 (PC6). Namun, masih rendahnya pengetahuan dan keterampilan ibu hamil mengenai teknik ini menjadi salah satu hambatan dalam penanganan mual muntah selama kehamilan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu hamil trimester pertama dalam mengatasi emesis gravidarum melalui edukasi kesehatan dan pelatihan akupresur PC6. Kegiatan diikuti oleh 23 ibu hamil dengan mayoritas berpendidikan menengah (60,9%). Metode pelaksanaan kegiatan yakni penyuluhan dan demonstrasi atau praktek akupresur titik P6, serta evaluasi melalui pretest dan posttest. Hasil: Hasil pretest menunjukkan bahwa sebagian besar peserta memiliki tingkat pengetahuan kurang mengenai akupresur PC6 (60,9%). Setelah diberikan penyuluhan dan pelatihan, terjadi peningkatan pengetahuan yang signifikan dengan kategori baik sebesar 82,6%, serta tidak ada lagi peserta yang memiliki pengetahuan kurang. Selain itu, peserta mampu mempraktikkan teknik akupresur PC6 dengan benar dan menunjukkan antusiasme yang tinggi selama kegiatan berlangsung. Program edukasi kesehatan dan pelatihan akupresur PC6 efektif meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu hamil trimester pertama dalam mengatasi emesis gravidarum secara mandiri. Kegiatan ini dapat menjadi upaya promotif dan preventif yang berpotensi diintegrasikan ke dalam pelayanan Antenatal Care (ANC) dan Kelas Ibu Hamil untuk mendukung kesehatan serta kemandirian ibu selama masa kehamilan.</p>Nita NurhandayaniAgit WahyuningsihHasniTuti PuwasihLinda RustiyanaRasidaAnita SamperaungKartika Sari
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2026-06-242026-06-2451231239Asuhan Kebidanan Continuity of Care (COC) pada Ny. Hm Umur 31 Tahun P2A0 Aseptor Keluarga Berencana (KB) Pascasalin dengan Metode IUD (Intrauterine Device) di UPTD Puskesmas Jambuk
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2102
<p><em>In developing countries, the use of IUDs only reaches 6.7%, while in Indonesia the use of IUDs is 6.1%. The national Family Planning program is an important program for national development and national progress. The use of the Intra Uterine Device (IUD) contraceptive method is one of the most effective and safe long-term contraceptive methods. The World Health Organization (WHO) recommends a minimum pregnancy interval of 24 months to reduce the risk of maternal and child mortality and morbidity, improve maternal and child health, ensure adequate nutrition for both mother and child, and support the psychological development of children. The purpose of this study was to provide Continuity of Care (CoC) midwifery care to Mrs. HM, a 31 year old P2A0 postpartum family planning acceptor using the IUD (Intrauterine Device) method at UPTD Puskesmas Jambuk. This study used a descriptive case study approach with one sample, namely a second-trimester pregnant woman, who was followed throughout pregnancy, childbirth, postpartum, neonatal care, and family planning services. Family planning midwifery care for Mrs. HM was carried out through focused data assessment consisting of subjective and objective data, determining assessments, conducting management and implementation, and performing evaluations. During the family planning care, services were provided according to Mrs. HM’s needs using the IUD contraceptive method. It is expected that midwifery services can become more qualified from pregnancy to family planning according to midwifery service standards, thereby reducing the increase in maternal and infant mortality rates in Indonesia.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Di negara berkembang pengguna IUD hanya mencapai 6,7%, Di Indonesia penggunaan IUD 6,1%. Program Kelurga Berencana nasional merupakan program penting bagi pembangunan nasional dan kemajuan bangsa pemakaian metode kontrasepsi Intra Uterine Device (IUD) adalah salah satu alat kontrasepsi jangka panjang yang paling efektif dan aman. WHO merekomendasikan untuk mengatur jarak kehamilan minimal 24 bulan untuk menurunkan risiko kematian serta kesakitan pada ibu dan anak, meningkatkan kesehatan ibu dan anak, menjamin terpenuhinya nutrisi bagi ibu dan anak, serta menjaga perkembangan psikologis anak. Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan asuhan secara Contuinity of Care (CoC) pada Ny. HM Umur 31 Tahun P2A0 aseptor keluarga berencana (KB) pascasalin dengan metode IUD (intrauterine device) di UPTD Puskesmas Jambuk. Metode dengan penelitian deskriptif studi penelaahan kasus (Case Study) dengan satu sampel seorang ibu hamil trimester II, diikuti proses hamil,persalinan, nifas, neonatus dan KB. Hasil Asuhan kebidanan keluarga berencana pada Ny. HM diberikan dengan melakukan pengkajian data fokus yaitu data subyektif dan data objekktif, menentukan assesment, melakukan penatalaksanaan, implementasi, melakukan evaluasi. Selama asuhan KB dilakukan sesuai dengan kebutuhan Ny HM menggunakan KB IUD. Pelayanan kebidanan diharapkan dapat lebih berkualitas mulai hamil sampai dengan KB dengan standar pelayanan kebidanan sehingga dapat mengurangi terjadinya peningkatan AKI dan AKI di Indonesia.</p>Chatrine SugiartiIsri Nasifah
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
2026-06-242026-06-2451240247