Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw
<div style="border: 2px #444F71 solid; padding: 10px; background-color: #f0ffff; text-align: left;"> <ol> <li class="show">Prosiding Seminar Nasional dan Call for Paper Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo</li> <li class="show">Initials: semnasdancfpbidanunw</li> <li class="show">Frekuensi : 6 Bulanan</li> <li class="show">ISSN : Print: 2961-7340 dan Online : 2962-2913</li> <li class="show">Publisher: Program Studi Kebidanan Program Sarjana dan Prodi Pendidikan Profesi Bidan Program Profesi Fakultas Kesehatan, Universitas Ngudi Waluyo</li> </ol> </div> <p align="justify"><strong>Prosiding Seminar Nasional dan Call for Paper Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo</strong> merupakan jurnal prosiding open access, diterbitkan oleh Program Studi Kebidanan Program Sarjana dan Prodi Pendidikan Profesi Bidan Program Profesi Fakultas Kesehatan, Universitas Ngudi Waluyo, dimana terdiri dari hasil penelitian pada bidang Kebidanan. semua artikel yang akan diterbitkan melalui proses editor yang direview oleh dua reviewer secara <strong>double-blind review </strong>process. Dewan redaksi menerima artikel : (1) Theoretical articles; (2) Empirical studies; (3) Case studies; (4) Literature Review . </p>en-US[email protected] (Ida Sofiyanti)[email protected] (Eko Nur Hermansyah)Wed, 24 Jun 2026 00:00:00 +0000OJS 3.3.0.20http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss60Studi Kasus: Penatalaksanaan Sumbatan Asi dengan Terapi Non-Farmakologi
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2035
<p><em>Breast milk blockage is a common problem experienced by breastfeeding mothers due to inadequate milk removal, causing breast pain, swelling, and hardness. This condition can interfere with breastfeeding and reduce maternal comfort during the postpartum period. One non-pharmacological management that can be used is a combination of breastcare, warm compresses, and cold cabbage leaf compresses. This study aimed to determine the effect of these interventions on reducing breast milk blockage in breastfeeding mothers. This study used a case study method on Mrs. M, 41 years old, P3A0, in Kalirejo Village, Semarang Regency. Data were collected through interviews, physical examination, and documentation. Interventions were carried out for 15 days, including breastcare, warm compresses twice daily, and cold cabbage leaf compresses three times daily. The results showed improvement after the intervention, including smoother breast milk flow, softer breasts, reduced pain, and decreased swelling. However, the improvement was not optimal because the mother did not perform the therapy consistently. In conclusion, the combination of breastcare, warm compresses, and cold cabbage leaf compresses can help reduce breast milk blockage in breastfeeding mothers, although the effectiveness depends on the mother’s consistency in performing the therapy.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Sumbatan ASI merupakan masalah yang sering dialami ibu menyusui akibat pengeluaran ASI yang tidak optimal sehingga menyebabkan payudara terasa nyeri, bengkak, dan keras. Kondisi ini dapat mengganggu proses menyusui dan menurunkan kenyamanan ibu postpartum. Salah satu penatalaksanaan nonfarmakologi yang dapat dilakukan adalah kombinasi breastcare, kompres hangat, dan kompres daun kubis dingin. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh kombinasi terapi tersebut terhadap penurunan sumbatan ASI pada ibu menyusui. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus pada Ny. M usia 41 tahun P3A0 di Kelurahan Kalirejo, Kabupaten Semarang. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, pemeriksaan fisik, dan dokumentasi. Intervensi dilakukan selama 15 hari berupa breastcare, kompres hangat dua kali sehari, dan kompres daun kubis dingin tiga kali sehari. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbaikan kondisi setelah intervensi, yaitu ASI mulai lancar, payudara terasa lebih lunak, nyeri berkurang, dan pembengkakan menurun. Namun, perubahan yang terjadi belum optimal karena ibu kurang konsisten dalam melakukan terapi. Simpulan penelitian menunjukkan bahwa kombinasi breastcare, kompres hangat, dan kompres daun kubis dingin dapat membantu mengurangi sumbatan ASI pada ibu menyusui, meskipun keberhasilannya dipengaruhi oleh konsistensi ibu dalam melakukan terapi.</p>Emi Rafita Sari, Ida Sofiyanti
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2035Wed, 24 Jun 2026 00:00:00 +0000Optimalisasi Kesehatan Masyarakat pada Ibu Hamil, Balita, Ibu Menyusui dan Remaja Putri di Rw 3 Kelurahan Genuk Kabupaten Semarang
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2352
<p><em>Maternal and child health is an essential component of public health development. Various health problems are still encountered among pregnant women, toddlers, adolescents, and breastfeeding mothers, including nausea and vomiting and back pain during pregnancy, feeding difficulties among toddlers, anemia and menstrual pain among adolescents, and suboptimal breast milk production among breastfeeding mothers. This community midwifery program aimed to improve community knowledge and skills in maintaining health independently through promotive, preventive, educational, and community empowerment approaches in RW 03 Genuk Village, West Ungaran District, Semarang Regency. The methods included community assessment, identification and prioritization of health problems using the Urgency, Seriousness, and Growth (USG) method, planning, implementation, and evaluation. The target groups consisted of pregnant women, toddlers, adolescents, and breastfeeding mothers. Interventions included acupressure education and demonstrations for reducing pregnancy-related nausea and vomiting, prenatal yoga for relieving back pain, Tui Na massage to improve toddlers’ appetite, anemia education and acupressure for menstrual pain management among adolescents, and hypnobreastfeeding for breastfeeding mothers. The results showed an improvement in participants’ knowledge and skills regarding self-health management. High community participation indicated that the community midwifery approach was effective in improving health awareness and promoting positive health behaviors within the community.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Kesehatan ibu dan anak merupakan salah satu aspek penting dalam pembangunan kesehatan masyarakat. Berbagai permasalahan kesehatan masih ditemukan pada kelompok ibu hamil, balita, remaja, dan ibu menyusui, seperti mual muntah dan nyeri punggung pada kehamilan, kesulitan makan pada balita, anemia dan nyeri haid pada remaja, serta kurang optimalnya produksi ASI pada ibu menyusui. Kegiatan kebidanan komunitas ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam menjaga kesehatan secara mandiri melalui pendekatan promotif, preventif, edukatif, dan pemberdayaan masyarakat di RW 03 Kelurahan Genuk, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang. Metode yang digunakan meliputi pengkajian komunitas, identifikasi dan penentuan prioritas masalah dengan metode Urgency, Seriousness, and Growth (USG), perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi kegiatan. Sasaran kegiatan terdiri atas ibu hamil, balita, remaja, dan ibu menyusui. Intervensi yang diberikan meliputi edukasi dan demonstrasi akupresur untuk mengurangi mual muntah pada ibu hamil, prenatal yoga untuk mengurangi nyeri punggung, pijat Tui Na untuk meningkatkan nafsu makan balita, pendidikan kesehatan anemia dan akupresur nyeri haid pada remaja, serta hypnobreastfeeding pada ibu menyusui. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dan keterampilan peserta mengenai upaya pemeliharaan kesehatan. Tingginya partisipasi masyarakat menunjukkan bahwa pendekatan kebidanan komunitas efektif dalam meningkatkan kesadaran dan perilaku kesehatan masyarakat.</p>Emi Rafita Sari, Maria Jessyca Tasuib, Desi Viviana, Milya Rizki, Yuliance Kabak, Ida Sofiyanti
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2352Wed, 24 Jun 2026 00:00:00 +0000Efektivitas Pemberian Putih Telur dan Ikan Lele Terhadap Penyembuhan Jahitan Perineum pada Ibu Nifas
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2353
<p><em>The Effect of Egg White and Catfish Consumption on Perineal Suture Healing in Postpartum Mothers. The postpartum period (puerperium) is a time of recovery following pregnancy and childbirth, during which complications such as uterine atony, retained placenta, and episiotomy or birth canal lacerations may occur. Nutritional factors—specifically protein, vitamins, and minerals—influence the healing of birth canal lacerations. Eggs and catfish are accessible protein sources that can be simply prepared using a blend of herbs and spices. The objective of this study was to determine the difference in effectiveness between the administration of egg white and catfish regarding the healing of perineal sutures in postpartum mothers. This study employed an experimental method with a two-group posttest-only design and was conducted at the Punggelan 2 Community Health Center (Puskesmas) in Banjarnegara Regency. The sample was selected using purposive sampling, consisting of 32 postpartum mothers with second-degree perineal sutures during February and March who had no history of diabetes mellitus or hypertension and consented to participate; 16 respondents were administered egg white and 16 were administered catfish from the first to the seventh day, with evaluations performed on the eighth day using the REEDA score. Data analysis was conducted using the Mann-Whitney test. The mean consumption was 2.56 for egg whites and 1.38 for catfish. The Mann-Whitney test results showed a p-value of 0.024 and an r-value of 0.398, with mean ranks of 20.16 for the egg white group and 12.84 for the catfish group. This indicates a significant difference in effectiveness between the two interventions regarding perineal suture healing, with catfish proving more effective for healing.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Nifas (puerperium) merupakan masa pemulihan setelah melalui masa kehamilan dan persalinan, komplikasi yang terjadi selama masa nifas seperti atonia uteri, retensio plasenta episiotomi atau laserasi jalan lahir. Salah satu faktor yang mempengaruhi penyembuhan laserasi jalan lahir yaitu faktor gizi, terutama protein, viatamin dan mineral. Telur dan ikan lele merupakan sumber protein yang mudah di jangkau dengan cara pengolahanya yang sederhana menggunakan campuran bumbu dan rempah. Tujuan untuk mengetahui perbedaan efektivitas pemberian putih telur dan lele terhadap penyembuhan jahitan perineum pada ibu nifas. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan desain two group posttest only design, dilakukan di Puskesmas Punggelan 2 Kabupaten Banjarnegara. Sampel penelitian diperoleh melalui purposive sampling yaitu ibu nifas dengan jahitan perineum dengan jahitan derajat 2 pada bulan Februari dan Maret, tidak ada penyakit DM, hipertensi, bersedia menjadi responden, sejumlah 32 responden dengan 16 responden di berikan putih telur dan 16 responden diberikan ikan lele diberikan hari pertama sampai hari ketujuh dan dievaluasi menggunakan skor REEDA hari kedelapan. Analisa data dengan uji Mann Whitney. Hasil rerata konsumsi putih telur 2,56, rerata konsumsi ikan lele 1.38. Hasil uji mann whitney menunjukkan p value 0,024, nilai r = 0,398 dengan mean rank kelompok putih telur 20,16 dan kelompok ikan lele 12.84, artinya ada perbedaan yang cukup kuat efektivitas pemberian putih telur dan ikan lele terhadap kesembuhan jahitan perineum, dimana ikan lele lebih efektif untuk menyembuhkan jahitan.</p>Bekti Yuniyanti, Mundarti, Ari Kurniawati
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2353Wed, 24 Jun 2026 00:00:00 +0000Study Kasus Penerapan Pijat Counterpressure dan Pijat Oksitosin di RSUD Tanjung Selor
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2157
<p><em>Maternal Mortality Rate (MMR) and Infant Mortality Rate (IMR) remain health issues that require special attention. One effort to reduce MMR and IMR is through comprehensive and continuous midwifery services (Continuity Of Care/COC) from pregnancy, childbirth, postpartum, newborn care, and family planning (KB). These services aim to detect potential complications early and improve the quality of maternal and infant health (Tyastuti & Wahyuningsih, 2016). In North Kalimantan Province, based on previous data from the Central Statistics Agency, the IMR is at 16.65 per 1,000 live births. In 2025, this figure is expected to decline along with improvements in maternal and child health services, although definitive data is still being reported (BPS North Kalimantan, 2024). Maternal age ≥35 years is included in the high-risk pregnancy category, which can increase the likelihood of complications during pregnancy and childbirth (Prawirohardjo, 2018). In addition to basic midwifery care, the application of complementary therapies such as counterpressure during labor and oxytocin massage during the postpartum period can help reduce maternal discomfort and support a smooth delivery and breastfeeding process. The purpose of this case study is to implement comprehensive midwifery care for Mrs. J, 40 years old, G4P3A0, at Tanjung Selor Regional Hospital, starting from pregnancy, delivery, postpartum, newborn care, to family planning services. This study used a case study method with a Continuity Of Care (COC) approach. The subject of the study was Mrs. J, 40 years old, G4P3A0, who was followed from 29 weeks and 4 days of gestation until the period of contraceptive use. Data collection techniques were carried out through interviews, observations, physical examinations, documentation studies, and recording using the SOAP method (Marta, 2016). Although the patient was considered a high-risk pregnancy, the results of care showed that the condition of the mother and fetus was good throughout the pregnancy without complications. During the delivery process, complementary counterpressure therapy was given to help reduce labor pain. Delivery occurred naturally by vaginal delivery at 38 weeks and 4 days of gestation, resulting in a healthy, spontaneously delivered, male baby, weighing 3,100 grams and measuring 49 cm long. Oxytocin massage was performed during the postpartum period to help increase breast milk production and release. The postpartum period was physiological without complications, with normal uterine involution and smooth breast milk production. Family planning counseling was conducted on the 31st day postpartum, and the mother chose to use a 3-monthly contraceptive injection. It can be concluded that the implementation of Continuity of Care midwifery care combined with complementary counterpressure therapy and oxytocin massage was carried out comprehensively, resulting in healthy mother and baby, and no complications were found during the care process.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) masih menjadi masalah kesehatan yang memerlukan perhatian khusus. Salah satu upaya yang dilakukan untuk menurunkan AKI dan AKB adalah melalui pelayanan kebidanan secara komprehensif dan berkesinambungan (Continuity of Care/COC) mulai dari masa kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir hingga keluarga berencana (KB). Pelayanan ini bertujuan untuk mendeteksi secara dini komplikasi yang mungkin terjadi serta meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan bayi (Tyastuti dan Wahyuningsih 2016). Di Provinsi Kalimantan Utara, berdasarkan data sebelumnya dari Badan Pusat Statistik, AKB berada pada angka 16,65 per 1.000 kelahiran hidup. Pada tahun 2025, angka ini diperkirakan mengalami penurunan seiring dengan peningkatan pelayanan kesehatan ibu dan anak, meskipun data pasti masih dalam proses pelaporan (BPS Provinsi Kalimantan Utara 2023). Usia ibu ≥35 tahun termasuk dalam kategori kehamilan risiko tinggi yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya komplikasi selama kehamilan dan persalinan (Prawirohardjo 2018). Selain asuhan kebidanan dasar, penerapan terapi komplementer seperti counterpressure saat persalinan dan pijat oksitosin pada masa nifas dapat membantu mengurangi ketidaknyamanan ibu serta mendukung kelancaran proses persalinan dan menyusui. Tujuan studi kasus ini adalah melaksanakan asuhan kebidanan secara komprehensif pada Ny. J usia 40 tahun G4P3A0 di RSUD Tanjung Selor mulai dari masa kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir, hingga pelayanan keluarga berencana. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus (case study) dengan pendekatan Continuity Of Care (COC). Subjek penelitian adalah Ny. J usia 40 tahun G4P3A0 yang diikuti sejak usia kehamilan 29 minggu 4 hari hingga masa penggunaan kontrasepsi. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, studi dokumentasi, dan pencatatan menggunakan metode SOAP (Kemenkes RI 2017). Walaupun pasien termasuk dalam usia hamil resiko tinggi, hasil asuhan menunjukkan bahwa selama masa kehamilan kondisi ibu dan janin dalam keadaan baik tanpa komplikasi. Pada proses persalinan diberikan terapi komplementer counterpressure untuk membantu mengurangi nyeri persalinan. Persalinan berlangsung secara normal pervaginam pada usia kehamilan 38 minggu 4 hari dan bayi lahir spontan berjenis kelamin laki-laki dengan kondisi baik, berat badan lahir 3100 gram dan panjang badan 49 cm tanpa ditemukan kelainan. Pada masa nifas dilakukan pijat oksitosin untuk membantu meningkatkan produksi dan pengeluaran ASI. Masa nifas berlangsung fisiologis tanpa komplikasi, involusi uterus berjalan normal dan produksi ASI lancar. Pada hari ke-31 postpartum dilakukan konseling keluarga berencana dan ibu memilih menggunakan KB suntik 3 bulan. Dapat disimpulkan bahwa penerapan asuhan kebidanan Continuity Of Care yang dikombinasikan dengan terapi komplementer counterpressure dan pijat oksitosin dapat terlaksana secara komprehensif dengan hasil ibu dan bayi dalam keadaan sehat serta tidak ditemukan komplikasi selama proses asuhan.</p>Devitasari Yulistian, Yulia Nur Khayati
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2157Wed, 24 Jun 2026 00:00:00 +0000Pendidikan Kesehatan Tentang Kesehatan Reproduksi Remaja
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2282
<p><em>Adolescence is a period of rapid growth and development. Generally, adolescents who experience menarche between the ages of 12 and 16 have a normal menstrual cycle every 22-35 days, lasting 2-7 days. Discomfort before and during menstruation occurs in almost all women, including pain in the lower back and abdomen, radiating to the upper legs. Dysmenorrhea, also known as abdominal pain originating from uterine cramps and occurring during menstruation, disrupts daily activities, and is most often found in young and reproductive women. Treatment for dysmenorrhea includes pharmacological (drug) and non-pharmacological (complementary) approaches. The latest complementary theory suggests that several meridian points in the body can reduce menstrual pain. These include: Li4 (Hegu), PC6 (Neiguan), SP6, and LR3 (Taichong). Community service activities for teenagers at the Sehat Ceria Posyandu were carried out on May 15, 2026, at 4:00 PM WIB in the multipurpose building belonging to RW 11, Pudak Payung sub-district, Semarang city, involving 8 teenagers. The implementation method included a pre-test, material presentation, demonstration, discussion, direct practice, and post-test. The media used were power points and leaflets. The pre-test results showed that the level of knowledge of teenagers was in the sufficient category (63.02%). After the material presentation, discussion, and demonstration, the post-test results of adolescent knowledge increased significantly, namely in the good category (95.31%). Counseling and training on complementary techniques for reducing menstrual pain effectively increased adolescent knowledge about complementary techniques for reducing menstrual pain. It is recommended that similar training be carried out regularly during adolescent Posyandu or youth meetings and supported by mentoring from cadres and the local Health Office.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Masa remaja merupakan periode terjadinya pertumbuhan dan perkembangan yang pesat. Umumnya, remaja yang mengalami menarche pada usia 12 tahun sampai dengan 16 tahun, siklus menstruasi normal terjadi setiap 22-35 hari, lamanya selama 2-7 hari. Ketidaknyamanan sebelum dan selama menstruasi hampir terjadi oleh semua wanita yaitu nyeri pada punggung bawah, perut dan menjalar hingga ke bagian atas tungkai, sehingga istilah dismenore adalah nyeri perut yang berasal dari kram rahim dan terjadi selama menstruasi yang menggangu aktifitas sehari-hari yang paling sering ditemui pada wanita muda dan reproduktif. Pengobatan dismenorhea dengan non farmakologi bertujuan untuk mengurangi intensitas nyeri haid, memperbaiki kualitas hidup, serta meminimalkan efek samping obat dengan cara aman dan alami. Dalam teori komplementer terbaru, terdapat beberapa titik meridian di dalam tubuh kita yang dapat mengurangi intensitas nyeri saat haid, diantara gerakannya, yakni: titik Li4 (Hegu), Titik PC6 (Neiguan), Titik SP6, Titik LR3 (Taichong). Kegiatan pengabdian masyarakat untuk remaja posyandu Sehat Ceria dilakukan pada tanggal 15 Mei 2026 jam 16.00 WIB di Gedung serbaguna milik RW 11 kelurahan pudak payung kota Semarang, melibatkan 8 remaja. Metode pelaksanaan meliputi pre-test, pemaparan materi, demonstrasi, diskusi, praktik langsung dan post-test. Media yang digunakan berupa power point dan leaflet dengan instrument lembar observasi pre test dan post test untuk menilai perbandingan pada remaja. Hasil pre-test menunjukkan tingkat pengetahuan remaja berada di kategori cukup (63,02%). Setelah pemaparan materi, diskusi dan demonstrasi, hasil post-test pengetahuan remaja meningkat signifikan yaitu di kategori baik (95,31%). Penyuluhan dan pelatihan tentang komplementer teknik mengurangi nyeri haid efektif meningkatkan pengetahuan remaja tentang komplementer teknik mengurangi nyeri haid. Disarankan agar pelatihan serupa dilakukan rutin saat ada posyandu remaja atau pertemuan karang taruna dan didukung pendampingan kader serta Dinas Kesehatan setempat.</p>Fransisca Desti Kurniasih, Galih Ayu Tias Respati, Yulia Nur Khayati
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2282Wed, 24 Jun 2026 00:00:00 +0000Asuhan Kebidanan Continuity of Care pada Ny. Q G4P3A0 Usia 38 Tahun di Wilayah Kerja Puskesmas Jumo
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2110
<p><em>Continuity of care in midwifery is a comprehensive and continuous maternity service provided from pregnancy, childbirth, postpartum, newborn care, to family planning services. In Indonesia, the maternal mortality rate (MMR) remains relatively high compared to the targets established in the Sustainable Development Goals (SDGs). One of the important factors contributing to the high MMR is high-risk pregnancy. The purpose of continuity of care in midwifery services is to optimally monitor the condition of both mother and baby and to detect possible complications at an early stage. The implementation of care was carried out in the working area of Jumo Public Health Center through home visits and counseling according to the mother’s needs Midwifery care for Mrs. “Q” was provided comprehensively from pregnancy until contraceptive use, with a total of 2 antenatal visits, 1 delivery care visit, 4 postpartum visits, 3 neonatal visits, and 1 family planning visit. During pregnancy, the mother’s condition was physiological but categorized as high-risk due to maternal age of over 35 years. The delivery process occurred normally and was managed according to the standards of Normal Delivery Care (APN). The postpartum period and the condition of the newborn progressed well without complications. In family planning services, the mother received counseling and chose the implant contraceptive method. Overall, the implementation of continuity of care for Mrs. “Q” showed positive results, with both mother and baby remaining in normal condition. Midwives are expected to continue implementing continuity of care according to service standards and to improve their competencies in providing quality midwifery care.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Asuhan kebidanan berkesinambungan (continuity of care) merupakan pelayanan kebidanan yang diberikan secara menyeluruh dan berkelanjutan mulai dari masa kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir hingga pelayanan keluarga berencana. Di Indonesia AKI masih tergolong tinggi dibandingkan dengan target yang ditetapkan dalam Sustainable Development Goals (SDGs). Salah satu faktor penting yang berkontribusi terhadap tingginya AKI adalah kehamilan risiko tinggi. Tujuan dari pelayanan Asuhan kebidanan berkesinambungan (continuity of care) adalah untuk memantau kondisi ibu dan bayi secara optimal serta mendeteksi secara dini kemungkinan terjadinya komplikasi Pelaksanaan asuhan dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Jumo melalui kunjungan rumah dan pemberian konseling sesuai kebutuhan ibu. Asuhan kebidanan pada Ny. “Q” diberikan secara komprehensif sejak masa kehamilan hingga penggunaan kontrasepsi, dengan frekuensi kunjungan kehamilan sebanyak 2 kali, persalinan 1 kali, nifas 4 kali, neonatus 3 kali, serta pelayanan keluarga berencana sebanyak 1 kali. Selama kehamilan, kondisi ibu tergolong fisiologis dengan Resiko Tinggi yaitu usia ibu >35 tahun. Proses persalinan berlangsung normal dan ditangani sesuai standar Asuhan Persalinan Normal (APN). Masa nifas dan kondisi bayi baru lahir berjalan dengan baik tanpa penyulit. Pada pelayanan keluarga berencana, ibu telah mendapatkan konseling dan memilih menggunakan metode kontrasepsi implan. Secara keseluruhan, penerapan asuhan kebidanan berkesinambungan pada Ny. “Q” menunjukkan hasil yang baik dengan kondisi ibu dan bayi dalam batas normal. Diharapkan bidan dapat terus menerapkan continuity of care sesuai standar pelayanan serta meningkatkan kompetensi dalam memberikan asuhan kebidanan yang berkualitas.</p>Djandjang Purwatiningsih, Ari Widyaningsih
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2110Wed, 24 Jun 2026 00:00:00 +0000Akupresur dalam Menangani Mual dan Muntah pada Ibu Hamil Trimester I di Puskesmas Kecamatan Vera Cruz Timor Leste
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2344
<p><em>First-trimester pregnancy is often characterized by nausea and vomiting (emesis gravidarum), which can significantly impair the quality of life of pregnant women. Although physiological, this condition can lead to dehydration, decreased appetite, and fatigue if not adequately managed. Acupressure at Pericardium 6 (P6/Nei Guan) point has been recognized as a safe and effective non-pharmacological intervention to alleviate these symptoms. This study aimed to evaluate the improvement in knowledge, understanding, and skills of first-trimester pregnant women at the Vera Cruz Community Health Center, Timor Leste, in managing nausea and vomiting through acupressure therapy. This community service method involved 20 first-trimester pregnant women experiencing nausea and vomiting, with interventions including education, demonstration, and direct practice of P6 acupressure. Data were collected using pretest-posttest questionnaires for knowledge and observation sheets for skills. The results showed a significant increase in the knowledge and skills levels of pregnant women after the intervention. The in-depth discussion elaborates on the mechanism of P6 acupressure, compares the findings with current scientific literature, and highlights the practical implications of applying acupressure in primary healthcare services. This study affirms the potential of acupressure as an accessible, safe, and effective modality for managing nausea and vomiting, as well as the importance of health education for empowering pregnant women.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Kehamilan trimester pertama seringkali diwarnai dengan keluhan mual dan muntah (emesis gravidarum) yang dapat mengganggu kualitas hidup ibu hamil. Kondisi ini, meskipun fisiologis, berpotensi menyebabkan dehidrasi, penurunan nafsu makan, dan kelelahan jika tidak ditangani secara adekuat. Akupresur pada titik Pericardium 6 (P6/Nei Guan) telah dikenal sebagai intervensi nonfarmakologis yang aman dan efektif untuk meredakan gejala ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi peningkatan pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan ibu hamil trimester I di Puskesmas Kecamatan Vera Cruz, Timor Leste, dalam mengelola mual dan muntah melalui terapi akupresur. Metode pengabdian masyarakat ini melibatkan 20 ibu hamil trimester I yang mengalami mual dan muntah, dengan intervensi berupa penyuluhan, demonstrasi, dan praktik langsung akupresur P6. Data dikumpulkan melalui kuesioner pretest-posttest untuk pengetahuan dan lembar observasi untuk keterampilan. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan pada tingkat pengetahuan dan keterampilan ibu hamil setelah intervensi. Pembahasan mendalam menguraikan mekanisme akupresur P6, membandingkan temuan dengan literatur ilmiah terkini, serta menyoroti implikasi praktis dari penerapan akupresur dalam pelayanan kesehatan primer. Studi ini menegaskan potensi akupresur sebagai modalitas penanganan mual dan muntah yang mudah diakses, aman, dan efektif, serta pentingnya edukasi kesehatan untuk pemberdayaan ibu hamil.</p>Rosalinah, Rachel Nurwidi Annisa, Olimpia M.de Araujo, Palmira de Jesus Gomes, Emilia dos Santos, Luciana Aparicio Soares, Agusriani, Ari Widyaningsih
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2344Wed, 24 Jun 2026 00:00:00 +0000Asuhan Kebidanan pada Persalinan dengan Prolonged Active Phase Disertai Fetal Distress dan Mekonium: Studi Kasus
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2078
<p><em>Complicated labor involving prolonged active phase, meconium-stained amniotic fluid, and fetal distress is a leading cause of maternal and perinatal morbidity and mortality. This descriptive case study aimed to describe midwifery care for a primigravida with the above complications using the SOAP documentation approach. The subject was Mrs. D, aged 27 years, G1P0A0, at 41 weeks 2 days gestation, managed at RS Pratama Tanjung Keramat and RSUD dr. H. Jusuf SK on January 15, 2026. Serial intrapartum monitoring revealed progressive deterioration: fetal heart rate rose to 172 bpm (tachycardia), membranes ruptured with meconium-stained fluid, and cervical dilation stagnated at 1 cm over 6 hours (0.17 cm/hour), confirming prolonged active phase with fetal distress. Initial stabilization (left lateral positioning, oxygen 6–8 L/minute, IV RL infusion) was followed by emergency referral and emergency Cesarean section performed by an obstetrician. A male infant weighing 3,600 g was delivered and stabilized through neonatal resuscitation. Early detection, strict partograph monitoring, and timely referral were critical in preventing neonatal asphyxia and meconium aspiration syndrome in this case.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Persalinan dengan penyulit berupa fase aktif memanjang, air ketuban bercampur mekonium, dan fetal distress merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas ibu serta perinatal. Studi kasus deskriptif ini bertujuan mendeskripsikan asuhan kebidanan pada primigravida dengan komplikasi tersebut menggunakan pendekatan SOAP. Subjek adalah Ny. D usia 27 tahun G1P0A0, hamil 41 minggu 2 hari, dikelola di RS Pratama Tanjung Keramat dan RSUD dr. H. Jusuf SK pada 15 Januari 2026. Pemantauan intrapartum berkala menunjukkan perburukan progresif: DJJ meningkat hingga 172 x/menit (takikardia janin), ketuban pecah bercampur mekonium, dan stagnasi pembukaan serviks 1 cm dalam 6 jam (0,17 cm/jam), mengonfirmasi diagnosis prolonged active phase disertai fetal distress. Stabilisasi awal (posisi miring kiri, oksigen 6–8 L/menit, infus RL) dilanjutkan dengan rujukan emergensi dan tindakan Sectio Caesarea. Bayi laki-laki lahir dengan berat 3.600 gram dan berhasil distabilkan melalui resusitasi neonatus. Deteksi dini, pemantauan partograf yang ketat, dan rujukan tepat waktu terbukti kritis dalam mencegah asfiksia neonatorum dan sindrom aspirasi mekonium pada kasus ini.</p>Desi Rinda Sari, Vistra Veftisia
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2078Wed, 24 Jun 2026 00:00:00 +0000Edukasi Prenatal Yoga pada Ibu Hamil untuk Meningkatkan Kesehatan Ibu Hamil
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2375
<p><em>During pregnancy, the mother will experience discomfort such as frequent urination, back pain, insomnia, calf muscle cramps, varicose veins, ankle edema, fatigue, erratic moods, and increased anxiety, which can interfere with daily activities and take up the attention of pregnant women if the mother lacks knowledge and experience regarding pregnancy. The purpose of this community service is to provide counseling about prenatal yoga to improve the health of pregnant women. This service is carried out through counseling activities for 20 pregnant women in the second and third trimesters in the Bulakpelem village area, Sragi District, Pekalongan Regency and Bumi Ayu village, North Kalimantan, starting with a Pre-Test to determine the knowledge of pregnant women before being given material about Trimester III discomfort, prenatal yoga, then continued with the delivery of material and ended with a Post-Test. This activity was carried out on June 2, 2026. From the results obtained after the counseling, there was an increase in respondents' knowledge of the material provided where there was a significant increase, namely from an average value of 94.72 to 97.35. It is hoped that prenatal yoga can be integrated into pregnancy classes, providing evidence-based education about its benefits in reducing pregnancy discomfort.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Selama kehamilan ibu akan mengalami ketidaknyamanan seperti sering buang air kecil, nyeri punggung, insomnia, kram otot betis, varises, edema pergelangan kaki, mudah lelah, mood yang tidak menentu, dan peningkatan kecemasan, yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan menyita perhatian ibu hamil jika ibu kurang memiliki pengetahuan dan pengalaman mengenai kehamilan. Tujuan pengabdian masyarakat ini adalah untuk memberikan penyuluhan tentang prenatal yoga untuk meningkatkan kesehatan ibu hamil. Pengabdian ini dilakukan melalui kegiatan penyuluhan pada 20 ibu hamil trimester II dan trimester III wilayah desa Bulakpelem Kecamatan Sragi Kabupaten Pekalongan dan desa Bumi Ayu Kalimantan Utara, diawali dengan Pre Test untuk mengetahui pengetahuan ibu hamil sebelum diberikan materi tentang ketidaknyamanan Trimester III, prenatal yoga, kemudian dilanjutkan penyampaian materi dan diakhiri dengan Post Test. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 2 Juni 2026. Dari hasil yang didapatkan setelah dilakukan penyuluhan terdapat peningkatan pengetahuan responden terhadap materi yang diberikan dimana terdapat peningkatan yang cukup signifikan yaitu dari nilai rata-rata 94.72 meningkat menjadi 97.35. Diharapkan prenatal yoga dapat diintegrasikan ke dalam kelas ibu hamil, memberikan edukasi berbasis bukti mengenai manfaatnya untuk mengurangi ketidaknyamanan kehamilan.</p>Afrokhiyah, Dinawati Obed, Rusdiya Handayani Sarah, Anita Situmorang, Dini Laxmiary, Nazdia, Sus Meinar Ratrina, Dwi Puspa Indah, Vistra Veftisia
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2375Wed, 24 Jun 2026 00:00:00 +0000Asuhan Kebidanan Continuity of Care (CoC) pada Ny. D di Puskesmas Petungkriyono Kabupaten Pekalongan
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2179
<p><em>Comprehensive midwifery care is a comprehensive midwifery management care starting from pregnant women, childbirth, to newborns so that labor can take place safely and the baby born is safe and healthy until the postpartum period. Pregnancy, childbirth, postpartum and newborns are physiological conditions but in the process there is a possibility of a condition that can threaten the life of the mother and baby and can even cause death. Continuity of Care (COC) Midwifery Care is continuous midwifery care provided to mothers and babies starting during pregnancy, childbirth, newborns, postpartum and family planning, with the existence of COC care, the development of the mother's condition at all times will be monitored well, in addition, continuous care carried out by midwives can make mothers more trusting and open because they already know the care provider, COC midwifery care is one of the efforts to reduce the Maternal Mortality Rate (MMR) and Infant Mortality Rate The purpose of this study is to be able to provide Continuity of Care (CoC) Midwifery Care to Mrs. D aged 26 years at the Petungkriyono Health Center. The type of descriptive research used is a case study. The research instrument uses a descriptive approach method and is documented in the form of SOAP. In this care, the author collected data through interviews, observations, physical examinations, supporting examinations, documentation studies and bibliography studies. This research was conducted in January - May 2026. From the results of the provision of pregnancy care, there were no abnormal complaints. During the mother's delivery process at the Petungkriyono Health Center, Pekalongan Regency, delivery assistance was carried out through normal vaginal delivery and the baby was born spontaneously. During the assessment, no complications were found in Mrs. D's baby. In newborn care, everything was found to be within normal limits, By Mrs. D was given HB0 immunization, vitamin K, eye ointment and SHK. While in family planning care Mrs. D used injectable birth control. It is expected that health workers can carry out comprehensive midwifery care with correct procedures and according to client needs, as well as apply complementary care as non-pharmacological therapy in midwifery care.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Asuhan kebidanan komprehensif merupakan asuhan menyeluruh manajemen kebidanan mulai dari ibu hamil, bersalin, sampai bayi baru lahir sehingga persalinan dapat berlangsung aman dan bayi yang dilahirkan selamat dan sehat sampai masa nifas. Kehamilan, persalinan, nifas dan bayi baru lahir merupakan suatu keadaan yang fisiologis namun dalam prosesnya terdapat kemungkinan suatu keadaan yang dapat mengancam jiwa ibu dan bayi bahkan dapat menyebabkan kematian. Asuhan Kebidanan Continuity of Care (COC) merupakan asuhan kebidanan berkesinambungan yang diberikan kepada ibu dan bayi dimulai pada saat kehamilan, persalinan, bayi baru lahir, nifas dan keluarga berencana, dengan adanya asuhan COC maka perkembangan kondisi ibu setiap saat akan terpantau dengan baik, selain itu asuhan berkelanjutan yang dilakukan bidan dapat membuat ibu lebih percaya dan terbuka karena sudah mengenal pemberi asuhan, asuhan kebidanan secara COC adalah salah satu upaya untuk menurunkan Angka kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi Tujuan penelitian ini mampu memberikan Asuhan Kebidanan Continuity Of Care (CoC) Pada Ny. D umur 26 Tahun di Puskesmas Petungkriyono. Jenis penelitian deskriptif yang digunakan adalah studi kasus (case study), Instrumen penelitian menggunakan metode pendekatan yang bersifat deskriptif dan didokumentasikan dalam bentuk SOAP. Dalam asuhan ini, penulis mengumpulkan data melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, studi dokumentasi dan studi daftar pustaka. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari - Mei 2026. Dari hasil pemberian asuhan kehamilan tidak terdapat keluhan yang bersifat abnormal. Pada proses persalinan ibu di Puskesmas Petungkriyono Kabupaten Pekalongan, dilakukan pertolongan persalinan secara persalinan normal pervaginam bayi lahir spontan. Selama pengkajian tidak ditemukan komplikasi-komplikasi yang ada pada bayi Ny.D. Pada asuhan bayi baru lahir didapatkan semua dalam batas normal, By Ny D diberikan imunisasi HB0, vitamin K, salep mata dan SHK. Sedangkan pada asuhan KB Ny. D menggunakan KB suntik. Diharapkan tenaga kesehatan dapat melakukan asuhan kebidanan secara komprehensif dengan prosedur yang benar dan sesuai dengan kebutuhan klien, serta menerapkan asuhan komplementer sebagai terapi nonfarmakologi dalam asuhan kebidanan.</p>Mahera Ektafia, Hapsari Windayanti
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2179Wed, 24 Jun 2026 00:00:00 +0000Penerapan Terapi Akupresur sebagai Upaya Non-Farmakologis dalam Mengurangi Dismenore pada Remaja Putri
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2361
<p><em>Dysmenorrhea is one of the most common complaints experienced by adolescent girls during menstruation and can significantly disrupt daily activities. Most adolescent girls tend to ignore menstrual pain or rely on pain relievers without the supervision of a health professional, which carries the risk of long-term side effects. This community service activity aims to implement acupressure therapy as a non-pharmacological effort to reduce dysmenorrhea in adolescent girls. The activity was carried out simultaneously on June 3, 2026, in three locations: Pekalongan City, Central Java, and Kapuas Hulu Regency and Sambas Regency, West Kalimantan, involving 20 adolescent girls. This activity was carried out through lectures, discussions, questions and answers, demonstrations, and direct practice using leaflets, PowerPoint presentations, and animated videos. Evaluation of the activity was carried out using measurement instruments before and after the intervention. The results of the activity showed an improvement in the condition of participants after receiving acupressure therapy, with an average score increasing from 3.60 before therapy to 6.00 after therapy. These results indicate that acupressure therapy is effective, safe, and can be applied independently by adolescent girls without the need for drugs or special equipment.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Dismenore merupakan salah satu keluhan yang paling umum dialami remaja putri saat menstruasi dan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari secara signifikan. Sebagian besar remaja putri cenderung mengabaikan nyeri haid atau mengandalkan obat pereda nyeri tanpa pengawasan tenaga kesehatan yang berisiko menimbulkan efek samping jangka panjang. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk menerapkan terapi akupresur sebagai upaya nonfarmakologis dalam mengurangi dismenore pada remaja putri. Kegiatan dilaksanakan secara serentak pada tanggal 3 Juni 2026 di tiga lokasi, yaitu Kota Pekalongan, Jawa Tengah, serta Kabupaten Kapuas Hulu dan Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, dengan melibatkan 20 remaja putri. Kegiatan ini dilaksanakan melalui metode ceramah, diskusi, tanya jawab, demonstrasi, dan praktik langsung menggunakan media leaflet, presentasi PowerPoint, dan video animasi. Evaluasi kegiatan dilakukan menggunakan instrumen pengukuran sebelum dan sesudah intervensi. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan kondisi peserta setelah mendapatkan terapi akupresur, dengan rata-rata skor yang meningkat dari 3,60 sebelum terapi menjadi 6,00 setelah terapi. Hasil ini menunjukkan bahwa terapi akupresur efektif, aman, dan dapat diterapkan secara mandiri oleh remaja putri tanpa memerlukan obat-obatan maupun alat khusus.</p>Liya Fatikhatun Ni'mah, Herni Prafita Dewi, Lufi Indah Sari, Yhunie Yudistira, Hapsari Windayanti
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2361Wed, 24 Jun 2026 00:00:00 +0000Asuhan Kebidanan Continuity of Care (Coc) pada Ny K Umur 30 Tahun di Puskesmas Kandangserang Kab. Pekalongan
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2077
<p><em>Continuity of Care (CoC) is a continuous midwifery care approach aimed at improving maternal and neonatal health services and reducing maternal and infant mortality rates. Preeclampsia is one of the high-risk pregnancy complications and a major cause of maternal morbidity and mortality; therefore, comprehensive and continuous midwifery care is required from pregnancy through the postpartum period and family planning services. Through continuous care, maternal health problems can be detected early so that preventive and management efforts can be carried out more optimally in each phase of maternal health services. The purpose of this case study was to provide midwifery care through Continuity of Care for Mrs. K, a 30-year-old woman G2P1A0 at the Kandangserang Community Health Center, Pekalongan Regency. The method used was a case study with Varney’s midwifery management approach and SOAP documentation, conducted from pregnancy, labor, postpartum, newborn care, to family planning. The results showed that the pregnancy progressed physiologically without complications, labor occurred normally according to the 60 steps of Normal Delivery Care (APN), the postpartum period and newborn condition were healthy without complications, and the mother chose a 3-month injectable contraceptive method for family planning. In conclusion, the implementation of Continuity of Care can improve early detection of maternal and neonatal health problems and support comprehensive and continuous prevention of complications. Therefore, mothers are advised to have regular health check-ups, and health workers are expected to maintain and optimize comprehensive and sustainable midwifery services.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Continuity of Care (CoC) merupakan asuhan kebidanan berkelanjutan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan bayi serta menurunkan angka kematian ibu dan bayi. Preeklampsia merupakan salah satu komplikasi kehamilan yang berisiko tinggi dan menjadi penyebab utama morbiditas serta mortalitas maternal, sehingga diperlukan pelayanan kebidanan yang komprehensif, berkesinambungan, dan terpantau sejak masa kehamilan hingga masa nifas dan keluarga berencana. Melalui asuhan berkelanjutan ini, permasalahan kesehatan pada ibu dapat terdeteksi secara dini sehingga upaya pencegahan dan penanganan komplikasi dapat dilakukan lebih optimal pada setiap periode pelayanan kebidanan. Tujuan studi kasus ini adalah memberikan asuhan kebidanan secara Continuity of Care pada Ny. K umur 30 tahun G2P1A0 di Puskesmas Kandangserang Kabupaten Pekalongan. Metode yang digunakan adalah studi kasus dengan pendekatan manajemen kebidanan Varney dan dokumentasi SOAP yang dilakukan mulai dari masa kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir, hingga pelayanan keluarga berencana. Hasil asuhan menunjukkan bahwa kehamilan berlangsung secara fisiologis tanpa komplikasi, proses persalinan berjalan normal sesuai 60 langkah Asuhan Persalinan Normal (APN), masa nifas dan bayi baru lahir berada dalam kondisi baik tanpa adanya komplikasi, serta ibu memilih metode kontrasepsi suntik 3 bulan sebagai pilihan keluarga berencana. Kesimpulan dari studi kasus ini menunjukkan bahwa penerapan asuhan Continuity of Care dapat meningkatkan deteksi dini terhadap masalah kesehatan ibu dan bayi serta mendukung upaya pencegahan komplikasi secara menyeluruh dan berkesinambungan. Oleh karena itu, ibu disarankan untuk rutin melakukan pemeriksaan kesehatan, dan tenaga kesehatan diharapkan dapat mempertahankan serta mengoptimalkan pelayanan kebidanan yang komprehensif dan berkelanjutan.</p>Kurniawati Tri Utami, Risma Aliviani Putri
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2077Wed, 24 Jun 2026 00:00:00 +0000Peran Edukasi Kesehatan dalam Meningkatkan Pengetahuan Ibu Hamil tentang Tanda Bahaya dan Gizi Kehamilan Trimester III
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2132
<p><em>The third trimester of pregnancy is a critical period that requires special attention due to the increased risk of complications for both the mother and the fetus. Limited understanding of pregnancy danger signs and adequate nutritional requirements may increase the risk of anemia, preterm birth, and low birth weight. This community midwifery care activity aimed to improve pregnant women's understanding of danger signs during the third trimester and nutritional needs during pregnancy. The activity was conducted with Mrs. S, a 33-year-old pregnant woman with an obstetric history of G4P3A0 at 28 weeks of gestation, residing in RT 05 Tanjung Tengah, Penajam. The methods used included interviews, observation, a pre-test, health education using leaflet media, and a post-test for evaluation. The results showed an increase in the knowledge score from 80 to 100 after the intervention. These findings indicate that health education was effective in improving the mother's knowledge regarding pregnancy danger signs and nutritional requirements during pregnancy. It is recommended that health education interventions be carried out routinely by healthcare providers as part of antenatal care services to enhance maternal knowledge and reduce the risk of complications during pregnancy.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Kehamilan trimester III merupakan periode yang memerlukan perhatian khusus karena meningkatnya risiko komplikasi pada ibu dan janin. Kurangnya pemahaman mengenai tanda bahaya kehamilan dan pemenuhan gizi yang adekuat dapat meningkatkan risiko terjadinya anemia, persalinan prematur, serta bayi berat lahir rendah. Kegiatan asuhan kebidanan komunitas ini bertujuan meningkatkan pemahaman ibu hamil tentang tanda bahaya kehamilan trimester III dan kebutuhan gizi selama kehamilan. Kegiatan dilakukan pada Ny. S usia 33 tahun dengan status obstetri G4P3A0 pada usia kehamilan 28 minggu di RT 05 Tanjung Tengah, Penajam. Metode yang digunakan meliputi wawancara, observasi, pre-test, pemberian penyuluhan menggunakan media leaflet, dan post-test sebagai evaluasi. Hasil menunjukkan peningkatan skor pengetahuan dari 80 menjadi 100 setelah intervensi. Temuan ini menunjukkan bahwa edukasi kesehatan efektif meningkatkan pengetahuan ibu hamil mengenai tanda bahaya dan kebutuhan gizi selama kehamilan. Disarankan agar intervensi edukasi kesehatan dilakukan secara rutin oleh tenaga kesehatan sebagai bagian dari pelayanan antenatal guna meningkatkan pengetahuan ibu serta menurunkan risiko komplikasi selama kehamilan.</p>Gita Fitrya, Risma Aliviani Putri
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2132Wed, 24 Jun 2026 00:00:00 +0000Asuhan Kebidanan Continuity of Care (Coc) pada Ny. P Umur 28 Tahun di Puskesmas Kalikajar 2
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2103
<p><em>Continuity of Care (CoC) in midwifery refers to the provision of comprehensive care from pregnancy, childbirth, postpartum, and neonatal periods until the mother decides to use a family planning method. This approach aims to monitor and detect potential complications affecting both mother and baby from pregnancy through family planning utilization. The objective of this case study was to provide comprehensive midwifery care to Ny.P at Kalikajar 2 Community Health Center, Wonosobo. This case study was conducted on Ny.P, a 28-year-old woman with obstetric status G2P1A0, at Kalikajar 2 Community Health Center. Antenatal care was provided through six visits with monitoring based on the 10T standard. Delivery was performed by cesarean section due to severe preeclampsia at Adina Mother and Child Hospital. A male infant was born weighing 2,790 grams, with a body length of 48 cm, and cried spontaneously immediately after birth. The postpartum and neonatal periods progressed normally without signs of infection or other complications. Following delivery, the mother chose to use an intrauterine device (IUD) as her contraceptive method. In conclusion, the comprehensive midwifery care provided demonstrated that the cesarean section was performed according to medical indications and Evidence-Based Midwifery guidelines. Continuous and comprehensive care contributed to the mother's recovery and helped prevent further complications.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Asuhan kebidanan berkelanjutan (Icontinuity of care) yaitu pemberian asuhan kebidanan sejak kehamilan, bersalin, nifas, neonatus hingga memutuskan menggunakan KB ini bertujuan sebagai upaya membantu memantau dan mendeteksi adanya kemungkinan timbulnya komplikasi yang menyertai ibu dan bayi dari masa kehamilan sampai ibu menggunakan KB. Tujuan penelitian adalah melakukan asuhan kebidanan komprehnsif pada Ny. Di Puskesmas Kalikajar 2 Wonosobo. Studi kasus ini dilakukan pada Ny.P usia 28 tahun G2P1A0 di Puskesmas Kalikajar 2. Asuhan kehmilan diberikan sebanyak 6 kali dengan pemantauan standar 10 T. Persalinan dilakukan melalui tindakan secio caesare atas indikasi Preeklamsi Berat di RSIA Adina. Bayi lahir dengan jenis kelamin laki-laki, BB 2790 gr, panjang badan 48 cm, dan langsung menangis. Masa nifas dan neonatus berjalan normal tanpa tanda-tanda infeksi atau komplikasi. Ibu menggunakan KB IUD pasca persalinan. Kesimpulan dari asuhan kebidanna komprehensif ini bahwa tindakan secio caesarea telah dilakukan sesuai dengan indikasi medis dan pedovan Evidance-Based Midwifery. Asuhan yang diberikan secara komprehensif membantu mempercepat pemulihan ibu dan mencegah komplikasi lebih lanjut.</p>Imbuh, Luvi Dian Afriyani
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2103Wed, 24 Jun 2026 00:00:00 +0000Penyuluhan tentang Common Cold dan Pijat Common Cold dalam Upaya Mengatasi Gejala Batuk Pilek pada Bayi/Balita
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2285
<p><em>The common cold is an upper respiratory tract infection that frequently affects infants and toddlers. A situation analysis in Pringsari Village, Pringapus District, Semarang Regency, found a high incidence of coughs and colds in infants and toddlers, as well as low maternal knowledge regarding non-pharmacological treatment, such as common cold massage. Therefore, this community service program aims to improve mothers' knowledge and skills in performing common cold massage to address cough and cold symptoms in infants and toddlers. Babies are weak individuals and require an adaptation process. Every baby must be able to go through a physiological adaptation process consisting of the cardiovascular, respiratory system, hematopoiesis system, metabolism, body temperature, digestive tract system, endocrine glands, immunoglobulin system, glucose metabolism, integumentary and reproductive systems. Performing a Common Cold massage consisting of stages of massage for babies with coughs and colds consisting of the following movements: toward bridge nose & under the cheekbone, cheek rain drop, open book, butterfly, toby top intercostal, chest rain drop, positioning the baby face down, back and forth, sweeping neck to bottom, sweeping neck to feet, back circle, back rain drop, pitching and relaxation. Counseling on Common Cold Massage for Babies and Toddlers as an Effort to Overcome Coughs and Colds in the Pringsari Village Area, Pringapus District, Semarang Regency, which was attended by 15 respondents who were mothers who had babies. The Community Service Implementation was carried out on Saturday, May 9, 2026, starting at 09.00 – 11.30 WIB offline, with a method with an introduction first, then filling out the pre-test, then the presentation of the material and continued with a demonstration of Common Cold massage with 13 stages, followed by a question and answer process, then filling out the post-test and finally closing. The counseling participants understood and comprehended how to do Common Cold Massage to Overcome Coughs and Colds in Babies and Toddlers and good communication was established between the proposing team and the mothers who conducted the counseling. There was an increase in the knowledge and skills of mothers, as seen from the good percentage data of 53.3% (pretest) to 93.3% (posttest). It is hoped that mothers can practice Common Cold massage at home independently when their children have coughs and colds.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Common cold merupakan salah satu gangguan saluran pernapasan atas yang sering terjadi pada bayi dan balita. Berdasarkan hasil analisis situasi di Desa Pringsari, Kecamatan Pringapus, Kabupaten Semarang, ditemukan masih tingginya kejadian batuk pilek pada bayi dan balita serta rendahnya pengetahuan ibu mengenai penanganan nonfarmakologis berupa pijat Common Cold. Oleh karena itu, pengabdian masyarakat ini dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu dalam melakukan pijat Common Cold sebagai upaya mengatasi gejala batuk pilek pada bayi dan balita. Bayi merupakan individu yang lemah dan memerlukan proses adaptasi. Setiap bayi harus dapat melalui proses adaptasi fisiologis yang terdiri dari kardiovaskuler, sistem pernafasan, sistem hematopoiesis, metabolisme, suhu tubuh, sistem traktus digestivus, kelenjar endokrin, sistem imunoglobulin, metabolisme glukosa, sistem integumen dan reproduksi. Melakukan pijat Common Cold yang terdiri dari tahapan pijat bayi batuk pilek yang terdiri dari gerakan berikut melakukan gerakan toward bridge nose & under the cheek bone, cheek rain drop, open book, butterfly, toby top intercostal, chest rain drop, memposisikan bayi telungkup, back and forth, sweeping neck to bottom, sweeping neck to feet, back circle, back rain drop, pitching dan relaksasi. Penyuluhan Pijat Common Cold Pada Bayi dan Balita Sebagai Upaya Mengatasi Batuk Pilek di Wilayah Desa Pringsari, Kecamatan Pringapus, Kabupaten Semarang yang diikuti oleh 15 responden Ibu yang memiliki bayi. Pelaksanaan Pengabdian Masyarakat dilakukan Hari Sabtu, 9 Mei 2026 mulai pukul 09.00 – 11.30 WIB secara luring (offline), dengan metode dengan perkenalan terlebih dahulu selanjutnya pengisian Pre Test, kemudian pemaparan materi dan dilanjutkan demonstrasi pijat Common Cold dengan 13 tahapan, berikutnya proses tanya jawab kemudian pengisian Post Test dan terakhir penutup. Peserta penyuluhan mengerti dan memahami cara melakukan Pijat Common Cold Untuk Mengatasi Batuk Pilek pada Bayi dan Balita dan bisa terjalin komunikasi baik tim pengusul dan para ibu yang melakukan penyuluhan. Terdapat peningkatan pengetahuan dan keterampilan ibu-ibu, yang dilihat dari data presentase baik 53,3% (pretest) menjadi 93,3% (Post Test). Diharapkan ibu-ibu dapat mempraktikkan pijat Common Cold dirumah secara mandiri saat anaknya mengalami batuk dan pilek.</p>Annisa Mastri Wahyu Nurjati, Icca Oktavia Noor Hidayati, Rinawati, Luvi Dian Afriyani
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2285Wed, 24 Jun 2026 00:00:00 +0000Asuhan Kebidanan Continuity of Care pada Ny. D G2P1A0 Umur 19 Tahun di Wilayah Kerja Puskesmas Pimping
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2143
<p><em>Continuity of care is continuous care starting from pregnancy, childbirth, newborn care, postpartum care, neonatal care and quality family planning services which when implemented completely are proven to have high effectiveness in reducing mortality and morbidity rates. The research method is a case study approach. Data collection techniques were obtained using primary and secondary data. Primary data were obtained through interviews, observations, and examinations. Secondary data was obtained through the KIA book and the results of supporting examinations. Data review using Varney Midwifery Management and documented with SOAP. The case study was carried out from November 27, 2025 to April 06, 2026. The comprehensive midwifery care provided lasts from pregnancy, childbirth, postpartum and neonatal to birth control with a frequency of 3 pregnancy visits, 1 delivery, 4 postpartum periods, 3 neonatal periods, and 2 birth control periods. During pregnancy, the mother experienced mild anemia and was managed with Fe-giving education, the mother gave birth normally at 39 weeks gestation at dr. Soemarno Sostroadmojo Hospital. Newborns are normal and IMD is performed. After the mother's postpartum is normal, the mother chooses IUD birth control. Comprehensive obstetric care will improve the health and well-being of the mother.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Continuity of care adalah perawatan yang berkesinambungan mulai dari kehamilan, persalinan, asuhan bayi baru lahir, asuhan post partum, asuhan neonatus dan pelayanan KB yang berkualitas yang apabila dilaksanakan secara lengkap terbukti mempunyai efektifitas yang tinggi dalam menurunkan angka mortalitas dan morbiditas. Metode penelitian adalah study pendekatan kasus (Case Study).Tekhnik pengumpulan data diperoleh dengan menggunakan data primer dan sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara, observasi,dan pemeriksaan. Data sekunder diperoleh melalui buku KIA dan hasil pemeriksaan penunjang. Pengkajian data menggunakan Manajemen Kebidanan Varney dan didokumentasikan dengan SOAP. Studi kasus dilaksanakan pada tanggal 27 November 2025 sampai 06 April 2026. Asuhan kebidanan komprehensif yang diberikan berlangsung dari masa kehamilan, bersalin, nifas, neonatus sampai KB dengan frekuensi kunjungan hamil sebanyak 3 kali, persalinan 1 kali, nifas 4 kali, neonatus 3 kali,serta KB sebanyak 2 kali. Pada masa kehamilan ibu mengalami anemia ringan dan ditatalaksanakan dengan pendidikan pemberian Fe, ibu bersalin normal pada umur kehamilan 39 minggu di RSUD dr. Soemarno Sostroadmojo. Bayi baru lahir normal dan dilakukan IMD. Nifas ibu normal, ibu memilih KB IUD. Dengan Asuhan kebidanan komprehensif akan meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan ibu.</p>Ana Maulidiyah, Cahyaningrum
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2143Wed, 24 Jun 2026 00:00:00 +0000Hipnoterapi untuk Mengatasi Kecemasan Ibu Hamil di Puskesmas Tanah Kuning dan RSUD Dr. H. Jusuf Sk
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2358
<p><em>Pregnancy involves complex physiological processes triggering physical, hormonal, and psychological changes that frequently induce significant maternal anxiety. Unmanaged anxiety can elevate cortisol production excessively, thereby increasing the risk of medical complications such as hypertension, preterm labor, and low birth weight. In this context, hypnotherapy serves as a safe, non-pharmacological complementary intervention designed to induce deep relaxation, stabilize the sympathetic nervous system, and plant positive suggestions to alleviate psychological stress. This community service study aims to evaluate the application of complementary hypnotherapy in reducing anxiety among pregnant women within the working areas of UPTD Puskesmas Tanah Kuning and RSUD dr. H. Jusuf SK. This community service project was conducted in May 2026 at UPTD Puskesmas Tanah Kuning, Bulungan Regency, and RSUD dr. H. Jusuf SK, Tarakan City, North Kalimantan. The sample consisted of 21 purposively selected pregnant women. The intervention method integrated educational and demonstrative approaches through health education and basic hypnotherapy practices. Standardized pre-test and post-test questionnaires were administered to assess anxiety levels before and after the intervention, with data analyzed descriptively using frequency distributions and percentages. Demographic findings indicated that all participants (100%) were within the healthy reproductive age range (20–35 years), 95.24% were in their third trimester, and 52.38% had an ideal parity of 2–3. Pre-test results showed most participants experienced moderate anxiety (66.67%), followed by mild anxiety (19.05%) and severe anxiety (14.28%). Following the hypnotherapy and educational intervention, a significant shift in psychological indicators occurred in the post-test: the mild anxiety category surged sharply to 85.72%, moderate anxiety decreased to 14.28%, and the severe anxiety group was completely eliminated to zero percent (0%). The therapeutic mechanism relies on deep relaxation to decrease sympathetic nervous system activity, slow the heart rate, and relax muscles, allowing the subconscious mind to safely absorb positive suggestions that transform perceptions of pregnancy. The application of complementary hypnotherapy successfully reduced anxiety and enhanced the psychological readiness of pregnant women at both health facilities. Midwives are recommended to integrate hypnotherapy as a routine intervention in Antenatal Care (ANC) services to support sustainable maternal mental health.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Kehamilan melibatkan proses fisiologis kompleks yang memicu perubahan fisik, hormonal, dan psikologis, sehingga sering menimbulkan kecemasan maternal yang signifikan. Kecemasan yang tidak terkelola dengan baik dapat meningkatkan produksi hormon kortisol secara berlebihan, menaikkan risiko komplikasi medis seperti hipertensi, persalinan prematur, dan berat badan lahir rendah. Dalam konteks ini, hipnoterapi berfungsi sebagai intervensi komplementer non-farmakologis yang aman untuk merangsang relaksasi mendalam, menstabilkan sistem saraf simpatis, dan menanamkan sugesti positif guna mengurangi stres psikologis. Penelitian berbasis pengabdian masyarakat ini bertujuan mengevaluasi penerapan hipnoterapi komplementer dalam menurunkan tingkat kecemasan ibu hamil di wilayah kerja UPTD Puskesmas Tanah Kuning dan RSUD dr. H. Jusuf SK. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan pada bulan Mei 2026 di UPTD Puskesmas Tanah Kuning, Kabupaten Bulungan, dan RSUD dr. H. Jusuf SK, Kota Tarakan, Kalimantan Utara. Sampel terdiri dari 21 ibu hamil yang dipilih secara purposif. Metode intervensi mengintegrasikan pendekatan edukatif dan demonstratif melalui penyuluhan kesehatan serta praktik hipnoterapi dasar. Kuesioner pre-test dan post-test standar diberikan untuk menilai tingkat kecemasan sebelum dan sesudah intervensi, lalu data dianalisis secara deskriptif menggunakan distribusi frekuensi dan persentase. Temuan menunjukkan seluruh peserta (100%) berada pada rentang usia reproduksi sehat (20–35 tahun), 95,24% berada pada trimester ketiga, dan 52,38% memiliki paritas ideal 2–3. Hasil pre-test menunjukkan sebagian besar peserta mengalami kecemasan sedang (66,67%), diikuti kecemasan ringan (19,05%), dan kecemasan berat (14,28%). Setelah dilakukan intervensi hipnoterapi dan edukasi, terjadi pergeseran indikator psikologis yang signifikan pada post-test: kategori kecemasan ringan melonjak tajam menjadi 85,72%, kecemasan sedang menurun menjadi 14,28%, dan kelompok kecemasan berat berkurang total hingga mencapai nol persen (0%). Mekanisme terapeutik ini mengandalkan relaksasi mendalam untuk menurunkan aktivitas sistem saraf simpatis, memperlambat denyut jantung, dan melemaskan otot, sehingga alam bawah sadar dapat menyerap sugesti positif yang mengubah persepsi tentang kehamilan secara aman. Penerapan hipnoterapi komplementer berhasil menurunkan kecemasan dan meningkatkan kesiapan psikologis ibu hamil di kedua institusi tersebut. Bidan disarankan mengintegrasikan hipnoterapi sebagai intervensi non-farmakologis rutin layanan Antenatal Care (ANC) demi mendukung kesehatan mental maternal berkelanjutan.</p>Niken Riestiani, Ari Andayani, Rosauliya Handayani, Mariany Ba’ru, Harti Octavia Situmorang, Megawati, Andi Bella Gading Soraya, Ira Purnamasari Azis
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2358Wed, 24 Jun 2026 00:00:00 +0000Asuhan Kebidanan Continuity of Care (COC) Ny.S G3P2A0 Usia 30 Tahun di Klinik Pratama Lestari I
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2148
<p><em>Continuity of care is midwifery care aimed at improving public health, particularly reducing maternal and infant mortality rates. This care includes comprehensive midwifery care, including integrated antenatal care (ANC), delivery assisted by trained healthcare professionals, postpartum care, newborn care, and family planning services. Comprehensive midwifery care for Mrs. S was provided from April to May. The midwifery care method used a descriptive approach and was documented using Varney's 7 steps and SOAP. During the third trimester, the mother complained of frequent abdominal pain that subsided after a while and was irregular, indicating false contractions. The mother already knew these were not labor contractions. Mrs. S's pregnancy was in good and normal condition, with no problems endangering the mother or baby. She stated that she did not want any tears, so she exercised with a gym ball at home. She said she received information from social media. Delivery care was provided on April 21, 2025, with a normal delivery using APN steps. Mrs. S was born spontaneously at the back of the head. She was female, weighing 2,600 grams, measuring 46 cm long, and had no perineal tears. The delivery process was assisted by a slight perineal massage during delivery. Postpartum care for the mother and newborn was provided simultaneously, with an 8-hour visit, a second visit on the third day, a third visit on the fourteenth day, and a fourth visit on the twenty-fifth day. The conclusion was that both mother and baby were healthy and there were no complications. During the postpartum period, the mother received family planning information and education (IEC) and stated that she wanted to use a 3-monthly injection. Based on the results of the comprehensive midwifery care provided to Mrs. S, it is hoped that Mrs. S will implement the IEC provided during her care. Health workers are expected to provide maximum comprehensive care to improve the quality of life for mothers and babies, and are expected to implement complementary midwifery care to provide non-pharmacological services to mothers</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Continuity of care merupakan Asuhan kebidanan dengan tujuan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat terutama mengurangi angka kematian ibu dan bayi, dengan cara melakukan Asuhan kebidanan komprehensif yang meliputi Asuhan kebidanan kehamilan yang benar yaitu dengan ANC Terpadu,persalinan dengan pertolongan tenaga kesehatan terlatih, Nifas dilakukan perawatan pasca salin, Bayi Baru Lahir (BBL) dilakuka perawatan bayi baru lahir, dan Pelayanan Keluarga Berencana (KB). Asuhan Kebidanan komprehensif pada Ny.S dilakukan mulai April sampai mei. Metode asuhan kebidanan menggunakan pendekatan yang bersifat deskriptif dan didokumentasikan menggunakan 7 langkah varney dan SOAP. Pada Asuhan kehamilan trimester III ibu datang mengeluh sering kencang-kencang pada perut lalu hilang setelah beberapa saat dan tidak teratur yang merupakan kontraksi palsu, ibu sudah tau jika ini bukan kontraksi tanda persalinan/kontraksi palsu, pada kehamilan Ny.S dalam keadaan baik dan normal, tidak ditemukan permasalahan yang membahayakan ibu dan bayi, ibu mengatakan tidak ingin ada robekan sehingga ibu melakukan gymball dirumah, ibu mengatakan mendapatkan informasi dari sosial media. Asuhan Persalinan dilakukan pada tanggal 21 April 2025 dengan Persalinan Normal dengan Langkah APN bayi Ny.S lahir spontan belakang kepala, jenis kelamin perempuan BB 2.600 gr, Panjang badan 46cm, dan tidak ada robekan perineum, pada proses persalinan dibantu sedikit pemijatan perineum disaat ibu. Asuhan pada masa nifas pada ibu dan asuhan bayi baru lahir dilakukan bersamaan yaitu kunjungan 8 jam, kunjungan kedua di hari ke tiga, kunjungan ke tiga dihari ke empat belas, kunjungan keempat dihari duapuluh lima dengan kesimpulan ibu dan bayi sehat dan tidak ada komplikasi. Pada Masa nifas ibu sudah diberikan KIE KB ibu mengatakan ingin menggunakan KB suntik 3 bulan. Berdasarkan hasil asuhan kebidanan komprehensif yang telah dilakukan pada Ny.S diharapkan Ny.S dapat menerapkan KIE yang telah diberikan selama diberikannya asuhan. Diharapkan tenaga Kesehatan memberikan pelayanan asuhan komprehensif yang maksimal untuk menaikan derajat hidup ibu dan bayi, serta diharapkan menerapkan asuhan kebidanan komplementer untuk memberikan pelayanan kepada ibu yang nonfarmakologi.</p>Ana Riandari, Ari Andayani
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2148Wed, 24 Jun 2026 00:00:00 +0000Asuhan Kebidanan Continuity of Care (COC) pada Ny. S Umur 45 Tahun G3P2A0 dengan Resiko Tinggi di RS Ken Saras
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2140
<p><em>In Indonesia, maternal and child health remains a major concern due to the high Maternal Mortality Rate (MMR) and Infant Mortality Rate (IMR). Efforts to reduce MMR and IMR are carried out through continuous midwifery care or Continuity of Care (CoC), starting from pregnancy, childbirth, postpartum, newborn care, to family planning services. This study aimed to provide comprehensive midwifery care for Mrs. S, a 45-year-old G3P2A0 woman with a high-risk pregnancy at Ken Saras Hospital. This study used a descriptive method with a case study approach. Data were collected through interviews, observations, physical examinations, documentation of the maternal and child health (MCH) book, and medical records. Care was provided continuously from the third trimester of pregnancy, childbirth, postpartum period, newborn care, to family planning services. The results showed that Mrs. S experienced a high-risk pregnancy due to maternal age >35 years, with third-trimester complaints including frequent urination, back pain, and fatigue, which were managed through education and non-pharmacological management. Delivery was performed by cesarean section based on certain indications. The baby was born in good condition and received standard newborn care. During the postpartum period, the mother experienced suboptimal breast milk production, therefore breastfeeding education, oxytocin massage, and nutritional support were provided. In family planning services, the mother chose the MOW contraceptive method. The conclusion of this study shows that Continuity of Care midwifery care is effective in detecting risk factors, preventing complications, and improving maternal and infant health. </em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Kondisi kesehatan ibu dan anak di Indonesia masih menjadi perhatian utama karena tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). Upaya penurunan AKI dan AKB dilakukan melalui pelayanan kebidanan berkesinambungan atau Continuity of Care (CoC) mulai dari masa kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir hingga keluarga berencana. Penelitian ini bertujuan memberikan asuhan kebidanan komprehensif pada Ny. S umur 45 tahun G3P2A0 dengan risiko tinggi di RS Ken Saras. Metode penelitian menggunakan deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, dokumentasi buku KIA, dan rekam medis. Asuhan diberikan secara berkelanjutan sejak kehamilan trimester III, persalinan, nifas, bayi baru lahir, hingga pelayanan keluarga berencana. Hasil asuhan menunjukkan bahwa Ny. S mengalami kehamilan risiko tinggi karena usia >35 tahun dengan keluhan trimester III berupa sering buang air kecil, nyeri punggung, dan mudah lelah yang dapat diatasi melalui edukasi dan penatalaksanaan nonfarmakologis. Persalinan dilakukan secara sectio caesarea atas indikasi tertentu. Bayi lahir dalam keadaan baik dan mendapatkan asuhan sesuai standar. Pada masa nifas, ibu mengalami produksi ASI belum optimal sehingga diberikan edukasi menyusui, pijat oksitosin, dan dukungan nutrisi. Pada pelayanan keluarga berencana, ibu memilih kontrasepsi MOW. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa asuhan kebidanan Continuity of Care efektif dalam mendeteksi faktor risiko, mencegah komplikasi, dan meningkatkan kesehatan ibu serta bayi.</p>Ambar Wati, Heni Setyowati
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2140Wed, 24 Jun 2026 00:00:00 +0000Edukasi dan Pelatihan Yoga untuk Mengurangi Nyeri Haid Primer Bagi Remaja Putri
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2322
<p><em>Primary dysmenorrhea is a common health problem among adolescent girls and often disrupts daily activities. The usual management is the consumption of pain relievers, but non-pharmacological approaches such as yoga are still rarely known and practiced. This community service program aimed to increase adolescents’ knowledge about yoga as a complementary therapy to reduce primary menstrual pain so that adolescent girls are able to perform yoga movements independently to reduce pain and enhance comfort during menstruation. The program was conducted at SMPN 01 Peso and SMPN 03 Tana Tidung on May 22, 2026, involving 20 eighth-grade students. The methods included health education, yoga training, and evaluation of knowledge before and after the intervention. The results showed a significant improvement: prior to education, 80% of respondents had poor knowledge and 20% had moderate knowledge; after education, all respondents (100%) achieved good knowledge. These findings confirm that yoga education and training effectively enhance adolescents’ understanding of safe, independent, and non-pharmacological management of primary dysmenorrhea. This program is expected to be sustainably implemented in schools and adolescent health services to support reproductive health and improve the quality of life of adolescent girls. </em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Nyeri haid primer (dismenore) merupakan masalah kesehatan yang umum dialami remaja putri dan sering mengganggu aktivitas sehari-hari. Penanganan yang lazim dilakukan adalah konsumsi obat pereda nyeri, namun pendekatan non-farmakologis seperti yoga masih jarang diketahui dan diterapkan. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan remaja putri mengenai yoga sebagai terapi komplementer dalam mengurangi nyeri haid primer sehingga remaja putri mampu melakukan gerakan yoga secara mandiri untuk mengurangi nyeri dan meningkatkan kenyamanan selama menstruasi. Program dilaksanakan di SMPN 01 Peso dan SMPN 03 Tana Tidung pada 22 Mei 2026 dengan melibatkan 20 siswi kelas VIII. Metode kegiatan meliputi penyuluhan, pelatihan yoga, serta evaluasi pengetahuan sebelum dan sesudah intervensi. Hasil menunjukkan adanya peningkatan signifikan: sebelum edukasi, 80% responden memiliki pengetahuan kurang dan 20% cukup; setelah edukasi, seluruh responden (100%) mencapai kategori pengetahuan baik. Temuan ini menegaskan bahwa edukasi dan pelatihan yoga efektif meningkatkan pemahaman remaja putri tentang penanganan nyeri haid primer secara mandiri, aman, dan non-farmakologis. Program ini diharapkan dapat diterapkan secara berkelanjutan di sekolah maupun posyandu remaja untuk mendukung kesehatan reproduksi dan kualitas hidup remaja putri.</p>Indra Puspita, Andi Sriana, Intan Yemima, Tita Nadea Pratiwi Rahma, Ana Lestari Ningsih, Herlina Liling, Mirwana, Heni Hirawati Pranoto
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2322Wed, 24 Jun 2026 00:00:00 +0000Asuhan Kebidanan Komprehensif pada Ny. N Usia 30 Tahun G4P3A0 di Wilayah Kerja Puskesmas Kajen I Kabupaten Pekalongan
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2291
<p><em>Maternal Mortality Rate (MMR) and Infant Mortality Rate (IMR) remain important indicators in assessing the degree of public health. In Indonesia, the MMR reaches 305 per 100,000 live births and the IMR is 22 per 1,000 live births. These high rates are influenced by various factors such as hemorrhage, infection, hypertension in pregnancy, and complications during childbirth and postpartum. One of the efforts to reduce MMR and IMR is through continuous midwifery care or Continuity of Care (CoC), which provides comprehensive care from pregnancy to family planning. This study used a descriptive method with a case study approach on Mrs. N, 30 years old, G4P3A0, in the working area of Puskesmas Kajen I, Pekalongan Regency,. Midwifery care was provided comprehensively covering pregnancy, childbirth, postpartum, newborn care, and family planning services using a midwifery management approach. The results showed that the implementation of Continuity of Care midwifery services was carried out well according to service standards. The condition of the mother and baby during pregnancy, childbirth, postpartum, and the newborn period was good without significant complications. The mother also understood self-care, newborn care, and the importance of contraceptive use. In conclusion, the implementation of comprehensive midwifery care through Continuity of Care is effective in improving the quality of services and supporting efforts to reduce MMR and IMR through early detection and appropriate management. </em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) masih menjadi indikator penting dalam menilai derajat kesehatan masyarakat. Di Indonesia, AKI mencapai 305 per 100.000 kelahiran hidup dan AKB sebesar 22 per 1.000 kelahiran hidup. Tingginya angka tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti perdarahan, infeksi, hipertensi dalam kehamilan, serta komplikasi persalinan dan nifas. Salah satu upaya untuk menurunkan AKI dan AKB adalah melalui pelayanan kebidanan berkesinambungan atau Continuity of Care (CoC) yang memberikan asuhan secara menyeluruh sejak kehamilan hingga keluarga berencana. Metode yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan studi kasus pada Ny. N usia 30 tahun G4P3A0 di wilayah kerja Puskesmas Kajen Kabupaten Pekalongan. Asuhan kebidanan diberikan secara komprehensif meliputi masa kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir, hingga pelayanan keluarga berencana dengan pendekatan manajemen kebidanan. Hasil menunjukkan bahwa asuhan kebidanan secara Continuity of Care dapat dilaksanakan dengan baik sesuai standar pelayanan. Kondisi ibu dan bayi selama kehamilan, persalinan, nifas, dan bayi baru lahir dalam keadaan baik tanpa komplikasi yang berarti. Ibu juga memahami perawatan diri, perawatan bayi, serta pentingnya penggunaan kontrasepsi. Kesimpulannya, penerapan asuhan kebidanan komprehensif secara Continuity of Care efektif dalam meningkatkan kualitas pelayanan serta mendukung upaya penurunan AKI dan AKB melalui deteksi dini dan penanganan yang tepat.</p>Anggraeni Indri H, Heni Hirawati Pranoto
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2291Wed, 24 Jun 2026 00:00:00 +0000Pemantauan Ibu Hamil Usia Resiko Tinggi Melalui Pendekatan Continuity of Care (COC)
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2124
<p><em>Maternal Mortality Rate (MMR) and Infant Mortality Rate (IMR) are critical indicators of a nation's health status. An effective strategy for early risk detection and reducing mortality is implementing continuity of care (COC) in midwifery practices. To provide comprehensive and continuous midwifery care starting from the third trimester of pregnancy, labor, postpartum, neonates, to family planning (KB) services for Mrs. S in Sambirejo Village. This case study applied the 7-step Varney midwifery management and was documented using the SOAP format. The subject was Mrs. S, a 35-year-old G3P2A0. Care was standardly given from 32 weeks of gestation in January 2026 until 6 weeks postpartum in April 2026. During the third trimester, physiological discomfort in the form of back pain was managed through prenatal yoga. Delivery occurred at 39 weeks of gestation at RSGM via Sectio Caesarea (SC) due to obstetric indication, delivering a healthy baby boy weighing 3235 grams. The postpartum period progressed normally with good uterine involution and smooth lactation. Neonatal visits indicated a healthy infant. At the end of postpartum, the client opted for an implant contraceptive method. Overall, the continuity of care (COC) for Mrs. S was carried out successfully without complications, effectively fulfilling the client's reproductive health needs and transitioning her to long-acting reversible contraception.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan indikator penting dalam derajat kesehatan suatu negara. Salah satu strategi efektif untuk mendeteksi dini faktor risiko dan menekan angka kematian tersebut adalah penerapan asuhan kebidanan secara berkesinambungan (Continuity of Care/ COC). Memberikan asuhan kebidanan secara komprehensif dan berkesinambungan dimulai dari masa kehamilan trimester III, persalinan, nifas, neonatus, hingga pilihan pelayanan keluarga berencana (KB) pada Ny. S di Desa Sambirejo. Jenis laporan menggunakan studi penelaahan kasus (case study) dengan pendekatan manajemen kebidanan 7 langkah Varney dan didokumentasikan dalam format SOAP. Subjek studi adalah Ny. S umur 35 tahun G3P2A0. Asuhan diberikan sejak usia kehamilan 32 minggu pada Januari 2026 hingga masa nifas 6 minggu pada April 2026. Pada masa kehamilan trimester III ditemukan ketidaknyamanan fisiologis berupa punggung pegal-pegal yang diatasi dengan latihan prenatal yoga. Persalinan berlangsung pada usia kehamilan 39 minggu di RSGM secara Sectio Caesarea (SC) atas indikasi medis/obstetri, melahirkan bayi laki-laki dengan berat 3235gram secara sehat. Masa nifas berlangsung normal, involusi uterus baik, dan ASI keluar dengan lancar. Kunjungan neonatus menunjukkan pertumbuhan bayi yang sehat. Pada akhir masa nifas, ibu memilih menjadi akseptor baru KB implan. Secara keseluruhan asuhan kebidanan berkesinambungan (COC) pada Ny. S telah terlaksana dengan baik secara fisiologis tanpa adanya komplikasi, serta berhasil menjembatani kebutuhan ibu dalam memilih metode kontrasepsi jangka panjang.</p>Annisa Mastri Wahyu Nur Jati, Masruroh
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2124Wed, 24 Jun 2026 00:00:00 +0000Peningkatan Pengetahuan dan Keterampilan Ibu Hamil Tentang Relaksasi dan Pernapasan Melalui Kegiatan Prenatal Yoga
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2327
<p><em>Prenatal yoga is a non-pharmacological method that can help pregnant women reduce physical tension, anxiety, and psychological complaints during pregnancy. Knowledge and skills of pregnant women regarding relaxation and breathing techniques through prenatal yoga are still limited. This community service activity aimed to improve pregnant women's knowledge and skills in performing prenatal yoga. The program was conducted in 03 June 2026, in three locations, at Health Center Sebakung Taka, East Kalimantan Province, Nasyifa Medika Medical Clinic, Central Java Province, and Health Center Juata, North Kalimantan Province, involving 25 pregnant women. The method used was through education, demonstration, hands-on practice, and evaluation using pre-test and post-test questionnaires. The pre-test results showed that most participants had low knowledge (76.9%). After participating in the education and prenatal yoga practice, most participants had high knowledge (69.2%), and none remained in the low category. These results indicate that education combined with practical exercises is effective in improving pregnant women's understanding and skills regarding prenatal yoga, relaxation, and breathing techniques. Prenatal yoga education should be conducted continuously through posyandu activities and community health programs to support comfort and readiness for childbirth.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan indikator penting dalam derajat kesehatan suatu negara. Salah satu strategi efektif untuk mendeteksi dini faktor risiko dan menekan angka kematian tersebut adalah penerapan asuhan kebidanan secara berkesinambungan (Continuity of Care/ COC). Memberikan asuhan kebidanan secara komprehensif dan berkesinambungan dimulai dari masa kehamilan trimester III, persalinan, nifas, neonatus, hingga pilihan pelayanan keluarga berencana (KB) pada Ny. S di Desa Sambirejo. Jenis laporan menggunakan studi penelaahan kasus (case study) dengan pendekatan manajemen kebidanan 7 langkah Varney dan didokumentasikan dalam format SOAP. Subjek studi adalah Ny. S umur 35 tahun G3P2A0. Asuhan diberikan sejak usia kehamilan 32 minggu pada Januari 2026 hingga masa nifas 6 minggu pada April 2026. Pada masa kehamilan trimester III ditemukan ketidaknyamanan fisiologis berupa punggung pegal-pegal yang diatasi dengan latihan prenatal yoga. Persalinan berlangsung pada usia kehamilan 39 minggu di RSGM secara Sectio Caesarea (SC) atas indikasi medis/obstetri, melahirkan bayi laki-laki dengan berat 3235gram secara sehat. Masa nifas berlangsung normal, involusi uterus baik, dan ASI keluar dengan lancar. Kunjungan neonatus menunjukkan pertumbuhan bayi yang sehat. Pada akhir masa nifas, ibu memilih menjadi akseptor baru KB implan. Secara keseluruhan asuhan kebidanan berkesinambungan (COC) pada Ny. S telah terlaksana dengan baik secara fisiologis tanpa adanya komplikasi, serta berhasil menjembatani kebutuhan ibu dalam memilih metode kontrasepsi jangka panjang.</p>Nurul Fajriah, Iffatul Muna A, Eka Agustin Sinar Lina, Pebri Satni Lestari, Nurul Khaefa, Gina Audina, Nurul Muslimah, Ayu Arum Sari, Masruroh
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2327Wed, 24 Jun 2026 00:00:00 +0000Studi Kasus : Asuhan Kebidanan Komprehensif pada Ny. E Umur 20 Tahun GIP0A0 dengan Penerapan Massage Effleurage di Klinik Jhon’s
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2045
<p><em>Maternal and infant mortality rates are key indicators of a country’s well-being. To reduce these rates, high-quality, comprehensive, and evidence-based maternal and child health services are essential. One of the most common discomforts experienced during the third trimester of pregnancy is back pain. An effective non-pharmacological treatment is the effleurage massage. The research method used was a descriptive case study approach at John’s Clinic from April to June 2026. The research subject was Ms. E, a 20-year-old G1P0A0 mother in her third trimester of pregnancy who was experiencing back pain. After receiving the effleurage massage intervention, Ms. E reported that her lower back pain had decreased and that she always felt drowsy during the effleurage massage. The conclusion is that effleurage massage is effective in reducing back pain in pregnant women and makes them feel comfortable. Pregnant women and their families are advised to perform effleurage massage independently to help reduce back pain and provide comfort to the mother.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>AKI dan AKB merupakan salah satu indikator kesejahteraan suatu negara. Untuk menurunkan AKI dan AKB, diperlukan pelayanan kesehatan ibu dan anak yang berkualitas dan komprehensif berbasis evidence based. Salah satu gangguan ketidaknyamanan yang sering dirasakan pada kehamilan trimester III yakni nyeri punggung. Penanganan nonfarmokologi yang efektif adalah dengan melakukan massage effleurage. Metode penelitian yang digunakan yakni pendekatan deskriptif studi kasus di klinik Jhon’s sejak bulan April sampai dengan Juni 2026. Subjek penelitian adalah Ny, E umur 20 tahun, ibu G1P0A0 ibu hamil trimester III yang mengalami nyeri punggung. Setelah diberikan intervensi massage effleurage, Ny. E mengatakan nyeri pada pinggangnya berkurang dan selalu merasa mengantuk saat dilakukan massage effleurage. Kesimpulan massage effleurage efektif menurunkan nyeri pada punggung ibu dan ibu merasa nyaman. Ibu hamil dan keluarga disarankan menerapkan massage effleurage secara mandiri untuk membantu menurunkan nyeri punggung dan memberikan rasa nyaman pada ibu.</p>Armelinda Octavia Nay, Eti Salafas
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2045Wed, 24 Jun 2026 00:00:00 +0000Pemberdayaan Remaja Putri melalui Yoga sebagai Strategi Nonfarmakologis Pengelolaan Dismenore
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2391
<p><em>Dysmenorrhea is one of the most common reproductive health problems among adolescent girls and may interfere with daily activities, learning concentration, and quality of life. Based on a community needs assessment conducted in Kalibanger Village, Gemawang Health Center area, many adolescent girls experienced menstrual pain but had limited knowledge regarding safe and effective non-pharmacological management. Yoga, which combines stretching exercises, breathing techniques, and relaxation, is considered a potential strategy to reduce dysmenorrhea. This community service program aimed to improve adolescent girls’ skills in practicing yoga as a non-pharmacological approach to managing menstrual pain. The activity involved 15 adolescent girls who had experienced menstruation. The intervention consisted of health education, yoga demonstrations, guided practice sessions, and mentoring. Evaluation was conducted using an observation checklist assessing participants’ ability to follow instructions, body positioning, breathing techniques, movement sequence performance, and independent yoga practice. The results showed that most participants demonstrated good performance in following yoga instructions (86.7%), practicing yoga independently (86.7%), body positioning accuracy (80.0%), movement sequence performance (80.0%), and breathing techniques (73.3%). Participants also showed high enthusiasm throughout the activity. This initiative demonstrates that health education combined with yoga demonstrations and practice is effective in improving adolescent girls’ ability to practise yoga as a non-pharmacological strategy for managing dysmenorrhoea. Similar initiatives should be developed on an ongoing basis as part of efforts to promote and prevent reproductive health issues amongst adolescents.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Dismenore merupakan salah satu masalah kesehatan reproduksi yang sering dialami remaja putri dan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, konsentrasi belajar, serta kualitas hidup. Berdasarkan identifikasi kebutuhan di Desa Kalibanger wilayah kerja Puskesmas Gemawang, sebagian remaja putri mengalami nyeri haid namun belum mengetahui cara penanganan nonfarmakologis yang aman dan mudah dilakukan secara mandiri. Salah satu upaya yang dapat diterapkan untuk mengurangi dismenore adalah yoga, yaitu latihan yang mengombinasikan gerakan peregangan, teknik pernapasan, dan relaksasi. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan keterampilan remaja putri dalam melakukan yoga sebagai upaya nonfarmakologis pengelolaan dismenore. Kegiatan dilaksanakan di Desa Kalibanger wilayah kerja Puskesmas Gemawang dengan melibatkan 15 remaja putri yang telah mengalami menstruasi. Metode yang digunakan meliputi penyuluhan kesehatan, demonstrasi, praktik yoga, dan pendampingan. Evaluasi dilakukan menggunakan lembar observasi keterampilan praktik yoga yang mencakup kemampuan mengikuti instruksi, ketepatan posisi tubuh, teknik pernapasan, kelancaran gerakan, dan kemampuan melakukan yoga secara mandiri. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa sebagian besar remaja putri memiliki keterampilan yang baik dalam mengikuti instruksi gerakan yoga (86,7%), melakukan yoga secara mandiri (86,7%), ketepatan posisi tubuh (80,0%), kelancaran rangkaian gerakan (80,0%), dan teknik pernapasan (73,3%). Remaja putri juga menunjukkan antusiasme yang tinggi selama kegiatan berlangsung. Kegiatan ini menunjukkan bahwa penyuluhan kesehatan yang dikombinasikan dengan demonstrasi dan praktik yoga efektif dalam meningkatkan keterampilan remaja putri untuk melakukan yoga sebagai salah satu strategi nonfarmakologis dalam mengelola dismenore. Kegiatan serupa perlu dikembangkan secara berkelanjutan sebagai bagian dari upaya promotif dan preventif kesehatan reproduksi remaja.</p>Kurnia Putri Permatasari, Desi Ambar Sari, Sri Ratmawati, Ila Larasati, Siti Hasanah, Merry Yuliana, Septa Puspitasari, Ropeah, Eti Salafas
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2391Wed, 24 Jun 2026 00:00:00 +0000Asuhan Kebidanan Komprehensif pada Ny. A Umur 29 Tahun G1P0A0 di Desa Wringinputih
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2060
<p><em>Continuity of Care (COC) is a continuous care from pregnancy to Family Planning (KB) as an effort to reduce the Maternal Mortality Rate (MMR) and Infant Mortality Rate (IMR). In reality, there are still deliveries that experience complications resulting in maternal and infant deaths. This study aims to provide comprehensive midwifery care to Mrs. A, aged 29, starting from pregnancy, childbirth, postpartum, newborn to family planning services. The method used is a case study with data collection through interviews, observations, physical examinations and documentation. The results of the care show that Mrs. A and her baby are in good condition throughout the entire series of care, with no significant complications found and demonstrating understanding and compliance with the education provided. These results indicate that Continuity of Care services play an important role in improving the quality of maternal and infant health, as well as providing a positive experience for clients during the pregnancy process until postpartum care.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Asuhan Continuity of Care (COC) merupakan asuhan secara berkesinambungan dari hamil sampai dengan Keluarga Berencana (KB) sebagai upaya penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) & Angka Kematian Bayi (AKB). Kenyataannya masih ada persalinan yang mengalami komplikasi sehingga mengakibatkan kematian ibu dan bayi. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan asuhan kebidanan secara komprehensif pada Ny. A, usia 29 tahun, mulai dari masa kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir hingga pelayanan keluarga berencana. Metode yang digunakan adalah studi kasus dengan pengumpulan data melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik dan dokumentasi. Hasil dari asuhan menunjukkan bahwa Ny. A dan bayinya berada dalam kondisi baik selama seluruh rangkaian asuhan, dengan tidak ditemukannya komplikasi yang berarti serta menunjukkan pemahaman dan kepatuhan terhadap edukasi yang diberikan. Hasil ini menunjukkan bahwa pelayanan Continuity of Care berperan penting dalam meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan bayi, serta memberikan pengalaman positif bagi klien dalam menjalani proses kehamilan hingga perawatan pasca persalinan.</p>Bella Safitri, Kartika Sari
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2060Wed, 24 Jun 2026 00:00:00 +0000Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Akupresur dalam Menangani Mual dan Muntah Pada Ibu Hamil
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2380
<p><em>Emesis gravidarum is a common complaint experienced by pregnant women during the first trimester and can interfere with daily activities, potentially progressing to hyperemesis gravidarum if not managed appropriately. One non-pharmacological method that is safe, practical, and easy to perform independently is acupressure at the Pericardium 6 (PC6) point. However, limited knowledge and skills among pregnant women regarding this technique remain barriers to its utilization. This community service program aimed to improve the knowledge and skills of first-trimester pregnant women in managing emesis gravidarum through health education and hands-on training in PC6 acupressure. The activity involved 23 pregnant women, most of whom had a secondary education background (60.9%). The method of implementing the activity is counseling and demonstration or practice of acupressure at point P6, as well as evaluation through pretest and posttest. Results: Pretest results showed that 60.9% of participants had poor knowledge regarding PC6 acupressure for managing nausea and vomiting during pregnancy. Following the educational session and practical training, participants demonstrated a significant improvement in knowledge, with 82.6% achieving a good level of knowledge and no participants remaining in the poor knowledge category. Participants were also able to correctly demonstrate the PC6 acupressure technique and actively participated throughout the activity. The health education and training program on PC6 acupressure effectively improved the knowledge and skills of first-trimester pregnant women in managing emesis gravidarum independently. This program serves as a promising promotive and preventive intervention that can be integrated into Antenatal Care (ANC) services and Pregnancy Classes to support maternal health and self-care during pregnancy.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Emesis gravidarum merupakan keluhan yang sering dialami ibu hamil pada trimester pertama dan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari serta berisiko berkembang menjadi hiperemesis gravidarum apabila tidak ditangani dengan baik. Salah satu metode nonfarmakologis yang aman, mudah, dan dapat dilakukan secara mandiri adalah teknik akupresur pada titik Perikardium 6 (PC6). Namun, masih rendahnya pengetahuan dan keterampilan ibu hamil mengenai teknik ini menjadi salah satu hambatan dalam penanganan mual muntah selama kehamilan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu hamil trimester pertama dalam mengatasi emesis gravidarum melalui edukasi kesehatan dan pelatihan akupresur PC6. Kegiatan diikuti oleh 23 ibu hamil dengan mayoritas berpendidikan menengah (60,9%). Metode pelaksanaan kegiatan yakni penyuluhan dan demonstrasi atau praktek akupresur titik P6, serta evaluasi melalui pretest dan posttest. Hasil: Hasil pretest menunjukkan bahwa sebagian besar peserta memiliki tingkat pengetahuan kurang mengenai akupresur PC6 (60,9%). Setelah diberikan penyuluhan dan pelatihan, terjadi peningkatan pengetahuan yang signifikan dengan kategori baik sebesar 82,6%, serta tidak ada lagi peserta yang memiliki pengetahuan kurang. Selain itu, peserta mampu mempraktikkan teknik akupresur PC6 dengan benar dan menunjukkan antusiasme yang tinggi selama kegiatan berlangsung. Program edukasi kesehatan dan pelatihan akupresur PC6 efektif meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu hamil trimester pertama dalam mengatasi emesis gravidarum secara mandiri. Kegiatan ini dapat menjadi upaya promotif dan preventif yang berpotensi diintegrasikan ke dalam pelayanan Antenatal Care (ANC) dan Kelas Ibu Hamil untuk mendukung kesehatan serta kemandirian ibu selama masa kehamilan.</p>Nita Nurhandayani, Agit Wahyuningsih, Hasni, Tuti Puwasih, Linda Rustiyana, Rasida, Anita Samperaung, Kartika Sari
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2380Wed, 24 Jun 2026 00:00:00 +0000Asuhan Kebidanan Continuity of Care (COC) pada Ny. Hm Umur 31 Tahun P2A0 Aseptor Keluarga Berencana (KB) Pascasalin dengan Metode IUD (Intrauterine Device) di UPTD Puskesmas Jambuk
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2102
<p><em>In developing countries, the use of IUDs only reaches 6.7%, while in Indonesia the use of IUDs is 6.1%. The national Family Planning program is an important program for national development and national progress. The use of the Intra Uterine Device (IUD) contraceptive method is one of the most effective and safe long-term contraceptive methods. The World Health Organization (WHO) recommends a minimum pregnancy interval of 24 months to reduce the risk of maternal and child mortality and morbidity, improve maternal and child health, ensure adequate nutrition for both mother and child, and support the psychological development of children. The purpose of this study was to provide Continuity of Care (CoC) midwifery care to Mrs. HM, a 31 year old P2A0 postpartum family planning acceptor using the IUD (Intrauterine Device) method at UPTD Puskesmas Jambuk. This study used a descriptive case study approach with one sample, namely a second-trimester pregnant woman, who was followed throughout pregnancy, childbirth, postpartum, neonatal care, and family planning services. Family planning midwifery care for Mrs. HM was carried out through focused data assessment consisting of subjective and objective data, determining assessments, conducting management and implementation, and performing evaluations. During the family planning care, services were provided according to Mrs. HM’s needs using the IUD contraceptive method. It is expected that midwifery services can become more qualified from pregnancy to family planning according to midwifery service standards, thereby reducing the increase in maternal and infant mortality rates in Indonesia.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Di negara berkembang pengguna IUD hanya mencapai 6,7%, Di Indonesia penggunaan IUD 6,1%. Program Kelurga Berencana nasional merupakan program penting bagi pembangunan nasional dan kemajuan bangsa pemakaian metode kontrasepsi Intra Uterine Device (IUD) adalah salah satu alat kontrasepsi jangka panjang yang paling efektif dan aman. WHO merekomendasikan untuk mengatur jarak kehamilan minimal 24 bulan untuk menurunkan risiko kematian serta kesakitan pada ibu dan anak, meningkatkan kesehatan ibu dan anak, menjamin terpenuhinya nutrisi bagi ibu dan anak, serta menjaga perkembangan psikologis anak. Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan asuhan secara Contuinity of Care (CoC) pada Ny. HM Umur 31 Tahun P2A0 aseptor keluarga berencana (KB) pascasalin dengan metode IUD (intrauterine device) di UPTD Puskesmas Jambuk. Metode dengan penelitian deskriptif studi penelaahan kasus (Case Study) dengan satu sampel seorang ibu hamil trimester II, diikuti proses hamil,persalinan, nifas, neonatus dan KB. Hasil Asuhan kebidanan keluarga berencana pada Ny. HM diberikan dengan melakukan pengkajian data fokus yaitu data subyektif dan data objekktif, menentukan assesment, melakukan penatalaksanaan, implementasi, melakukan evaluasi. Selama asuhan KB dilakukan sesuai dengan kebutuhan Ny HM menggunakan KB IUD. Pelayanan kebidanan diharapkan dapat lebih berkualitas mulai hamil sampai dengan KB dengan standar pelayanan kebidanan sehingga dapat mengurangi terjadinya peningkatan AKI dan AKI di Indonesia.</p>Chatrine Sugiarti, Isri Nasifah
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2102Wed, 24 Jun 2026 00:00:00 +0000Implementasi Senam Pelvic Rocking dalam Kelas Ibu Hamil untuk Meningkatkan Kesiapan Persalinan di Desa Kedalon
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2085
<p><em>Pregnancy is often accompanied by various physical discomforts, particularly during the second and third trimesters, including lower back pain, pelvic discomfort, fatigue, and anxiety related to childbirth. One non-pharmacological intervention that can be used to alleviate these complaints is pelvic rocking exercise. However, the knowledge and skills of pregnant women regarding pelvic rocking remain limited, including among participants of maternal classes in Kedalon Village, Kalikajar District, Wonosobo Regency. This community service program aimed to improve pregnant women’s knowledge and skills related to pelvic rocking as an effort to enhance comfort during pregnancy and prepare for childbirth. The methods used in this program included health education, demonstrations, direct practice of pelvic rocking exercises using mats, and evaluation through pretest and posttest assessments. The target participants were pregnant women in the second and third trimesters attending maternal classes in Kedalon Village. Evaluation was conducted to assess improvements in participants’ knowledge and skills after the intervention. The results demonstrated an increase in pregnant women’s knowledge following the educational sessions and training. Most participants were able to correctly perform pelvic rocking movements and reported feeling more relaxed, comfortable, and experiencing reduced back pain after practicing the exercises. Educational methods combined with direct practice were considered effective in improving participants’ understanding and active participation in maternal classes.In conclusion, pelvic rocking training in maternal classes was effective in improving pregnant women’s knowledge and skills, while also providing benefits in reducing pregnancy discomfort and enhancing preparedness for childbirth.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Kehamilan sering disertai berbagai ketidaknyamanan fisik, terutama pada trimester II dan III, seperti nyeri punggung bawah, pegal pada pinggang, mudah lelah, dan kecemasan menghadapi persalinan. Salah satu upaya nonfarmakologis yang dapat dilakukan untuk mengurangi keluhan tersebut adalah pelvic rocking. Namun, pengetahuan dan keterampilan ibu hamil mengenai pelvic rocking masih rendah, termasuk pada peserta kelas ibu hamil di Desa Kedalon Kecamatan Kalikajar Kabupaten Wonosobo. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu hamil tentang pelvic rocking sebagai upaya meningkatkan kenyamanan selama kehamilan dan persiapan persalinan. Metode yang digunakan meliputi penyuluhan kesehatan, demonstrasi, praktik langsung pelvic rocking menggunakan matras, serta evaluasi melalui pretest dan posttest. Sasaran kegiatan adalah ibu hamil trimester II dan III yang mengikuti kelas ibu hamil di Desa Kedalon. Evaluasi dilakukan untuk menilai peningkatan pengetahuan dan keterampilan peserta setelah kegiatan berlangsung. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan ibu hamil setelah diberikan edukasi dan pelatihan. Sebagian besar peserta mampu mempraktikkan gerakan pelvic rocking dengan benar serta menyatakan merasakan tubuh lebih rileks, nyaman, dan berkurangnya nyeri punggung setelah latihan dilakukan. Metode edukasi yang dikombinasikan dengan praktik langsung dinilai efektif meningkatkan pemahaman dan partisipasi aktif peserta dalam kelas ibu hamil. Kesimpulan kegiatan ini adalah pelatihan pelvic rocking pada kelas ibu hamil mampu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu hamil serta memberikan manfaat dalam mengurangi ketidaknyamanan selama kehamilan dan meningkatkan kesiapan menghadapi persalinan.</p>Fibrinika Tuta Setiani, Isri Nasifah
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2085Wed, 24 Jun 2026 00:00:00 +0000Asuhan Kebidanan Continuity of Care (COC) pada Ny. S Umur 34 Tahun G2P1A0 dengan Preeklamsia Berat di UPTD RSD dr. H. Soemarno Sosroatmodjo Tanjung Selor
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2041
<p><em>Maternal and Child Health services aim to reduce maternal and neonatal morbidity and mortality through quality, continuous, and comprehensive care. Severe preeclampsia is a high-risk obstetric condition that requires early detection, close monitoring, and interprofessional collaboration because it can cause complications for both mother and fetus. Continuity of Care (COC) provides integrated midwifery care from pregnancy, childbirth, postpartum period, newborn care, to family planning. This case study aims to describe Continuity of Care midwifery care for Mrs. S, 34 years old, G2P1A0, with severe preeclampsia at UPTD RSD dr. H. Soemarno Sosroatmodjo Tanjung Selor. Method: This study used a descriptive case study approach. Data were collected through interviews, observation, physical examination, obstetric examination, supporting examination results, and documentation using SOAP midwifery management. The care was provided from the third trimester of pregnancy until postpartum, newborn, and family planning care. Results: During antenatal care, Mrs. S initially complained of frequent urination, fatigue, and back pain. On the next visit, blood pressure was 156/99 mmHg with urine protein +2 and edema, accompanied by oligohydramnios based on medical evaluation. Collaborative management with an obstetrician was performed, including monitoring, education on danger signs, magnesium sulfate, antihypertensive therapy according to medical advice, and preparation for Sectio Caesarea. The baby was delivered by Sectio Caesarea on 15 February 2026 with female sex, birth weight 3500 grams, length 51 cm, APGAR score 7/8, and good adaptation. Postpartum care showed gradual recovery, normal wound healing, successful breastfeeding, and no signs of infection. Neonatal visits showed active movement, strong sucking reflex, normal growth, and no danger signs. Family planning counseling resulted in the selection of condoms as a non-hormonal method suitable for breastfeeding. Continuity of Care for Mrs. S supported early identification of severe preeclampsia, appropriate referral and collaboration, safe delivery, and continuous monitoring of mother and baby. Continuous midwifery care is recommended to strengthen maternal and newborn health services, especially in high-risk pregnancies.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) bertujuan menurunkan kesakitan dan kematian ibu serta bayi melalui pelayanan yang bermutu, berkelanjutan, dan komprehensif. Preeklamsia berat merupakan kondisi obstetri risiko tinggi yang membutuhkan deteksi dini, pemantauan ketat, serta kolaborasi antar tenaga kesehatan karena dapat menimbulkan komplikasi pada ibu dan janin. Continuity of Care (COC) merupakan asuhan kebidanan berkesinambungan mulai dari kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir, neonatus, hingga keluarga berencana. Tujuan: Studi kasus ini bertujuan menggambarkan asuhan kebidanan Continuity of Care pada Ny. S umur 34 tahun G2P1A0 dengan preeklamsia berat di UPTD RSD dr. H. Soemarno Sosroatmodjo Tanjung Selor. Metode: Penelitian menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, pemeriksaan obstetri, hasil pemeriksaan penunjang, dan dokumentasi menggunakan manajemen kebidanan SOAP. Asuhan diberikan sejak kehamilan trimester III hingga persalinan, nifas, bayi baru lahir/neonatus, dan keluarga berencana. Hasil: Pada asuhan kehamilan awal, Ny. S mengeluh sering BAK, mudah lelah, dan nyeri punggung. Pada kunjungan berikutnya ditemukan tekanan darah 156/99 mmHg, protein urine +2, edema kaki, serta oligohidramnion berdasarkan evaluasi medis. Penatalaksanaan dilakukan melalui kolaborasi dengan dokter SpOG, pemantauan kondisi ibu dan janin, edukasi tanda bahaya, pemberian MgSO4 dan antihipertensi sesuai advis, serta persiapan Sectio Caesarea. Bayi lahir tanggal 15 Februari 2026 secara Sectio Caesarea, jenis kelamin perempuan, berat badan 3500 gram, panjang badan 51 cm, APGAR score 7/8, dan beradaptasi baik. Masa nifas menunjukkan pemulihan bertahap, luka operasi baik, ASI lancar, dan tidak terdapat tanda infeksi. Kunjungan neonatus menunjukkan bayi aktif, menyusu kuat, tumbuh baik, dan tidak ditemukan tanda bahaya. Pada asuhan KB, Ny. S memilih kondom karena bersifat nonhormonal dan tidak mengganggu produksi ASI. Simpulan: Pendekatan Continuity of Care pada Ny. S membantu deteksi dini preeklamsia berat, kolaborasi tepat, persalinan aman, serta pemantauan berkelanjutan ibu dan bayi. Asuhan kebidanan berkesinambungan perlu diterapkan secara optimal terutama pada kehamilan risiko tinggi.</p>Chusnul Khotimah, Rini Susanti
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2041Wed, 24 Jun 2026 00:00:00 +0000Prenatal Yoga untuk Meningkatkan Kenyamanan dan Kesejahteraan Ibu Hamil
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2369
<p><em>Pregnancy is a physiological process that often causes discomfort such as back pain, foot edema, and anxiety. Non-pharmacological methods such as prenatal yoga are effective in reducing these complaints. The purpose of this community service was to improve the knowledge, comfort, and well-being of pregnant women through prenatal yoga training at PMB Tri Utami Sari, Semarang. The method used was participatory with stages of preparation, outreach, demonstration, and direct practice of yoga movements. Participants were 10 pregnant women in the third trimester. The results showed an 85% increase in knowledge (mean pre-test score 45 to post-test 90). There was a reduction in complaints: back pain (80% of participants), foot edema (70%), and anxiety (75%). All participants were able to perform the five basic movements correctly and expressed high satisfaction (average score 4.8 out of 5). This activity was effective in increasing the comfort and well-being of pregnant women. It is recommended that prenatal yoga be implemented as a routine program in midwifery care.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Kehamilan merupakan proses fisiologis yang sering menimbulkan ketidaknyamanan seperti nyeri punggung, edema kaki, dan kecemasan. Metode nonfarmakologis seperti prenatal yoga terbukti efektif dalam mengurangi keluhan tersebut. Tujuan pengabdian masyarakat ini adalah meningkatkan pengetahuan, kenyamanan, dan kesejahteraan ibu hamil melalui pelatihan prenatal yoga di PMB Tri Utami Sari, Semarang. Metode yang digunakan adalah partisipatif dengan tahapan persiapan, penyuluhan, demonstrasi, dan praktik langsung gerakan yoga. Peserta berjumlah 10 orang ibu hamil trimester III. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan sebesar 85% (rata-rata nilai pre-test 45 menjadi post-test 90). Terjadi penurunan keluhan nyeri punggung (80% peserta), kaki bengkak (70%), dan kecemasan (75%). Seluruh peserta mampu melakukan kelima gerakan dasar dengan benar dan menyatakan kepuasan tinggi (skor rata-rata 4,8 dari 5). Kegiatan ini efektif dalam meningkatkan kenyamanan dan kesejahteraan ibu hamil. Prenatal yoga direkomendasikan untuk dijadikan program rutin dalam asuhan kebidanan.</p>Hulian Utari, Hanugrah Ayu Kardhanik, Rini susanti
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2369Wed, 24 Jun 2026 00:00:00 +0000Efektifitas Teknik Counterpresure Terhadap Penurunan Intensitas Nyeri Persalinan Kala I pada Ny.A Umur 34 G2 P1 A0 Kebidanan di Ruang Bersalin RSUD Kudungga
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2298
<p><em>Continuity of Care (COC) is an important principle in midwifery practice that emphasizes continuous service between midwives and clients and ensures patients receive comprehensive and integrated care from early pregnancy, delivery, postpartum, newborn care, and family planning programs. This study examines the implementation of COC midwifery care for Mrs. A, a 34-year-old pregnant woman with gestational age 2, gestational age 1, and abortion stage 0 (G2P1A0), who was treated at Kudungga Regional Hospital, East Kutai. The application of complementary therapies in COC care is currently a positive alternative to provide comfort and psychophysical well-being for mothers during the reproductive process. This study emphasizes the importance of COC implementation as a primary strategy in reducing maternal mortality through quality and sustainable midwifery services that integrate prevention, early detection of complications, and family education. The application of complementary therapies such as acupressure massage during labor provides an effective alternative for pain management without pharmacological side effects. The implementation of COC-based midwifery care and the implementation of complementary therapy, counter-pressure massage, was carried out on Mrs. A, 34 years old, in the delivery room of Kudungga Regional Hospital. The method used in the case study report of Mrs. A is a case report. During the monitoring conducted from the third trimester of pregnancy, the first to fourth stages of labor, the newborn, the postpartum period, and the neonate, to contraceptive services, the author used Varney's 7-Step Midwifery Management. In the case conducted at Kudungga Regional Hospital on May 6, 2026, during the active phase of the first stage of labor monitoring, the mother experienced 3x10' contractions with a duration of 30-35''. Complementary therapy in the form of counterpressure massage was given, which effectively reduced physiological pain during labor. After 5 hours of in-partum monitoring, the baby was born vaginally at 1:10 PM, a healthy, female baby, weighing 3400 grams. The postpartum period proceeded normally, with no bleeding, good uterine contractions, a second-degree perineal rupture, and colostrum discharge. Mrs. A ended her postpartum period by choosing the contraceptive implant method, which consisted of two capsules. CoC care integrated with complementary therapies for Mrs. A has been shown to provide optimal clinical outcomes, increase patient comfort, and minimize the risk of complications during labor and postpartum. Midwives, educational institutions, pregnant women, and families are expected to collaborate in early detection and prevention of complications during pregnancy, labor, postpartum, and family planning.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Continuity of Care (COC) merupakan prinsip penting dalam praktik kebidanan yang menekankan pelayanan berkelanjutan antara bidan dan klien serta memastikan pasien menerima perawatan yang komprehensif dan terpadu mulai dari awal kehamilan, persalinan, nifas, perawatan bayi baru lahir, hingga program keluarga berencana. Studi ini mengkaji penerapan asuhan kebidanan COC pada Ny. A, ibu hamil usia 34 tahun dengan status gravidas 2, para 1, abortus 0 (G2P1A0), yang dirawat di RSUD Kudungga Kutai Timur. Penerapan terapi komplementer pada asuhan COC pada saat ini menjadi salah satu alternatif positif untuk memberikan kenyamanan dan kesejahteraan psikofisik ibu selama proses reproduksi. Penelitian ini menegaskan pentingnya pelaksanaan COC sebagai strategi utama dalam menurunkan AKI, melalui pelayanan kebidanan berkualitas dan berkelanjutan yang mengintegrasikan aspek pencegahan, deteksi dini komplikasi, dan edukasi keluarga. Penerapan terapi komplementer seperti pijat akupresure selama persalinan memberikan alternatif efektif untuk manajemen nyeri tanpa efek samping farmakologis. Penerapan asuhan kebidanan berbasis coc serta di implementasikan terapi komplementer pijat counter-pressure pada Ny.A umur 34 thn di ruang bersalin RSUD Kudungga. Metode yang di gunakan pada laporan study kasus Ny.A adalah (case report). Pada pemantauan yang telah di lakukan dari kehamilam TM III, Persalinan kala I-IV, bayi baru lahir, nifas serta neonatus, sampai ke pelayanan kontrasepsi penulis menggunakan manajemen Kebidanan 7 Langkah Varney. Pada kasus yang di laksanakan di RSUD Kudungga pada tanggal 06 Mei 2026 pada pemantauan persalinan kala I fase aktif ibu mengalami kontraksi 3x 10’ durasi 30-35’’, di berikan terapi komplementer berupa pijat counterpressure yang efektif mengurangi nyeri fisiologis pada persalinan. Setelah di lakukan pemantauan inpartu selama 5 jam. Bayi lahir pervaginam pukul 13.10, bayi lahir bugar, perempuan, Berat badan 3400 gr. Pada masa nifas berlangsung normal tidak ada pendarahan, kontraksi uterus baik, ruptur perineum derajat 2, kolostrum sudah ada keluar. Ny. A mengakhiri masa nifas dengan memilih metode kontrasepsi implan 2 kapsul. Asuhan CoC yang diintegrasikan dengan terapi komplementer pada Ny. A terbukti memberikan luaran klinis yang optimal, meningkatkan kenyamanan pasien, serta meminimkan resiko komplikasi masa persalinan dan nifas. Bidan, institusi Pendidikan, ibu hamil dan keluarga diharapkan mampu bekerjasama dalam deteksi dini dan pencegahan komplikasi dalam kehamilan, persalinan, nifas dan keluarga berencana.</p>Dona Rande Bua, Wahyu Kristiningrum
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2298Wed, 24 Jun 2026 00:00:00 +0000Asuhan Kebidanan Continuity of Care pada Ny. W G2P1A0 Umur 29 Tahun di Wilayah Kerja Puskesmas Bojong I
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2183
<p><em>Continuity of Care (COC) Midwifery Care is a Continuity of Care care from pregnancy to Family Planning (KB) as an effort to reduce the Maternal Mortality Rate (MMR) and Infant Mortality Rate (IMR). (Rayment-Jones et al., 2021) Pregnancy, childbirth and postpartum are physiological processes, in this process there are possible conditions that can threaten the lives of the mother and child. Maternal and infant mortality rates are indicators of the success of the role of midwifery. One of the efforts made is to provide midwifery services with Continuity of Care (COC) from Pregnancy, Postpartum, and Newborn Care (BBL). By this planning, it is vulnerable to physiological and pathological problems that have an indirect impact on the morbidity and health of the mother and baby (Ministry of Health of the Republic of Indonesia, 2022). This study uses a descriptive case study method on one subject, namely Mrs. T, G2P1A0 with KEK. This study was conducted on Desember 15, 2025 at the Bojong I Health Center. Continuity of Care (COC) midwifery care provided to Mrs. "W" lasted from pregnancy, childbirth, postpartum, neonate to family planning with a frequency of 2 pregnancy visits, 1 delivery, 4 postpartum visits, 4 neonates, and 2 family planning visits. In Mrs. "T" the pregnancy process went physiologically without any problems with back pain activity disorders at 28 weeks of pregnancy. The entire delivery process took place normally and smoothly without any complications and management was carried out according to the 60 APN steps. In normal and smooth postpartum midwifery care, there was a problem of low breast milk supply on the 3rd day postpartum. In providing family planning midwifery care, the mother was given counseling and decided to use a 3-month injection of contraception. Continuous midwifery care (continuity of care) that has been carried out on Mrs. The "W" during pregnancy, childbirth, postpartum, newborns, and family planning results show no gap between theory and the midwifery care provided. It is hoped that the midwifery profession in providing continuous midwifery care (continuity of care) will continue to apply midwifery management, maintaining and improving competence in providing care according to midwifery service standards</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Asuhan Kebidanan Continuity of Care (COC) merupakan asuhan secara Continuity of Care dari hamil sampai dengan Keluarga Berencana (KB) sebagai upaya penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB).(Rayment-Jones et al., 2021) Kehamilan, bersalin dan nifas merupakan proses fisiologis, dalam proses ini terdapat kemungkinan keadaan yang dapat mengancam jiwa ibu dan anak. Angka Kematian ibu dan bayi dalam indikator keberhasilan peranan kebidanan. Salah satu upaya yang dilakukan adalah memberikan pelayanan kebidanan secara Continuity Of Care (COC) dari Kehamilan, Nifas, dan Perawatan Bayi Baru Lahir (BBL). Oleh perencanaan tersebut rentan terhadap masalah-masalah fisiologis maupun patologis yang berdampak tidak langsung pada kesakitan dan kesehatan ibu dan bayi (Kementerian Kesehatan RI, 2022)..Penelitian ini menggunakan metode studi kasus deskriptif (case study) pada satu subjek yaitu Ny.T, G2P1A0 hamil fisiologis. Studi ini dilaksanakan pada tanggal 15 Desember 2025 di Puskesmas Bojong I.Asuhan Kebidanan Continuity of Care (COC) yang diberikan pada Ny.”W” berlangsung dari masa kehamilan, bersalin, nifas, neonatus sampai KB dengan frekuensi kunjungan hamil sebanyak 2 kali, persalinan 1 kali, nifas 4 kali, neonatus 4 kali,serta KB sebanyak 2 kali. Pada Ny.”T” proses kehamilan berjalan dengan fisiologis tidak masalah gangguan aktifitas nyeri punggung pada kehamilan 28 minggu. Seluruh proses persalinan berlangsung normal dan lancar tanpa ada penyulit atau komplikasi dan penatalaksanaan telah dilakukan sesuai 60 langkah APN. Pada asuhan kebidanan masa nifas normal dan lancar ada masalah asi seng sedikit pada hari ke 3 post partum. Dalam memberikan asuhan kebidanan KB ibu telah diberikan konseling dan memutuskan menggunakan KB suntik 3 bulan. Asuhan kebidanan berkelanjutan (continuity of care) yang telah dilakukan pada Ny. “W” saat hamil, bersalin, masa nifas, bayi baru lahir, dan keluarga berencana didapatkan hasil tidak adanya kesenjangan antara teori dan asuhan kebidanan yang di berikan. Diharapkan profesi bidan dalam memberikan asuhan kebidanan berkelanjutan (continuity of care) selanjutnya selalu menerapkan manajemen kebidanan, mempertahankan dan meningkatkan kompetensi dalam memberikan asuahan sesuai standar pelayanan Kebidanan.</p>Endang Kartiasih, Moneca Diah Listiyaningsih
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2183Wed, 24 Jun 2026 00:00:00 +0000Akupresur untuk Mengatasi Mual Muntah pada Ibu Hamil Trimester I
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2326
<p><em>Nausea and vomiting, or emesis gravidarum, are common complaints experienced by pregnant women in the first trimester. These symptoms may interfere with daily activities and affect maternal and fetal health if not properly managed. Acupressure at the Pericardium 6 (P6) point, also known as Nei Guan, is a non-pharmacological intervention that can be used to help reduce nausea and vomiting during pregnancy. This community service activity aimed to improve the knowledge and skills of first-trimester pregnant women in managing nausea and vomiting through education and independent practice of P6 acupressure in a safe, simple, and applicable manner at home. The activity was conducted at Akhmad Berahim Regional Hospital, North Kalimantan Province, involving 10 offline participants, and at Vera Cruz Public Health Center, Timor-Leste, involving 10 online participants. The methods used were health education, demonstration, and practice of P6 acupressure. The results showed an increase in participants’ knowledge after the education session. Before the session, 15 participants (75.0%) were in the poor knowledge category, 4 participants (20.0%) were in the moderate category, and 1 participant (5.0%) was in the good category. After the session, the number of participants in the good knowledge category increased to 18 participants (90.0%), while 2 participants (10.0%) were in the moderate category. In conclusion, health education and demonstration improved the knowledge and skills of first-trimester pregnant women in performing a simple, safe, and independent effort to help reduce nausea and vomiting.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Mual muntah atau emesis gravidarum merupakan salah satu keluhan yang sering dialami oleh ibu hamil trimester I yang dapat mengganggu kenyamanan aktivitas sehari-hari, serta berdampak pada kesehatan ibu dan janin apabila tidak ditangani dengan baik. Akupresur titik Pericardium 6 (P6) atau Nei Guan merupakan salah satu upaya nonfarmakologis yang dapat dilakukan untuk membantu mengurangi keluhan mual muntah pada ibu hamil. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu hamil trimester I dalam mengatasi keluhan mual muntah melalui edukasi dan praktik akupresur pada titik Pericardium 6 (P6) secara mandiri, aman, sederhana, dan mudah diterapkan di rumah. Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 21 Mei 2026 di RSUD Akhmad Berahim Provinsi Kalimantan Utara dengan 10 peserta luring dan Puskesmas Vera Cruz Timor Leste dengan 10 peserta daring. Metode pelaksanaan kegiatan yakni penyuluhan dan demonstrasi atau praktik akupresur titik P6 menggunakan Power Point sebagai media penyuluhan. Instrumen evaluasi menggunakan kuesioner 15 pertanyaan dengan pilihan jawaban benar-salah yang diberikan sebelum dan sesudah kegiatan, sedangkan keterampilan dinilai melalui observasi langsung saat peserta mempraktikkan teknik akupresur. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta setelah diberikan penyuluhan. Sebelum penyuluhan, peserta berada pada kategori pengetahuan kurang sebanyak 15 orang (75,0%), kategori cukup sebanyak 4 orang (20,0%), dan kategori baik sebanyak 1 orang (5,0%). Setelah penyuluhan, peserta dengan kategori baik meningkat menjadi 18 orang (90,0%) dan kategori cukup sebanyak 2 orang (10,0%). Kesimpulan, setelah penyuluhan dan demonstrasi terjadi peningkatan pengetahuan dan keterampilan ibu hamil trimester I dalam melakukan upaya sederhana, aman, dan mandiri untuk membantu mengurangi keluhan mual muntah.</p>Sepri Winda Sari, Norvitasari, Muspida, Diana Das Dores Assunção Braz, Octavia de Deus, Ana Josefa Ximenes, Francisca Dos reis, Moneca Diah Listiyaningsih
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2326Wed, 24 Jun 2026 00:00:00 +0000Asuhan Kebidanan Komprehensif pada Ny. C Umur 30 Tahun G1P0A0 di RS Elisabeth Semarang dengan Senam Hamil untuk Mengurangi Nyeri Punggung
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2242
<p><em>Maternal and infant mortality rates remain a health problem in Indonesia. One effort to reduce maternal and infant mortality rates is through comprehensive continuity of care (COC) services, starting from pregnancy, childbirth, postpartum, newborns, neonates, and family planning services. This study aims to provide comprehensive midwifery care to Mrs. C, 30 years old, G1P0A0, at Elisabeth Hospital Semarang in 2026 using Varney's 7-step midwifery management approach. This study used a descriptive case study design. Data collection techniques were carried out through interviews, observations, physical examinations, and documentation studies. Midwifery care was carried out from the second trimester of pregnancy, childbirth, postpartum, newborns, neonates, and family planning services. The results of the study showed that comprehensive midwifery care was provided according to standards and no significant complications were found during pregnancy, childbirth, postpartum, or neonates. Approximately 46-58% of pregnant women experience lower back pain, which is found in the second trimester and 43.23% in the third trimester of pregnancy. In Indonesia, 60% to 80% of pregnant women experience back pain. Back pain is a symptom, not a disease. Back pain ranges from mild discomfort to excruciating pain. As the uterus enlarges, the center of gravity in pregnant women shifts forward. Pregnancy exercises, a combination of mind-body and psychological exercises, help mothers flex their joints and relieve discomfort, especially in the third trimester. The postpartum and neonatal periods proceed physiologically, with no danger signs observed. Mothers choose postpartum contraception based on their needs and condition. Continuity of care services can improve the quality of maternal and child health care through early detection and management of complications.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Angka kematian ibu dan bayi masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Salah satu upaya dalam menurunkan angka kematian ibu dan bayi adalah melalui pelayanan continuity of care (COC) yang diberikan secara komprehensif mulai dari masa kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir, neonatus hingga pelayanan keluarga berencana. Penelitian ini bertujuan memberikan asuhan kebidanan komprehensif pada Ny. C umur 30 tahun G1P0A0 di RS Elisabeth Semarang Tahun 2026 menggunakan pendekatan manajemen kebidanan 7 langkah Varney. Penelitian ini menggunakan desain studi kasus deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, dan studi dokumentasi. Asuhan kebidanan dilakukan mulai dari kehamilan trimester II, persalinan, nifas, bayi baru lahir, neonatus hingga pelayanan keluarga berencana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa asuhan kebidanan komprehensif telah diberikan sesuai standar dan tidak ditemukan komplikasi bermakna selama masa kehamilan, persalinan, nifas maupun neonatus. Pada saat melakukan kunjungan responden mengatakan sering mengalami nyeri punggung sejak kehamilan memasuki trimester II. Sekitar 46 – 58% ibu hamil mengalami nyeri punggung bawah yang ditemukan pada trimester kedua dan 43,23% pada trimester ketiga kehamilan. Di Indonesia 60% - 80% nyeri punggung dialami oleh ibu hamil. Nyeri punggung merupakan suatu gejala dan bukan penyakit. Nyeri punggung adalah rasa tidak nyaman yang ringan hingga nyeri menyakitkan. Seiring dengan membesarnya uterus, maka pusat gravitasi pada wanita hamil akan berpindah kearah depan.Senam hamil merupakan kombinasi oleh badan pikiran serta psikologis yang membantu ibu melenturkan persendian serta meredakan ketidaknyamanan terutama pada trimester III. Masa nifas dan neonatus berjalan fisiologis serta tidak ditemukan tanda bahaya. Ibu memilih kontrasepsi pasca persalinan sesuai kebutuhan dan kondisi ibu yaitu ibu memilih menggunakan kontrasepsi kondom. Pelayanan continuity of care dapat meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan anak melalui deteksi dini dan penatalaksanaan komplikasi.</p>Fransisca Desti Kurniasih, Ninik Christiani
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2242Wed, 24 Jun 2026 00:00:00 +0000Optimalisasi Kenyamanan Ibu Hamil Trimester III melalui Edukasi Penerapan Pelvic Rocking
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2366
<p><em>Discomfort in the third trimester of pregnancy, especially lower back pain, is often experienced by pregnant women due to physiological and biomechanical changes during pregnancy. This discomfort is physiological, but if left untreated, it can interfere with daily activities, quality of rest, readiness for childbirth, and the mother's psychological well-being. One non-pharmacological method that can be used to reduce this discomfort is pelvic rocking. The method used in carrying out community service is Hybrid Learning. Community Service will be implemented in three stages: The first stage is preparation by collaborating with partners. The second stage is the implementation stage, before the counseling is carried out, a pre-test is conducted to explore the knowledge of pregnant women. Next, education and training on pelvic rocking are carried out by directly practicing pelvic rocking movements. The third stage is an evaluation through a post-test and direct interviews and concludes with a report on the activity. The results of the community service show that this activity was attended by 20 pregnant women in their third trimester. Before the education about menstrual pain acupressure, it was found that most of the pregnant women's knowledge was in the poor category at 70% with an average score of 47.5 and after being given education, pregnant women had a level of knowledge in the good category at 85% with an average score of 88. It can be concluded that there was an increase in knowledge before and after the education about pelvic rocking. It is hoped that health workers, especially midwives, will integrate education and demonstrations of pelvic rocking into integrated antenatal services and pregnant women's class activities as a promotive and preventive effort in overcoming discomfort in the third trimester of pregnancy.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Ketidaknyamanan pada kehamilan trimester III, terutama nyeri punggung bawah, sering dialami oleh ibu hamil akibat perubahan fisiologis dan biomekanik selama kehamilan. Ketidaknyamanan ini bersifat fisiologis, tetapi bila tidak ditangani dapat mengganggu aktivitas harian, kualitas istirahat, kesiapan menghadapi persalinan, dan kesejahteraan psikologis ibu. Salah satu metode nonfarmakologis yang dapat digunakan untuk mengurangi ketidaknyamanan tersebut adalah pelvic rocking. Metode yang digunakan dalam melakukan pengabdian masyarakat yaitu Hybrid Learning. Pengabdian Masyarakat akan dilaksanakan dalam 3 tahap yaitu Tahap Pertama melakukan persiapan dengan cara melakukan kerja sama dengan mitra. Tahap Kedua tahap pelaksanaan, sebelum dilakukan penyuluhan, dilakukan pretest untuk menggali pengetahuan ibu hamil. Selanjutnya dilakukan edukasi dan pelatihan pelvic rocking dengan mempraktekkan langsung gerakan-gerakan pelvic rocking. Tahap Ketiga Melakukan evaluasi dengan cara memberikan posttest dan wawancara secara langsung dan diakhiri dengan membuat laporan kegiatan. Dari hasil pengabdian Masyarakat didapatkan bahwa kegiatan ini diikuti oleh 20 orang ibu hamil trimester III. Sebelum dilakukan penyuluhan mengenai pelvic rocking didapatkan sebagian besar pengetahuan ibu hamil dalam kategori kurang sebesar 70% dengan rata-rata nilai 47,5 dan sesudah diberikan edukasi, ibu hamil memiliki tingkat pengetahuan dengan kategori baik sebesar 85% dengan rata-rata nilai 88. Hal tersebut dapat disimpulkan bahwa terjadi peningkatan pengetahuan sebelum dan sesudah dilakukan edukasi tentang pelvic rocking. Diharapkan tenaga kesehatan khususnya bidan untuk mengintegrasikan edukasi dan demonstrasi pelvic rocking ke dalam pelayanan antenatal terpadu dan kegiatan kelas ibu hamil sebagai upaya promotif dan preventif dalam mengatasi ketidaknyamanan kehamilan trimester III.</p>Mela Treusna Martiawati, Ana Qurrotu A'yunin, Nurul Citra Astria Wulandari Siregar, Wa Ode Puput Timisela, Carmelita de Deus, Rita Da Conceicao Celeste Barros, Sufadmi, Insiyatul Hasanah, Ninik Christiani
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2366Wed, 24 Jun 2026 00:00:00 +0000Asuhan Kebidanan Continuity of Care pada Ny. N Umur 32 Tahun G1P0A0 dengan Anemia Ringan
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2278
<p><em>Maternal Mortality Rate (MMR) remains a global and national health problem that reflects the quality of maternal health services. One effort to reduce MMR is through continuous midwifery services or Continuity of Care (COC), especially for pregnant women with risk factors such as mild anemia. This study aims to provide comprehensive and continuous midwifery care to Mrs. S from pregnancy, childbirth, postpartum, neonate, to family planning. The study used a descriptive method with a case study approach and SOAP documentation. Data were obtained through interviews, observations, physical examinations, supporting examinations, documentation studies, and literature studies in March–May 2026. The results of care showed that during pregnancy the mother experienced complaints of fatigue and dizziness. The mother was given nutritional IEC care and the administration of FE and MMS tablets. The labor process went normally, the mother was given APN and complementary counterpressure delivery care. Postpartum care for Mrs. Mrs. S complained about her breast milk and was given oxytocin massage and advice to wash the genitals with boiled betel leaf water to accelerate the healing of perineal wounds. During newborn care, everything was found to be within normal limits. The baby was given 1 mg of vitamin K, hepatitis B immunization, and a SHK examination. Meanwhile, Mrs. S used the implant method for family planning care. It is hoped that health workers can optimize comprehensive screening and the integration of complementary care to improve the health of mothers and babies.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Angka Kematian Ibu (AKI) masih menjadi masalah kesehatan global dan nasional yang mencerminkan mutu pelayanan kesehatan ibu. Salah satu upaya untuk menurunkan AKI adalah melalui pelayanan kebidanan berkelanjutan atau Continuity of Care (COC), terutama pada ibu hamil dengan faktor risiko seperti anemia ringan. Penelitian ini bertujuan memberikan asuhan kebidanan komprehensif dan berkesinambungan pada Ny. S mulai masa kehamilan, persalinan, nifas, neonatus, hingga keluarga berencana. Penelitian menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan studi kasus dan pendokumentasian SOAP. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, studi dokumentasi, dan studi pustaka pada Maret–Mei 2026. Hasil asuhan menunjukkan pada masa kehamilan ibu mengalami keluhan mudah lelah, pusing. Ibu diberikan asuhan KIE nutrisi dan pemberian tablet FE dan MMS. Proses persalinan berjalan dengan normal, ibu diberikan asuhan persalinan secara APN dan komplemneter counterpresure. Asuhan nifas Ny. S mengeluh asinya dan diberikan asuhan pijat oksitosin dan anjuran untuk membasuh genetalia dengan rebusan air daun sirih untuk mempercepat penyembuhan luka perineum. Pada asuhan bayi baru lahir didapatkan semua dalam batas normal, bayi diberikan asuhan vitamik K 1 mg, imunisasi hepattis B0 dan pemeriksaan SHK. Sedangkan pada asuhan KB Ny. S menggunakan metode KB implant. Diharapkan tenaga kesehatan dapat mengoptimalkan skrining komprehensif dan integrasi asuhan komplementer untuk meningkatkan kesehatan ibu dan bayi.</p>Mariyati, Isfaizah
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2278Wed, 24 Jun 2026 00:00:00 +0000Edukasi Akupresure untuk Mengurangi Nyeri Haid Primer pada Remaja
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2365
<p><em>Menstrual pain, or dysmenorrhea, is a common problem experienced by young women during menstruation. Primary menstrual pain can impact adolescent productivity and well-being, resulting in impaired concentration, school absence, and decreased academic performance. Menstrual pain can be managed through pharmacological and non-pharmacological methods. One recommended non-pharmacological therapy is acupressure. The purpose of this activity is to introduce acupressure to adolescents as a solution for overcoming menstrual pain. The method used in carrying out community service was Hybrid Learning on May 30, 2026 at the At-Taqwa Belendung Islamic Boarding School. Community service will be implemented in three stages: the first stage is preparation by collaborating with partners. The second stage is the implementation stage, where a pre-test is conducted before the counseling is conducted to explore adolescents' knowledge. Next, education and training on menstrual pain acupressure are conducted by directly practicing menstrual pain acupressure. The third stage is an evaluation through a post-test and direct interviews, and concludes with an activity report. The results of the community service show that 26 adolescents participated in this activity. Before the counseling session on acupressure for menstrual pain, the majority of adolescents' knowledge was in the poor category, with 20 (76.9%) and after the counseling session, 24 (92.3%) had good knowledge. This concludes that there was an increase in knowledge before and after the acupressure session. It is hoped that health workers will improve health promotion programs regarding non-pharmacological methods of managing dysmenorrhea in adolescents, especially acupressure.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Nyeri haid atau dismenore adalah salah satu masalah yang seringkali dialami oleh wanita muda ketika menstruasi. Nyeri haid primer dapat memengaruhi produktivitas dan kesejahteraan remaja seperti gangguan konsentrasi, ketidakhadiran sekolah, dan penurunan prestasi akademik. Penanganan nyeri haid dapat dilakukan dengan cara yaitu, secara farmakologi dan non farmakologi. Adapun terapi non farmakologi yang dianjurkan salah satunya yaitu akupresur. Tujuan kegiatan ini adalah memperkenalkan akupresure kepada remaja sebagai Solusi dalam mengatasi nyeri haid. Metode yang digunakan dalam melakukan pengabdian masyarakat yaitu Hybrid Learning pada tanggal 30 Mei 2026 di Pondok Pesantren At-Taqwa Belendung. Pengabdian Masyarakat akan dilaksanakan dalam 3 tahap yaitu Tahap Pertama melakukan persiapan dengan cara melakukan kerja sama dengan mitra. Tahap Kedua tahap pelaksanaan, sebelum dilakukan penyuluhan, dilakukan pretest untuk menggali pengetahuan remaja. Selanjutnya dilakukan edukasi dan pelatihan akupresure nyeri haid dengan mempraktekkan langsung akupresure nyeri haid. Tahap Ketiga Melakukan evaluasi dengan cara memberikan posttest dan wawancara secara langsung dan diakhiri dengan membuat laporan kegiatan. Dari hasil pengabdian Masyarakat didapatkan bahwa kegiatan ini diikuti oleh 26 orang remaja. Sebelum dilakukan penyuluhan mengenai akupresure nyeri haid didapatkan sebagian besar pengetahuan remaja dalam kategori kurang yaitu sebanyak 20 orang (76,9%) dan setelah dilakukan penyuluhan remaja memiliki pengetahuan dengan kategori baik sebanyak 24 orang (92,3%). Hal tersebut dapat disimpulkan bahwa terjadi peningkatan pengetahuan sebelum dan sesudah dilakukan penyeluhan mengenai akupresure. Diharapkan tenaga kesehatan meningkatkan program promosi kesehatan mengenai cara mengatasi disminore pada remaja secara non farmokologi terutama akupresure.</p>Annisa Rahman, Fajrianisa Sholihah, Nurhayanti, Ermawati, Felismia Maria Carrdoso, Agustina Carvalho Moniz Tilman, Elia Nurfalah, Ririn Febriyani, Isfaizah
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2365Wed, 24 Jun 2026 00:00:00 +0000Asuhan Kebidanan Continuity of Care (COC) pada Ny. H umur 30 Tahun G4P3A0 di TPMB Siti Shofiah,S.ST.Keb,Bdn
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2123
<p><em>Maternal Mortality Rate (MMR) is one of the important indicators of public health. MMR describes the number of women who die per 100,000 live births (KH), from a cause of death related to pregnancy disorders or their treatment (excluding accidents or incidental cases) during pregnancy, childbirth and in the postpartum period (42 days after delivery) so that comprehensive care is carried out to prevent maternal death during pregnancy, childbirth and postpartum (Indonesian Health Profile, 2019). The purpose of this midwifery care is to implement comprehensive midwifery care in Continuity of Care (COC) to Mrs. H at the Siti Shofiah TPMB with a descriptive approach by conducting anamnesis and observation of patients starting from pregnancy, childbirth, postpartum and at the time of choosing contraceptives and documenting using SOAP. While health services for babies are carried out during neonatal home visits and counseling on how to care for the umbilical cord to exclusive breastfeeding. The method used in comprehensive care for pregnant women, childbirth, postpartum, neonates and family planning is a descriptive research method and the type of descriptive research used is a case study, namely by examining a problem through a case consisting of a single unit. The results obtained from comprehensive assistance in Continuity of Care (COC) on Mrs. H are from pregnancy, childbirth, postpartum, newborns to mothers using contraceptives, which occurs physiologically and there are no complications. The conclusion obtained by the author from carrying out comprehensive midwifery care in Continuity Of Care (COC) on Mrs. H is that as health workers, especially midwives, they can apply comprehensive midwifery care to reduce MMR and IMR.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Angka Kematian Ibu (AKI) menjadi salah satu indikator penting dari derajat kesehatan masyarakat. AKI menggambarkan jumlah wanita yang meninggal per100.000 kelahiran hidup (KH), dari suatu penyebab kematian terkait dengan gangguan kehamilan atau penanganannya (tidak termasuk kecelakaan atau kasus insidentil) selama kehamilan, melahirkan dan dalam masa nifas (42 hari setelah melahirkan) sehingga dilakukan asuhan komprehensif untuk mencegah kematian ibu selama kehamilan, persalinan dan nifas (Profil Kesehatan Indonesia, 2019). Tujuan dari asuhan kebidanan ini adalah untuk menerapkan asuhan kebidanan komperhensif secara Continuity of Care (COC) pada Ny. H di TPMB Siti Shofiah dengan pendekatan secara deskriptif dengan melakukan anamnesa dan observasi kepada pasien mulai dari kehamilan, persalinan, Nifas dan pada saat pemilihan alat kontrasepsi serta mendokumentasikan menggunakan SOAP. Sedangkan pelayanan kesehan pada bayi dilakukan pada saat kunjungan rumah neonatus dan melakukan konseling tentang cara perawatan tali pusat hingga asi Ekslusif. Metode yang digunakan dalam asuhan komprehensif pada ibu hamil, bersalin, nifas, neonatus dan KB ini adalah metode penelitian deskriptif dan jenis penelitian deskriptif yang digunakan adalah studi penelaahan kasus (Case Study), yakni dengan cara meneliti suatu permasalahan melalui suatu kasus yang terdiri dari unit tunggal. Hasil yang diperoleh dari pendampingan komperhensif secara Continuity of care (COC) pada Ny. H adalah dari masa kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir hingga ibu menggunakan alat kontrasepsi yaitu terjadi secara fisiologis dan tidak ada penyulit. Kesimpulan yang diperoleh penulis dari melakukan asuhan kebidanan komperhensif secara Continuity Of Care (COC) pada Ny. H adalah bahwa sebagai tenaga kesehatan khususnya Bidan dapat menerapkan asuhan kebidanan secara komprehensif untuk menurunkan AKI dan AKB.</p>Azzade Ellyn Dardiana, Widayati
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2123Wed, 24 Jun 2026 00:00:00 +0000Pemberian Edukasi Pediatric Massage Therapy untuk Kolik pada Kader Posyandu dan Ibu Bayi
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2385
<p><em>Infantile colic is a common condition in infants characterized by excessive crying without an identifiable cause. This condition can cause discomfort in infants and increase stress among parents. One non-pharmacological method that can help reduce colic symptoms is Pediatric Massage Therapy. This community service program aimed to improve the knowledge and skills of community health volunteers (posyandu cadres) and mothers regarding infantile colic and infant massage techniques. The activity was conducted on May 26, 2026, at Posyandu Bunga Sepatu and involved 20 participants. The methods included health education, demonstrations, hands-on practice, and evaluation through pre-test and post-test questionnaires. The results showed an increase in participants’ knowledge, with the proportion of participants in the good knowledge category increasing from 20% in the pre-test to 80% in the post-test. In addition, participants demonstrated a better understanding and ability to perform Pediatric Massage Therapy after the training. These findings indicate that education combined with demonstrations and direct practice is effective in improving participants’ understanding. In conclusion, this program successfully enhanced the knowledge and skills of posyandu cadres and mothers in performing Pediatric Massage Therapy as a non-pharmacological approach to help reduce infantile colic symptoms. Therefore, similar educational activities should be implemented continuously to support infant health and well-being.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Kolik infantil merupakan kondisi yang sering terjadi pada bayi dan ditandai dengan tangisan berlebihan tanpa penyebab yang jelas. Kondisi ini dapat menyebabkan ketidaknyamanan pada bayi serta meningkatkan stres pada orang tua. Salah satu metode nonfarmakologis yang dapat digunakan untuk membantu mengurangi gejala kolik adalah Pediatric Massage Therapy. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader posyandu serta ibu bayi mengenai kolik infantil dan teknik pijat bayi. Kegiatan dilaksanakan pada 26 Mei 2026 di Posyandu Bunga Sepatu dengan melibatkan 20 peserta. Metode yang digunakan meliputi penyuluhan, demonstrasi, praktik langsung, serta evaluasi melalui pre-test dan post-test. Hasil menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta, dimana kategori pengetahuan baik meningkat dari 20% saat pre-test menjadi 80% pada post-test. Selain itu, seluruh peserta mampu memahami dan mempraktikkan teknik Pediatric Massage Therapy dengan lebih baik setelah mengikuti kegiatan. Peningkatan ini menunjukkan bahwa edukasi yang disertai demonstrasi dan praktik langsung efektif dalam meningkatkan pemahaman peserta. Kegiatan ini dapat disimpulkan berhasil meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader posyandu serta ibu bayi dalam melakukan Pediatric Massage Therapy sebagai upaya nonfarmakologis untuk membantu mengurangi gejala kolik pada bayi. Oleh karena itu, kegiatan serupa perlu dilakukan secara berkelanjutan untuk mendukung kesehatan dan kenyamanan bayi.</p>Herma, Besse Nia Asniar, Selmiati selmi, Nurfitriana Roby Hapsari, Sischa Widyawati, Mugi Musrianah, Asri Puspa Dewi, Sahdia, Widayati
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2385Wed, 24 Jun 2026 00:00:00 +0000Edukasi Pijat Common cold untuk Mengatasi Gejala ISPA pada Balita
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2376
<p><em>Common cold is a common health problem in infants and toddlers due to upper respiratory tract viral infections. This condition can cause discomfort, sleep disturbances, decreased appetite, and increase parental anxiety in caring for children at home. One non-pharmacological effort that can be used to help relieve symptoms of cough and cold is common cold massage. However, mothers' knowledge and skills regarding this massage technique are still limited. This community service activity aims to improve the knowledge and skills of mothers of toddlers in applying common cold massage as an effort to overcome cough and cold in toddlers. The activity was carried out on May 30, 2026 at the Sakura Integrated Health Post (Posyandu) in the Sekatak Community Health Center Working Area, involving 10 mothers of toddlers. The method used was hybrid learning through counseling, demonstrations, direct practice, and evaluation using pretest and posttest questionnaires. The pretest results showed that most respondents had a low level of knowledge, as many as 9 people (90%) with an average score of 45.33%. After being given education and demonstration of common cold massage, most respondents had a good level of knowledge as many as 8 people (80%) [lH2.1] with an average of 86.67. These results indicate that education accompanied by practical demonstrations is effective in increasing mothers' understanding of the benefits and techniques of common cold massage. This activity has been proven to be able to increase mothers' knowledge in providing non-pharmacological care to toddlers with coughs and colds. Therefore, education on common cold massage needs to be carried out continuously through integrated health post activities and community health programs.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Batuk pilek (common cold) merupakan salah satu masalah kesehatan yang sering terjadi pada bayi dan balita akibat infeksi virus saluran pernapasan atas. Kondisi ini dapat menyebabkan ketidaknyamanan, gangguan tidur, penurunan nafsu makan, serta meningkatkan kecemasan orang tua dalam merawat anak di rumah. Salah satu upaya nonfarmakologis yang dapat digunakan untuk membantu meredakan gejala batuk pilek adalah pijat common cold. Namun, pengetahuan dan keterampilan ibu mengenai teknik pijat ini masih terbatas. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu balita dalam menerapkan pijat common cold sebagai upaya mengatasi batuk pilek pada balita. Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 30 Mei 2026 di Posyandu Sakura Wilayah Kerja Puskesmas Sekatak dengan melibatkan 10 ibu balita. Metode yang digunakan adalah hybrid learning melalui penyuluhan, demonstrasi, praktik langsung, serta evaluasi menggunakan kuesioner pretest dan posttest. Hasil pretest menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan kurang sebanyak 9 orang (90%) dengan nilai rata-rata 45,33%. Setelah diberikan edukasi dan demonstrasi pijat common cold, sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan baik sebanyak 8 orang (80%) dengan rata-rata 86,67. Hasil tersebut menunjukkan bahwa edukasi yang disertai demonstrasi praktik efektif dalam meningkatkan pemahaman ibu mengenai manfaat dan teknik pijat common cold. Kegiatan ini terbukti mampu meningkatkan pengetahuan ibu dalam melakukan perawatan nonfarmakologis pada balita yang mengalami batuk pilek. Oleh karena itu, edukasi pijat common cold perlu dilakukan secara berkelanjutan melalui kegiatan posyandu dan program kesehatan masyarakat.</p>Nora Yuni Intasari, Heni Setyowati, Siti Hafsyah Mubarokah, Iness Irmayanty Saragih, Delvina Nor Dahlia, Sri Rahayu, Ekasari, Irma Kurnia, Artha Prihati Ningsih, Melianna Silaban, Astri Purnamasari Mustar
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2376Wed, 24 Jun 2026 00:00:00 +0000Edukasi Penerapan Pijat Common cold Untuk Mengatasi Batuk Pilek Pada Balita
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2364
<p>Batuk pilek (<em>common cold</em>) merupakan salah satu masalah kesehatan yang sering terjadi pada bayi dan balita akibat infeksi virus saluran pernapasan atas. Kondisi ini dapat menyebabkan ketidaknyamanan, gangguan tidur, penurunan nafsu makan, serta meningkatkan kecemasan orang tua dalam merawat anak di rumah. Salah satu upaya nonfarmakologis yang dapat digunakan untuk membantu meredakan gejala batuk pilek adalah pijat <em>common cold</em>. Namun, pengetahuan dan keterampilan ibu mengenai teknik pijat ini masih terbatas. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu balita dalam menerapkan pijat <em>common cold</em> sebagai upaya mengatasi batuk pilek pada balita. Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 29 Mei 2026 di Puskesmas Tanjung Selor Kabupaten Bulungan dan Puskesmas Petungkriyono Kabupaten Pekalongan dengan melibatkan 20 ibu balita. Metode yang digunakan adalah <em>hybrid learning</em> melalui penyuluhan, demonstrasi, praktik langsung, serta evaluasi menggunakan kuesioner pretest dan posttest. Hasil pretest menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan kurang sebanyak 15 orang (75%) dan pengetahuan cukup sebanyak 5 orang (25%). Setelah diberikan edukasi dan demonstrasi pijat <em>common cold</em>, seluruh responden memiliki tingkat pengetahuan baik sebanyak 20 orang (100%). Hasil tersebut menunjukkan bahwa edukasi yang disertai demonstrasi praktik efektif dalam meningkatkan pemahaman ibu mengenai manfaat dan teknik pijat <em>common cold</em>. Kegiatan ini terbukti mampu meningkatkan pengetahuan ibu dalam melakukan perawatan nonfarmakologis pada balita yang mengalami batuk pilek. Oleh karena itu, edukasi pijat <em>common cold</em> perlu dilakukan secara berkelanjutan melalui kegiatan posyandu dan program kesehatan masyarakat.</p>Agustina, Ana Setiawati, Milah Khanifiyah, Yeni Nurwati, Anggi Lestari, Heslinawati, Susilowati, Dahliana, Wahyu Kristiningrum
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2364Wed, 24 Jun 2026 00:00:00 +0000Asuhan Kebidanan Komprehensif pada Ny. F Umur 21 Tahun G1P0A0 di Puskesmas Sebakung Jaya
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2224
<p><em>Comprehensive midwifery care is a continuous service approach carried out from pregnancy, childbirth, postpartum, neonatal, to family planning to support the safety of mothers and babies. The third trimester of pregnancy is often accompanied by complaints of discomfort such as back pain due to changes in body posture and increased pregnancy burden. In addition, obstetric complications such as premature rupture of membranes (PROM) can increase the risk of infection and contribute to cesarean section (CS) delivery. During the postpartum period, mothers are also susceptible to breast milk production disorders so that non-pharmacological interventions are needed, one of which is oxytocin massage to help increase breast milk production and release. This study aims to provide an overview of the implementation of comprehensive midwifery care for Mrs. F, 21 years old, G1P0A0, at the Sebakung Jaya Community Health Center. The research method used a case study with a continuity of care approach through assessment, observation, physical examination, interviews, documentation, and ongoing assistance. Monitoring of pregnant women was carried out three times. The results showed that in the third trimester the mother experienced complaints of back pain that could be overcome through posture education and relaxation exercises. During the delivery process, PROM was found which is an indication for a CS for the safety of the mother and fetus. Postpartum monitoring is performed four times. Oxytocin massage is performed during the postpartum period to help stimulate milk production and improve the comfort of breastfeeding mothers. Infant monitoring is performed three times, and family planning monitoring is performed once. Continuous, comprehensive midwifery care supports early detection of complications, improves the quality of maternal care, and accelerates postpartum recovery.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Asuhan kebidanan komprehensif merupakan pendekatan pelayanan berkelanjutan yang dilakukan sejak masa kehamilan, persalinan, nifas, neonatus, hingga keluarga berencana untuk mendukung keselamatan ibu dan bayi. Kehamilan trimester III sering disertai keluhan ketidaknyamanan seperti sakit pinggang akibat perubahan postur tubuh dan peningkatan beban kehamilan. Pada masa nifas, ibu juga rentan mengalami gangguan pengeluaran ASI sehingga diperlukan intervensi nonfarmakologis, salah satunya pijat oksitosin untuk membantu meningkatkan produksi dan pengeluaran ASI. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran pelaksanaan asuhan kebidanan komprehensif pada Ny. F umur 21 tahun G1P0A0 di Puskesmas Sebakung Jaya. Metode penelitian menggunakan studi kasus dengan pendekatan continuity of care melalui pengkajian, observasi, pemeriksaan fisik, wawancara, dokumentasi, dan pendampingan berkelanjutan. Pemantauan ibu hamil dilakukan 3 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada trimester III ibu mengalami keluhan sakit pinggang yang dapat diatasi melalui edukasi postur tubuh dan latihan relaksasi. Pemantauan pada masa nifas dilakukan 4 kali. Pada masa nifas dilakukan pijat oksitosin yang membantu memperlancar produksi ASI dan meningkatkan kenyamanan ibu menyusui. Pemantauan bayi dilakukan 3 kali dan pemantaun Kb 1 kali. Asuhan kebidanan komprehensif yang diberikan secara berkesinambungan mampu mendukung deteksi dini komplikasi, meningkatkan kualitas pelayanan maternal, serta mempercepat pemulihan ibu postpartum.</p>Rifkawati, Risma Alviani Putri
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2224Wed, 24 Jun 2026 00:00:00 +0000Asuhan Kebidanan Komprehensif Pada Ny. R Usia 26 Tahun G1P0A0 di Puskesmas Pembantu Wonomulyo
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2069
<p><em>The mortality rate of the community over time can provide an overview of the development of the degree of public health and can also be used as an indicator in assessing the success of health services and other health development programs. In 2023 the Maternal Mortality Rate (MMR) in the world was 189 per 100,000 live births globally. In 2023 the Infant Mortality Rate (IMR) was 16.85 per 1000 live births. The main obstacle is the lack of quality supervision for women starting from before pregnancy, during pregnancy and after childbirth. The purpose of this midwifery care is to implement comprehensive midwifery care for Mrs. R, 26 years old, G1P0A0 at the Wonomulyo Sub-Health Center with a descriptive approach by conducting anamnesis and observation to patients starting from pregnancy, childbirth, postpartum and when choosing contraceptives and documenting using SOAP. Meanwhile, health services for children are carried out when the baby is born, neonatal visits and providing counseling on how to care for the umbilical cord to exclusive breastfeeding. The method used in comprehensive care for pregnant women, childbirth, postpartum, neonates and family planning is a descriptive method. The type of final assignment report used is a case study. Data collection techniques use interview methods and direct observation of patients. The results obtained from comprehensive assistance with Continuity of Care (COC) on Mrs. R from pregnancy is still within normal limits, normal delivery, postpartum progressed physiologically, the newborn is normal, and Mrs. R decided to use PIL. The conclusion obtained by the author from carrying out comprehensive midwifery care with Continuity of Care (COC) on Mrs. R is that as health workers, especially midwive can apply comprehensive midwifery care to reduce MMR and IMR.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Angka kematian masyarakat dari waktu ke waktu dapat memberikan gambaran perkembangan derajat kesehatan masyarakat dan dapat juga digunakan sebagai indikator dalam penilaian keberhasilan pelayanan kesehatan dan program pembangunan kesehatan lainnya. Tahun 2023 Angka Kematian Ibu (AKI) di dunia 189 per 100.000 kelahiran hidup secara global. Pada tahun 2023 Angka Kematian Bayi (AKB) sebesar 16,85 per 1000 kelahiran hidup. Kendala utamanya adalah kurangnya pengawasan yang berkualitas kepada perempuan mulai dari sebelum hamil, saat hamil dan setelah persalinan. Tujuan dari asuhan kebidanan ini adalah untuk menerrapkan asuhan kebidanan komperhensif pada Ny. R Usia 26 Tahun G1P0A0 di Puskesmas Pembantu Wonomulyo dengan pendekatan secara deskriptif dengan melakukan anamnesa dan observasi kepada pasien mulai dari kehamilan, persalinan, nifas dan pada saat pemilihan alat kontrasepsi seta mendokumentasikan menggunakan SOAP. Sedangkan pelayanan kesehatan pada anak dilakukan pada saat bayi baru lahir, kunjungan neonatus dan melakukan konseling tentang cara perawatan tali pusat hingga ASI Ekslusif. Metode yang digunakan dalam asuhan komprehensif pada ibu hamil, bersalin, nifas, neonatus dan KB ini adalah metode deskriptif. Jenis laporan tugas akhir yang digunakan adalah studi kasus (case study). Teknik pengumpulan data menggunakan metode interview dan observasi langsung terhadap pasien. Hasil yang diperoleh dari pendampingan komperhensif secara Continuity of care (COC) pada Ny. R dari kehamilan masih dalam batas normal, persalinan normal, nifas berjalan secara fisiologis, bayi baru lahir normal, dan Ny. R memutuskan untuk menggunakan KB PIL. Kesimpulan yang diperoleh penulis dari melakukan asuhan kebidanan komperhensif secara Continuity of Care (COC) pada Ny. R adalah bahwa sebagai tenaga kesehatan khususnya Bidan dapat menerapkan asuhan kebidanan secara komperhensif untuk menurunkan AKI dan AKB.</p>Hasniati, Ari Widyaningsih
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2069Wed, 24 Jun 2026 00:00:00 +0000Studi Kasus Penerapan Model Continuity of Care (CoC) dalam Asuhan Kebidanan pada Ny K Umur 25 Tahun di Puskesmas Kalikajar 1
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1963
<p><em>Maternal Mortality Rate (MMR) and Infant Mortality Rate (IMR) in Indonesia remain significant public health challenges that require comprehensive and continuous midwifery care. The continuity of care (CoC) approach is essential to improve the quality of maternal and neonatal services through sustained monitoring from pregnancy to family planning services. This case study aimed to provide comprehensive midwifery care using the continuity of care (CoC) approach for Mrs. K, a 25-year-old primigravida (G2P1A0) at 25 weeks and 4 days of gestation, in the working area of Kalikajar 1 Public Health Center, Wonosobo Regency. This study employed a descriptive case study design with a continuity of care (CoC) approach. The subject was selected because she was a primigravida requiring continuous monitoring throughout pregnancy, childbirth, postpartum, neonatal care, and family planning services. Primary data were collected through interviews, observations, physical examinations, and documentation using the SOAP format. The midwifery care was conducted from November 5, 2025, to June 6, 2026, at Kalikajar 1 Public Health Center and the patient’s residence in Sigug Village, Kalikajar District. The results demonstrated that comprehensive and continuous midwifery care was successfully implemented from the second trimester of pregnancy through childbirth, postpartum, neonatal, and family planning periods. No complications were identified in either the mother or the baby during the care process. The delivery occurred spontaneously, the baby was born full-term in good condition, the postpartum and neonatal periods were physiological, and the mother chose a three-month injectable contraceptive method according to her needs. The implementation of continuity of care (CoC) contributed to comprehensive maternal and neonatal health monitoring, supported early detection of complications, and enhanced the quality of midwifery services. In conclusion, the implementation of continuity of care (CoC) is effective in supporting comprehensive and sustainable midwifery services, thereby contributing to improved maternal and neonatal health outcomes.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia masih menjadi permasalahan kesehatan yang memerlukan pelayanan kebidanan secara berkesinambungan. Pendekatan continuity of care (CoC) penting diterapkan untuk meningkatkan kualitas pelayanan maternal dan neonatal melalui pemantauan berkelanjutan sejak masa kehamilan hingga keluarga berencana. Tujuan studi kasus ini adalah memberikan asuhan kebidanan secara komprehensif dengan pendekatan continuity of care (CoC) pada Ny. K usia 25 tahun G2P1A0 usia kehamilan 25 minggu 4 hari di wilayah kerja Puskesmas Kalikajar 1 Kabupaten Wonosobo. Metode yang digunakan adalah studi kasus deskriptif dengan pendekatan continuity of care (CoC). Subjek dipilih karena merupakan ibu multigarvida yang memerlukan pemantauan berkelanjutan selama kehamilan, persalinan, nifas, neonatus, hingga penggunaan kontrasepsi. Pengumpulan data primer dilakukan melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, dan dokumentasi menggunakan format SOAP. Asuhan dilakukan pada periode 5 November 2025 sampai 6 Juni 2026 di Puskesmas Kalikajar 1 dan rumah pasien di Desa Sigug, Kecamatan Kalikajar. Hasil studi kasus menunjukkan bahwa asuhan kebidanan berkesinambungan berjalan dengan baik mulai dari masa kehamilan trimester II , persalinan, nifas, neonatus, hingga keluarga berencana. Selama proses asuhan tidak ditemukan komplikasi pada ibu maupun bayi. Persalinan berlangsung spontan, bayi lahir cukup bulan dalam kondisi sehat, masa nifas dan neonatus berlangsung fisiologis, serta ibu menggunakan KB suntik 3 bulan sesuai kebutuhan. Penerapan continuity of care (CoC) memberikan manfaat dalam pemantauan kesehatan ibu dan bayi secara menyeluruh, mendukung deteksi dini komplikasi, serta meningkatkan kualitas pelayanan kebidanan.Kesimpulan dari studi kasus ini adalah penerapan continuity of care (CoC) efektif dalam mendukung pelayanan kebidanan komprehensif dan berkesinambungan sehingga dapat membantu meningkatkan kesehatan maternal dan neonatal.</p>Fibrinika Tuta Setiani, Eti Salafas
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/1963Wed, 24 Jun 2026 00:00:00 +0000Asuhan Kebidanan Continuity of Care pada Ny “L” 31 Tahun G3P2A0 dengan Anemia Ringan pada Masa Kehamilan
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2000
<p><em>Maternal and infant mortality rates are one of the indicators to measure the health status of a country. Early detection efforts to overcome morbidity and mortality for mothers, infants and toddlers can be done by implementing Continuity Of Care (COC) starting from pregnancy, childbirth, postpartum, newborns, to family planning. The purpose of this study is to provide comprehensive and continuous midwifery care to Mrs. L starting from pregnancy, childbirth, postpartum, neonates and family planning. The type of descriptive research used is a case study. The research instrument uses a descriptive approach method and is documented in the form of SOAP. In this care, the author collected data through interviews, observations, physical examinations, supporting examinations, documentation studies and bibliography studies. This study was conducted from March to May 2026. From the results of the provision of pregnancy care, problems were found, namely mild anemia and nocturia, given 1x1 Fe tablet and Kegel exercises. During labor, complementary counterpressure care was provided to reduce labor pain and APN delivery assistance. During postpartum care, the mother reported low breast milk production and was given oxytocin massage. During newborn care, Mrs. L received infant massage. During family planning care, Mrs. L used a 3-month injectable contraceptive.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Angka kematian ibu dan bayi merupakan salah satu indikator untuk mengukur derajat kesehatan bagi suatu negara. Kegiatan upaya deteksi dini untuk mengatasi kesakitan maupun kematian baik ibu, bayi dan balita tersebut dapat dilakukan dengan salah satunya yaitu implementasi asuhan berkelanjutan atau Continuity Of Care (COC) yang dimulai dari masa kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir, sampai dengan KB. Tujuan penelitian ini mampu memberikan asuhan kebidanan pada Ny. L secara komprehensif dan berkesinambungan mulai dari kehamilan, bersalin, nifas, neonatus dan KB. jenis penelitian deskriptif yang digunakan adalah studi kasus (case study), Instrumen penelitian menggunakan metode pendekatan yang bersifat deskriptif dan didokumentasikan dalam bentuk SOAP. Dalam asuhan ini, penulis mengumpulkan data melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, studi dokumentasi dan studi daftar pustaka. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret sampai mei 2026. Dari hasil pemberian asuhan kehamilan ditemukan masalah yaitu anemia ringan dan nocturia, diberikan tablet Fe 1x1 dan senam kegel. Pada saat persalinan diberikan asuhan komplementer counterpressure untuk mengurangi nyeri persalinan dan pertolongan persalinan secara APN. Pada asuhan nifas ibu mengatakan produksi ASI sedikit dan diberikan asuhan pijat oksitosin. Pada asuhan bayi baru lahir, By. Ny L diberikan asuhan pijat bayi. Sedangkan pada asuhan KB Ny. L menggunakan KB Suntik 3 bulan.</p>Kasmirah, Luvi Dian Afriani
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2000Wed, 24 Jun 2026 00:00:00 +0000Asuhan Kebidanan Continuity of Care (COC) pada Ny. Y Umur 34 Tahun G2P1A0 dengan Faktor Risiko Riwayat SC di RS Kusuma Ungaran
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2003
<p><em>Maternal Mortality Rate (MMR) and Infant Mortality Rate (IMR) remain important indicators of maternal and neonatal healthcare quality. One factor contributing to increased complications is fragmented maternity care, particularly in women with risk factors such as previous cesarean section (CS). The Continuity of Care (CoC) approach is needed to provide comprehensive and continuous care. To describe the implementation of comprehensive midwifery care based on the Continuity of Care approach in Mrs. Y, a 34-year-old G2P1A0 woman with a history of previous cesarean section at Kusuma Ungaran Hospital. This study used a case study approach involving one subject who received continuous care from pregnancy through childbirth, postpartum, neonatal care, and family planning services. Data were collected through interviews, observations, physical examinations, and documentation. Comprehensive midwifery care was implemented throughout all stages. During pregnancy, risk monitoring and acupressure were provided to manage insomnia. Delivery was performed through a planned cesarean section due to oligohydramnios and previous CS history. Postpartum provide oxytoxin massage and neonatal periods progressed normally without complications, the mother successfully breastfed, and selected implant contraception. The Continuity of Care approach supports early risk detection, prevents complications, and improves maternal and neonatal healthcare quality.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) masih menjadi indikator penting keberhasilan pelayanan kesehatan maternal dan neonatal. Salah satu penyebab meningkatnya risiko komplikasi adalah kurang optimalnya kesinambungan pelayanan kebidanan, terutama pada ibu dengan faktor risiko seperti riwayat sectio caesarea (SC). Pendekatan Continuity of Care (CoC) diperlukan untuk memberikan pelayanan yang komprehensif dan berkelanjutan. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan pelaksanaan asuhan kebidanan komprehensif berbasis Continuity of Care pada Ny. Y usia 34 tahun G2P1A0 dengan riwayat SC di RS Kusuma Ungaran. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus pada satu subjek secara berkelanjutan mulai masa kehamilan trimester III, persalinan, nifas, bayi baru lahir, hingga keluarga berencana. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, dan dokumentasi. Hasil dari Asuhan kebidanan komprehensif dilakukan pada seluruh tahap pelayanan. Selama kehamilan dilakukan pemantauan risiko dan intervensi akupresur untuk insomnia. Persalinan dilakukan melalui SC terencana karena oligohidramnion dan riwayat SC. Masa nifas memberikan tindakan pijat oksitosin dan neonatal berlangsung normal tanpa komplikasi, serta ibu berhasil menyusui dan memilih kontrasepsi implant. Penerapan Continuity of Care mampu mendukung deteksi dini risiko, mencegah komplikasi, dan meningkatkan kualitas pelayanan maternal dan neonatal.</p>Happy Imanisa Mahira, Heni Setyowati
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2003Wed, 24 Jun 2026 00:00:00 +0000Asuhan Kebidanan Continuity of Care (COC) pada Ny. R Umur 27 Tahun di Puskesmas Tanjung Selor
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2007
<p><em>One of the Maternal and Child Health (KIA) programs is to accelerate the reduction of maternal and child mortality by improving the quality of services and maintaining a balance in maternal health services from antenatal care, intranatal care, postnatal care so that a mother is able and aware of maintaining the health of herself and her family. Continuity of Care is continuous care or treatment under certain conditions. Regular visits by health workers to assess the status of diseases, disorders or conditions and provide direct treatment and to improve the quality of maternal and child health services. This care aims to provide an overview of Continuity Of Care midwifery care for Mrs. R is 27 years old. The method for providing Continuity Of Care care uses a case study approach with direct observation and recording of care provided from the third trimester of pregnancy, childbirth, the postpartum period, baby care to family planning. Data was collected through interviews, observation and documentation. The results of continuous midwifery care show that all stages of care provided are in accordance with the latest theories and standards of midwifery services so that they can minimize complications during childbirth, provide knowledge to mothers regarding physiological changes in TM III pregnancy, discomfort in TM III pregnancy and how to overcome them, and also provide complementary Counter Pressure care when entering the labor process. The mother demonstrated good health during and after the birth process, and the baby was born healthy. Continuity of Care Approach for Mrs. R shows positive results in improving maternal and infant health[rp3.1]. Suggestion: Researchers suggest to all health workers, especially midwives, to be able to carry out screening on pregnant women properly so that the process of pregnancy, childbirth, BBL, postpartum and family planning take place smoothly and safely.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Salah satu program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) adalah untuk mempercepat penurunan angka kematian ibu dan anak dengan meningkatkan mutu pelayanan dan menjaga keseimbangan pelayanan kesehatan ibu dari antenatal care, intranatal care, postnatal care sehingga seorang ibu mampu serta sadar menjaga kesehatan dirinya dan keluarga. Continuity of Care adalah asuhan atau perawatan berkelanjutan dalam kondisi tertentu. Kunjungan rutin oleh tenaga kesehatan untuk menilai status penyakit, gangguan atau kondisi dan memberikan pengobatan langsung dan untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan ibu dan anak. Asuhan ini bertujuan untuk memberikan gambaran asuhan kebidanan Continuity Of Care pada Ny. R usia 27 Tahun . Metode dalam memberikan asuhan Continuity Of Care ini menggunakan pendekatan studi kasus dengan observasi langsung dan pencatatan asuhan yang diberikan dari kehamilan trimester ketiga, persalinan, masa nifas, perawatan bayi sampai dengan KB. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil dari asuhan kebidanan yang berkesinambungan menunjukan bahwa seluruh tahapan asuhan yang diberikan sudah sesuai dengan teori dan standart pelayanan kebidanan terkini sehingga dapat meminimalkan komplikasi saat persalinan, memberikan pengetahuan kepada ibu mengenai perubahan fisiologis kehamilan TM III, ketidaknyamanan kehamilan TM III dan cara mengatasi nya, dan juga memberikan asuhan komplementer Counter Pressure saat memasuki proses persalinan. Ibu menunjukkan kondisi kesehatan yang baik selama dan setelah proses persalinan, dan bayi lahir dengan sehat. Kesimpulan: Pendekatan Continuity Of Care pada Ny. R menunjukkan hasil yang positif dalam meningkatkan kesehatan ibu dan bayi. Saran : Peneliti menyarankan kepada seluruh tenaga kesehatan terutama bidan untuk dapat melakukan screening pada ibu hamil dengan baik sehingga proses kehamilan, persalinan, BBL, nifas, dan KB berlangsung dengan lancar dan aman.</p>Anis Pravitasari, Heni Setyowati
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2007Wed, 24 Jun 2026 00:00:00 +0000Implementasi Asuhan Kebidanan Komprehensif Ibu Bersalin Pada Kasus Ketuban Pecah Dini Dengan Rujukan Lanjutan Ke Rumah Sakit
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2019
<p><em>Premature Rupture of Membranes (PROM) is an obstetric emergency that may increase maternal and neonatal morbidity and mortality if not managed promptly and appropriately. This case study aimed to describe the implementation of comprehensive midwifery care with collaborative referral management in a laboring woman with PROM. The method used was a descriptive case study through a Continuity of Care (CoC) approach in Mrs. A, a 20-year-old primigravida (G1P0A0) at 40 weeks of gestation with PROM. Data were collected through interviews, observations, physical examinations, and documentation using the SOAP method. The results showed that the mother experienced PROM without labor progression for more than 12 hours, characterized by cervical dilatation remaining at 1 cm and inadequate uterine contractions. Therefore, a collaborative referral to the hospital was performed, followed by a Caesarean section. The baby was delivered in good condition with a birth weight of 3000 grams and APGAR scores of 8/9/10. A newborn is diagnosed with asphyxia when the APGAR score is <7 at the first and/or fifth minute after birth. APGAR scores of 4–6 indicate mild-to-moderate asphyxia, while scores of 0–3 indicate severe asphyxia. In this case, the newborn had APGAR scores of 8/9/10, indicating that no asphyxia occurred. Postoperative maternal and neonatal conditions were stable without complications. The implementation of comprehensive midwifery care through a Continuity of Care approach and collaborative referral management in PROM cases was effective in improving maternal and neonatal safety and preventing maternal and neonatal complications.</em></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Ketuban Pecah Dini (KPD) merupakan kegawatdaruratan obstetri yang dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas ibu maupun bayi apabila tidak ditangani secara cepat dan tepat. Studi kasus ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi asuhan kebidanan komprehensif dengan rujukan kolaboratif pada ibu bersalin dengan KPD. Metode yang digunakan adalah studi kasus deskriptif melalui pendekatan Continuity of Care (CoC) pada Ny. A usia 20 tahun G1P0A0 usia kehamilan 40 minggu dengan KPD. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, dan dokumentasi menggunakan metode SOAP. Hasil menunjukkan bahwa ibu mengalami KPD tanpa kemajuan persalinan lebih dari 12 jam ditandai pembukaan serviks tetap 1 cm dan his tidak adekuat sehingga dilakukan rujukan kolaboratif ke rumah sakit dan tindakan Sectio Caesarea. Bayi lahir dalam kondisi baik dengan berat badan lahir 3000 gram. APGAR score 8/9/10, Bayi baru lahir dinyatakan mengalami asfiksia apabila nilai APGAR <7 pada menit pertama dan/atau kelima setelah lahir. Nilai APGAR 4–6 menunjukkan asfiksia ringan–sedang, sedangkan 0–3 menunjukkan asfiksia berat. Pada kasus ini bayi memiliki nilai APGAR 8/9/10 sehingga tidak mengalami asfiksia. Kondisi ibu dan bayi pasca tindakan dalam keadaan stabil tanpa komplikasi. Implementasi asuhan kebidanan komprehensif melalui pendekatan Continuity of Care dan rujukan kolaboratif pada kasus KPD efektif meningkatkan keselamatan ibu dan bayi serta mencegah komplikasi maternal maupun neonatal.</p>Nurul Tuti Utami, Ida Sofiyanti
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2019Wed, 24 Jun 2026 00:00:00 +0000Penerapan Endorphin Massage dalam Menurunkan Intensitas Nyeri Persalinan Kala I Fase Aktif: Studi Kasus
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2020
<p><em>Labor pain is a physiological response that may cause physical and psychological discomfort and can interfere with the labor process. One of the non-pharmacological interventions to reduce labor pain is endorphin massage. This study aimed to determine the effect of endorphin massage on reducing labor pain in Mrs. S G3P2A0 during the latent phase of the first stage of labor. This study used a case study design with a continuity of midwifery care approach. Data were collected through interviews, observation, and pain assessment using the Wong-Baker Faces Pain Rating Scale. The intervention of endorphin massage was applied during the first stage of labor. The results showed a decrease in pain intensity from moderate–severe pain (score 4–5) to mild pain (score 1–3) after the intervention. These findings indicate that endorphin massage is effective in reducing labor pain and improving maternal comfort. In conclusion, endorphin massage can be used as a complementary therapy in midwifery care to help reduce labor pain non-pharmacologically.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Nyeri persalinan merupakan respons fisiologis yang dapat menimbulkan ketidaknyamanan fisik dan psikologis pada ibu bersalin serta dapat mengganggu proses persalinan. Salah satu upaya nonfarmakologis untuk mengurangi nyeri persalinan adalah endorphin massage. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan endorphin massage terhadap penurunan nyeri persalinan pada Ny. S G3P2A0 kala I fase laten. Metode yang digunakan adalah studi kasus dengan pendekatan asuhan kebidanan berkelanjutan. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan pengukuran skala nyeri menggunakan Wong-Baker Faces Pain Rating Scale. Intervensi berupa endorphin massage dilakukan selama kala I persalinan. Hasil menunjukkan adanya penurunan skala nyeri dari rentang 4–5 (nyeri sedang–berat) menjadi 1–3 (nyeri ringan) setelah intervensi. Hal ini menunjukkan bahwa endorphin massage efektif dalam menurunkan nyeri persalinan dan meningkatkan kenyamanan ibu. Kesimpulan, endorphin massage dapat digunakan sebagai terapi komplementer dalam asuhan kebidanan untuk membantu mengurangi nyeri persalinan secara nonfarmakologis.</p>Endah Sulistiyowati, Ida Sofiyanti
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2020Wed, 24 Jun 2026 00:00:00 +0000Penerapan Asuhan Kebidanan dalam Masa Adaptasi pada Neonatus
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2022
<p><em>The neonatal period is the period from birth to the age of 28 days which is the most critical period in the baby's life because there is an adaptation process from intrauterine to extrauterine life. During this period, babies undergo various physiological changes, such as adaptation of the respiratory system, circulation, body temperature regulation, and metabolic function. The baby's inability to adapt properly can increase the risk of health problems and even neonatal death. In 2025, there will still be cases of neonatal infant deaths in the Kalikajar I Health Center's work area. Midwifery care for neonates is carried out comprehensively through neonatal visits at least three times, namely KN 1 at the age of 6–48 hours, KN 2 at the age of 3–7 days, and KN 3 at the age of 8–28 days. The neonatal visit aims to monitor the baby's health condition, growth, breastfeeding, and detect complications early so that the baby can grow and develop optimally. The research method used is a descriptive method with a case study approach through observation and management of health services in neonates. The care results provided include monitoring the health condition of the neonates, growth and development, exclusive breastfeeding, early detection of complications, and the provision of basic immunizations in the form of BCG and OPV1. From this study, it was concluded that the midwifery care provided was in accordance with standards and carried out comprehensively. The suggestion that can be given that midwives in their respective work areas can continue to improve health services, especially maternal and child health and comprehensive care provision is expected to help reduce morbidity and mortality rates in mothers and infants.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Masa neonatus merupakan periode sejak bayi lahir hingga usia 28 hari yang menjadi masa paling kritis dalam kehidupan bayi karena terjadi proses adaptasi dari kehidupan intrauterin ke ekstrauterin. Pada periode ini, bayi mengalami berbagai perubahan fisiologis, seperti adaptasi sistem pernapasan, sirkulasi, pengaturan suhu tubuh, dan fungsi metabolisme. Ketidakmampuan bayi beradaptasi dengan baik dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan bahkan kematian neonatal. Pada tahun 2025 di wilayah kerja Puskesmas Kalikajar I masih terjadi kasus kematian bayi neonatus. Asuhan kebidanan pada neonatus dilakukan secara komprehensif melalui kunjungan neonatal minimal tiga kali, yaitu KN 1 pada usia 6–48 jam, KN 2 pada usia 3–7 hari, dan KN 3 pada usia 8–28 hari. Kunjungan neonatal tersebut bertujuan untuk memantau kondisi kesehatan bayi, pertumbuhan, pemberian ASI, serta mendeteksi komplikasi secara dini sehingga bayi dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan studi kasus (case study) melalui observasi dan penatalaksanaan pelayanan kesehatan pada neonatus. Hasil asuhan yang diberikan meliputi pemantauan kondisi kesehatan neonatus, pertumbuhan dan perkembangan, pemberian ASI eksklusif, deteksi dini komplikasi, serta pemberian imunisasi dasar berupa BCG dan OPV1. Dari penelitian ini disimpulkan bahwa asuhan kebidanan yang diberikan telah sesuai standar dan dilakukan secara komprehensif. Saran yang bisa diberikan bahwa bidan di wilayah kerja masing-masing dapat terus meningkatkan pelayanan kesehatan, khususnya kesehatan ibu dan anak dan pemberian asuhan yang komprehensif diharapkan dapat membantu menurunkan angka morbiditas dan mortalitas pada ibu maupun bayi.</p>Nunik Tri Wuryanti, Ida Sofiyanti
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2022Wed, 24 Jun 2026 00:00:00 +0000Asuhan Kebidanan Continuity of Care (COC) pada Ny. F G2P1A0 Umur 32 Tahun dengan Plasenta Letak Rendah di Desa Candiroto
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2023
<p><em>Maternal Mortality Rate (MMR) and Infant Mortality Rate (IMR) remain important indicators in assessing the level of public health in Indonesia. The main causes of maternal mortality include hemorrhage, hypertensive disorders in pregnancy, and infection, while infant mortality is commonly caused by prematurity, low birth weight (LBW), asphyxia, and neonatal infections. One of the pregnancy complications that may cause bleeding is low-lying placenta, which can lead to antepartum hemorrhage, preterm delivery, and complications in both mother and baby. Efforts to reduce MMR and IMR can be carried out through the implementation of Continuity of Care (CoC) midwifery services from pregnancy, childbirth, postpartum, newborn and neonatal care, to family planning services. The purpose of this case study was to implement comprehensive midwifery care for Mrs. F, a 32-year-old G2P1A0 woman with a low-lying placenta in the working area of Candiroto Public Health Center. The method used was a case study with a Continuity of Care approach. The subject of the study was one pregnant woman who was followed from the third trimester of pregnancy through childbirth, postpartum period, newborn/neonatal care, and family planning services. Data were collected through anamnesis, observation, physical examination, supporting examinations, maternal and child health book documentation, and SOAP documentation. The study was conducted from November 8, 2025 to March 19, 2026. The results showed that during pregnancy, the patient experienced complications of low-lying placenta accompanied by recurrent antepartum hemorrhage, requiring referral and collaboration with an obstetrician and gynecologist. Delivery was conducted at 34 weeks and 4 days of gestation due to low-lying placenta with recurrent antepartum hemorrhage. The baby was born prematurely with a birth weight of 2,200 grams and experienced mild asphyxia; however, the baby's condition improved after initial management and continuous monitoring. Postpartum care was carried out through four visits, with the mother remaining in good condition without complications. Newborn and neonatal care showed that the baby’s growth and adaptation progressed well. Family planning services were provided through the selection of contraceptive implants according to the mother’s condition and needs. In conclusion, the implementation of Continuity of Care was effective in supporting early detection of complications, continuous monitoring of maternal and neonatal conditions, and improving the quality of midwifery care through appropriate collaboration and referral. Furthermore, the implementation of comprehensive midwifery care in this case was in accordance with theory and midwifery care standards.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) masih menjadi indikator penting dalam menilai derajat kesehatan masyarakat di Indonesia. Penyebab utama AKI meliputi perdarahan, hipertensi dalam kehamilan, dan infeksi, sedangkan AKB banyak disebabkan oleh prematuritas, Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), asfiksia, dan infeksi neonatal. Salah satu komplikasi kehamilan yang berisiko menyebabkan perdarahan adalah plasenta letak rendah yang dapat menimbulkan perdarahan antepartum, persalinan prematur, hingga komplikasi pada ibu dan bayi. Upaya penurunan AKI dan AKB dapat dilakukan melalui penerapan asuhan kebidanan berkelanjutan atau Continuity of Care (CoC) mulai dari masa kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir, neonatus, hingga pelayanan keluarga berencana. Tujuan studi kasus ini adalah melaksanakan asuhan kebidanan komprehensif pada Ny. F usia 32 tahun G2P1A0 dengan plasenta letak rendah di wilayah kerja Puskesmas Candiroto. Metode yang digunakan adalah studi kasus dengan pendekatan Continuity of Care. Subjek penelitian adalah satu ibu hamil yang diikuti mulai masa kehamilan trimester III, persalinan, nifas, bayi baru lahir/neonatus, hingga pelayanan keluarga berencana. Pengumpulan data dilakukan melalui anamnesis, observasi, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, studi dokumentasi buku KIA, dan pendokumentasian SOAP. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 8 November 2025 sampai 19 Maret 2026. Hasil asuhan menunjukkan bahwa pada masa kehamilan ditemukan komplikasi plasenta letak rendah disertai perdarahan antepartum berulang sehingga dilakukan rujukan dan kolaborasi dengan dokter spesialis obstetri dan ginekologi. Persalinan dilakukan pada usia kehamilan 34 minggu 4 hari dengan indikasi plasenta letak rendah disertai perdarahan antepartum berulang. Bayi lahir prematur dengan berat badan lahir 2.200 gram dan mengalami asfiksia ringan, namun kondisi bayi membaik setelah dilakukan penanganan awal dan pemantauan berkelanjutan. Asuhan nifas dilakukan sebanyak 4 kali kunjungan dengan hasil kondisi ibu dalam keadaan baik tanpa komplikasi. Asuhan bayi baru lahir dan neonatus menunjukkan pertumbuhan dan adaptasi bayi berjalan baik. Pelayanan keluarga berencana dilakukan dengan pemilihan KB implan sesuai kondisi dan kebutuhan ibu. Kesimpulan dari studi kasus ini menunjukkan bahwa penerapan Continuity of Care efektif dalam membantu deteksi dini komplikasi, pemantauan kondisi ibu dan bayi secara berkelanjutan, serta meningkatkan kualitas pelayanan kebidanan melalui kolaborasi dan rujukan yang tepat. Selain itu, pelaksanaan asuhan kebidanan komprehensif pada kasus ini telah sesuai dengan teori dan standar pelayanan kebidanan.</p>Erlin Safa’atilah, Ari Widyaningsih
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2023Wed, 24 Jun 2026 00:00:00 +0000Penerapan Teknik Counterpressure pada Ibu Bersalin Kala 1 Fase Aktif untuk Menurunkan Nyeri Persalinan
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2028
<p><em>Labor pain during the active phase of the first stage of labor is commonly experienced by women in labor and may cause discomfort and anxiety. This case study aimed to determine the effect of the counterpressure technique on reducing labor pain in a 28-year-old woman, Mrs. S, with obstetric status G2P1A0, at Puskesmas Kalikajar in March 2026. Based on the assessment, the mother complained of regular abdominal tightening accompanied by bloody mucus discharge, with good general condition, normal vital signs, cervical dilation of 4 cm, intact membranes, and the fetal head already engaged in the pelvic inlet, indicating the active phase of the first stage of labor. The care provided included explaining the mother’s and fetus’s condition, encouraging food and fluid intake, ambulation, emotional support, relaxation techniques, close observation of maternal and fetal conditions, and applying counterpressure to the sacral area during contractions. Data were collected through interviews, observation, documentation, and pain assessment using the Wong-Baker Faces Pain Rating Scale. The results showed a decrease in pain intensity after the intervention, from a score of 4–5 to 1–3. In conclusion, the counterpressure technique was effective in reducing labor pain during the active phase of the first stage of labor and may be used as a non-pharmacological intervention in midwifery care.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Nyeri persalinan merupakan masalah yang sering dialami ibu bersalin pada kala I fase aktif dan dapat menimbulkan ketidaknyamanan serta meningkatkan kecemasan. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh teknik counterpressure terhadap penurunan nyeri persalinan pada ibu bersalin kala I fase aktif. Metode yang digunakan adalah studi kasus pada Ny. S usia 28 tahun dengan status obstetri G2P1A0 di Puskesmas Kalikajar pada Maret 2026. Berdasarkan hasil pengkajian, ibu datang dengan keluhan perut terasa kencang teratur disertai lendir bercampur darah, keadaan umum baik, tanda vital dalam batas normal, pembukaan serviks 4 cm, ketuban utuh, kepala janin sudah masuk PAP, dan ibu berada pada kala I fase aktif. Asuhan yang diberikan meliputi pemberian penjelasan mengenai kondisi ibu dan janin, anjuran makan dan minum, anjuran berjalan-jalan, dukungan emosional, teknik relaksasi, observasi kondisi ibu dan janin, serta penerapan counterpressure pada daerah sakrum selama kontraksi. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dokumentasi, dan pengukuran nyeri menggunakan Wong-Baker Faces Pain Rating Scale. Hasil menunjukkan adanya penurunan intensitas nyeri setelah dilakukan counterpressure, dari skala 4–5 menjadi 1–3. Dengan demikian, teknik counterpressure efektif membantu menurunkan nyeri persalinan pada kala I fase aktif dan dapat digunakan sebagai intervensi nonfarmakologis dalam asuhan kebidanan.</p>Senik Ekawati, Ida Sofiyanti
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2028Wed, 24 Jun 2026 00:00:00 +0000Asuhan Kebidanan Continuity of Care (Coc) pada Ny” N” Umur 33 Tahun G3P2A0 di Puskesmas Bojong I Kab. Pekalongan
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2027
<p><em>Continuity of Care (CoC) in midwifery is an important approach to reduce maternal and neonatal mortality rates through comprehensive and continuous services from pregnancy to family planning. This study aimed to provide continuous midwifery care for Mrs. N, aged 33 years, at Bojong I Public Health Center, Pekalongan Regency. This study used a descriptive case study approach. Care was provided from the third trimester of pregnancy, labor, newborn care, postpartum period, to family planning, with data collected through interviews, observation, physical examination, and SOAP documentation. The results showed that the pregnancy progressed normally without complications. Labor occurred at 38 weeks of gestation and was completed safely. The newborn was in good condition with normal growth up to 28 days. The postpartum period was uneventful, with good uterine involution and adequate breastfeeding. The client chose a three-month injectable contraceptive as a postpartum family planning method.In conclusion, Continuity of Care can be effectively implemented and contributes to maintaining maternal and infant health while preventing complications.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Asuhan kebidanan berkelanjutan (Continuity of Care/CoC) merupakan pendekatan penting dalam menurunkan angka kematian ibu dan bayi melalui pelayanan yang komprehensif dan berkesinambungan mulai dari kehamilan hingga keluarga berencana. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan asuhan kebidanan berkelanjutan pada Ny. N umur 33 tahun di Puskesmas Bojong I Kabupaten Pekalongan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Asuhan diberikan sejak trimester III kehamilan, persalinan, bayi baru lahir, masa nifas hingga keluarga berencana, dengan pengumpulan data melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, serta dokumentasi SOAP. Hasil menunjukkan bahwa kehamilan berlangsung normal tanpa komplikasi. Persalinan terjadi pada usia kehamilan 38 minggu dan berlangsung dengan aman. Bayi lahir dalam kondisi baik dengan pertumbuhan normal hingga usia 28 hari. Masa nifas berjalan normal dengan involusi uterus yang baik dan produksi ASI yang cukup. Klien memilih kontrasepsi suntik 3 bulan sebagai metode keluarga berencana pasca salin. Kesimpulannya, asuhan kebidanan berkelanjutan dapat dilaksanakan secara efektif dan berperan dalam menjaga kesehatan ibu dan bayi serta mencegah komplikasi.</p>Kholifah, Rini Susanti
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2027Wed, 24 Jun 2026 00:00:00 +0000Asuhan Kebidanan Continuity of Care (COC) pada Ny. M Umur 27 Tahun G2P1A0 di RSUD dr. Gondo Suwarno
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2029
<p><em>Maternal Mortality Rate (MMR) and Infant Mortality Rate (IMR) are an important indicator of the level of public health. To reduce the MMR and IMR, this is done with Continuity of Care (CoC) program, namely continuous assistance from pregnancy to 42 days of the postpartum period. This research aims to provide Continuity of Care (CoC) midwifery care for Mrs M aged 27 G1P0A0. The data collection method is using interviews, observation with primary and secondary data through the KIA Book, physical examination and this research began in January – March 2026. Based on the results of a comprehensive case study on Mrs M, 27 years old, 33 weeks pregnant and had vomitus. She receveid acupressure therapy to address the problem.She labor at 01-03-2026. Postpartum visit (KF) were carried out 4 times and thepostpartum period was normal, there was no bleeding, good uterine contractions. In newborn, anthropometric examination is normal. Neonatal visits (KN) were carried out 3 times and the baby was healthy. Mrs “M” decided to use 3-month injection. After being given comprehensive midwifery care starting from pregnancy, childbirth, postpartum, newborn, and neonates, care was found to run smoothly and the mother and baby were in good condition. It is hoped that patient can apply the counseling that has been provided so that it provides health benefits for the mother and baby and increases the mother’s knowledge about pregnancy, childbirth, postpartum, newborn, and neonates.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) menjadi indikator penting derajat kesehatan masyarakat. Untuk menurunkan AKI dan AKB dilakukan dengan Continuity of Care (CoC) yaitu pendampingan berkelanjutan dari hamil hingga 42 hari masa nifas. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan asuhan kebidanan pada Ny M umur 27 tahun dengan G2P1A0. Metode pengumpulan data yaitu menggunakan wawancara, observasi dengan data primer dan sekunder melalui Buku KIA, pemeriksaan fisik serta penelitian ini dimulai sejak bulan Januari-Maret 2026. Pendokumentasian menggunakan SOAP. Berdasarkan hasil studi kasus secara komprehensif pada Ny. M dari masa kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir, dan neonatus didapatkan Ny. M umur 27 tahun hamil 33 minggu ditemukan masalah yaitu mual dan muntah. Ny. M mendapatkan terapi acupressure untuk mengatasi mual muntah. Ny. M mnelahiran secara spontan pada tanggal 01-03-2026. Kunjungan nifas (KF) dilakukan 4 kali dan masa nifas berlangsung normal, tidak ada perdarahan, kontraksi uterus baik. Pada bayi baru lahir pemeriksaan antopometri normal. Kunjungan neonatal (KN) dilakukan 3 kali dan bayi dalam keadaan sehat. Ny. M memutuskan untuk menggunakan KB suntik 3 bulan. Setelah diberikan asuhan kebidanan secara komprehensif mulai dari kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir, dan neonatus didapatkan asuhan berjalan dengan lancar serta ibu dan bayi dalam kondisi baik. Diharapkan pasien dapat menerapkan konseling yang telah diberikan sehingga memberikan manfaat kesehatan bagi ibu dan bayi serta menambah pengetahuan ibu tentang kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir, dan neonatus.</p>Atikah Amaliyah, Heni Setyowati
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2029Wed, 24 Jun 2026 00:00:00 +0000Asuhan Kebidanan Continuity of Care (COC) pada Ny. H Umur 25 Tahun Dengan Kehamilan Letak Sungsang di Puskesmas Tanah Kuning
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2030
<p><em>Continuity of Care (CoC) midwifery care is a continuous service aimed at improving maternal and neonatal health. This case study aimed to provide comprehensive care for Mrs. H, 25 years old, G2P1A0 at Tanah Kuning Public Health Center, covering pregnancy, childbirth, postpartum, newborn, and family planning. The method used was a qualitative case study through interviews, observation, and physical examination. The results showed that breech presentation during pregnancy was successfully corrected into cephalic presentation using the knee chest position. Labor with premature rupture of membranes was managed through referral and induction, resulting in a normal delivery. The postpartum and neonatal periods were physiological without complications, and the mother chose implant contraception. It can be concluded that CoC care is effective in preventing complications and improving maternal and neonatal health.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Asuhan kebidanan Continuity of Care (CoC) merupakan pelayanan berkesinambungan untuk meningkatkan kesehatan ibu dan bayi. Studi kasus ini bertujuan memberikan asuhan komprehensif pada Ny. H usia 25 tahun G2P1A0 di Puskesmas Tanah Kuning mulai dari kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir hingga KB. Metode yang digunakan adalah studi kasus dengan pendekatan kualitatif melalui wawancara, observasi, dan pemeriksaan fisik. Hasil menunjukkan letak sungsang pada kehamilan berhasil berubah menjadi presentasi kepala dengan knee chest position. Persalinan dengan ketuban pecah dini ditangani melalui rujukan dan induksi sehingga berlangsung normal. Masa nifas dan neonatus berjalan fisiologis tanpa komplikasi, serta ibu memilih KB implan. Disimpulkan bahwa asuhan CoC efektif dalam mencegah komplikasi dan meningkatkan kesehatan ibu dan bayi.</p>Rudh Dama Yanthi, Luvi Dian Afriyani
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2030Wed, 24 Jun 2026 00:00:00 +0000Asuhan Kebidanan Continuity of Care (COC) pada Ny. “N” Usia 35 Tahun G3P2A0 di Puskesmas Sragi II
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2032
<p><em>Comprehensive midwifery care is a comprehensive midwifery management care starting from pregnant women, childbirth, to newborns so that labor can take place safely and the baby born is safe and healthy until the postpartum period. Pregnancy, childbirth, postpartum and newborns are physiological conditions but in the process there is a possibility of a condition that can threaten the life of the mother and baby and can even cause death. Continuity of Care (COC) Midwifery Care is continuous midwifery care provided to mothers and babies starting during pregnancy, childbirth, newborns, postpartum and family planning, with the existence of COC care, the development of the mother's condition at all times will be monitored well, in addition, continuous care carried out by midwives can make mothers more trusting and open because they already know the care provider, COC midwifery care is one of the efforts to reduce the Maternal Mortality Rate (MMR) and Infant Mortality Rate The purpose of this study is to provide Continuity of Care (CoC) Midwifery Care to Mrs. N aged 35 years at Sragi II Health Center. The type of descriptive research used is a case study, the research instrument uses a descriptive approach method and is documented in the form of SOAP. In this care, the author collected data through interviews, observations, physical examinations, supporting examinations, documentation studies and bibliography studies. This research was conducted in April - May 2026. From the results of the provision of pregnancy care, a problem was found, namely mothers often experience pain in the lower back, the care provided was to provide massage to pregnant women from the back and extremities to reduce complaints of back pain during TM III, informing mothers of TM III discomfort such as back pain. During the mother's delivery process at the Sragi II Health Center, Pekalongan Regency, delivery assistance was carried out through normal vaginal delivery, the baby was born spontaneously. On the third day postpartum, Mrs. N complained that her breast milk was not yet smooth, the mother was able to carry out her role as a mother well. The mother was given oxytocin massage care to facilitate breast milk, given counseling about various contraceptive methods including advantages, disadvantages, side effects and effectiveness. In newborn care, all findings were within normal limits. Mrs. N was given HB0 immunization, vitamin K, eye ointment, and SHK. Meanwhile, in family planning care, Mrs. N used an implant. It is hoped that health workers can provide comprehensive midwifery care with correct procedures and according to client needs, as well as implement complementary care as a non-pharmacological therapy in midwifery care.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Asuhan kebidanan komprehensif merupakan asuhan menyeluruh manajemen kebidanan mulai dari ibu hamil, bersalin, sampai bayi baru lahir sehingga persalinan dapat berlangsung aman dan bayi yang dilahirkan selamat dan sehat sampai masa nifas. Kehamilan, persalinan, nifas dan bayi baru lahir merupakan suatu keadaan yang fisiologis namun dalam prosesnya terdapat kemungkinan suatu keadaan yang dapat mengancam jiwa ibu dan bayi bahkan dapat menyebabkan kematian. Asuhan Kebidanan Continuity of Care (COC) merupakan asuhan kebidanan berkesinambungan yang diberikan kepada ibu dan bayi dimulai pada saat kehamilan, persalinan, bayi baru lahir, nifas dan keluarga berencana, dengan adanya asuhan COC maka perkembangan kondisi ibu setiap saat akan terpantau dengan baik, selain itu asuhan berkelanjutan yang dilakukan bidan dapat membuat ibu lebih percaya dan terbuka karena sudah mengenal pemberi asuhan, asuhan kebidanan secara COC adalah salah satu upaya untuk menurunkan Angka kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi Tujuan penelitian ini mampu memberikan Asuhan Kebidanan Continuity Of Care (CoC) Pada Ny. N umur 35 Tahun di Puskesmas Sragi II. Jenis penelitian deskriptif yang digunakan adalah studi kasus (case study), Instrumen penelitian menggunakan metode pendekatan yang bersifat deskriptif dan didokumentasikan dalam bentuk SOAP. Dalam asuhan ini, penulis mengumpulkan data melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, studi dokumentasi dan studi daftar pustaka. Penelitian ini dilakukan pada bulan April - Mei 2026. Dari hasil pemberian asuhan kehamilan ditemukan masalah yaitu ibu sering mengalami nyeri pada punggung bagian bawah, asuhan yang diberikan adalah memberikan massage ibu hamil dari bagian punggung dan ekstremitas untuk mengurangi keluhan nyeri punggung selama TM III, memberitau ibu ketidaknyamanan TM III seperti sakit punggung. Pada proses persalinan ibu di Puskesmas Sragi II Kabupaten Pekalongan, dilakukan pertolongan persalinan secara persalinan normal pervaginam bayi lahir spontan. Pada hari ketiga post partum, Ny. N mengeluh ibu ASI nya belum lancar, ibu sudah dapat menjalankan dengan baik perannya sebagai ibu. Ibu diberikan asuhan massage oksitosin untuk memperlancar ASI, diberikan konseling tentang macam-macam metode alat kontrasepsi meliputi kelebihan, kekurangan, efek samping dan efektivitasnya. Pada asuhan bayi baru lahir didapatkan semua dalam batas normal, By Ny N diberikan imunisasi HB0, vitamin K, salep mata dan SHK. Sedangkan pada asuhan KB Ny. N menggunakan KB implan. Diharapkan tenaga kesehatan dapat melakukan asuhan kebidanan secara komprehensif dengan prosedur yang benar dan sesuai dengan kebutuhan klien, serta menerapkan asuhan komplementer sebagai terapi nonfarmakologi dalam asuhan kebidanan.</p>Dian Wijayati, Heni Hirawati Pranoto
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2032Wed, 24 Jun 2026 00:00:00 +0000Asuhan Kebidanan Continuity of Care (Coc) pada Ny. I Umur 28 Tahun G1P0A0 Pre Eklamsia dengan Penerapan Rendam Kaki Air Hangat di Puskesmas Kedungwuni II
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2033
<p><em>Maternal Mortality Rate (MMR) and Infant Mortality Rate (IMR) remain important indicators of public health status. In Indonesia, the MMR is 305 per 100,000 live births and the IMR is 22.23 per 1,000 live births. One of the main causes of maternal mortality is preeclampsia, a hypertensive disorder in pregnancy that can lead to serious complications. Efforts to reduce MMR and IMR are carried out through Continuity of Care (CoC) in midwifery services. This study used a descriptive method with a case study approach on Mrs. I, a 28-year-old G1P0A0 patient with preeclampsia at Kedungwuni II Public Health Center, Pekalongan Regency. Comprehensive midwifery care was provided, including pregnancy, delivery by cesarean section, postpartum care, newborn care, and family planning, along with warm water foot soak therapy. The results showed that CoC effectively managed preeclampsia without further complications. Both mother and baby were in good condition, and the mother understood self-care and contraceptive use. In conclusion, Continuity of Care is effective in improving maternal and neonatal health and optimizing complication management.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) masih menjadi indikator penting dalam menilai derajat kesehatan masyarakat. Di Indonesia, AKI mencapai 305 per 100.000 kelahiran hidup dan AKB sebesar 22,23 per 1.000 kelahiran hidup. Salah satu penyebab utama kematian ibu adalah preeklamsia, yaitu kondisi hipertensi dalam kehamilan yang berisiko menimbulkan komplikasi serius. Upaya penurunan AKI dan AKB dilakukan melalui pelayanan kebidanan berkesinambungan atau Continuity of Care (CoC). Metode penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif dengan studi kasus pada Ny. I usia 28 tahun G1P0A0 dengan preeklamsia di Puskesmas Kedungwuni II Kabupaten Pekalongan. Asuhan kebidanan diberikan secara komprehensif meliputi masa kehamilan, persalinan dengan sectio caesarea, nifas, bayi baru lahir, hingga keluarga berencana, serta penerapan terapi rendam kaki air hangat. Hasil menunjukkan bahwa asuhan CoC mampu menangani preeklamsia dengan baik tanpa komplikasi lanjutan. Ibu dan bayi dalam kondisi baik serta ibu memahami perawatan dan penggunaan kontrasepsi. Kesimpulannya, asuhan kebidanan CoC efektif dalam meningkatkan kesehatan ibu dan bayi serta mendukung penanganan komplikasi secara optimal.</p>Diana Novita Sari, Isri Nasifah.
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2033Wed, 24 Jun 2026 00:00:00 +0000Asuhan Kebidanan Continuity of Care ( CoC ) pada Ny R G1P0A0 Usia 21 di Wilayah Kerja Puskesmas Kesesi I
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2039
<p><em>Maternal Mortality Rate (MMR) remains one of the main indicators of a country’s healthcare quality. Approximately 830 women die every day worldwide from preventable complications related to pregnancy and childbirth. The leading causes of maternal mortality include postpartum hemorrhage, infection, hypertensive disorders during pregnancy (preeclampsia and eclampsia), labor complications, and unsafe abortion (WHO, 2019). One effective strategy to reduce both Maternal Mortality Rate (MMR) and Infant Mortality Rate (IMR) is the implementation of Continuity of Care (CoC) midwifery services. Continuity of Care enables midwives to provide comprehensive and continuous care from pregnancy, childbirth, postpartum, and newborn care to family planning services. Through continuous monitoring, early detection of danger signs and timely referral can be achieved more effectively (WHO, 2016). This study employed a descriptive case study approach involving Mrs. R, a 22-year-old G1P0A0 woman, in the working area of Kesesi I Public Health Center. Comprehensive midwifery care was provided from the third trimester of pregnancy until family planning services. The interventions included comprehensive assessment, antenatal care examinations according to the 10T standard, labor monitoring, physiological postpartum care, monitoring of infant growth and development, family planning counseling, as well as complementary care such as oxytocin massage and prenatal yoga education based on the mother’s needs. The results showed that the pregnancy, childbirth, postpartum period, newborn care, and family planning services progressed physiologically without complications. The mother demonstrated good understanding regarding pregnancy danger signs, childbirth preparation, postpartum self-care, exclusive breastfeeding, and newborn care. Breast milk production increased following oxytocin massage, the newborn adapted well during the neonatal period, and the mother selected an appropriate contraceptive method according to her postpartum condition. Comprehensive Continuity of Care midwifery services were proven effective in supporting maternal and neonatal health, improving maternal knowledge, and facilitating early risk detection to support the reduction of MMR and IMR.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator keberhasilan layanan suatu negara. Setiap hari, sekitar 830 wanita meninggal karena sebab yang dapat dicegah terkait dengan kehamilan dan persalinan, hal itu dikarenakan komplikasi kehamilan atau persalinan di seluruh dunia setiap hari. Komplikasi yang menyebabkan kematian ibu yaitu perdarahan hebat setelah melahirkan, infeksi, tekanan darah tinggi selama kehamilan (pre-eklampsia dan eklampsia), komplikasi dari persalinan, dan aborsi yang tidak aman (WHO, 2019). Salah satu strategi efektif untuk menurunkan AKI dan AKB adalah dengan asuhan kebidanan secara berkelanjutan atau Continuity of Care (CoC). Asuhan CoC memungkinkan bidan untuk memantau ibu secara komprehensif mulai dari masa kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir, hingga pelayanan keluarga berencana (KB). Dengan asuhan yang berkelanjutan, deteksi dini terhadap tanda bahaya dapat dilakukan lebih cepat sehingga rujukan tepat waktu dapat dilaksanakan (WHO,2016). Penelitian ini menggunakan metode kasus deskriptif pada Ny. R, usia 22 tahun G1P0A0, yang mendapatkan asuhan kebidanan komprehensif di wilayah kerja Puskesmas Kesesi I. Asuhan diberikan mulai dari kehamilan trimester III, persalinan, perawatan bayi Baru Lahir, masa nifas hingga pelayanan keluarga berencana. Tindakan meliputi pengkajian lengkap, pemeriksaan ANC sesuai standar 10T, pemantauan persalinan, perawatan nifas fisiologis, pemantauan tumbuh kembang bayi, serta konseling KB. Asuhan komplementer seperti pijat oksitosin dan edukasi prenatal yoga juga disertakan sesuai kebutuhan ibu. Seluruh proses kehamilan, persalinan, masa nifas, perawatan bayi baru lahir, dan pelayanan KB berlangsung fisiologis tanpa komplikasi. Ibu menunjukkan pemahaman yang baik mengenai tanda bahaya kehamilan, persiapan persalinan, perawatan diri masa nifas, pemberian ASI eksklusif, serta perawatan bayi. Produksi ASI meningkat setelah pemberian pijat oksitosin, bayi memiliki adaptasi yang baik, dan ibu memilih metode kontrasepsi sesuai kondisi pascasalin. Asuhan kebidanan Continuity of Care secara komprehensif terbukti efektif dalam mendeteksi dini risiko, meningkatkan pengetahuan ibu, serta mendukung kesehatan maternal dan neonatal. Penerapan asuhan komplementer seperti pijat oksitosin turut membantu optimalisasi pemberian ASI dan meningkatkan kenyamanan ibu. Layanan CoC perlu terus diterapkan sebagai upaya strategis dalam mendukung pencapaian target penurunan AKI dan AKB.</p>Umi Bekti Iriana, Rini Susanti
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2039Wed, 24 Jun 2026 00:00:00 +0000Asuhan Kebidanan Continuity of Care pada Ny “S” 23 Tahun G1P0A0 dengan Nyeri Punggung
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2017
<p><em>Pregnancy is a physiological process that causes anatomical, physiological, and psychological changes in the mother’s body, especially during the third trimester, which often leads to discomfort such as back pain. Back pain occurs due to changes in body posture, ligament stretching, weight gain, and shifts in the body’s center of gravity that increase pressure on the lumbar area. This condition may interfere with daily activities, sleep quality, and the psychological well-being of pregnant women. This case study aimed to provide Continuity of Care (CoC) midwifery care for Mrs. S, a 23-year-old pregnant woman experiencing back pain at Batu Kajang Public Health Center, Paser Regency. The method used was a descriptive case study approach applying Varney’s midwifery management and SOAP documentation. Comprehensive care was provided from pregnancy, childbirth, postpartum, newborn, neonate, to family planning services from February to May 2026. The results showed that third-trimester back pain decreased after health education, prenatal yoga, and continuous support were provided. Labor progressed normally with mother-friendly care and counterpressure techniques to reduce labor pain. Postpartum, neonatal, and family planning care proceeded physiologically without complications. The baby was born healthy and received vitamin K injection, HB0 immunization, and congenital hypothyroid screening. In conclusion, the implementation of Continuity of Care effectively improved the quality of comprehensive midwifery care and helped overcome discomfort during pregnancy. It is recommended that healthcare providers enhance continuous midwifery services through education, early detection, and non-pharmacological interventions to improve maternal and neonatal well-being.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Kehamilan merupakan proses fisiologis yang menyebabkan perubahan anatomis, fisiologis, dan psikologis pada tubuh ibu, terutama pada trimester III yang sering menimbulkan ketidaknyamanan berupa nyeri punggung. Nyeri punggung terjadi akibat perubahan postur tubuh, peregangan ligamen, peningkatan berat badan, dan perubahan pusat gravitasi tubuh sehingga meningkatkan tekanan pada daerah lumbal. Kondisi ini dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, kualitas tidur, serta psikologis ibu hamil. Tujuan studi kasus ini adalah memberikan asuhan kebidanan secara Continuity of Care (CoC) pada Ny. S usia 23 tahun dengan keluhan nyeri punggung di Puskesmas Batu Kajang Kabupaten Paser. Metode yang digunakan yaitu penelitian deskriptif dengan pendekatan studi kasus menggunakan manajemen kebidanan Varney dan dokumentasi SOAP. Asuhan dilakukan secara komprehensif mulai dari masa kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir, neonatus, hingga keluarga berencana pada Februari–Mei 2026. Hasil asuhan menunjukkan bahwa keluhan nyeri punggung pada trimester III dapat berkurang setelah diberikan edukasi, prenatal yoga, dan dukungan berkelanjutan. Persalinan berlangsung normal dengan penerapan asuhan sayang ibu dan teknik counterpressure untuk mengurangi nyeri persalinan. Masa nifas, neonatus, dan KB berlangsung fisiologis tanpa komplikasi. Bayi lahir normal dan mendapatkan vitamin K, imunisasi HB0, serta skrining hipotiroid kongenital. Kesimpulan menunjukkan bahwa penerapan Continuity of Care efektif meningkatkan kualitas asuhan kebidanan secara komprehensif dan membantu mengatasi ketidaknyamanan selama kehamilan. Saran bagi tenaga kesehatan diharapkan dapat meningkatkan pelayanan kebidanan berkelanjutan melalui edukasi, deteksi dini, serta intervensi nonfarmakologis untuk meningkatkan kesejahteraan ibu dan bayi.</p>Mariyana, Eti Salafas
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2017Wed, 24 Jun 2026 00:00:00 +0000Asuhan Kebidanan Continuity Of Care pada Ny “K” 42 Tahun dengan Kehamilan Resiko Tinggi
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2042
<p><em>Maternal and infant mortality rates are one of the indicators to measure the health status of a country. Early detection efforts to overcome morbidity and mortality for mothers, infants and toddlers can be done by implementing Continuity Of Care (COC) starting from pregnancy, childbirth, postpartum, newborns, to family planning. The purpose of this study is to provide comprehensive and continuous midwifery care to Mrs. K starting from pregnancy, childbirth, postpartum, neonates and family planning. The type of descriptive research used is a case study. The research instrument uses a descriptive approach method and is documented in the form of SOAP. In this care, the author collected data through interviews, observations, physical examinations, supporting examinations, documentation studies and bibliography studies. This study was conducted from February to May 2026. From the results of the provision of pregnancy care, a problem with the position of the fetus transverse, the care provided taught the mother the knee chest position. The delivery process was by CS based on indications of a history of CS. Postpartum care Mrs. K complained of low breast milk production and was given oxytocin massage care. During newborn care, everything was within normal limits. The baby was given 1 mg of vitamin K, hepatitis B immunization, and a SHK examination. Meanwhile, during family planning care, Mrs. K used a permanent family planning method, namely MOW/sterile.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Angka kematian ibu dan bayi merupakan salah satu indikator untuk mengukur derajat kesehatan bagi suatu negara. Kegiatan upaya deteksi dini untuk mengatasi kesakitan maupun kematian baik ibu, bayi dan balita tersebut dapat dilakukan dengan salah satunya yaitu implementasi asuhan berkelanjutan atau Continuity Of Care (COC) yang dimulai dari masa kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir, sampai dengan KB. Tujuan penelitian ini mampu memberikan asuhan kebidanan pada Ny. K secara komprehensif dan berkesinambungan mulai dari kehamilan, bersalin, nifas, neonatus dan KB. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan studi kasus (case study), Instrumen penelitian menggunakan metode pendekatan yang bersifat deskriptif dan didokumentasikan dalam bentuk SOAP. Dalam asuhan ini, penulis mengumpulkan data melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, studi dokumentasi dan studi daftar pustaka. Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari sampai Mei 2026. Dari hasil pemberian asuhan kehamilan ditemukan masalah posisi janin lintang, asuhan yang diberikan mengajarkan ibu posisi knee chest. Proses persalinan secara SC atas indikasi riwayat Sectio Caesarea (SC). Asuhan nifas Ny. K mengeluh produksi asi sedikit dan diberikan asuhan pijat oksitosin. Pada asuhan bayi baru lahir didapatkan semua dalam batas normal, bayi diberikan asuhan vitamik K 1 mg, imunisasi hepatitis B0 dan pemeriksaan SHK. Sedangkan pada asuhan KB Ny. K menggunakan metode KB mantap yaitu MOW/steril.</p>Kurniawati, Eti Salafas
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2042Wed, 24 Jun 2026 00:00:00 +0000Tatalaksana Ketuban Pecah Dini dengan Riwayat Sectio Caesarea dan Abortus
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2040
<p><em>Premature Rupture of Membranes (PROM) is one of the obstetric emergencies that may increase maternal and neonatal morbidity and mortality, particularly in mothers with risk factors such as a history of Cesarean section and abortion. This case study aimed to describe the management of PROM in a 29-year-old G3P1A1 woman with a history of Cesarean section nine years earlier and complete abortion one year earlier at Puskesmas Pembantu Tanjung Agung. This study employed a descriptive design with a case study approach through the implementation of Continuity of Care (CoC) midwifery care covering pregnancy, labor, postpartum, and newborn care. Data were collected through interviews, physical examinations, observations, and continuous documentation of care. The results showed that at 39 weeks and 3 days of gestation, PROM occurred without adequate uterine contractions, requiring referral and Cesarean section based on medical indications and maternal risk factors. Prompt and comprehensive management, including maternal and fetal monitoring, medical collaboration, and psychological support, resulted in favorable maternal and neonatal outcomes. The baby was delivered by Cesarean section in good condition with APGAR scores of 9/9/10, birth weight of 3030 grams, and without signs of asphyxia or congenital abnormalities. In conclusion, the implementation of appropriate Continuity of Care midwifery management in PROM cases with a history of Cesarean section and abortion can prevent serious complications and improve maternal and neonatal outcomes. Early risk detection, prompt emergency management, and strengthening continuity of midwifery care services are essential to optimize maternal and child health outcomes.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Ketuban Pecah Dini (KPD) merupakan salah satu kegawatdaruratan obstetri yang dapat meningkatkan risiko morbiditas dan mortalitas ibu maupun bayi, terutama pada ibu dengan faktor risiko seperti riwayat Sectio Caesarea (SC) dan abortus. Studi kasus ini bertujuan untuk mendeskripsikan tatalaksana KPD pada ibu G3P1A1 usia 29 tahun dengan riwayat SC sembilan tahun yang lalu dan abortus komplet satu tahun yang lalu di Puskesmas Pembantu Tanjung Agung. Metode penelitian menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan studi kasus melalui penerapan asuhan kebidanan Continuity of Care pada kasus Ketuban Pecah Dini (KPD) dengan riwayat section caesarea dan abortus komplet. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, pemeriksaan fisik, observasi, serta dokumentasi asuhan secara berkesinambungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada usia kehamilan 39 minggu 3 hari terjadi KPD tanpa his adekuat sehingga dilakukan rujukan dan tindakan Sectio Caesarea berdasarkan indikasi medis dan faktor risiko ibu. Penatalaksanaan yang cepat dan komprehensif, meliputi pemantauan kondisi ibu dan janin, kolaborasi medis, serta dukungan psikologis, memberikan luaran yang baik bagi ibu dan bayi. Bayi lahir melalui tindakan SC dalam keadaan sehat dengan nilai APGAR 9/9/10, berat lahir 3030 gram, tanpa tanda asfiksia maupun kelainan kongenital. Simpulan penelitian menunjukkan bahwa penerapan asuhan kebidanan Continuity of Care pada kasus Ketuban Pecah Dini dengan riwayat Sectio Caesarea dan Abortus Complete dapat di lakukan secara komprehensif mulai dari masa kehamilan,persalinan , nifas , bayi baru lahir hingga KB sehingga mampu mendukung deteksi dini komplikasi dan mencegah komplikasi serius serta meningkatkan keselamatan ibu dan bayi. Oleh karena itu, diperlukan deteksi dini faktor risiko, penanganan kegawatdaruratan yang cepat, dan penguatan layanan kebidanan berkelanjutan untuk mengoptimalkan kesehatan ibu dan anak.</p>Yolanda Sutanto, Ida Sofiyanti
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2040Wed, 24 Jun 2026 00:00:00 +0000Asuhan Kebidanan Continuity of Care pada Ny “I” Usia 22 Tahun dengan Bendungan ASI di Puskesmas Longkali
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2043
<p><em>The global Sustainable Development Goals (SDGs) target for 2030 aims to reduce the Maternal Mortality Rate (MMR) to 70 per 100,000 live births and the Infant Mortality Rate (IMR) to 12 per 1,000 live births. However, the IMR in Paser Regency remains around 16 per 1,000 live births, indicating the need to improve the quality of maternal and neonatal healthcare services through the implementation of Continuity of Care (CoC). This study aimed to provide comprehensive and continuous midwifery care for Mrs. I from pregnancy, childbirth, postpartum, neonatal care, to family planning services. This research used a descriptive case study approach with SOAP documentation methods. Data were collected through interviews, observations, physical examinations, supporting examinations, documentation studies, and literature reviews conducted from February to May 2026. The results showed that during pregnancy, the mother experienced increased urinary frequency, especially at night, and was provided with health education and Kegel exercises. The labor process occurred normally with the implementation of Normal Delivery Care (APN) and complementary counterpressure therapy. During the postpartum period, the mother experienced breast engorgement characterized by inadequate breast milk production, hot, swollen, full breasts, and tenderness, which was managed through breast care interventions. Neonatal care findings were within normal limits, and the baby received vitamin K 1 mg, Hepatitis B0 immunization, and newborn screening examinations. In family planning services, the mother chose the 3-month injectable contraceptive method. Healthcare providers are expected to optimize comprehensive screening and integrate complementary care to improve maternal and neonatal health outcomes.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Target global Sustainable Development Goals (SDGs) tahun 2030 menetapkan penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) menjadi 70 per 100.000 kelahiran hidup dan Angka Kematian Bayi (AKB) menjadi 12 per 1.000 kelahiran hidup. Namun, AKB di Kabupaten Paser masih sekitar 16 per 1.000 kelahiran hidup sehingga diperlukan upaya untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan bayi melalui Continuity of Care (CoC). Penelitian ini bertujuan memberikan asuhan kebidanan komprehensif dan berkesinambungan pada Ny. I mulai masa kehamilan, persalinan, nifas, neonatus, hingga keluarga berencana. Penelitian menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan studi kasus dan pendokumentasian SOAP. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, studi dokumentasi, dan studi pustaka pada Februari–Mei 2026. Hasil asuhan menunjukkan pada masa kehamilan ibu mengalami peningkatan frekuensi berkemih terutama malam hari dan diberikan edukasi serta senam kegel. Persalinan berlangsung normal dengan penerapan Asuhan Persalinan Normal (APN) dan terapi komplementer counterpressure. Pada masa nifas ibu mengalami bendungan ASI ditandai ASI belum lancar, payudara panas, bengkak, penuh, dan nyeri tekan sehingga diberikan perawatan payudara. Asuhan bayi baru lahir menunjukkan kondisi normal dengan pemberian vitamin K 1 mg, imunisasi Hepatitis B0, dan pemeriksaan SHK. Pada pelayanan KB, ibu memilih kontrasepsi suntik 3 bulan. Diharapkan tenaga kesehatan dapat mengoptimalkan skrining komprehensif dan integrasi asuhan komplementer untuk meningkatkan kesehatan ibu dan bayi.</p>Selvi Meliyanti, Eti Salafas
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2043Wed, 24 Jun 2026 00:00:00 +0000Asuhan Kebidanan Continuity of Care pada Ny. A Usia 30 Tahun G2P1A0 Nyeri Punggung Ringan dengan Penerapan Prenatal Yoga di Puskesmas Bojong II Kabupaten Pekalongan
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2046
<p><em>Comprehensive midwifery care is a comprehensive midwifery management care starting from pregnant women, childbirth, to newborns so that childbirth can take place safely and the baby born is safe and healthy until the postpartum period. Pregnancy, childbirth, postpartum and newborns are physiological conditions but in the process there is a possibility of a condition that can threaten the life of the mother and baby and can even cause death. Continuity of Care (COC) Midwifery Care is continuous midwifery care provided to mothers and babies starting during pregnancy, childbirth, newborns, postpartum and family planning, with the existence of COC care, the development of the mother's condition at all times will be monitored well, in addition, continuous care carried out by midwives can make mothers more trusting and open because they already know the care provider, COC midwifery care is one of the efforts to reduce the Maternal Mortality Rate (MMR) and Infant Mortality Rate The purpose of this study is to provide Continuity of Care (CoC) Midwifery Care to Mrs. A, 30 years old, at Doro I Health Center. The type of descriptive research used is a case study. The research instrument uses a descriptive approach method and is documented in the form of SOAP. In this care, the author collected data through interviews, observations, physical examinations, supporting examinations, documentation studies and bibliography studies. This research was conducted in December 2025 - February 2026. From the results of the provision of pregnancy care, a problem was found, namely the mother often experienced pain in the lower back, the care provided was to provide massage to pregnant women from the back and extremities to reduce complaints of back pain during TM III, informing mothers of TM III discomfort such as back pain. During the mother's delivery process at Bojong II Health Center, Pekalongan Regency, delivery assistance was carried out through normal vaginal delivery, the baby was born spontaneously. On the third day postpartum, Mrs. A complained that her breast milk was not yet smooth, the mother was able to carry out her role as a mother well. The mother was given oxytocin massage care to facilitate breast milk, given counseling about various contraceptive methods including advantages, disadvantages, side effects and effectiveness. In newborn care, all findings were within normal limits. Mrs. A was given HB0 immunization, vitamin K, eye ointment, and SHK. Meanwhile, in family planning care, Mrs. A used a 3-month injection. It is hoped that health workers can provide comprehensive midwifery care with correct procedures and according to the client's needs, as well as implement complementary care as a non-pharmacological therapy in midwifery care.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Asuhan kebidanan komprehensif merupakan asuhan menyeluruh manajemen kebidanan mulai dari ibu hamil, bersalin, sampai bayi baru lahir sehingga persalinan dapat berlangsung aman dan bayi yang dilahirkan selamat dan sehat sampai masa nifas. Kehamilan, persalinan, nifas dan bayi baru lahir merupakan suatu keadaan yang fisiologis namun dalam prosesnya terdapat kemungkinan suatu keadaan yang dapat mengancam jiwa ibu dan bayi bahkan dapat menyebabkan kematian. Asuhan Kebidanan Continuity of Care (COC) merupakan asuhan kebidanan berkesinambungan yang diberikan kepada ibu dan bayi dimulai pada saat kehamilan, persalinan, bayi baru lahir, nifas dan keluarga berencana, dengan adanya asuhan COC maka perkembangan kondisi ibu setiap saat akan terpantau dengan baik, selain itu asuhan berkelanjutan yang dilakukan bidan dapat membuat ibu lebih percaya dan terbuka karena sudah mengenal pemberi asuhan, asuhan kebidanan secara COC adalah salah satu upaya untuk menurunkan Angka kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi Tujuan penelitian ini mampu memberikan Asuhan Kebidanan Continuity Of Care (CoC) Pada Ny. A umur 30 Tahun di Puskesmas Bojong II. Jenis penelitian deskriptif yang digunakan adalah studi kasus (case study), Instrumen penelitian menggunakan metode pendekatan yang bersifat deskriptif dan didokumentasikan dalam bentuk SOAP. Dalam asuhan ini, penulis mengumpulkan data melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, studi dokumentasi dan studi daftar pustaka. Penelitian ini dilakukan pada bulan 10 November 2025 – 8 Februari 2026. Dari hasil pemberian asuhan kehamilan ditemukan masalah yaitu ibu sering mengalami nyeri pada punggung bagian bawah, Asuhan yang diberikan yaitu mengajarkan ibu cara gerakan-gerakan prenatal yoga yang bisa mengurangi nyeri punggung, memberitau ibu ketidaknyamanan TM III seperti sakit punggung. Pada proses persalinan ibu di Puskesmas Bojong II Kabupaten Pekalongan, dilakukan pertolongan persalinan secara persalinan normal pervaginam bayi lahir spontan. Pada hari ketiga post partum, Ny. A mengeluh ibu ASI nya belum lancar, ibu sudah dapat menjalankan dengan baik perannya sebagai ibu. Ibu diberikan asuhan massage oksitosin untuk memperlancar ASI, diberikan konseling tentang macam-macam metode alat kontrasepsi meliputi kelebihan, kekurangan, efek samping dan efektivitasnya. Pada asuhan bayi baru lahir didapatkan semua dalam batas normal, By Ny A diberikan imunisasi HB0, vitamin K, salep mata dan SHK. Sedangkan pada asuhan KB Ny. A menggunakan KB suntik 3 bulan. Diharapkan tenaga kesehatan dapat melakukan asuhan kebidanan secara komprehensif dengan prosedur yang benar dan sesuai dengan kebutuhan klien, serta menerapkan asuhan komplementer sebagai terapi nonfarmakologi dalam asuhan kebidanan.</p>Eni Trisniningtyas, Isri Nasifah
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2046Wed, 24 Jun 2026 00:00:00 +0000Asuhan Kebidanan Berkelanjutan pada Primigravida Ny. R Umur 29 Tahun dengan Kehamilan Fisiologis di UPTD RSD dr. H. Soemarno Sosroatmodjo
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2050
<p><em>Maternal and infant mortality rates are among the key indicators used to measure the level of public health in a country. Early detection efforts to prevent morbidity and mortality among mothers, infants, and toddlers can be implemented through Continuity of Care (COC), which begins during pregnancy and continues through childbirth, postpartum care, newborn care, and family planning services. The purpose of this study was to provide comprehensive midwifery care for Mrs. R, covering pregnancy, childbirth, postpartum care, neonatal care, and family planning.This study employed a descriptive research design using a case study approach. The research instrument utilized a descriptive method documented in SOAP format. Data were collected through interviews, observations, physical examinations, supporting examinations, documentation studies, and literature reviews. The study was conducted from August 2025 to April 2026.The results of four antenatal care visits revealed several pregnancy discomforts experienced by the mother, including nausea during the first trimester, which was managed with acupressure therapy, and lower back pain, which was treated using effleurage massage. During labor at 40 weeks of gestation, no complications were identified. The mother received care in accordance with the 60-step Normal Delivery Care (APN) standards. The newborn had a birth weight of 2,550 grams, a body length of 48 cm, and a mid-upper arm circumference of 11 cm.No complications were found during postpartum care. The newborn assessment indicated that all findings were within normal limits. The baby received a Vitamin K injection, eye ointment prophylaxis, and congenital hypothyroidism screening (CHS). In terms of family planning care, Mrs. R decided to use an intrauterine device (IUD) as her contraceptive method. After providing comprehensive midwifery care throughout pregnancy, childbirth, postpartum, neonatal, and family planning periods, the outcomes demonstrated normal pregnancy, normal delivery, normal neonatal condition, and successful family planning implementation. No discrepancies were found between theory and practice in the comprehensive midwifery care provided to Mrs. R and her baby. Midwives and clients are expected to apply the care that has been provided during antenatal, postpartum, newborn, and neonatal visits in order to improve maternal and infant health outcomes and enhance health knowledge for both mother and baby.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Angka kematian ibu dan bayi merupakan salah satu indikator untuk mengukur derajat kesehatan bagi suatu negara. Kegiatan upaya deteksi dini untuk mengatasi kesakitan maupun kematian baik ibu, bayi dan balita tersebut dapat dilakukan dengan salah satunya yaitu implementasi asuhan berkelanjutan atau Continuity Of Care (COC) yang dimulai dari masa kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir, sampai dengan KB. Tujuan penelitian ini mampu memberikan asuhan kebidanan pada Ny. R secara komprehensif mulai dari kehamilan, bersalin, nifas, neonatus dan KB. Jenis penelitian deskriptif yang digunakan adalah studi kasus (case study), Instrumen penelitian menggunakan metode pendekatan yang bersifat deskriptif dan didokumentasikan dalam bentuk SOAP. Dalam asuhan ini, penulis mengumpulkan data melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, studi dokumentasi dan studi daftar pustaka. Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus 2025 sampai dengan April 2026. Dari hasil pemberian asuhan kehamilan sebanyak 4 kali kunjungan ditemukan masalah yaitu ibu mengalami ketidaknyamanan kehamilan antara lain Trimester I mual-mual diberi asuhan Acupressure dan nyeri pinggang diberikan asuhan Massage Eflurrage. Selama persalinan yang terjadi di usia kehamilan 40 minggu tidak ada masalah, ibu diberikan asuhan sesuai dengan APN 60 langkah dengan BB bayi 2550 gram PB 48 cm dan Lila 11 cm. Pada asuhan nifas tidak ditemukan masalah. Pada asuhan bayi baru lahir didapatkan semua dalam batas normal, diberikan suntikan VIT K, Zalf mata dandilakukan pemeriksaan SHK. Sedangkan pada asuhan KB Ny. R memutuskan untuk menggunakan metode kontrasepsi IUD. Setelah melakukan dan memberikan asuhan kebidanan secara Komprehensif mulai dari ibu hamil, bersalin, nifas, bayi dan hasilnya hamil dengan normal, bersalin dengan normal, bayi dengan normal, dan sampai dengan KB. Tidak terdapat kesenjangan antara teori dan kasus pada Asuhan Komprehensif kebidanan pada Ny.R dan By.Ny.R. Bagi bidan dan klien diharapkan agar bisa menerapkan asuhan yang telah diberikan selama kunjungan hamil, nifas, bayi baru lahir dan neonatus sehingga dapat memberikan manfaat kesehatan dan pengetahuan pada ibu dan bayi.</p>Mursini, Isri Nasifah
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2050Wed, 24 Jun 2026 00:00:00 +0000Studi Kasus: Asuhan Kebidanan Berkelanjutan (Continuity of Care) pada Ibu Hamil dengan Anemia di Puskesmas Tanjung Selor
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2052
<p><em>Anemia during pregnancy remains a significant health problem that increases the risk of maternal and neonatal complications. This condition may impair oxygen transport, leading to a higher risk of postpartum hemorrhage, preterm labor, and low birth weight. This case study aimed to describe the implementation of Continuity of Care (CoC) midwifery care for a pregnant woman with mild anemia. The subject of this study was Mrs. A, a 23-year-old G2P1A0 woman at 34 weeks of gestation with a hemoglobin level of 10.5 g/dL. Midwifery care was provided continuously from the third trimester of pregnancy until family planning services. The methods used included interviews, observation, physical examination, and documentation studies using the SOAP approach. During third-trimester pregnancy care (34 weeks of gestation), mild anemia with an Hb level of 10.5 g/dL was identified and managed through the administration of iron tablets, vitamin C, calcium supplements, and nutritional education. During labor care (39 weeks of gestation), the Hb level increased to 11.8 g/dL. In the active phase of the first stage of labor, complementary therapy using counter-pressure massage was applied to reduce lower back pain, and the delivery proceeded spontaneously per vaginam. During the postpartum period, the mother complained of insufficient breast milk production on the ninth day due to lack of rest, which was successfully managed through oxytocin massage techniques. Newborn care showed that the baby was in normal and healthy condition, and the umbilical cord detached normally on the seventh day. In family planning care, the mother received counseling regarding postpartum contraceptive methods. In conclusion, the implementation of comprehensive midwifery care (Continuity of Care) for Mrs. A was carried out according to standard operating procedures and midwifery authority. The entire process from pregnancy to postpartum progressed well without complications in either the mother or the baby. Evaluation showed that the mother’s condition remained stable without complications, and there was no discrepancy between theory and practice. Continuity of Care was effective in monitoring and managing mild anemia during pregnancy.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Anemia pada kehamilan masih menjadi masalah kesehatan yang berisiko meningkatkan komplikasi maternal dan neonatal. Kondisi ini dapat menyebabkan gangguan transportasi oksigen yang berdampak pada peningkatan risiko perdarahan postpartum, persalinan prematur, dan berat badan lahir rendah. Studi kasus ini bertujuan untuk memberikan gambaran asuhan kebidanan Continuity of Care (CoC) pada ibu hamil dengan anemia ringan. Subjek penelitian adalah Ny. A usia 23 tahun G2P1A0 dengan usia kehamilan 34 minggu dan kadar hemoglobin 10,5 g/dL. Asuhan kebidanan dilakukan secara berkesinambungan mulai dari masa kehamilan trimester III hingga pelayanan kontrasepsi. Metode yang digunakan meliputi wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, dan studi dokumentasi menggunakan pendekatan SOAP. Pada asuhan kehamilan trimester III (usia gestasi 34 minggu ), ditemukan masalah anemia ringan dengan kadar Hb 10,5 gr/dl yang ditatalaksana melalui pemberian tablet Fe, vitamin C, kalk, serta edukasi nutrisi. Pada asuhan persalinan (usia gestasi 39 minggu) kadar HB 11.8g/dl i,pada kala I fase aktif dilakukan terapi komplementer pijat counter pressureuntuk mengurangi nyeri pinggang dan persalinan berlangsung spontan pervaginam. Pada masa nifas, ibu sempat mengeluhkan ASI keluar sedikit pada hari ke-9 akibat kurang istirahat, yang berhasil diatasi melalui pemberian teknik pijat oksitosin. Asuhan bayi baru lahir (neonatus) menunjukkan kondisi bayi normal dan sehat, serta tali pusat lepas secara normal pada hari ke-7. Pada asuhan keluarga berencana, ibu diberikan konseling mengenai metode kontrasepsi pascapersalinan. Kesimpulan yang diperolah pada Pelaksanaan asuhan kebidanan komprehensif (Continuity of Care) pada Ny. A telah dilakukan sesuai standar operasional dan kewenangan bidan. Seluruh proses dari kehamilan hingga nifas berjalan dengan baik tanpa adanya komplikasi baik pada ibu maupun bayi. Evaluasi menunjukkan kondisi ibu stabil tanpa komplikasi serta tidak terdapat kesenjangan antara teori dan praktik. Asuhan Continuity of Care efektif dalam pemantauan dan penanganan anemia ringan pada kehamilan.</p>Fathmah Nurul Aslamiah, Ida Sofiyanti
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2052Wed, 24 Jun 2026 00:00:00 +0000Asuhan Kebidanan Continuity of Care (COC) pada Ny. R Umur 27 Tahun G1P0A0 dengan Pemberian Kubis Dingin pada Bendungan ASI di PMB Fatmah Baradja Pringapus
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2070
<p><em>Maternal and infant health remain important concerns in Indonesia, particularly regarding continuous maternal healthcare services. One of the common problems experienced by postpartum mothers is breast engorgement, which causes swollen, hard, and painful breasts and interferes with the breastfeeding process. If left untreated, this condition may develop into mastitis. One complementary non-pharmacological therapy used to manage breast engorgement is cold cabbage compresses. Cabbage leaves were chosen because they contain natural anti-inflammatory substances and provide a cooling effect that helps reduce swelling and breast pain. In addition, this therapy is easy to obtain, economical, safe, and can be applied independently by postpartum mothers. This study aimed to implement Continuity of Care (CoC) midwifery care for Mrs. R, a 27-year-old G1P0A0 woman, by applying cold cabbage compresses to treat breast engorgement at PMB Fatmah Baradja Pringapus. This study used a descriptive method with a case study approach through comprehensive midwifery care from pregnancy, childbirth, postpartum period, newborn care, neonates, to family planning services. Data were collected through interviews, observations, physical examinations, documentation, and SOAP records. The results showed that the Continuity of Care approach was implemented well according to the client’s needs. During the postpartum period, breast engorgement was successfully managed after the application of cold cabbage compresses, as indicated by reduced pain, decreased breast swelling, and smoother breast milk production. In conclusion, cold cabbage compresses are effective as a non-pharmacological therapy for managing breast engorgement in postpartum mothers..</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Kesehatan ibu dan bayi masih menjadi perhatian penting di Indonesia, terutama pada pelayanan maternal berkesinambungan. Salah satu masalah yang sering dialami ibu nifas adalah bendungan ASI yang menyebabkan payudara bengkak, keras, nyeri, dan mengganggu proses menyusui. Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat berkembang menjadi mastitis. Salah satu terapi komplementer nonfarmakologis yang digunakan untuk mengatasi bendungan ASI adalah kompres kubis dingin. Daun kubis dipilih karena memiliki kandungan antiinflamasi alami dan efek dingin yang membantu mengurangi pembengkakan serta nyeri payudara. Selain itu, terapi ini mudah diperoleh, ekonomis, aman, dan dapat diterapkan secara mandiri oleh ibu nifas. Penelitian ini bertujuan menerapkan asuhan kebidanan Continuity of Care (CoC) pada Ny. R umur 27 tahun G1P0A0 dengan pemberian kompres kubis dingin untuk mengatasi bendungan ASI di PMB Fatmah Baradja Pringapus. Penelitian menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan studi kasus melalui asuhan kebidanan komprehensif mulai masa kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir, neonatus, hingga keluarga berencana. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, dokumentasi, dan pencatatan SOAP. Hasil penelitian menunjukkan bahwa asuhan Continuity of Care berjalan baik sesuai kebutuhan klien. Pada masa nifas, bendungan ASI dapat teratasi setelah pemberian kompres kubis dingin yang ditandai dengan berkurangnya nyeri, menurunnya pembengkakan payudara, dan pengeluaran ASI lebih lancar. Simpulan penelitian ini menunjukkan bahwa kompres kubis dingin efektif sebagai terapi nonfarmakologis untuk mengatasi bendungan ASI pada ibu nifas.</p>Milya Rizki, Isri Nasifah
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2070Wed, 24 Jun 2026 00:00:00 +0000Asuhan Kebidanan Continuity of Care (COC) pada Ny. IP Umur 23 Tahun di Puskesmas Tanjung Palas
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2067
<p><em>Continuity of Care (CoC) is a woman-centered midwifery care approach that provides comprehensive and continuous services from pregnancy, childbirth, postpartum, and newborn care to family planning. This approach aims to improve maternal and neonatal health outcomes through continuous monitoring, early detection of complications, and timely interventions. This case study aimed to provide comprehensive and continuous midwifery care to Mrs. IP, a 23-year-old primigravida (G1P0A0), using the Continuity of Care approach. This study employed a descriptive case study design. Midwifery care was provided using Varney’s Midwifery Management and documented in SOAP format (Subjective, Objective, Assessment, and Planning). The study was conducted in the working area of Tanjung Palas Public Health Center from November 28, 2025, to April 13, 2026. The care included antenatal, intrapartum, postpartum, neonatal, and family planning services. The results showed that the pregnancy progressed normally without maternal or fetal complications. At 38 weeks and 2 days of gestation, delivery was performed by cesarean section due to Cephalopelvic Disproportion (CPD). A healthy female infant was born with an APGAR score of 8/10 and a birth weight of 3,200 grams. During the postpartum period, uterine involution progressed normally, the surgical wound healed well, and breast milk production was adequate. The newborn demonstrated normal adaptation and growth during the neonatal period. Family planning counseling was provided, and the mother chose a three-month injectable contraceptive method. The implementation of Continuity of Care enabled continuous monitoring of maternal and neonatal health from pregnancy through family planning, supported early identification and management of obstetric complications, and contributed to favorable maternal and neonatal outcomes. </em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Continuity of Care (CoC) merupakan pendekatan pelayanan kebidanan yang berpusat pada perempuan dan diberikan secara komprehensif serta berkesinambungan mulai dari masa kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir, hingga pelayanan keluarga berencana. Pendekatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesehatan ibu dan bayi melalui pemantauan berkelanjutan, deteksi dini komplikasi, serta penatalaksanaan yang tepat. Studi kasus ini bertujuan untuk memberikan asuhan kebidanan secara komprehensif dan berkesinambungan pada Ny. IP usia 23 tahun G1P0A0 melalui pendekatan Continuity of Care. Metode yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Asuhan kebidanan diberikan menggunakan manajemen kebidanan Varney dan didokumentasikan dalam format SOAP (Subjective, Objective, Assessment, Planning). Pelaksanaan studi kasus dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Palas pada tanggal 28 November 2025 sampai dengan 13 April 2026. Asuhan yang diberikan meliputi pelayanan antenatal, intranatal, nifas, neonatus, dan keluarga berencana. Hasil asuhan menunjukkan bahwa kehamilan berlangsung fisiologis tanpa komplikasi pada ibu maupun janin. Persalinan dilakukan pada usia kehamilan 38 minggu 2 hari melalui sectio caesarea atas indikasi Cephalopelvic Disproportion (CPD). Bayi lahir perempuan dengan APGAR Score 8/10 dan berat badan lahir 3.200gram dalam kondisi sehat tanpa komplikasi. Pada masa nifas, involusi uterus berlangsung normal, luka operasi sembuh dengan baik, dan produksi ASI lancar. Selama masa neonatal, bayi menunjukkan adaptasi yang baik terhadap kehidupan ekstrauterin serta pertumbuhan yang sesuai dengan usianya. Pada pelayanan keluarga berencana, ibu memilih menggunakan kontrasepsi suntik tiga bulan setelah mendapatkan konseling dan persetujuan suami. Penerapan Continuity of Care memungkinkan pemantauan kesehatan ibu dan bayi secara berkelanjutan sejak masa kehamilan hingga keluarga berencana, mendukung deteksi dini dan penatalaksanaan komplikasi secara tepat, serta berkontribusi terhadap tercapainya luaran maternal dan neonatal yang optimal.</p>Ida Ristiani, Ari Andayani
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2067Wed, 24 Jun 2026 00:00:00 +0000Asuhan Kebidanan Komprehensif pada Ny. S Umur 23 Tahun G1P0A0 di Kelurahan Sebengkok
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2071
<p><em>Continuity of Care (CoC) is continuous care from pregnancy to contraception as an effort to reduce maternal mortality and infant mortality rates. The purpose of this study is to provide comprehensive and continuous midwifery care to Mrs.S from pregnancy, childbirth, postpartum, neonate and contraception. The type of descriptive research used is a case study, the research instrument uses a descriptive approach method and is documented in the form of SOAP. In this care, the author collected data through interviewed, observations, physical examinations, supporting examinations, documentation studies and bibliography studies. This study was conducted in January 2026-April 2026. From the result of providing pregnancy care, there’s no problem found, Mrs. S had no complaint Hb 11.5 gr/dL. Midwifery care given to 36 weeks pregnant woman was pregnancy nutrition, preparation for childbirth, danger sign of pregnancy, and blood increasing tablet education. The delivery process went smoothly and the mother was given counterpressure care to reduce pain labor. Second postpartum care, Mrs. S said that her breast milk was still coming out a little, the treatment given was oxytocin massage. In newborn care, everything was found to be normal, the baby was given 1mg of vitamin K, Hepatitis B0 Immunization, congenital Hypothyroid screening examination and heart disease congenital examination. In contraception care, Mrs. S was using 3-month injection contraception. </em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Asuhan Kebidanan Komprehensif merupakan asuhan secara berkesinambungan dari hamil sampai dengan Keluarga Berencana (KB) sebagai upaya penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) & Angka Kematian Bayi (AKB). Tujuan penelitian ini mampu memberikan asuhan kebidanan pada Ny. S secara komprehensif dan berkesinambungan mulai dari kehamilan, bersalin, nifas, neonatus dan KB. jenis penelitian deskriptif yang digunakan adalah studi kasus, Instrumen penelitian menggunakan metode pendekatan yang bersifat deskriptif dan didokumentasikan dalam bentuk SOAP. Dalam asuhan ini, penulis mengumpulkan data melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, studi dokumentasi dan studi daftar pustaka. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari 2026 – April 2026. Dari hasil pemberian asuhan kehamilan tidak ditemukan masalah yaitu ibu mengatakan tidak ada keluhan, Hb 11,5 g/dl. Penatalaksanaan yang diberikan pada ibu hamil 36 minggu yaitu Pemberian KIE nutrisi masa kehamilan, KIE persiapan persalinan, KIE tanda bahaya kehamilan, dan KIE tablet tambah darah. Proses persalinan berjalan dengan lancar dan ibu diberikan asuhan Counterpressure untuk mengurangi nyeri persalinan. Asuhan nifas kedua, ibu mengatakan asinya masih keluar sedikit, penatalaksanaan yang diberikan yaitu pijat oksitosin. Pada asuhan bayi baru lahir didapatkan semua dalam batas normal, bayi diberikan asuhan vitamin K 1 mg, imunisasi hepatitis B0 dan pemeriksaan SHK dan PJB. Pada asuhan KB Ny. S menggunakan KB suntik 3 bulan.(Sularsih, 2025).</p>Prihatiningsih, Ari Andayani
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2071Wed, 24 Jun 2026 00:00:00 +0000Asuhan Kebidanan Continuity of Care pada Ibu dengan Kehamilan Fisiologis di Puskesmas Penajam: Studi Kasus
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2061
<p><em>Maternal and infant mortality rates are important indicators in assessing a country's health status. One effort to reduce these rates is through the implementation of Continuity of Care (COC) in midwifery services, which includes pregnancy, childbirth, postpartum, neonatal care, and family planning. This study aimed to provide comprehensive and continuous midwifery care for Mrs. E. This study used a descriptive method with a midwifery management approach documented in SOAP format. Data were collected through interviews, observations, physical and supporting examinations, as well as documentation studies. The study was conducted from November 2025 to May 2026. The results showed that at 18 weeks and 5 days of gestation, the mother experienced lower back pain in the second trimester, which was managed with complementary therapy in the form of prenatal yoga, resulting in reduced symptoms. Labor occurred normally at term gestation, with the use of the rebozo technique during the active phase of the first stage of labor, which helped accelerate fetal head descent, with the duration of the active phase lasting two hours and the second stage lasting five minutes. During the postpartum period, the mother experienced decreased breast milk production at the second visit and received oxytocin massage, which led to increased milk production. The newborn was delivered in normal condition with a birth weight of 3,440 grams and received 1 mg vitamin K, antibiotic eye ointment, and Hepatitis B0 immunization. At the third neonatal visit, the infant’s weight increased to 4,300 grams, indicating significant weight gain. From delivery until the last visit, both mother and baby had no complaints or complications. In family planning services, the mother chose an intrauterine device (IUD) as contraception. This study recommends the implementation of Continuity of Care as a standard approach in midwifery services to effectively maintain maternal and infant health.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Angka kematian ibu dan bayi merupakan indikator penting dalam menilai derajat kesehatan suatu negara. Salah satu upaya penurunannya adalah melalui asuhan kebidanan berkelanjutan (Continuity of Care) yang mencakup kehamilan, persalinan, postpartum, neonatus, hingga keluarga berencana. Penelitian ini bertujuan memberikan asuhan kebidanan komprehensif dan berkesinambungan pada Ny. E.Metode yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan manajemen kebidanan dalam format SOAP. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik dan penunjang, serta studi dokumentasi. Penelitian dilaksanakan pada November 2025–Mei 2026. Hasil asuhan menunjukkan bahwa pada usia kehamilan 18 minggu 5 hari terdapat keluhan nyeri punggung ditrimester kedua yang ditangani dengan terapi komplementer berupa yoga ibu hamil sehingga keluhan berkurang. Persalinan berlangsung normal pada usia kehamilan aterm, dengan teknik rebozo pada kala I fase aktif yang membantu mempercepat penurunan kepala janin dengan durasi kala I fase aktif yaitu dua jam dan kala II dengan waktu lima menit. Pada postpartum, ibu mengalami penurunan produksi ASI pada kunjungan kedua dan dilakukan pijat oksitosin dengan hasil peningkatan produksi ASI. Bayi lahir dalam kondisi normal dengan berat badan lahir sesuai yaitu 3440 gram serta telah diberikan vitamin K 1 mg, tetes mata antibiotik, dan imunisasi Hepatitis B0. Pada kunjungan neonatus ketiga diperoleh berat badan bayi 4300 gram, hal ini menunjukan terjadi peningkatan berat badan yang signifikan. Setelah proses persalinan hingga kunjungan terakhir, ibu dan bayi tidak memiliki keluhan maupun masalah yang dapat memperburuk keadaannya. Pada pelayanan keluarga berencana, ibu memilih kontrasepsi IUD. Penelitian ini merekomendasikan penerapan Continuity of Care sebagai pendekatan standar dalam pelayanan kebidanan yang efektif dalam menjaga kesehatan ibu dan bayi.</p>Gita Fitrya, Eti Salafas
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2061Wed, 24 Jun 2026 00:00:00 +0000Asuhan Kebidanan Komprehensif pada Ny. E Usia 32 Tahun G3P2A0 dengan Penerapan Massage Effleurage di Puskesmas Pembantu Sajau Hilir
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2073
<p><em>The mortality rate over time can provide an overview of the development of public health and can also be used as an indicator in assessing the success of health services and other health development programs. In 2023, the Maternal Mortality Rate (MMR) in the world was 189 per 100,000 live births globally. In 2023, the Infant Mortality Rate (IMR) was 16.85 per 1,000 live births. The main obstacle is the lack of quality supervision for women starting from before pregnancy, during pregnancy and after childbirth. The purpose of midwifery care is to implement comprehensive midwifery care for Mrs. E, 32 years old, G2P1A0, at the Sajau Hilir Sub-District Health Center. The method used [Y1.1] is a descriptive method. The type of final assignment report used is a case study. Data collection techniques used interview methods and direct observation of patients. The results obtained were pregnancy care carried out 3 times, found physiological complaints and discomfort in the third trimester that could be resolved, and all antenatal care rights were fulfilled. The delivery process took place normally at 39 weeks of gestation, the first to fourth stages were physiological without complications, and the baby was born healthy (Apgar score 8/10) with a weight of 3,100 grams. Postpartum care (PNC) was carried out 4 times with the results of uterine involution, lochia discharge, and normal lactation. Neonatal care (KN) was carried out 3 times, the baby breastfed well, the umbilical cord fell off on the 6th day without signs of infection. During family planning care, the mother was given counseling regarding long-term contraception and decided to become a postpartum IUD family planning acceptor which was safely installed postpartum [Y2.1]. The conclusion obtained is that the implementation of comprehensive midwifery care (Continuity of Care) for Mrs. E has been proven to be able to monitor the condition of the mother and baby regularly, prevent complications, and increase the coverage of postpartum family planning participation to support the reduction of maternal and infant mortality rates.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Angka kematian masyarakat dari waktu ke waktu dapat memberikan gambaran perkembangan derajat kesehatan masyarakat dan dapat juga digunakan sebagai indikator dalam penilaian keberhasilan pelayanan kesehatan dan program pembangunan kesehatan lainnya. Tahun 2023 Angka Kematian Ibu (AKI) di dunia 189 per 100.000 kelahiran hidup secara global. Pada tahun 2023 Angka Kematian Bayi (AKB) sebesar 16,85 per 1000 kelahiran hidup. Kendala utamanya adalah kurangnya pengawasan yang berkualitas kepada perempuan mulai dari sebelum hamil, saat hamil dan setelah persalinan. Tujuan asuhan kebidanan adalah untuk menerrapkan asuhan kebidanan komperhensif pada Ny. E usia 32 tahun G2P1A0 di Puskesmas Pembantu Sajau Hilir. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif. Jenis laporan tugas akhir yang digunakan adalah studi kasus (case study). Teknik pengumpulan data menggunakan metode interview dan observasi langsung terhadap pasien. Hasil yang diperoleh yaitu asuhan kehamilan dilakukan sebanyak 3 kali, ditemukan keluhan fisiologis dan ketidaknyamanan trimester III yang dapat teratasi, serta seluruh hak asuhan antenatal terpenuhi. Proses persalinan berlangsung normal pada usia kehamilan 39 minggu, kala I hingga kala IV berjalan fisiologis tanpa komplikasi, dan bayi lahir bugar (skor Apgar 8/10) dengan berat 3.100 gram. Asuhan masa nifas (PNC) dilakukan sebanyak 4 kali dengan hasil involusi uterus, pengeluaran lochea, dan proses laktasi berjalan normal. Asuhan neonatus (KN) dilakukan 3 kali, bayi menyusu dengan baik, tali pusat lepas pada hari ke-6 tanpa tanda infeksi. Pada asuhan keluarga berencana, ibu diberikan konseling mengenai kontrasepsi jangka panjang dan memutuskan untuk menjadi akseptor KB pascasalin IUD yang dipasang dengan aman pascapersalinan. Kesimpulan yang diperoleh yaitu penerapan asuhan kebidanan secara komprehensif (Continuity of Care) pada Ny. E terbukti dapat memantau kondisi ibu dan bayi secara berkala, mencegah terjadinya komplikasi, serta meningkatkan cakupan kepesertaan KB pascasalin guna mendukung penurunan AKI dan AKB.</p>Salmiyah Rasyid, Ari Widyaningsih
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2073Wed, 24 Jun 2026 00:00:00 +0000Asuhan Kebidanan Continuity of Care (Coc) pada Ny U Usia 25 Tahun G1P0A0 Hamil 25 Minggu di PMB Rina Agustina Suruh
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2074
<p><em>Continuity of Care (CoC) is a midwifery service provided continuously from the pregnancy period, childbirth, postpartum, newborn, to family planning. This service aims to improve the health of mothers and babies and to detect complications early during pregnancy and childbirth. This report aims to provide comprehensive midwifery care to Mrs. U, a 25-year-old G1P0A0, 25 weeks pregnant, in the service area of Pratama Tanjung Keramat Hospital. The method used is a case study with a continuous midwifery management approach starting from the third trimester of pregnancy, childbirth, postpartum, newborn, to family planning services. Data collection was conducted thru interviews, observations, physical examinations, documentation, and literature studies. The results of the care show that during the pregnancy, the mother experienced discomfort in the form of lower back pain and increased blood pressure leading to gestational hypertension. Management was carried out thru routine monitoring, health education, non-pharmacological therapy, and care according to midwifery service standards. The delivery proceeded normally without complications, the condition of the mother and baby was good, the postpartum period was physiological, the newborn was healthy, and the mother chose to use contraceptives. The conclusion of this report shows that Continuity of Care midwifery can be implemented well and helps detect complications early, thereby maintaining the health of both mother and baby optimally.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Continuity of Care (CoC) merupakan asuhan kebidanan yang diberikan secara berkesinambungan mulai dari masa kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir hingga keluarga berencana. Pelayanan ini bertujuan untuk meningkatkan kesehatan ibu dan bayi serta mendeteksi secara dini adanya komplikasi selama masa kehamilan dan persalinan. Laporan ini bertujuan memberikan asuhan kebidanan komprehensif pada Ny. U usia 25 tahun G1P0A0 hamil 25 minggu di wilayah kerja PMB Rina Agustina. Metode yang digunakan yaitu studi kasus dengan pendekatan manajemen kebidanan secara berkelanjutan mulai trimester III kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir, hingga pelayanan keluarga berencana. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, dokumentasi, dan studi pustaka. Hasil asuhan menunjukkan bahwa selama kehamilan ibu mengalami ketidaknyamanan berupa nyeri punggung bawah. Penatalaksanaan dilakukan melalui pemantauan rutin, edukasi kesehatan, terapi nonfarmakologis, dan asuhan sesuai standar pelayanan kebidanan. Persalinan berlangsung normal tanpa komplikasi, kondisi ibu dan bayi baik, masa nifas berjalan fisiologis, bayi baru lahir sehat, serta ibu memilih menggunakan alat kontrasepsi. Kesimpulan laporan ini menunjukkan bahwa asuhan kebidanan Continuity of Care dapat dilaksanakan dengan baik dan membantu mendeteksi komplikasi secara dini sehingga kesehatan ibu dan bayi dapat terjaga secara optimal.</p>Rina Agustina, Ari Andayani
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2074Wed, 24 Jun 2026 00:00:00 +0000Pengaruh Senam Hamil Terhadap Pengurangan Nyeri Pinggang pada Ibu Hamil Trimester III
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2076
<p><em>Lower back pain is the most frequent musculoskeletal complaint during the third trimester of pregnancy due to postural changes. This case study aims to evaluate the effectiveness of prenatal exercise interventions in reducing lower back pain for Mrs. F (G5P4A0, 30 weeks of gestation). The method employed is a Continuity of Care (CoC) report using a midwifery care management approach. The results indicate that after performing routine prenatal exercises twice a week for two weeks, there was a significant reduction in pain intensity from moderate to mild. Prenatal exercise is effective in strengthening the abdominal and lumbar muscles, thereby supporting the uterine load and improving body posture. The primary advantage of prenatal exercise lies in its multidimensional effects; it not only significantly reduces back pain from severe to mild-moderate, but also simultaneously delivers three key benefits: improving sleep quality, training breathing techniques, and optimizing pelvic muscle elasticity for a smoother natural childbirth.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Nyeri pinggang merupakan keluhan muskuloskeletal yang paling sering terjadi pada kehamilan trimester III akibat perubahan postur tubuh. Studi kasus ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas pemberian intervensi senam hamil terhadap penurunan nyeri pinggang pada Ny. F G5P4A0 hanil 30 minggu di Puskesmas Sekaran. Metode yang digunakan adalah laporan Continuity of Care (CoC) dengan pendekatan manajemen asuhan kebidanan. Hasil studi menunjukkan bahwa setelah dilakukan intervensi senam hamil secara rutin sebanyak 2 kali seminggu selama 2 minggu, terdapat penurunan intensitas nyeri yang signifikan dari skala nyeri sedang menjadi nyeri ringan. Senam hamil efektif dalam memperkuat otot-otot abdominal dan lumbal, sehingga membantu menyangga beban rahim dan memperbaiki postur tubuh. Keunggulan utama senam hamil terletak pada efek multidimensinya yang tidak hanya menurunkan skala nyeri punggung dari berat ke ringan-sedang, tetapi juga memberikan tiga manfaat sekaligus: meningkatkan kualitas tidur, melatih teknik pernapasan, dan mengoptimalkan elastisitas otot panggul demi kelancaran persalinan normal.</p>Nur Aeni Farida, Ida Sofiyanti
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2076Wed, 24 Jun 2026 00:00:00 +0000Asuhan Kebidanan Komprehensif pada Ny. A Umur 25 Tahun G1P0A0 di TPMB Dina Fitrianingtyas, S.Tr.Keb. Desa Rembes, Kec. Bringin, Kab. Semarang
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2080
<p><em>The Maternal Mortality Rate (MMR) and Infant Mortality Rate (IMR) remain important indicators for assessing the success of maternal and child health services; therefore, efforts are needed to improve service quality through a Continuity of Care (CoC) approach that provides continuous midwifery care from pregnancy, through childbirth and the postpartum period, to the newborn and family planning. This study aims to describe the implementation of comprehensive midwifery care for Mrs. A, a 25-year-old G1P0A0 woman, at the TPMB Dina Fitrianingtyas, S.Tr.Keb., in Rembes Village, Bringin Subdistrict, Semarang Regency. The method used was a descriptive study with a case study approach, conducted from September 2025 to May 2026. Care was provided continuously and included one first-trimester prenatal visit, one second-trimester visit, two third-trimester visits, labor support, four postpartum visits, three neonatal visits, and one family planning visit. Data collection was conducted through medical history taking, observation, physical examination, documentation, and health education. The results showed that the pregnancy proceeded physiologically with a total of 11 ANC visits; complaints of nausea and vomiting in the first trimester and back pain in the third trimester were managed through education and complementary therapy; labor occurred spontaneously at 39 weeks’ gestation with a healthy baby girl born via immediate skin-to-skin contact (IMD); the postpartum period proceeded normally with successful management of breastfeeding challenges through oxytocin massage, and the infant demonstrated good growth and adaptation through the end of the neonatal follow-up visits. At the end of the postpartum period, the mother chose to use an implant as contraception. It was concluded that the implementation of comprehensive midwifery care through the Continuity of Care approach can be carried out optimally, supporting the early detection of complications, improving the quality of maternal and infant health services, and contributing to efforts to reduce maternal and infant mortality rates.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) masih menjadi indikator penting dalam menilai keberhasilan pelayanan kesehatan ibu dan anak, sehingga diperlukan upaya peningkatan mutu pelayanan melalui pendekatan Continuity of Care (CoC) yang memberikan asuhan kebidanan secara berkesinambungan sejak masa kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir hingga keluarga berencana. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan asuhan kebidanan komprehensif pada Ny. A umur 25 tahun G1P0A0 di TPMB Dina Fitrianingtyas, S.Tr.Keb., Desa Rembes, Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang. Metode yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan studi kasus (case study) yang dilaksanakan pada September 2025 sampai Mei 2026. Asuhan dilakukan secara berkelanjutan meliputi satu kali kunjungan kehamilan trimester I, satu kali trimester II, dua kali trimester III, pendampingan persalinan, empat kali kunjungan nifas, tiga kali kunjungan neonatus, dan satu kali kunjungan keluarga berencana. Pengumpulan data dilakukan melalui anamnesis, observasi, pemeriksaan fisik, dokumentasi, serta pemberian edukasi kesehatan. Hasil menunjukkan bahwa kehamilan berlangsung fisiologis dengan total 11 kali kunjungan ANC, keluhan mual muntah pada trimester I dan nyeri punggung pada trimester III dapat ditangani melalui edukasi dan terapi komplementer, persalinan berlangsung spontan pada usia kehamilan 39 minggu dengan bayi perempuan lahir sehat dan dilakukan IMD, masa nifas berjalan normal dengan keberhasilan penanganan keluhan produksi ASI melalui pijat oksitosin, serta bayi menunjukkan pertumbuhan dan adaptasi yang baik hingga akhir kunjungan neonatus. Pada akhir masa nifas ibu memilih menggunakan kontrasepsi implant. Disimpulkan bahwa penerapan asuhan kebidanan komprehensif melalui pendekatan Continuity of Care dapat terlaksana secara optimal, mendukung deteksi dini komplikasi, meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan bayi, serta berkontribusi dalam upaya penurunan AKI dan AKB.</p>Marsuni, Luvi Dian Afriyani
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2080Wed, 24 Jun 2026 00:00:00 +0000Penerapan Asuhan Kebidanan Holistik pada Perawatan Newborn Usia 1–7 Hari Periode Transisi : Kombinasi Standar Klinis Kebidanan dan Prinsip keselamatan Baby Spa
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2084
<p><em>The early neonatal period (the first seven days of life) is the most critical phase in a child's life cycle, contributing to the highest infant mortality rate (IMR) in Indonesia due to complications in extrauterine transition. To reduce IMR, comprehensive midwifery care is required to integrate medical clinical standards with safe, early stimulation trends. This study aims to analyze the implementation of comprehensive midwifery care in neonates during the first seven days based on the guidelines of the World Health Organization (WHO) and the Ministry of Health of the Republic of Indonesia, aligned with the safety principles of the Baby Spa Theory (early stimulation). The method used in this study is a descriptive method with a case study approach, conducted through observation and management of health services for neonates aged 0–7 days. The author utilized the Midwifery Management Approach (7 Steps of Varney / SOAP) using a daily chronological thought framework (Day 1 to Day 7) to assess, diagnose, plan, and evaluate neonatal conditions. The results indicated that on days 1 to 3 (survival phase), care focused on clinical stability (Early Initiation of Breastfeeding/EIBF, hypothermia prevention with temperatures of 36.5°C - 37.5°C, prophylaxis, and Congenital Hypothyroidism Screening/CHS), during which the Baby Spa Theory supported the restriction of physical manipulation and strictly prohibited hydrotherapy. Entering days 4 to 7 (gradual stimulation phase), the clinical focus shifted to monitoring physiological jaundice and evaluating the second Neonatal Visit (KN 2), which was aligned with the introduction of the "I Love You" (ILY) abdominal massage method to prevent colic, followed by a full-body gentle massage after the umbilical cord detached. Midwives are advised to continually improve consistency in educating mothers regarding newborn care and danger signs identification to further suppress the infant mortality rate in Indonesia through a gentle approach, optimizing bonding and ensuring that the provided midwifery care is truly holistic, safe, and evidence-based.</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Masa neonatal dini (tujuh hari pertama kehidupan) merupakan fase paling kritis dalam siklus hidup anak yang menyumbang angka kematian bayi (AKB) tertinggi di Indonesia akibat komplikasi transisi ekstrauterin. Untuk menekan AKB, diperlukan asuhan kebidanan komprehensif yang mengintegrasikan standar klinis medis dengan tren stimulasi dini yang aman. Kajian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan asuhan kebidanan pada neonatus selama tujuh hari pertama berdasarkan panduan World Health Organization (WHO) dan Kementerian Kesehatan RI, yang diselaraskan dengan prinsip keselamatan Teori Baby Spa (stimulasi dini). Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan studi kasus (Case Study) melalui observasi dan penatalaksanaan pelayanan kesehatan pada neonatus usia 0–7 hari. Penulis menggunakan Pendekatan Manajemen Kebidanan (7 Langkah Varney / SOAP) dengan alur berpikir kronologis harian (Hari ke-1 sampai Hari ke-7) untuk mengkaji, mendiagnosis, merencanakan, dan mengevaluasi kondisi neonatus. Hasil kajian menunjukkan bahwa pada hari ke-1 hingga ke-3 (fase survival), asuhan berfokus pada stabilitas klinis (IMD, pencegahan hipotermia dengan suhu 36,5°C - 37,5°C, profilaksis, dan SHK), di mana Teori Baby Spa mendukung pembatasan manipulasi fisik dan melarang keras terapi air (hydrotherapy). Memasuki hari ke-4 hingga ke-7 (fase stimulasi bertahap), fokus klinis beralih pada pemantauan ikterus fisiologis dan evaluasi Kunjungan Neonatal 2 (KN 2), yang diselaraskan dengan pengenalan pijat perut metode I Love You (ILU) untuk mencegah kolik serta pijat seluruh tubuh (gentle massage) setelah tali pusat puput. Bidan disarankan untuk terus meningkatkan konsistensi dalam memberikan edukasi kepada ibu mengenai perawatan bayi baru lahir dan pengenalan tanda bahaya guna menekan angka kematian bayi di Indonesia melalui pendekatan gentle demi mengoptimalkan ikatan batin (bonding) serta memastikan asuhan kebidanan bersifat holistik, aman, dan berbasis bukti (evidence-based).</p>Tiazh Oktaviani, Ida Sofiyanti
Copyright (c) 2026 Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo
https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/view/2084Wed, 24 Jun 2026 00:00:00 +0000